Tag: badai

  • 33 Orang Tewas Akibat Badai Salju di AS

    33 Orang Tewas Akibat Badai Salju di AS

    7cloud.asia – Hingga Rabu (17/01/2024) malam, sedikitnya 33 orang tewas akibat badai musim dingin yang parah sehingga sebagian besar wilayah Amerika Serikat membeku dan dilandabadai salju.

    Sebagian besar dari 33 kematian yang dilaporkan sejauh ini disebabkan oleh kondisi terkait cuaca, seperti kecelakaan mobil karena jalan tertutup es dan hipotermia akibat suhu yang mendekati titik beku, menurut media.

    Badai salju dan hujan es menyelimuti wilayah Pacific Northwest, menutupi jalan dan menyebabkan pemadaman listrik pada hampir 100 ribu tempat tinggal, menurut situs PowerOutage.us.

    Dinas Cuaca Nasional (NWS) memperingatkan bahwa selain badai es, cuaca musim dingin yang lebih parah juga akan terjadi.

    Baca: Cuaca ekstrem di Siberia, suhu anjlok hingga minus 50 derajat

    “Salju tebal (30 hingga 60 cm) diperkirakan terjadi hingga Jumat di seluruh Cascades dan Pegunungan Rocky Utara yang membuat perjalanan menjadi berbahaya,” kata NWS.

    Dinas itu menambahkan bahwa salju setinggi 0,6 cm bisa menutupi daratan Portland, Oregon.

    Peringatan cuaca dikeluarkan di negara-negara bagian di selatan AS, seperti Mississippi, Florida dan Tennessee serta negara bagian di timur laut seperti New York, Connecticut dan Maine.

    NWS mengatakan salju efek-danau (lake-effect snow) akan terus melanda Mississippi, sementara tornado tiba di Florida.

    Baca: 3 cuaca ekrem yang merusak akibat perubahan iklim  

    Di Tennessee, 10 juta penduduk diminta menghemat energi untuk mencegah pemadaman listrik karena suhu mendekati angka di bawah nol akibat angin dingin.

    Menurut dinas cuaca itu, ketinggian salju di New York dan Connecticut bisa mencapai 12 cm pada Jumat.

    Buffalo di New York telah dilanda salju setinggi 76 cm dan terus bertambah hingga dua kali lipat dalam waktu 24-48 jam ke depan.

    Selain itu wilayah bagian Maine juga bersiap menghadapi hujan salju tambahan. Peringatan banjir dan ledakan Arktik diperkirakan akan membawa suhu angin dingin di bawah nol derajat.

    Baca: El Nino percepat salju abadi meleleh

    Badai salju telah menyebabkan kekacauan di jalan raya ketika kendaraan semi-truk terbalik dan kecelakaan lalu lintas terjadi akibat hujan salju dan kondisi jalan yang tertutup es.

    Selain itu, lebih dari 10.000 penerbangan telah ditunda dan hampir 3.000 lainnya telah dibatalkan. Diperkirakan akan ada lebih banyak penundaan dan pembatalan karena badai terus terjadi hingga akhir pekan ini.

    Sumber: Anadolu

  • WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

    WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

     

    7cloud.asia – Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO memperingatkan kemungkinan terjadinya musim badai yang berbahaya karena pergantian dari fenomena El Nino menjadi La Nina.

    Juru bicara WMO Clare Nullis menyampaikan, dunia perlu bersiap dan memitigasi bencana untuk mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.

    WMO memperkirakan akan terjadi musim badai yang sangat aktif selama masa transisi dari El nino ke La Nina ini.

    “Kandungan panas laut yang tinggi dan antisipasi perkembangan peristiwa La Nina diperkirakan akan memicu musim badai yang sangat, sangat aktif tahun ini,” Clare Nullis, juru bicara WMO, mengatakan pada sebuah pengarahan di Jenewa.

    “Hanya diperlukan satu kali badai untuk menghambat pembangunan sosio-ekonomi selama bertahun-tahun.” lanjutnya.

    Baca: Dunia bersiap menyambut fenomena La Nina pada Juli

    Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) memperkirakan akan terjadi 17 hingga 25 bibit badai dengan rata-rata kekuatan 14.

    Dari badai tersebut, delapan hingga 13 diperkirakan akan benar-benar menjadi badai.

    WMO mencatat, musim badai Atlantik yang biasa berlangsung dari Juni hingga November, mencatat aktivitas di atas rata-rata selama delapan tahun berturut-turut.

