Tag: bahasa

  • Separuh dari Sekitar 6000 Bahasa di Dunia Terancam Punah

    Separuh dari Sekitar 6000 Bahasa di Dunia Terancam Punah

    7cloud.asia – Ketika mudik ke Boyolali, Jawa Tengah, Lebaran lalu saya dihadapkan pada kondisi yang membuat saya sedikit masygul. Semakin sedikit anak muda yang menggunakan bahasa lokal yakni bahasa Jawa. 

    Alih-alih menggunakan bahasa Jawa, keponakan saya yang berumur 15 tahun, yang lahir dan besar di Boyolali lebih suka menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi sehari-hari. Bahkan ketika saya mencoba mengajaknya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa dia tetap menggunakan bahasa Indonesia.

    Selama sepekan di kampung saya menemukan penggunaan bahasa Jawa lebih banyak digunakan oleh mereka yang sudah dewasa. 

    Saya sendiri juga mulai kesulitan jika harus menggunakan bahasa Jawa Krama inggil yang seharusnya digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tua. Jangan ditanya lagi, apakah saya bisa membaca tulisan dengan huruf Jawa, dipastikan saya akan tertatih-tatih untuk mengejanya. 

    Baca: Peran sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    Ternyata pengalaman yang saya alami ini ini sejalan dengan temuan badan budaya dunia, UNESCO. UNESCO menyebut setengah dari sekitar 6000 bahasa tutur atau bahasa lokal di dunia bakal punah karena semakin sedikit yang menggunakannya. 

    Dilansir DW Indonesia, dengan dijadikannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, bahasa ini berandil terhadap punahnya bahasa daerah di seluruh bumi Nusantara.

    Hingga 2014 di Indonesia terdapat sekitar 700 bahasa daerah, yang sebagian besar masih aktif dituturkan sampai sekarang.

    Namun menurut UNESCO, bahasa-bahasa daerah di Indonesia juga dalam bahaya – sekitar 140 bahasa daerah terancam kepunahan.

    Masih menurut DW Indonesia, UNESCO menyerukan agar para orang tua untuk berbicara dengan anaknya dalam bahasa yang mereka benar-benar kuasai atau bahasa lokal.

    Pentingnya Bahasa Ibu

    Memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional, 21 Februari, organisasi untuk suku adat terancam Jerman GfbV menyampaikan kekhawatiran akan punahnya bahasa-bahasa di dunia.
     
    Menurut seorang pejabat GfbV, Sarah Reinke, saat ini sekitar 1.800 dari sedikitnya 6.000 bahasa di dunia terancam kepunahan. Setiap dua minggu, satu bahasa hilang tidak dituturkan lagi.
     
    Di Jerman sendiri, 13 bahasa minoritas dan dialek yang kini masih dipakai, seperti Yiddish dan Romani. Tetapi bahasa-bahasa itu berada dalam ancaman.

    Kepunahan bahasa, terutama bahasa minoritas, di dunia diakibatkan dengan semakin meningkatnya mobilitas atau pengaruh media, ditambahkan Sarah Reinke. Selain itu, di beberapa negara otoriter, seperti Rusia dan Cina, bahasa-bahasa minoritas ditekan dengan maksud untuk mencabut akar budaya etnis minoritas di negara-negara tersebut.

    Di Amerika Selatan, proyek-proyek pembangunan raksasa mengubur habitat dan bahasa adat di wilayah.

    Baca: Tradisi mudik ternyata sudah dikenal sejak zaman Majapahit

    “Penting bagi orang tua untuk mengajarkan bahasa mereka kepada anak-anak mereka,” dikatakan Christiane Hoffschildt, dari Asosiasi Terapi Bicara Jerman DBL. Orang tua sebaiknya berbicara dengan anak-anak dalam bahasa yang mereka benar-benar kuasai, yaitu bahasa ibu mereka sendiri. Ini juga berlaku bagi para migran di Jerman.

    “Bagi kebanyakan anak (migran) biasanya bukan merupakan masalah untuk belajar Bahasa Jerman sebagai bahasa kedua atau ketiga,“ papar Christiane Hoffschildt.

