7cloud.asia – Ketika mudik ke Boyolali, Jawa Tengah, Lebaran lalu saya dihadapkan pada kondisi yang membuat saya sedikit masygul. Semakin sedikit anak muda yang menggunakan bahasa lokal yakni bahasa Jawa.
Alih-alih menggunakan bahasa Jawa, keponakan saya yang berumur 15 tahun, yang lahir dan besar di Boyolali lebih suka menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi sehari-hari. Bahkan ketika saya mencoba mengajaknya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa dia tetap menggunakan bahasa Indonesia.
Selama sepekan di kampung saya menemukan penggunaan bahasa Jawa lebih banyak digunakan oleh mereka yang sudah dewasa.
Saya sendiri juga mulai kesulitan jika harus menggunakan bahasa Jawa Krama inggil yang seharusnya digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tua. Jangan ditanya lagi, apakah saya bisa membaca tulisan dengan huruf Jawa, dipastikan saya akan tertatih-tatih untuk mengejanya.
Baca: Peran sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta
Ternyata pengalaman yang saya alami ini ini sejalan dengan temuan badan budaya dunia, UNESCO. UNESCO menyebut setengah dari sekitar 6000 bahasa tutur atau bahasa lokal di dunia bakal punah karena semakin sedikit yang menggunakannya.
Dilansir DW Indonesia, dengan dijadikannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, bahasa ini berandil terhadap punahnya bahasa daerah di seluruh bumi Nusantara.
Hingga 2014 di Indonesia terdapat sekitar 700 bahasa daerah, yang sebagian besar masih aktif dituturkan sampai sekarang.
Namun menurut UNESCO, bahasa-bahasa daerah di Indonesia juga dalam bahaya – sekitar 140 bahasa daerah terancam kepunahan.
Masih menurut DW Indonesia, UNESCO menyerukan agar para orang tua untuk berbicara dengan anaknya dalam bahasa yang mereka benar-benar kuasai atau bahasa lokal.
Pentingnya Bahasa Ibu
Memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional, 21 Februari, organisasi untuk suku adat terancam Jerman GfbV menyampaikan kekhawatiran akan punahnya bahasa-bahasa di dunia.
Menurut seorang pejabat GfbV, Sarah Reinke, saat ini sekitar 1.800 dari sedikitnya 6.000 bahasa di dunia terancam kepunahan. Setiap dua minggu, satu bahasa hilang tidak dituturkan lagi.
Di Jerman sendiri, 13 bahasa minoritas dan dialek yang kini masih dipakai, seperti Yiddish dan Romani. Tetapi bahasa-bahasa itu berada dalam ancaman.
Kepunahan bahasa, terutama bahasa minoritas, di dunia diakibatkan dengan semakin meningkatnya mobilitas atau pengaruh media, ditambahkan Sarah Reinke. Selain itu, di beberapa negara otoriter, seperti Rusia dan Cina, bahasa-bahasa minoritas ditekan dengan maksud untuk mencabut akar budaya etnis minoritas di negara-negara tersebut.
Di Amerika Selatan, proyek-proyek pembangunan raksasa mengubur habitat dan bahasa adat di wilayah.
Baca: Tradisi mudik ternyata sudah dikenal sejak zaman Majapahit
“Penting bagi orang tua untuk mengajarkan bahasa mereka kepada anak-anak mereka,” dikatakan Christiane Hoffschildt, dari Asosiasi Terapi Bicara Jerman DBL. Orang tua sebaiknya berbicara dengan anak-anak dalam bahasa yang mereka benar-benar kuasai, yaitu bahasa ibu mereka sendiri. Ini juga berlaku bagi para migran di Jerman.
“Bagi kebanyakan anak (migran) biasanya bukan merupakan masalah untuk belajar Bahasa Jerman sebagai bahasa kedua atau ketiga,“ papar Christiane Hoffschildt.
Kemampuan menguasai satu bahasa ibu merupakan dasar yang sangat penting bagi anak-anak untuk menguasai bahasa-bahasa lainnya.
“Ini bukan saja merupakan kesempatan tambahan untuk kesuksesan karir akademik dan profesional, tapi juga mendukung perkembangan pluralistik dan linguistik dalam masyarakat yang beragam budaya,“ demikian Christiane Hoffschildt.
Baca: Mengapa Suku Badui setia merawat Tradisi Seba
Hari Bahasa Ibu Internasional dicanangkan oleh PBB pada November 1999, dan sejak tahun 2000 diperingati setiap tanggal 21 Februari.
Hari Bahasa Ibu digagas untuk mengangkat perhatian dunia pada bahasa-bahasa yang terancam punah – bahasa dengan kurang dari 10.000 penutur.
Jadi, mulai sekarang selain belajar bahasa nasional dan bahasa internasional tak ada salahnya kita mulai kembali belajar bahasa ibu atau bahasa lokal daerah kita masing-masing. Ini penting untuk merawat agar bahasa ibu kita tidak punah dan hanya menjadi catatan sejarah.
Leave a Reply