    “Peringatan dini telah membantu menyelamatkan nyawa dan benar-benar berhasil mengurangi angka kematian secara dramatis,“ ujarnya.

    Namun, imbuhnya, bahkan kerugian yang diderita negara-negara di pulau-pulau kecil di Karibia secara tidak proporsional baik dari segi ekonomi dan kehidupan.

    Baca: WMO sebut pemanasan global akan memicu bencana

    El Nino adalah suatu fenomena pemanasan suhu muka laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah.

    Sedangkan La Nina merupakan kebalikan dari El Nino yakni SML di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya.

    “Kandungan panas laut yang tinggi dan perkembangan peristiwa La Nina diperkirakan akan memicu musim badai yang sangat, sangat, sangat aktif tahun ini,” kata Nullis, dalam sebuah pengarahan di Jenewa, dikutip dari Reuters.com, Senin (27/5/2024).

    Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS atau NOOA memperkirakan El Nino akan menghilang secara perlahan pada Juni. Setelah El Nino berakhir, langsung akan berganti dengan fenomena La Nina pada paruh kedua tahun 2024 ini.

    Ada kemungkinan 49 persen bahwa La Nina akan berkembang selama periode Juni hingga Agustus dan meningkat menjadi 69 persen pada Juli hingga September.

    Baca: Pemanasan global memicu masalah serius pada lingkungan

    Para ahli telah memperingatkan bahwa negara-negara harus waspada terhadap peralihan cepat dari El Nino ke La Nina kali ini.

    Pasalnya, perubahan ini akan menyebabkan sektor pertanian sangat terdampak dan tidak punya banyak waktu untuk pulih.

    “La Nina kemungkinan besar akan mempengaruhi produksi gandum dan jagung di AS, serta kedelai, barley, gandum dan jagung di Amerika Latin termasuk Brasil, Argentina, dan Uruguay,” kata Sabrin Chowdhury, kepala komoditas di BMI.

    “Fenomena cuaca dikaitkan dengan kekeringan berkepanjangan di seluruh wilayah Amerika, memicu buruknya kualitas tanaman dan penurunan rata-rata hasil panen, sehingga semakin memperburuk masalah pangan global,” sambungnya.

  • Cuaca Hari Ini: Waspada, Potensi Hujan Badai di Sejumlah Wilayah

    Cuaca Hari Ini: Waspada, Potensi Hujan Badai di Sejumlah Wilayah

    7cloud.asia – Sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir atau hujan badai pada Selasa (18/06/2024).

    Berdasarkan laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah yang berpotensi hujan badai adalah wilayah Aceh, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan.

    Selain itu wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan.

    Kondisi cuaca serupa juga berpotensi melanda wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara dan Papua Barat.

    Sedangkan hujan lebat dengan intensitas diatas 50 mm/hari masih berpeluang mengguyur wilayah Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.

    Hujan lebat juga berpeluang mengguyur wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo.

    Wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua juga berpotensi hujan lebat..

    Tak hanya hujan, BMKG memprediksi angin kencang dengan kecepatan diatas 45 km/jam juga terjadi di sejumlah wilayah.

    Seperti wilayah Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat dan Papua.

    Suhu udara berkisar antara 20 hingga 34 derajat celsius. Suhu terendah diperkirakan terjadi di Kota Bandung dan suhu tertinggi diperkirakan terjadi di Kota Serang.

    Sementara untuk seluruh wilayah Jakarta BMKG memperkirakan pada pagi dan malam cuaca cerah berawan. Potensi hujan dengan intensitas ringan terjadi pada siang hari di wilayah Jakarta Selatan.

    Suhu udara berkisar antara 23 hingga 29 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara berkisar antara 80 hingga 90 persen.

     

  • Antisipasi Badai Akibat Topan Ampil Penerbangan dan Perjalanan Kereta di Tokyo Dibatalkan

    Antisipasi Badai Akibat Topan Ampil Penerbangan dan Perjalanan Kereta di Tokyo Dibatalkan

    7cloud.asia – Penerbangan dan kereta api di wilayah Tokyo, Jepang dibatalkan pada Jumat (16/8/2024) menyusul adanya peringatan akan adanya angin kencang, hujan lebat, serta potensi banjir dan tanah longsor.

    Warga Tokyo juga diminta mewaspadai adanya topan Ampil yang bergerak di dekat Jepang dan berbelok lebih jauh ke utara di Samudra Pasifik.

