Tag: bahasa isyarat

  • Mengenal Surya Sahetapy, Satu-satunya Difabel Tuli Asal Indonesia yang Berhasil Jadi Dosen di Rochester AS

    Mengenal Surya Sahetapy, Satu-satunya Difabel Tuli Asal Indonesia yang Berhasil Jadi Dosen di Rochester AS

    7cloud.asia – Memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional yang jatuh pada Sabtu (23/9/2023) lalu, Ganjar Pranowo mengunggah video pendek berisi percakapannya dengan Surya Sahetapy di akun Instagramnya.

    “Alhamdulillah saya berkesempatan ngobrol banyak banget dengan Mas @suryasahetapy

    “Apa yang disampaikan Mas Surya Sahetapy juga mesti jadi pembelajaran buat kita semua bahwa memanusiakan manusia harus terejawantahkan dalam peraturan, kebijakan dan program kerja siapapun. Baik itu pemerintahan, lembaga maupun organisasi. Ruang diskriminasi harus kita tutup,” demikian Ganjar memberikan caption untuk unggahannya. 

    Panji Surya Sahetapy demikian nama lengkap laki-laki yang mencuri perhatian saya. Dia adalah putra bungsu pasangan Dewi Yull dan Ray Sahetapy.

    Baca: Putri Ariani, kisah sukses difabel netra

    Lantas apa yang membuat Surya Sahetapy berbeda? Dia adalah satu-satunya penyandang difabel tuli  dari Indonesia yang mengajar di Institut Teknologi Rochester Amerika Serikat. 

    Dalam perbincangan itu, Surya Sahetapy mengatakan betapa njomplangnya sekolah inklusi di Indonesia dengan di Rochester AS. Di sana, sekolah inklusi memberikan kesempatan yang setara kepada difabel, termasuk difabel tuli. 

    “Di SD, SMP dan SMA ada juru bahasa isyarat dan ada program bahasa isyarat, yang gurunya adalah difabel tuli,” terang Surya di video itu.

    Surya Sahetapy sbelumnya memang aktif di Gerakan Untuk Kesejahteraan Disabilitas Pendengaran Indonesia (Gerkatin).

    Baca: Potret keseharian difabel tulidi Solo lewat Cerita-cerita Tuli

    Gerkatin adalah organisasi yang fokus memperjuangkan hak difabel pendengaran dan linguistik-budaya, seperti akses bahasa Indonesia melalui teks, akses bahasa isyarat, akses kesetaraan dalam pekerjaan, akses kesehatan, akses pendidikan, dan sebagainya.

    Surya Sahetapy sempat menyelesaikan program magang di kantor Gubernur DKI Jakarta. Bersama rekan-rekannya, Surya juga membuka kelas bahasa isyarat Indonesia (BISINDO) di beberapa kota di Indonesia.

    Pada tahun 2018, Surya Sahetapy dan kawan-kawannya mendirikan yayasan Handai Tuli untuk memajukan kesetaraan di antara masyarakat Tuli sebagai disabilitas linguistik-budaya dan masyarakat dengar di Indonesia.

    Surya Sahetapy divonis tuli sejak usianya 2 tahun. Namun, keterbatasan tersebut tak membuatnya menyerah. Ia pun belajar berkomunikasi dengan belajar bahasa isyarat sejak kecil karena memiliki kakak dan om Tuli.

    Baca: Cara kota Surabaya menjadi ramah difabel

    Ia menjalani terapi berbicara bersama Ibunya dan Instruktur dari sekolah, membaca gerak bibir lawan bicaranya serta komunikasi tulisan.

    Surya kemudian membuktikan walaupun tak mendengar, ia mampu menguasai Bahasa Indonesia lisan, tulis, bahasa isyarat Indonesia, Bahasa Isyarat Amerika, isyarat internasional, serta Bahasa Inggris tulis.

    Pada awalnya, Surya masuk jenjang TK dan SD di sekolah khusus bagi penyandang disabilitas pendengaran.

    Namun, ketika masuk ke SMP umum, ia merasa ada banyak hambatan, tidak seperti sekolah khusus penyandang disabilitas pendengaran, hingga kemudian ia memutuskan untuk bersekolah di rumah (home schooling).

