Tag: bali

  • Mengenal Teba, Cara Unik Warga Bali Mengelola Sampah Rumah Tangga

    Mengenal Teba, Cara Unik Warga Bali Mengelola Sampah Rumah Tangga

     
    “Tidak heran jika tanah di Balidi masa lalu sangat subur dan bagus untuk pertanian dan berkebun, semua berkat teba ini” ujar Santi sebagaimana dikutip Antaranews.com. 
     
    Baca: Rumitnya mengelola sampah yang dihasilkan warga Jakarta
     
    Kini sistem Teba ini diadaptasi kembali. Oleh Santi sistem ini dinamai Teba Modern. Santi berharap  Teba modern ini bisa jadi alternatif solusi yang tepat dalam pengelolaan sampah rumah tangga. 
     
    Teba modern ini diharapkan jadi salah satu alternatif yang dinilai efektif dan efisien dalam menanggulangi sampah yang menumpuk. Santi menyatakan bahwa Teba Modern merupakan sebuah alat atau tempat membuat sampah organik menjadi pupuk kompos.
     
    “Yang digunakan di teba hanya sampah organik, kalau anorganik akan dibawa ke bank sampah karena masih dapat dimanfaatkan kembali serta bernilai ekonomi,” terang Santi.
     
    Teba modern tak lagi sekadar lubang besar di tanah belakang rumah, melainkan telah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi sebuah meja atau bangku di halaman rumah yang dapat digunakan untuk nongkrong atau bercengkerama.
     
    Mereka yang duduk di atas Teba ini tidak sadar jika di bawahnya terdapat lubang sebagai tempat membuat sampah organik menjadi kompos sehingga tidak merasa kotor atau jijik.

    Santi mengatakan, banyak yang belum mengetahui terobosan Teba Modern  karena mereka akan mengira bahwa itu sekadar meja atau kursi untuk duduk-duduk dan berkumpul saja, atau bahkan tidak mengetahui keberadaan Teba Modern karena dibentuk dengan minimalis ini. 

     
    Baca: Jangan gengsi gunakan barang bekas agar tak nyampah

    Santi memaparkan bahwa sebanyak 60 hingga 70 persen sampah organik dari sisa makanan, sayur-sayuran, buah yang membusuk, dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kompos yang diletakkan di dalam Teba Modern.

    Inovasi ini pertama kali dirancang oleh Desa Adat Cemenggaon yang kemudian mulai berkembang ke sejumlah sekolah maupun desa yang berada di Bali. Meskipun belum masif dan merata di seluruh Indonesia, Santi dan kawan-kawan pegiat lingkungan tetap optimistis akan dapat menanggulangi sampah organik dengan cara tersebut.

    Hal pertama yang harus dilakukan pada pembuatan Teba Modern adalah dengan menggali lubang biopori sedalam dua hingga 2,5 meter. Kedalaman tersebut sudah paten dan tidak dapat diubah.

    Ya, hal ini karena Teba Modern memanfaatkan bakteri untuk mempercepat proses penguraian sampah organik. Jika hal tersebut tidak dilakukan dengan benar, hal itu menyebabkan bakteri kesulitan menguraikan sampah karena tingkat keasaman yang tinggi dan oksigen tidak dapat menjangkau proses pengolahannya sehingga sampah tidak akan terurai menjadi pupuk,” urai Santi.

     
    Baca: Ini pesan Laura Kiehl pada anak muda

    Pegiat lingkungan lainnya,  Krishna Sindhu, juga turut menjelaskan terkait dengan pembuatan Teba Modern untuk menangani masalah sampah di Bali.

    Ia merinci bentuk Teba Modern yakni kedalaman yang diperlukan adalah 2,5 meter dengan lebar minimal satu meter. Buisnya dari kedalaman tanah itu hanya satu meter, dan 1,5 meter di bawahnya adalah tanah.

    Setelah proses penggalian lubang, sebenarnya Teba Modern dapat dibentuk sesuai dengan keadaan yang berlaku. Mereka menyatakan ketika luas rumah atau bangunan yang akan dibuatkan Teba Modern cenderung sempit, maka disarankan untuk membuat Teba Modern yang menyatu dengan tanah.