    Topan Ampil diperkirakan akan mencapai perairan dekat Tokyo pada Jumat malam hari kemudian berlanjut ke utara, memicu badai ke wilayah utara Kanto dan Tohoku pada Sabtu (17/8/2024) pagi.

    Badan Meteorologi Jepang mengatakan badai tersebut memiliki kecepatan angin 162 kilometer per jam dengan hembusan berkecepatan lebih tinggi pada Jumat pagi dan bergerak ke utara dengan kecepatan 15 kilometer per jam.

    Topan Ampil diperkirakan tidak akan mendarat dan akan melemah menjadi badai tropis pada Minggu (18/8/2024).

    Baca Juga: WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

    Disneyland di Tokyo, yang biasanya buka hingga pukul 21.00, tutup lebih awal pada pukul 15.00 karena topan tersebut.

    Yamato Transport, yang melakukan pengiriman untuk Amazon dan layanan lainnya di Jepang, mengatakan tidak ada pengiriman untuk wilayah Tokyo dan daerah sekitarnya yang terkena dampak pada Jumat dan Sabtu ini.

    Central Japan Railway mengumumkan, kereta cepat Shinkansen yang beroperasi antara Tokyo dan Nagoya dihentikan sepanjang hari. Hal itu merupakan respons umum terhadap topan di negara itu.

    Kereta peluru yang melayani wilayah timur laut Jepang dan beberapa kereta lokal Tokyo dihentikan sementara atau dialihkan ke jadwal yang lebih lambat.

    Puluhan penerbangan yang berangkat dan tiba di dua bandara Tokyo, Haneda dan Narita, serta di bandara Kansai, Osaka dan Chubu, dibatalkan.

    Baca Juga: Indonesia Masuk Daftar 30 Negara Paling Rentan Terkena Dampak Perubahan Iklim

    Pembatalan penerbangan berdampak kepada sekitar 90.000 orang, menurut laporan media Jepang. Beberapa jalan raya mungkin juga ditutup sebagian untuk lalu lintas.

    Pada Jumat, cuaca gerimis dan berangin di Tokyo, meskipun intensitasnya bervariasi. Lalu lintas dan keramaian di jalanan jarang terjadi, sebagian besar disebabkan oleh periode liburan musim panas Bon, bukan hanya karena cuaca. Toko-toko tetap buka.

    Para pejabat memperingatkan masyarakat untuk menjauhi sungai dan pantai serta mewaspadai angin yang cukup kencang yang dapat membuat benda-benda beterbangan.

    “Kami memperkirakan angin akan sangat kencang dan lautan akan sangat kencang,” kata Shuichi Tachihara, kepala peramal cuaca JMA.

    Siaran TV Jepang menunjukkan warga Hachijo menutup jendela. Topan Ampil bergerak melewati Hachijo pada tengah hari, menuju ke utara. Rak-rak toko roti dan mi instan tampak kosong.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Topan Shanshan Melanda Jepang, Korban Tewas Capai 74 Orang

    Topan Shanshan Melanda Jepang, Korban Tewas Capai 74 Orang

    7cloud.asia – Korban tewas akibat Topan Shanshan di Jepang telah bertambah menjadi 74 orang, NHK melaporkan pada Kamis.

    Sebelumnya pada hari yang sama, 39 orang dilaporkan tewas dan satu lainnya hilang.

    Dalam konferensi pers pada Kamis, Sekretaris Kabinet Jepang Yoshimasa Hayashi mengatakan bahwa tiga dari lima orang yang hilang telah dipastikan tewas dalam tanah longsor di Prefektur Shizuoka. Dua lainnya mengalami luka-luka.

    Shanshan, topan dahsyat ke-10 yang menerjang selama musim ini, mendarat sekitar pukul 08.00 waktu setempat (Kamis 06.00 WIB) di lepas pantai Prefektur Kagoshima di Pulau Kyushu dekat Kota Satsumasendai.

    Baca: Antisipasi topan ampil, penerbangan dan perjalanan kereta dibatalkan

    Pergerakannya dinilai lambat, dengan kecepatan sekitar 30 meter per detik di bagian pusat dan 45 meter per detik pada saat angin berhembus.

    Topan tersebut diperkirakan akan melintasi Pulau Kyushu, kemudian berbelok ke timur dan menerjang Pulau Shikoku, lalu bergerak menuju pantai selatan Prefektur Wakayama.