    Surya memiliki keinginan untuk ke luar negeri, namun ia menyadari bahwa ia tidak bisa berbahasa Inggris.

    Baca: Kafe Difabis, potret perjuangan difabel di Jakarta

    Alih-alih menghindar, ia malah mengambil jurusan pendidikan bahasa Inggris sewaktu sempat berkuliah di Universitas Siswa Bangsa Internasional (Sampoerna University), Jakarta Selatan.

    Setelah cuti kuliah selama 1,5 tahun hingga akhirnya ia berhasil untuk bersekolah di Institut Teknologi Rochester (RIT), National Technical Institute for the Deaf, Amerika Serikat.

    Dia mendapatkan gelar diploma (D3) pada 2019 jurusan Applied Liberal Arts (Konsentrasi: Bahasa Isyarat dan Kajian Tuli) dengan predikat Cum Laude.

    Ia pun menyelesaikan pendidikannya untuk meraih sarjana (S1) Studi Internasional di RIT dengan predikat Magna Cum Laude demi bisa kembali untuk membangun Indonesia.

     

    T

     
  • Mengenal Bahasa Isyarat, Cara Komunitas Tuli Berkomunikasi

    Mengenal Bahasa Isyarat, Cara Komunitas Tuli Berkomunikasi

    7cloud.asia – Bertepatan dengan peringatan Hari Bahasa Isyarat Sedunia pada 23 September lalu, Komnas Perempuan mengingatkan urgensi aksesibilitas layanan bahasa isyarat bagi komunitas Tuli.

    Komnas Perempuan menagaskan, layanan bahasa isyarat merupakan kebutuhan dasar penyandang tuli dan pada konteks pemenuhan hak-hak asasi manusia. Layanan bahasa isyarat berkait-paut langsung maupun tak langsung dengan pemenuhan hak-hak dasar yang wajib dipenuhi pemerintah.

    Hak itu di antaranya akses pada informasi dan pengetahuan, hak atas pendidikan, hak partisipasi sosial dan politik, hak atas sosial budaya, dan hak bebas dari diskriminasi.

    Bahasa isyarat merupakan temuan yang memperkaya ragam bahasa yang turut membangun peradaban yang inklusif termasuk pengetahuan berbasis kondisi ketulian.

    Bahasa isyarat tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi internal di antara komunitas Tuli, tetapi juga berperan penting dalam menjembatani mereka dengan masyarakat luas.

    Dengan bahasa isyarat komunitas tuli mampu terlibat secara signifikan dalam kehidupan sosial yang luas, mengembangkan diri dan penghidupan yang layak. Dalam konteks pencegahan kekerasan berbasis gender.

    Sebaliknya, keterbatasan akses pada layanan bahasa isyarat dapat menghambat kesempatan perempuan Tuli memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk perlindungan dari berbagai bentuk diskriminasi, kekerasan dan berbagai perlakuan tak manusiawi.

    Dewasa ini, secara global adanya bahasa-bahasa isyarat relatif telah diketahui publik karena sebagian siaran berita televisi swasta maupun pemerintah di Indonesia maupun mancanegara telah menyediakannya.

    Baca: Cerita Tuli, memotret kseharian masyarakat tulis di Kota Solo

    Sayangnya, pemenuhan layanan bahasa isyarat masih terbatas atau tidak tersedia pada bidang-bidang layanan publik lainnya termasuk lembaga pendidikan, organisasi penyedia layanan yang dikelola pemerintah maupun masyarakat sipil di daerah-daerah. Juga di kanal-kanal informasi media sosial.

    Komisioner Ketua Bidang Advokasi Internasional Komnas Perempuan, Rainy M. Hutabarat, menegaskan bahwa penyandang Tuli memiliki kerentanan khusus di antaranya kondisi disabilitas “tidak terlihat” sehingga berpotensi mengalami diskriminasi berupa isolasi dan kekerasan.

    “Tanpa bahasa isyarat, terlebih tanpa “live/closed caption” termasuk di media sosial seperti youtube dan media virtual lainnya, perempuan tuli mengalami hambatan dalam menerima pesan khususnya pengetahuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi dan mengenali ragam bentuk kekerasan untuk pencegahannya,“ ujarnya.