     
    Jika luas halaman luas, maka dapat dibuatkan dalam bentuk yang bervariasi, seperti dibuat menjadi meja dan bangku, atau hal lainnya sesuai keinginan.

    Sejumlah siswa dengan dibimbing guru dan aktivis lingkungan menggali lubang untuk “Teba Modern” di halaman SMK Negeri 1 Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali. ANTARA/HO-DOk Krishna Sindhu.
    Manfaat 

    Banyak manfaat yang dapat dirasakan atas keberadaan Teba Modern ini. Komang Asti, ibu rumah tangga mengatakan banyak manfaat yang telah didapatnya setelah membuat Teba Modern ini. Pupuk kompos dari sampah organik tersebut dapat dipanen 6 bulan hingga 1 tahun sekali.

    Kemudian, pupuk kompos tersebut dapat dijual atau dipakai sendiri untuk menyuburkan tanaman di kebun.

    Pemanfaatan Teba Modern yang lainnya adalah ketika hujan deras terjadi, rumah saya tidak pernah tergenang air. Cukup buka saja tutup dari Teba Modern tersebut dan air hujan akan terserap ke lubang biopori, sehingga air akan masuk ke tanah kembali dan dapat membuat cadangan air di tanah.

    Oleh karena itu para pengusaha, baik rumah makan ataupun industri, diharapkan dapat memanfaatkan sistem ini karena dapat membantu Bumi dari momok permasalahan sampah.

    Jika semua terkendali maka Bumi yang asri dan perubahan iklim yang ekstrem dapat dikendalikan. Asti juga turut berharap  masyarakat senantiasa memiliki niat yang besar untuk menjaga Bumi.

     

     

  • Berniat Healing dengan Belajar Yoga di Bali? Ini Rekomendasinya

    7cloud.asia – Bali sebagai tujuan wisata menawarkan paket tujuan wisata yang lengkap, wisata alam yang indah, wisata kuliner yang beragam, wisata budaya yang menakjubkan serta tempat healing yang nyaman. 

    Orang datang ke Bali dengan beragam tujuan, melepaskan diri dari rutinitas, menyepi untuk  menemukan kedamaian, ataupun healing.

    Di Bali, kadang orang menemukan jati diri dengan menyelami budaya masyarakat Bali yang unik. 

    Sebagqi tempat healing, Bali menawarkan banyak padepokan Yoga buat pengunjungnya untuk menenangkan diri.

    Baca: Berpetualang sambil belajar geologi di geopark

    Berikut adalah kelas yoga di Bali yang paling direkomendasikan untuk kamu yang butuh healing dan mengecharge jiwa kamu: 

    1 | Gudang Yoga, Ubud

     

    Sanggar yoga ini terletak di tengah sawah di Ubud , sebuah kawasan yang dikenal sebagai pusat budaya Bali. The Yoga Barn mencoba mengusung tema pedesaan dan pribumi ke dalam studionya, karena itulah ia memilih istilah ‘gudang’ untuk namanya. 

    Manajemen studio ini juga bertujuan untuk menyediakan lingkungan yang santai dan menginspirasi bagi para tamu dan guru, untuk menemukan kewarasan mereka yang damai. 

    Ada lebih dari 100 kelas yoga per minggu yang bisa kamu ikuti di sini, antara lain kelas Ayurveda, Detox, Breathwork, dan Healing. Yoga Barn menyediakan enam studio yang terdiri dari tiga studio untuk kelas dan lokakarya harian, dan tiga studio untuk retret dan pelatihan.

    Alamat: Jl. Hanoman, Pengosekan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali 80571
    Instagram: theyogabarn


     

    2 | Prana Spa Bali, Seminyak

    Selain menawarkan pengalaman spa yang menenangkan, Prana Spa Bali juga membuka sejumlah kelas yoga setiap hari. Kamu bebas memilih kelas pagi atau sore untuk diikuti, termasuk Sivananda Yoga, Hatha Yoga, dan Vinyasa Flow. 

    Jangan khawatir dengan panas dan serangga karena studio ber-AC dan bebas nyamuk, sehingga kamu dapat mengikuti seluruh sesi dengan nyaman.