    Pada Minggu, Shanshan bakal menerjang wilayah Kansai, di mana Osaka, Kyoto, dan Kobe berada, kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Tokyo.

    Baca: Badai salju di Amerika tewaskan 33 orang

    Karena topan itu bergerak melintasi Pulau Kyushu dan Shikoku, lebih dari 2,5 juta orang telah diperintahkan untuk mengungsi. Di Prefektur Oita, 50.000 orang telah diminta untuk menyelamatkan diri.

    Sekitar 1.150 penerbangan untuk jadwal 29-31 Agustus dibatalkan, layanan kereta cepat Shinkansen dihentikan, dan sejumlah jalan raya ditutup.

    Di Pulau Kyushu, banyak toko telah ditutup sejak Rabu, sementara kantor pos dan layanan kurir tidak beroperasi.

    Sumber: Sputnik

  • Badai Francine Picu Banjir di Meksiko, Sekolah-sekolah Ditutup

    Badai Francine Picu Banjir di Meksiko, Sekolah-sekolah Ditutup

    7cloud.asia – Badai tropis keenam tahun ini, yakni Badai Francine sedang bergerak menuju pesisir Louisiana, Amerika Serikat pada Selasa (10/9/2024) malam. 

    Sebelumnya badai tropis tersebut telah menyebabkan banjir dan memaksa ditutupnya sekolah-sekolah di Matamoros, kota yang bertetangga dengan Texas, di negara bagian Tamaulipas di Meksiko utara.

    Pada Selasa (10/9/2024) sore, Francine masih merupakan badai tropis dengan kecepatan angin maksimum 100 kilometer per jam, kata Pusat Badai Nasional AS.

    Sistem itu berada sekitar 610 kilometer arah barat daya Morgan City, Louisiana, dan bergerak ke timur laut dengan kecepatan 14 kilometer per jam.

    Baca Juga: Topan Yagi Landa Vietnam Utara, 63 Orang Tewas dan 40 Lainnya Hilang

    Menurut peramal cuaca, badai Francine diperkirakan melanda daratan Lousiana pada Rabu (11/9/2024) sore atau malam sebagai badai Kategori 2 dengan kecepatan angin 155 hingga 175 kilometer per jam.

    Francine menarget pesisir Louisiana yang belum sepenuhnya pulih dari badai Laura dan Delta yang menghancurkan Lake Charles pada 2020, dan disusul Badai Ida setahun kemudian.

    Dilansir id.investing.com, Operator pipa energi Enbridge telah mengevakuasi personil dari beberapa anjungan lepas pantai di Teluk Meksiko AS saat Badai Tropis Francine mendekati Louisiana.

    Badai ini telah menyebabkan penghentian produksi minyak dan gas di anjungan yang dikelola oleh Chevron, Exxon Mobil, dan Shell.

    Baca Juga: Topan Shanshan Melanda Jepang, Korban Tewas Capai 74 Orang

    Enbridge, yang dikenal dengan jaringan pipa lepas pantainya yang luas, telah memindahkan staf dari tiga anjungan namun tetap beroperasi dari jarak jauh.

    Badai Francine adalah nama badai keenam pada musim badai Atlantik tahun ini.

    Sebelumnya badan cuaca dunia, WMO sudah mengingatkan bahwa perubahan cepat dari El Nino ke La Nina akan memicu musim badai.

    Sumber: VOAIndonesia

  • Badai Matahari Menerjang Indonesia, Ini Dampaknya Bagi Manusia

    Badai Matahari Menerjang Indonesia, Ini Dampaknya Bagi Manusia

    7cloud.asia – Cuaca panas melanda beberapa Kota di Indonesia, tidak hanya akibat adanya peralihan musim dari kemarau ke musim hujan. Namun juga adanya badai matahari atau solar storm.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi fenomena badai kuat Matahari melanda wilayah Indonesia hingga 13 Oktober karena itu semua pihak diminta mewaspadai dampak yang menyertainya.

    Melansir Antaranews, Ketua Tim Bidang Geofisika Potensial BMKG, Syrojudin menjelaskan badai kuat Matahari tersebut berada pada indeks ekstrem (G4) dan telah mencapai puncaknya pada Jumat (11/10/2024).

    Baca: Siang akan lebih panjang, ini penyebabnya

    Sebelumnya Lembaga Kelautan dan Atmosfer Amerika (NOAA) menyebut bahwa ledakan Matahari pada Senin (7/10/2024) lalu mengakibatkan badai magnet berat skala G4 di Bumi.