    Kemampuan menguasai satu bahasa ibu merupakan dasar yang sangat penting bagi anak-anak untuk menguasai bahasa-bahasa lainnya.

    “Ini bukan saja merupakan kesempatan tambahan untuk kesuksesan karir akademik dan profesional, tapi juga mendukung perkembangan pluralistik dan linguistik dalam masyarakat yang beragam budaya,“ demikian Christiane Hoffschildt.

    Baca: Mengapa Suku Badui setia merawat Tradisi Seba

    Hari Bahasa Ibu Internasional dicanangkan oleh PBB pada November 1999, dan sejak tahun 2000 diperingati setiap tanggal 21 Februari.

    Hari Bahasa Ibu digagas untuk mengangkat perhatian dunia pada bahasa-bahasa yang terancam punah – bahasa dengan kurang dari 10.000 penutur.

    Jadi, mulai sekarang selain belajar bahasa nasional dan bahasa internasional tak ada salahnya kita mulai kembali belajar bahasa ibu atau bahasa lokal daerah kita masing-masing. Ini penting untuk merawat agar bahasa ibu kita tidak punah dan hanya menjadi catatan sejarah.

  • Bahasa Indonesia Ditetapkan Sebagai Bahasa Resmi di UNESCO, Ini Dia Keuntungannya

    Bahasa Indonesia Ditetapkan Sebagai Bahasa Resmi di UNESCO, Ini Dia Keuntungannya

    7cloud.asia – Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi atau official language Konferensi Umum (General Conference) Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO.

    Keputusan ini ditandai dengan diadopsinya Resolusi 42 C/28 secara konsensus dalam sesi Pleno Konferensi Umum ke-42 UNESCO, Senin (20/11/2023) di Markas Besar UNESCO di Paris, Prancis.

    Penetapan ini berarti bahasa Indonesia dapat dipakai sebagai bahasa sidang dan dokumen-dokumen konferensi umum dapat diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

    baca:unesco beri kartu kuning pada pengelola geopark kaldera toba

    Bahasa Indonesia menjadi bahasa ke-10 yang diakui sebagai bahasa resmi Konferensi Umum UNESCO, bersama enam bahasa resmi PBB (Bahasa Inggris, Arab, Mandarin, Prancis, Spanyol, dan Rusia), serta Bahasa Hindi, Italia, dan Portugis.

    Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia (Dubes LBBP RI) untuk Republik Prancis, Kepangeranan Andorra, Kepangeranan Monako dan Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar mengatakan bahasa Indonesia telah menjadi kekuatan penyatu bangsa Indonesia sejak masa prakemerdekaan.

    “Dengan perannya sebagai penghubung antaretnis yang beragam di Indonesia, bahasa Indonesia, dengan lebih dari 275 juta penutur, juga telah melanglang dunia, dengan masuknya kurikulum bahasa Indonesia di 52 negara di dunia dengan setidaknya 150 ribu,” jelas Oemar.

    Oemar menekankan, meningkatkan kesadaran terhadap bahasa Indonesia merupakan bagian dari upaya global Indonesia untuk mengembangkan konektivitas antarbangsa.

    baca: ijen geopark jadi anggota unesco global geopark ini implikasinya

    Selain itu, memperkuat kerja sama dengan UNESCO, serta bagian dari komitmen Indonesia terhadap pengembangan budaya di tingkat internasional.

    “Pengakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Konferensi Umum UNESCO akan berdampak positif terhadap perdamaian, keharmonisan, dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan tidak hanya di tingkat nasional, namun juga di seluruh dunia,” jelasnya.

    Pengusulan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Sidang Umum UNESCO bermula dari diskusi antara Dubes RI untuk Prancis dan Wakil Delegasi Tetap (Wadetap) RI untuk UNESCO pada bulan Januari 2023.

    Diskusi tersebut merekognisi potensi bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi Sidang Umum UNESCO.

    Potensi ini kemudian disampaikan kepada Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek).

    Selanjutnya, pada 7 Februari 2023, diadakan pertemuan antara Wadetap untuk UNESCO, Kementerian Luar Negeri (Kemlu), dan Kemendikbudristek.

    baca: unesco akui sumbu filosofi yogyakarta jadi warisan dunia

    Pertemuan tersebut untuk membicarakan peluang dan strategi pengusulan bahasa resmi Sidang Umum UNESCO, yang dilanjutkan dengan penyusunan naskah ajuan kepada UNESCO.