    Di sisi lain, minimnya akses pada pengetahuan dan informasi mengakibatkan perempuan Tuli lebih rentan menjadi pihak yang tertinggal dan mengalami kekerasan dan perlakuan tak manusiawi.

    Tanpa bahasa isyarat, rekan Tuli juga menjadi pihak yang pasif atau tampak tidak peduli, selain semakin rentan mengalami pelecehan.

    “Ketersediaan layanan bahasa isyarat yang layak memungkinkan rekan Tuli memperoleh informasi dan pengetahuan lebih baik tentang hak-hak mereka dan menguatkan langkah-langkah pencegahan terhadap kekerasan berbasis gender,” imbuh Rainy.

    Komisioner Komnas Perempuan Ketua Sub Komisi Pemantauan, Bahrul Fuad, menyoroti peran pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam mengembangkan sistem pembelajaran bahasa isyarat yang mudah diakses oleh masyarakat luas.

    Selain itu, ia juga menekankan pentingnya regulasi yang mengatur standarisasi dan biaya layanan Juru Bahasa Isyarat (JBI).

    Baca: Surya Sahetapy, penyandang tuli yang sukses jadi dosen

    Selama ini, biaya jasa Juru Bahasa Isyarat masih tergolong tinggi, sehingga banyak kegiatan publik seperti seminar atau webinar tidak mampu menyediakan layanan ini.

    “Pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk menstandarkan biaya dan memastikan layanan ini terjangkau, sebagai wujud komitmen terhadap prinsip ‘Nothing About Us without Us’,” ujar Bahrul.

    Sebagai salah satu amanat dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, layanan bahasa isyarat merupakan hak yang harus dijamin oleh negara.

    Pemenuhan hak ini sangat penting, terutama bagi perempuan Tuli, untuk memastikan mereka tidak hanya memiliki akses terhadap informasi yang relevan, tetapi juga terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan.

    Ketua Komnas Perempuan, Andy Yentriyani, juga menggarisbawahi bahwa bahasa isyarat harus diakui setara dengan bahasa lisan.

    “Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD) mengharuskan negara untuk mempromosikan identitas linguistik komunitas Tuli serta memfasilitasi pembelajaran bahasa isyarat sebagai bagian dari pemenuhan hak-hak mereka,” ujar Andy.

    Hal ini, menurutnya, menjadi langkah penting dalam memperkuat posisi komunitas Tuli, khususnya perempuan tuli dalam masyarakat.

    Peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional ini kembali mengingatkan semua pihak bahwa pemenuhan hak atas layanan bahasa isyarat bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga merupakan bagian integral dari upaya negara dalam mencegah kekerasan berbasis gender dan melindungi hak-hak perempuan Tuli di Indonesia.

  • When the Phone Rings: Romansa yang Tumbuh Karena Bahasa Isyarat

    When the Phone Rings: Romansa yang Tumbuh Karena Bahasa Isyarat

    7cloud.asia – Meski sempat menuai kecaman, drama Korea “When the Phone Rings” secara tidak langsung berhasil mempopulerkan penggunaan bahasa isyarat yang selama ini menjadi sarana berkomunikasi disabilitas bisu dan tuli.

    Seperti diungkapkan tim produksinya saat meminta maaf atas kontroversi yang terjadi, dalam “When the Phone Rings” bahasa isyarat adalah subjek penting yang memainkan peran penting dalam membuat kedua karakter utama akhirnya membuka hati mereka.

    Lewat bahasa isyarat kedua tokoh utama, yakni Hong Hee Joo (diperankan oleh Chae Soo Bin) dan Baek Sa Eon (diperankan Yoo Yeon Seok) yang telah lama tertutup akhirnya berkomunikasi satu sama lain.

    Drakor “When the Phone Rings” menceritakan pernikahan untuk kepentingan kekuasaan dan bisnis antara putra politikus yang bersiap mencalonkan diri menjadi Presiden dan anak pengusaha media.

    Ketegangan pernikahan Baek Sa Eon (politikus yang naik daun) dan Hong Hee Joo (anak perempuan pengusaha mediav) yang bisu mulai terungkap setelah panggilan telepon dari seorang penculik mengubah drastis hubungan keduanya.