    Ledakan tersebut adalah letusan besar radiasi elektromagnetik dari matahari yang berlangsung selama beberapa menit hingga jam.
     
    Berdasarkan analisis tim geofisika BMKG menunjukkan selama tiga hari ke depan Indonesia akan merasakan dampak dari badai matahari.

    Baca: Fakta yang menarik saat gerhana matahari total

    Selain cuaca terasa lebih panas, juga terjadi gangguan yang cukup signifikan pada jaringan internet, termasuk yang menggunakan sistem satelit seperti Starlink.

    Karena itu Syrojudin mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat berkegiatan atau transaksi menggunakan jaringan internet, komunikasi berbasis radio selama periode badai matahari tersebut.

    Kemudian bagi para pilot drone di seluruh Indonesia disarankan BMKG untuk tidak mengoperasikan pesawat tanpa awaknya karena berpotensi hilang kendali, dan akurasi posisi berbasis satelit seperti GPS juga akan menurun.

    Baca: Mengenal ozon dan kaitannya dengan pemanasan global

    Mengutip dari buku Matahari oleh Viyanti (2023:18), badai matahari adalah kejadian saat aktivitas matahari berinteraksi dengan medan magnetik bumi.

    Terjadinya fenomena alam ini berkaitan langsung dengan peristiwa ledakan matahari (solar flare) dan pelontaran material korona (CME – Cornal Mass Ejection).

    Ketika matahari dalam siklus keaktifan maksimumnya, Angin matahari akan lebih kencang dan partikel yang dikeluarkan lebih energik. Kemudian, peristiwa solar flare dan CME juga terjadi.

    Jika partikel yang dilontarkan sangat besar maka pada matahari akan terjadi. Tentunya peristiwa alam ini mampu memberikan dampak bagi kehidupan manusia.

     

  • Bencana Alam Makin Intens Akibat Perubahan Iklim: Menuntut Aksi Iklim yang Berkeadilan

    Bencana Alam Makin Intens Akibat Perubahan Iklim: Menuntut Aksi Iklim yang Berkeadilan

    7cloud.asia – Pada tahun 1896, ilmuwan Swedia Svante Arrhenius menyampaikan penjelasan pertama yang jelas tentang perubahan iklim kepada dunia. Namun, saat itu peringatan ini tak terlalu diindahkan.

    Perubahan iklim telah terjadi secara bertahap sejak saat itu, tetapi dampaknya dirasakan semakin nyata beberapa dekade terakhir.

    Meningkatnya suhu laut dan meningkatnya kelembapan di atmosfer meningkatkan frekuensi dan tingkat keparahan bencana alam.

    Intensitas bencana alam akibat perubahan iklim telah melampaui prediksi ilmiah sebelumnya, karena perubahan iklim bertindak sebagai “pengganda ancaman” yang meningkatkan ketidakpastian dan memperkuat dampak bencana alam, menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim.

    “Risiko yang terkait dengan bencana terkait iklim tidak menggambarkan skenario masa depan yang jauh. Risiko tersebut sudah menjadi kenyataan bagi jutaan orang di seluruh dunia, dan tidak akan hilang begitu saja.” ujar Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian Rosemary Anne DiCarlo

    Badai Katrina, adalah contohnya. Badai Kategori 4 yang dahsyat dengan kecepatan angin melebihi 135 mil per jam (217 kilometer/jam), menghantam New Orleans pada akhir Agustus 2005, menewaskan 1.833 orang.

    Baca: Badai Helene picu banjir terparah di Florida, AS

    Badai Helene September lalu adalah badai paling mematikan yang menghantam benua AS sejak Katrina, dengan jumlah korban tewas melampaui 200 orang.

    Badai Milton, yang menghantam Florida hanya dua minggu kemudian, adalah salah satu badai terkuat yang menghantam negara bagian itu dalam lebih dari 100 tahun.

    Dua badai berturut-turut itu memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka dan meninggalkan banyak orang dengan beban mental yang berat untuk pemulihan.

    Sebuah studi yang diterbitkan tak lama setelah itu mengonfirmasi bahwa pemanasan laut yang dipicu oleh perubahan iklim buatan manusia mengintensifkan semua badai di Atlantik tahun lalu.