    Kemudian, pada Maret 2023, Perwakilan RI di Paris menyampaikan proposal nominasi bahasa Indonesia kepada Sekretariat UNESCO untuk dapat masuk dalam agenda sidang Dewan Eksekutif UNESCO pada 10-24 Mei 2023.

    Dewan Eksekutif UNESCO pun menyetujui proposal pemerintah Indonesia untuk masuk sebagai agenda Sidang Umum ke-42 UNESCO pada tanggal 7—22 November 2023.

    Berlanjut ke Sidang Umum UNESCO, delegasi Indonesia yang terdiri atas Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Wadetap untuk UNESCO, dan Kepala Pusat Penguatan dan Pemberdayaan Bahasa mempresentasikan proposalnya di hadapan Legal Committee pada 8 November 2023 di Kantor Pusat UNESCO di Paris.

    Tanpa adanya keberatan dari anggota komisi, Legal Committee pun menyetujui pengajuan pemerintah Indonesia tersebut.

    Usulan ini juga merupakan upaya de jure agar bahasa Indonesia  dapat mendapat status bahasa resmi pada sebuah lembaga internasional, setelah secara de facto pemerintah Indonesia membangun kantong-kantong penutur asing bahasa Indonesia di 52 negara.

    Sumber: setkab

  • Mengenal ‘Kape’: Bagaimana Dokumentasi Bahasa Dapat Melestarikan Bahasa yang Terancam Punah

    Mengenal ‘Kape’: Bagaimana Dokumentasi Bahasa Dapat Melestarikan Bahasa yang Terancam Punah

    7cloud.asia – Pada 2025, lebih dari 7.000 bahasa digunakan di seluruh dunia. Namun, hanya sekitar setengahnya yang terdokumentasi dengan baik, sisanya terancam punah.

    Globalisasi telah mendorong bahasa-bahasa seperti Inggris dan Mandarin menjadi bahasa utama yang kini mendominasi dalam komunikasi global.

    Orang tua masa kini juga cenderung mendorong anak-anak mereka mempelajari bahasa yang lebih luas digunakan. Sementara itu, bahasa asli, seperti Copainalá Zoque di Meksiko dan Northern Ndebele di Zimbabwe, tidak diajarkan secara konsisten di sekolah.

    Adapun masyarakat adat, umumnya tidak menggunakan tulisan dalam berkomunikasi selama berabad-abad. Akibatnya, bahasa mereka tidak memiliki catatan tertulis kuno yang dapat diwariskan. Ini menyebabkan kepunahan bertahap sulit dihindari.

    Untuk mencegah hal tersebut, para ahli bahasa lapangan—atau dokumentaris bahasa—berupaya memastikan bahwa generasi mendatang memiliki akses terhadap warisan budaya mereka. Upaya mereka berhasil mengungkap kosakata dan struktur bahasa serta cerita dan tradisi yang terkandung di dalamnya.

    Penulis telah menghabiskan lebih dari 13 tahun mendokumentasikan bahasa Papua yang terancam punah di Indonesia bagian Tenggara dan Timur, khususnya di Kepulauan Alor-Pantar, dekat Timor, dan Kepulauan Maluku.

    Salah satu penemuan penting dan terkini kami adalah Kape—bahasa yang sebelumnya tidak terdokumentasi dan terabaikan—yang dituturkan oleh masyarakat pesisir kecil di Alor Tengah-Utara.

    Penemuan ini tidak hanya penting untuk memetakan konteks linguistik di pulau-pulau tersebut, tetapi juga menyoroti urgensi melestarikan bahasa yang terancam punah dengan menggunakan metode dokumentasi bahasa.

    Baca: Separuh bahasa di dunia terancam punah

    Penemuan Kape
    Pada Agustus 2024, saat bekerja dengan konsultan bahasa Abui kami, asisten riset saya di Xi’an Jiaotong-Liverpool University, Shiyue Wu, menemukan bahasa Papua dari Alor yang sebelumnya diabaikan dan mungkin tidak terdokumentasi, yaitu ‘Kape’.

