7cloud.asia – Perubahan iklim mengakibatkan siklon tropis yang memicu badai menjadi semakin tak terduga dan semakin merusak.
Pada tahun 2024, pemanasan laut yang dipicu oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia mengintensifkan semua badai di Atlantik, menurut sebuah studi. Badai Helene dan Milton, misalnya, masing-masing menjadi 16 mil per jam (mph) dan 24 mph lebih kuat.
Namun, ketidakpastian ini juga sebagian disebabkan oleh fakta bahwa badai-badai ini menguat lebih cepat karena air laut yang lebih hangat menyediakan lebih banyak bahan bakar, dengan kecepatan angin meningkat sebesar 56 kilometer/jam (sekitar 35 mil per jam) dalam periode 24 jam.
Badai yang menguat dengan cepat menyisakan lebih sedikit waktu bagi pihak berwenang untuk mengeluarkan sistem peringatan, sehingga membahayakan masyarakat pesisir.
Pada tahun 2022, misalnya, Badai Ian menghancurkan sebagian wilayah Florida setelah menguat dengan cepat, sehingga intensitas badai yang berlangsung selama dua hari menjadi kurang dari 36 jam.
Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim
Beradaptasi dengan Normal Baru
Seiring perubahan iklim yang mengubah pola siklon tropis, beberapa pakar iklim menyebutkan bahwa sistem peringatan yang ada mungkin perlu ditinjau ulang untuk memitigasi perubahan ini.
Sebuah makalah tahun 2023 menyebutkan bahwa skala angin badai Saffir-Simpson tahun 1971 tidak lagi akurat dalam mengukur peningkatan eksponensial angin akibat perubahan iklim.
Menurut para penulis makalah menyebutkan, fakta bahwa skala tersebut bersifat terbuka – artinya kecepatan angin di atas 157 mph atau 252 km/jam diklasifikasikan sebagai Kategori 5 dan diberi tingkat bahaya angin yang sama
Hal ini dinilai mencerminkan kelemahan dalam sistem tersebut, terlepas dari apakah kecepatannya mencapai 160 mph (257 km/jam), seperti Badai Ian tahun 2022 di AS, atau 215 mph (346 km/jam), seperti Badai Patricia di Meksiko tahun 2015.
Karena alasan ini, mereka menyarankan untuk menambahkan kategori hipotetis baru – Kategori 6 – ke dalam skala tersebut.
Baca: Perubahan iklim turut mempengaruhi kebakaran hebat di Los Angeles
Hal ini, menurut mereka, akan mencerminkan kecepatan angin yang telah dicapai dalam sejumlah badai yang terjadi dalam dekade terakhir.
Termasuk dalam hal ini Topan Haiyan (2013), Topan Meranti (2016), Topan Goni (2020), dan Topan Surigae (2021) di Pasifik Barat dan Badai Patricia (2015) di Pasifik Timur.
Analisis catatan satelit tahun 2020 dari tahun 1979 hingga 2017 menemukan bahwa kemungkinan badai mencapai Kategori 3 atau lebih tinggi, dengan kecepatan angin berkelanjutan 185 km/jam, meningkat sebesar 8 persen per dekade.
Pada tahun 2023, Laporan Penilaian Keenam (AR6) Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) mengonfirmasi pengamatan ini, dengan menyatakan bahwa proporsi siklon tropis Kategori 3-5 serta frekuensi peristiwa intensifikasi cepat kemungkinan telah meningkat secara global selama empat dekade terakhir.
Dan dengan atmosfer dan suhu laut yang akan terus memanas di tahun-tahun mendatang seiring meningkatnya krisis iklim, tidak diragukan lagi bahwa kecepatan angin juga akan semakin menguat.
Baca: Eropa alami bencana terburuk akibat perubahan iklim pada 2025

Leave a Reply