    Pada bulan Januari, kebakaran hutan yang mematikan melanda Los Angeles. Dalam hitungan hari, kebakaran menyebar ke lebih dari 57.000 hektare lahan, menghancurkan ribuan rumah dan bangunan serta menelan lebih dari 30 korban jiwa.

    Penelitian kemudian mengonfirmasi bahwa perubahan iklim berperan dalam kebakaran tersebut.

    Baca: Perubahan iklim mempengaruhi kebakaran hebat di Los Angeles

    Meskipun bencana alam memengaruhi seluruh komunitas, kelompok yang terpinggirkan secara ras dan etnis sering kali menghadapi risiko yang tidak proporsional dan hambatan yang lebih besar selama pemulihan karena kesenjangan sosial, politik, dan ekonomi yang sudah berlangsung lama.

    Bencana alam di era perubahan iklim bukan sekadar peristiwa lingkungan — tetapi juga masalah keadilan sosial.

    Setelah Badai Katrina, 84 persen dari mereka yang dilaporkan hilang di New Orleans adalah orang kulit hitam, meskipun penduduk kulit hitam hanya mencakup 68% dari populasi kota pada saat itu.

    Banyak lingkungan kulit hitam dibangun di dataran rendah kota, dengan lebih sedikit sumber daya untuk evakuasi dengan aman.

    Selama Badai Helene, lebih dari 138.000 rumah mobil di North Carolina terletak di daerah yang menerima deklarasi bencana besar.

    Karena rumah mobil umumnya lebih rentan terhadap cuaca ekstrem, penduduk harus mengungsi ke tempat lain demi keselamatan – biasanya dengan biaya sendiri.

    Baca: Xi Jinping tegaskan komitmen China menahan laju perubahan iklim

    Kebakaran hutan di California berdampak secara tidak proporsional pada warga kulit hitam, pribumi, dan orang kulit berwarna (BIPOC). Mungkin terdengar aneh bagi banyak orang, karena populasi kulit putih lebih banyak terwakili di daerah rawan kebakaran hutan.

    Namun, dibandingkan dengan komunitas lain, orang kulit putih cenderung menerima lebih banyak sumber daya, sehingga menghasilkan ketahanan yang jauh lebih besar terhadap bencana alam.

    Sebuah penelitian menunjukkan bahwa komunitas pribumi di California terpapar sekitar 1,7 kali lebih banyak asap kebakaran hutan daripada populasi umum, secara rata-rata.

    Secara umum, masyarakat pribumi enam kali lebih mungkin tinggal di daerah rawan kebakaran hutan. Sayangnya, komunitas ini tidak didukung dengan baik selama bencana iklim seperti kebakaran hutan, karena kurangnya sumber daya, informasi, dan pendanaan.

    Meskipun ada prosedur evakuasi yang aman, peristiwa cuaca ekstrem masih dapat menyebabkan tekanan emosional yang signifikan dan perasaan terputus, terutama di antara komunitas pribumi yang identitas dan kesejahteraannya terkait erat dengan tanah dan lingkungan alam.

  • Badai Crising Mengakibatkan 7 Orang Tewas di Filipina

    Badai Crising Mengakibatkan 7 Orang Tewas di Filipina

    7cloud.asia – Badai tropis Crising yang melanda Filipina dalam dua hari terakhir dilaporkan telah menewaskan tujuh warga dan membuat ribuan lainnya mengungsi.

    Menurut Dewan Pengurangan dan Penanggulangan Risiko Bencana Nasional (NDRRMC), Rabu (23/7/2025) menyebut badai tropis ini telah mengakibatkan sekitar 142.000 warga dievakuasi ke 537 pusat evakuasi di negeri itu.

    Sementara 1,4 juta warga lainnya terdampak badai, seperti dilaporkan surat kabar The Daily Tribune.

    Sementara itu ‘kerusakan infrastruktur meningkat hingga 562 juta peso Filipina atau sekitar Rp878,8 milyar).

    Baca: Bencana alam makin intens terjadi akibat perubahan iklim

    Selain itu, sejauh ini 29 kota dan munisipalitas telah menyatakan status keadaan darurat akibat badai tropis tersebut.

    Hingga Rabu (23/7/2025), sebuah daerah bertekanan rendah yang terpantau di sebelah barat Kepulauan Babuyan telah berkembang menjadi depresi tropis bernama Emong.