    Saat itu, ia tengah mengumpulkan informasi tentang nama dan lokasi altar ritual yang dikenal sebagai ‘maasang’ di wilayah Abui, dengan bantuan dari konsultan utama kami dan beberapa penutur asli. Di Alor Tengah, setiap desa memiliki ‘maasang’.

    Dalam diskusi tentang varian nama altar dalam berbagai bahasa Alor dan dialek Abui, beberapa penutur menyebutkan istilah ‘maasang’ (‘mata’) dalam bahasa Kape—bahasa yang sebelumnya tidak tercatat dan diabaikan dalam dokumentasi linguistik.

    ‘Kape’ sendiri berarti ‘tali’, yang melambangkan bagaimana bahasa ini menghubungkan para penuturnya di seluruh pulau, dari pegunungan hingga pesisir laut. Secara geografis dan linguistik, bahasa ini diasosiasikan dengan Kabola di timur dan Abui dan Kamang di Alor Tengah.

    Pada tahap ini, belum jelas apakah Kape merupakan bahasa tersendiri atau dialek Kamang. Meski sebagian besar leksikon dasar Kape (kumpulan kata dalam satu bahasa) memiliki kognat (kata-kata yang berhubungan antarbahasa) dengan Kamang, bahasa Kape dituturkan sebagai bahasa utama (asli) oleh seluruh kelompok etnis Kape di Alor. Para penutur menganggap bahasa itu sebagai identitas tersendiri.

    Kape juga terhubung dengan Suboo, Tiyei, dan Adang, bahasa Papua lainnya dari Pulau Alor.

    Para penuturnya, yang dikenal sebagai ‘Kafel’ dalam bahasa Abui, menguasai banyak bahasa, termasuk fasih dalam bahasa Kape, Kamang, Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu Alor, dan terkadang Abui.

    Sejauh ini, belum ada catatan sejarah tentang bahasa Kape, meskipun penelitian arsip mungkin dapat mengungkap lebih banyak tentang asal-usulnya.

    Baca: Mayoritas (75 persen) bahasa daerah di Indonesia dalam kondisi tidak aman

    Berdasarkan tipologi dan karakteristik leksikalnya, bahasa Kape tampak setua bahasa lain yang digunakan di Alor. Sayangnya, seperti banyak bahasa Papua lainnya, bahasa ini terancam punah dan memerlukan dokumentasi mendesak untuk melestarikan warisannya.

    Mendokumentasikan bahasa: Tantangan yang terus-menerus
    Dokumentasi bahasa bertujuan untuk merekonstruksi sejarah masyarakat adat yang tidak tertulis dan menjamin masa depan budaya dan bahasa mereka.

    Ini dicapai dengan melestarikan bahasa yang terancam punah, jarang didokumentasikan, atau sama sekali tidak terdokumentasi di daerah terpencil dan terbelakang.

    Sumber eksternal, seperti buku harian para misionaris dan dokumentasi yang dibuat oleh para penjajah, dapat membantu merekonstruksi beberapa peristiwa sejarah.

    Namun, sumber-sumber tersebut tidak cukup untuk menyediakan data linguistik yang dapat diandalkan, karena penulisnya bukan ahli bahasa.

    Kami mendokumentasikan bahasa-bahasa yang terancam punah, mulai dari leksikon hingga tata bahasanya. Kami juga mengeksplorasi tradisi kuno dan kearifan leluhur penutur asli yang bekerja sama dengan kami.

    Hasilnya, kami telah berkontribusi dalam pendokumentasian beberapa bahasa Papua dari Pulau Alor, khususnya Abui, Kula, dan Sawila.

    Bahasa-bahasa ini dituturkan di antara komunitas-komunitas kecil masyarakat adat yang terkadang tersebar dan termasuk dalam kelompok etnis yang berbeda tetapi terkait.

    Baca: Kemendikbud berhasil identifikasi 718 bahasa daerah di Indonesia

    Mereka berkomunikasi satu sama lain sebagian besar dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu Alor. Ini karena bahasa daerah mereka hampir tidak pernah diajarkan di sekolah dan jarang digunakan di luar kelompok mereka.