    Baca: Drama Korea Family by Choice: Adakah Standar Normal Sebuah Keluarga?

    Seperti yang dikatakan oleh sutradara Park Sang Woo, “Awalnya, romansa mereka tampak seperti pernikahan strategis demi kenyamanan, namun sebenarnya ini adalah kisah cinta sejati yang bertahan lebih dari 20 tahun.”

    Di saat-saat terakhir Episode 4, Hee Joo mendengar perasaan suaminya yang sebenarnya melalui telepon ketika Baek Sa Eon berkata, “Hee Joo bukanlah lampiran, tapi bahasa yang sama sekali baru.”

    Hee Joo menyadari bahwa sikap dingin Sa Eon sebelumnya adalah caranya menghindari keterikatan emosional, dan dia menemukan kenyamanan dalam percakapan mereka di atap.

    Namun, ketika dia terluka saat bertatap muka dengan Sa Eon sambil memegang telepon, pemirsa bertanya-tanya apakah dia telah terungkap sebagai orang di balik ancaman tersebut.

    Meminta maaf
    Episode pertama “When the Phone Rings” ditayangkan Netflix pada Jumat, 22 November 2024, dan tayang setiap hari Jumat dan Sabtu.

    Secara keseluruhan, “When the Phone Rings” terdiri dari 12 episode dan akhir pekan lalu telah tayang episode ke-6.

    Drama Korea Good Partner: Ketika Perceraian Menjadi Jalan Pembebasan Memulai Hidup Baru

    Di episode pertama, karakter utama Hong Hee Joo (diperankan oleh Chae Soo Bin) yang bekerja sebagai penerjemah bahasa isyarat untuk sebuah program berita.

    Karena kesalahan transmisi selama siaran langsung, program terhenti saat Hong Hee Joo menandatangani kata “gunung”, yang secara keliru diartikan sebagai isyarat tangan yang tidak senonoh.

    Setelah episode tersebut ditayangkan, drama tersebut menuai kecaman karena diduga mengejek bahasa isyarat. Sejumlah penonton menyatakan bahwa mereka merasa tersinggung dengan adegan tersebut.

    Tim produksi di balik MBC “When the Phone Rings” telah meminta maaf atas adegan kontroversial dari pemutaran perdana drama Korea tersebut.

    Pada tanggal 29 November 2024, tim produksi “When the Phone Rings” merilis permintaan maaf resmi atas adegan tersebut. Tim tersebut mengklarifikasi bahwa mereka tidak bermaksud untuk mengejek bahasa isyarat dengan cara apa pun.

    Sebaliknya, mereka mengakui bahwa mereka “gagal” dalam menggambarkan kesulitan yang dialami oleh penyandang tuna rungu dan mereka yang menggunakan bahasa tersebut.

    Drama Korea My Happy Ending: Perjuangan Penyintas Bipolar Mengalahkan Penyakitnya

    Pernyataan lengkap mereka adalah sebagai berikut seperti dilansir di Soompi:

    Kami mohon maaf karena telah membuat Anda khawatir melalui bagian adegan tentang bahasa isyarat.

    Tim produksi menanggapi dengan sangat serius kritik bahwa “When the Phone Rings” menggunakan bahasa isyarat secara tidak tepat dan, dalam prosesnya, mengejek orang tuli dan bahasa isyarat Korea.

    Karena “When the Phone Rings” adalah sebuah drama yang diproduksi dengan tema penting komunikasi antarmanusia, kami sama sekali tidak bermaksud mengejek atau meremehkan bahasa isyarat, yang merupakan alat komunikasi berharga bagi para tunarungu.

    Namun, kami dengan rendah hati mengakui bahwa selama proses produksi, tim produksi gagal dalam upaya mereka untuk mempelajari dan menggambarkan kesulitan yang dialami oleh tuna rungu dan mereka yang menggunakan bahasa isyarat Korea dengan lebih cermat.

    Saat kami menyelesaikan drama ini, kami akan berhati-hati dan bekerja keras untuk mencegah kesalahan seperti ini terulang kembali di masa depan.