    Sementara itu, satu daerah bertekanan rendah lain di barat laut Samudra Pasifik dilaporkan memiliki kemungkinan tinggi untuk berkembang menjadi depresi tropis dalam 24 jam ke depan.

    Badai Crising menambah panjang daftar bencana hidrometeorologi yang mengakibatkan kematian sepanjang bulan Juli 2025 ini.

    Baca: Hujan ekstrem picu bencana hidrometeorologi di sejumlah negara

    Sumber: Antaranewscom/Anadolu

  • Studi: Perubahan Iklim membuat Siklon Tropis Makin Tak Terduga

    Studi: Perubahan Iklim membuat Siklon Tropis Makin Tak Terduga

    7cloud.asia – Perubahan iklim mengakibatkan siklon tropis yang memicu badai menjadi semakin tak terduga dan semakin merusak.

    Pada tahun 2024, pemanasan laut yang dipicu oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia mengintensifkan semua badai di Atlantik, menurut sebuah studi. Badai Helene dan Milton, misalnya, masing-masing menjadi 16 mil per jam (mph) dan 24 mph lebih kuat.

    Namun, ketidakpastian ini juga sebagian disebabkan oleh fakta bahwa badai-badai ini menguat lebih cepat karena air laut yang lebih hangat menyediakan lebih banyak bahan bakar, dengan kecepatan angin meningkat sebesar 56 kilometer/jam (sekitar 35 mil per jam) dalam periode 24 jam.

    Badai yang menguat dengan cepat menyisakan lebih sedikit waktu bagi pihak berwenang untuk mengeluarkan sistem peringatan, sehingga membahayakan masyarakat pesisir.

    Pada tahun 2022, misalnya, Badai Ian menghancurkan sebagian wilayah Florida setelah menguat dengan cepat, sehingga intensitas badai yang berlangsung selama dua hari menjadi kurang dari 36 jam.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    Beradaptasi dengan Normal Baru
    Seiring perubahan iklim yang mengubah pola siklon tropis, beberapa pakar iklim menyebutkan bahwa sistem peringatan yang ada mungkin perlu ditinjau ulang untuk memitigasi perubahan ini.

    Sebuah makalah tahun 2023 menyebutkan bahwa skala angin badai Saffir-Simpson tahun 1971 tidak lagi akurat dalam mengukur peningkatan eksponensial angin akibat perubahan iklim.

    Menurut para penulis makalah menyebutkan, fakta bahwa skala tersebut bersifat terbuka – artinya kecepatan angin di atas 157 mph atau 252 km/jam diklasifikasikan sebagai Kategori 5 dan diberi tingkat bahaya angin yang sama

    Hal ini dinilai mencerminkan kelemahan dalam sistem tersebut, terlepas dari apakah kecepatannya mencapai 160 mph (257 km/jam), seperti Badai Ian tahun 2022 di AS, atau 215 mph (346 km/jam), seperti Badai Patricia di Meksiko tahun 2015.

    Karena alasan ini, mereka menyarankan untuk menambahkan kategori hipotetis baru – Kategori 6 – ke dalam skala tersebut.

    Baca: Perubahan iklim turut mempengaruhi kebakaran hebat di Los Angeles

    Hal ini, menurut mereka, akan mencerminkan kecepatan angin yang telah dicapai dalam sejumlah badai yang terjadi dalam dekade terakhir.

    Termasuk dalam hal ini Topan Haiyan (2013), Topan Meranti (2016), Topan Goni (2020), dan Topan Surigae (2021) di Pasifik Barat dan Badai Patricia (2015) di Pasifik Timur.

    Analisis catatan satelit tahun 2020 dari tahun 1979 hingga 2017 menemukan bahwa kemungkinan badai mencapai Kategori 3 atau lebih tinggi, dengan kecepatan angin berkelanjutan 185 km/jam, meningkat sebesar 8 persen per dekade.

    Pada tahun 2023, Laporan Penilaian Keenam (AR6) Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) mengonfirmasi pengamatan ini, dengan menyatakan bahwa proporsi siklon tropis Kategori 3-5 serta frekuensi peristiwa intensifikasi cepat kemungkinan telah meningkat secara global selama empat dekade terakhir.

    Dan dengan atmosfer dan suhu laut yang akan terus memanas di tahun-tahun mendatang seiring meningkatnya krisis iklim, tidak diragukan lagi bahwa kecepatan angin juga akan semakin menguat.

    Baca: Eropa alami bencana terburuk akibat perubahan iklim pada 2025