    Seiring berjalannya waktu, selain mendokumentasikan leksikon dan tata bahasa mereka, kami berupaya merekonstruksi nama-tempat dan nama lanskap, tradisi lisan, fondasi … mitos, legenda leluhur dan nama tanaman dan pohon yang mereka gunakan.

    Kami juga mengeksplorasi praktik medis tradisional dan etnobotani lokal, beserta budaya musik dan sistem bilangan mereka.

    Menjaga Kape tidak hanya relevan secara linguistik. Pelestarian dan dokumentasinya tidak hanya tentang membuktikan keberadaannya—tetapi juga berkontribusi dalam menghidupkan kembali bahasanya, menjaganya tetap hidup, dan memungkinkan masyarakat setempat menemukan kembali sejarah, pengetahuan, serta tradisinya untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

    Perjalanan ini baru saja dimulai, tetapi kami—dengan kolaborasi yang sangat diperlukan dari konsultan lokal dan penutur asli—siap untuk menuntaskannya hingga selesai.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di The Conversation, Penulis: Francesco Perono Cacciafoco Francesco Perono Cacciafoco (Associate Professor in Linguistics, Xi’an Jiaotong-Liverpool University)

  • Menguasai Banyak Bahasa Terbukti Menghambat Penuaan

     

    7cloud.asia Penuaan adalah salah satu hal yang tak bisa kita hindari. Seiring waktu, kita bisa mengamati tanda-tandanya, seperti lebih cepat merasa lelah, massa otot berkurang, kulit berkeriput, rambut beruban, dan sebagainya.

    Penyebabnya adalah sel-sel zombi yang bersemayam di dalam tubuh kita. Mereka sebenarnya adalah timbunan sel tua yang berhenti membelah, sehingga lama-kelamaan bisa mengubah DNA dan memicu sinyal pro-inflamasi (pro-inflammatory signalling) yang menyebabkan peradangan berlebihan.

    Situasi ini memengaruhi keseimbangan pasokan energi ke seluruh jaringan sel dalam tubuh. Mengalami stres yang tinggi juga bisa mempercepat ritme penuaan.

    Ini berarti, untuk menjadi awet muda, kita perlu menyingkirkan sel-sel zombi dari tubuh kita.

    Untungnya, ada pasukan sel pembunuh alami (natural killer cells) yang sanggup membantu melakukan tugas itu. Mereka dapat dirangsang, salah satu caranya, melalui aktivitas fisik dan serebral (berhubungan dengan otak) yang teratur.

    Beberapa studi yang dilakukan di Amerika Serikat (selama 2014 – 2015), di Spanyol (2015), serta di Korea Selatan (2019) menyimpulkan bahwa kegiatan aktif seperti berolahraga, belajar hal-hal baru, dan berbicara multibahasa dapat membantu otak agar tetap segar, sehingga bisa menahan jarum jam biologis si empunya tubuh.

    November 2025 ini, temuan riset lintas 27 negara Eropa mengungkapkan fakta bahwa monolingualisme (kemampuan seseorang berkomunikasi hanya dalam satu bahasa) dapat mengurangi lima tahun angka harapan hidup.

    Sementara multilingualisme (kemampuan seseorang menggunakan beberapa bahasa) menambah tiga tahun lebih lama. Artinya, semakin banyak bahasa yang dikuasai, semakin kuat perlindungan bagi otak.

    Baca Juga: Separuh dari Sekitar 6000 Bahasa di Dunia Terancam Punah

    Penelitian tahun 2020 juga telah membuktikan bahwa orang bilingual menunjukkan gejala Alzheimer empat tahun lebih lambat ketimbang orang monolingual.

    Alzheimer adalah penyakit otak yang menyebabkan penurunan daya ingat, melemahnya kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku.

    Aktivitas berganti-ganti antara dua bahasa menciptakan semacam cadangan pada kapasitas kognitif manusia. Kapasitas tersebut berkaitan dengan daya ingat, konsentrasi, bahasa, dan sebagainya.