    Dalam “When the Phone Rings,” bahasa isyarat adalah subjek penting yang memainkan peran penting dalam membuat kedua karakter utama akhirnya membuka hati mereka yang telah lama tertutup dan berkomunikasi satu sama lain.

    Melalui perjalanan dua karakter yang berjuang untuk memahami bahasa satu sama lain sebelum akhirnya sampai pada komunikasi, kami akan bekerja keras untuk memastikan bahwa [“When the Phone Rings”] dikenang sebagai sebuah drama yang sepenuhnya menyampaikan nilai bahasa isyarat sebagai sebuah drama.

    alat penting yang menghubungkan satu orang dengan orang lain. Kami meminta kalian terus menonton drama kami dengan penuh minat dan mengkritik kami jika ada yang kurang.

    Sekali lagi, kami menundukkan kepala untuk meminta maaf.

     

  • Edukasi Bahasa Isyarat Penting: Komunikasi adalah Hak Semua Orang

    Edukasi Bahasa Isyarat Penting: Komunikasi adalah Hak Semua Orang

    7cloud.asia – Memperingati hari jadinya yang ke-24 Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menggelar kegiatan edukasi bahasa isyarat di Museum Penerangan, Jakarta Timur.

    Edukasi bahasa isyarat yang berlangsung di Museum Penerangan, Jakarta Timur ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat semangat solidaritas sosial.

    ”Kami percaya bahwa setiap orang berhak untuk dipahami dan memahami. Melalui kegiatan belajar bahasa isyarat ini, kami ingin membangun jembatan komunikasi yang lebih inklusif,” kata Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (Dirjen KPM) Fifi Aleyda Yahya di Jakarta, Minggu (28/9/2025) dikutip dari Antaranews.com

    Acara bertema “Mengenal Isyarat, Menebar Manfaat” itu digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional yang diperingati setiap tanggal 23 September.

    Hari Bahasa Isyarat Internasional ini menjadi momen penting untuk mengingat bahwa komunikasi adalah hak semua orang.

    Baca: Mengenal bahasa isyarat, cara komunitas tuli berkomunikasi

    Bahasa isyarat hadir sebagai cara berkomunikasi yang kaya makna, bukan hanya bagi komunitas Tuli, tapi juga bagi siapa pun yang ingin membuka akses komunikasi lebih luas.

    Bagi disabilitas tuli dan mereka yang memiliki gangguan pendengaran dan bicara, bahasa isyarat menjadi jembatan penting untuk berinteraksi di lingkungan sosial. Menariknya, kini bahasa isyarat semakin dipelajari banyak orang karena manfaatnya yang begitu beragam.

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Museum Penerangan (Muspen) Mashuri Nur, mengatakan edukasi bahasa isyarat ini sejalan dengan visi pembangunan Muspen sebagai ruang publik untuk mengenal komunikasi secara luas.

    Menurutnya, acara seperti ini juga dapat menjadi pemantik untuk lebih banyak masyarakat berkomunikasi dengan beragam cara dan membuatnya semakin inklusif.

    “Hari ini bukan hanya soal belajar bahasa isyarat, tetapi juga langkah awal menjadi orang yang peduli, mau belajar, dan berdiri bersama komunitas tuli dalam membangun komunikasi yang setara dan inklusif,” katanya.

    Baca: Drama Korea When the Phone Rings populerkan penggunaan bahasa isyarat

    Meski masih kurang, penggunaan bahasa isyarat di Indonesia terus menunjukkan kemajuan yang positif. Semakin banyak kalangan yang menyertakan penerjemah bahasa isyarat untuk mengakomodasi disabilitas tuli.

    Dilansir di wikipedia, perkembangan bahasa isyarat di Indonesia ditandai dengan munculnya dua sistem utama, yaitu Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang berkembang alami dari komunitas Tuli.

    Selain itu juga ada Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang lebih formal dan didasarkan pada American Sign Language (ASL) untuk pendidikan.

    Meskipun penggunaan bahasa isyarat sudah ada sejak abad ke-20 dengan pendirian sekolah untuk anak tuli pada 1954, pengakuan formal BISINDO baru berkembang pada 2006, sementara SIBI dibakukan pada 1994.

    Baca: Surya Sahetapy, difabel tuli Indonesia yang sukses jadi dosen di AS