    Kemampuan-kemampuan ini memungkinkan kita merespons rangsangan. Dengan kata lain, orang dengan cadangan kognitif yang lebih besar akan lebih tahan saat penuaan menggerogoti fungsi otaknya.

    Artinya, multilingualisme bukan cuma soal keterampilan, tapi juga ramuan awet muda yang menjaga otak tetap aktif sehingga dapat memperlambat penuaan.

    Bahasa ibu, bahasa kedua, dan bahasa asing

    Di Tanah Air, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional menciptakan masyarakat yang multibahasa secara alamiah. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keragaman bahasa.

    Ada lebih dari 300 suku dan lebih dari 700 bahasa daerah yang digunakan di seluruh Nusantara.

    Individu yang tumbuh di Indonesia biasanya memiliki bahasa ibu—bahasa yang diperoleh pertama kali—berupa bahasa daerah, misalnya bahasa Batak, Minangkabau, Sunda, dan lain-lain. Mereka biasa menggunakan bahasa ibu tersebut dalam lingkup keluarga atau di tempat tinggalnya.

    Baca Juga: Riset Tunjukkan ‘Google Translate’ Berdampak pada Kemampuan Bahasa Siswa

    Selain itu, mereka akan menggunakan bahasa kedua (bahasa yang didapatkan melalui pembelajaran), misalnya bahasa Indonesia. Bahasa ini diperoleh secara formal di sekolah dan digunakan melalui praktik komunikasi antaretnis sehari-hari.

    Kemudian, banyak orang Indonesia juga belajar bahasa asing—bahasa yang dituturkan secara resmi di luar Indonesia—contohnya bahasa Inggris di sekolah. Bahasa ini umumnya menjadi bahasa ketiga.

    Sementara itu, bahasa asing lain, misalnya bahasa Prancis, Jerman, Arab, dan sebagainya, akan menempati posisi berikutnya sebagai bahasa keempat, kelima, keenam, dan seterusnya.

    Memang, untuk memudahkan identifikasi, para ahli ilmu bahasa (linguis) sering menyamaratakan semua bahasa yang dipelajari setelah bahasa ibu sebagai “bahasa kedua”.

    Dalam praktiknya, seorang siswa di Indonesia bisa saja mempelajari bahasa daerah lain sebagai bahasa kedua, terutama jika ia bersekolah di luar wilayah bahasa ibunya.

    Jangan karena terpaksa

    Otak adalah pusat kendali tubuh, yang menjaga seluruh fungsi vital. Gaya hidup sehat memastikan fisik tetap bugar. Sementara belajar bahasa baru menjadi latihan penting untuk menjaga otak tetap aktif, tajam, dan tahan terhadap penuaan.

    Meski demikian, faktor sosial, ekonomi, dan kontekstual tak kalah dominan dalam menentukan keberhasilan pembelajaran bahasa kedua, khususnya menyangkut manfaat resep awet muda.

    Tim peneliti mengamati bahwa mereka yang belajar bahasa asing di negara-negara Eropa, pada umumnya, adalah orang-orang berpendidikan lebih tinggi, memiliki akses dan jejaring luas, serta bergaya hidup sehat.

    Namun demikian, hasil riset tersebut juga menunjukkan bahwa manfaat kesehatan dari belajar bahasa tidak berlaku pada imigran yang merasa terpaksa belajar dan juga perempuan dalam ketidaksetaraan gender.

    Kondisi belajar di bawah keadaan stres, tekanan, dan keterpaksaan justru dapat meniadakan manfaat kognitif. Sebaliknya, hasil terbaik muncul bila bahasa kedua dipelajari sejak muda dan digunakan secara terus-menerus dengan kondisi yang kondusif.

    Tak heran, pembelajaran bahasa kedua yang diwajibkan di sekolah juga kerap tidak mencapai hasil optimal.

    Karena itu, ruang belajar yang sehat dan mendukung perlu diciptakan di tengah masyarakat, agar setiap orang dapat menikmati proses belajar bahasanya.

    Belajar bahasa kedua karena dorongan pribadi (motivasi internal) akan lebih efektif, membahagiakan, sekaligus memperkecil risiko penuaan dini, daripada sekadar memenuhi tuntutan eksternal.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Elga Ahmad Prayoga, La Rochelle Université