    Alamat: Jl. Kunti I No 118 X, Seminyak, Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361
    Instagram:  pranaspabali
     

    3 | Samadi Bali, Canggu

    Rasakan fokus mendalam dan relaksasi di tempat yang dikelilingi oleh taman yang rimbun dan tenteram di Samadi Bali. Ini menyediakan studio dengan desain yang memukau dengan beberapa jendela lebar agar Anda mendapatkan udara segar. 

    Apakah kamu seorang pemula atau penggemar yoga berpengalaman, tempat ini akan selalu siap menyambut dan memenuhi kebutuhanmu. Ini menawarkan pengalaman yoga holistik untuk penyembuhan atau pembaharuan, dengan spesialisasi Yoga Asthanga.

    Alamat: Jl. Canggu Padang Linjong No.39, Canggu, Kec. Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali 80361 Instagram:  samadibali

    Baca: Langgar aturan puluhan wisatawan masuk daftar hitam pendaki Gunung Gede Pangraro

    4 | Gokul Yoga Bali, Mengwi

    Sekolah yoga ini juga membanggakan lingkungan alam sebagai salah satu titik fokusnya. Itu ditempatkan di dalam Shanti Toya Asram yang dikelilingi oleh tanaman hijau subur. 

    Selain menyediakan kursus pelatihan untuk praktisi yoga profesional, Gokul Yoga Bali juga menawarkan retret yoga dan kelas yoga individual bagi mereka yang mendambakan relaksasi yang damai. 

    Sekolah ini memegang dua sertifikat yaitu RY200 dan RYS300 dari Yoga Alliance. Jadi kualitasnya, tidak diragukan lagi, luar biasa.

    Alamat: Jl. Umahanyar, Penarungan, Kec. Mengwi, Kabupaten Badung, Bali 80351
    Instagram:  gokulyogabali
     

    5 | Kekuatan Sekarang Oasis, Sanur 

    Sementara sebagian besar Pusat Kegiatan Yoga dikelilingi oleh tanaman hijau, Power of Now Oasis adalah satu-satunya di Sanur yang memiliki hak istimewa untuk menawarkan studio yoga dengan pemandangan laut.

    Dan yang lebih seru lagi, kamu bisa mengikuti kelasnya, dengan pengawasan instruktur profesional dari dalam dan luar negeri, gratis! 

    Mereka juga menyediakan kelas untuk pemula, dan kelas yang lebih dinamis untuk mereka yang sudah memiliki keterampilan yoga tingkat lanjut. Lebih baik lagi, di Power of Now Oasis Sanur, kamu dapat meminta sesi privat dengan grup sendiri untuk latihan.

    Alamat: Jl. Pantai Retro, Sanur Kauh Kec. Denpasar Sel., Kota Denpasar Bali 80224
    Instagram:  powerofnowoasis

    Baca: Kiat wisata ramah lingkungan

  • Dorong Nol Sampah, Klub Pantai Potato Head Bali Bangun Fasilitas Pengolahan Sampah Plastik

    Dorong Nol Sampah, Klub Pantai Potato Head Bali Bangun Fasilitas Pengolahan Sampah Plastik

    7cloud.asia – Potato Head, sebuah klub pantai kelas atas di Bali telah lama mendorong upaya nol sampah dengan membuat furnitur dan ornamen dekorasi sendiri dari sampah plastik. 

    Kursi, kalung, kotak tisu, dan tatakan gelas di klub pantai Potato Head yang berlokasi di Seminyak Bali ini, dibuat di fasilitas yang mereka bangun sendiri dengan menggunakan berkilo-kilo  sampah plastik. 

    Menurut Chief Experience Officer Potato Head, Simon Pestridge, usaha untuk mengatasi sampah termasuk sampah plastik di Bali sebetulnya sudah mulai dilakukan klub pantai itu sejak didirikan.

    Baca: Rumah plastik di Bali ini dibangun warga negara Prancis

    Sejak mendirikan Potato Head 12 tahun lalu, ujar Simon, pihaknya memanfaatkan 6 ribu daun jendela bekas dari berbagai penjuru Indonesia untuk kebutuhan dekorasi.

    “Idenya adalah kami harus terus mencari cara-cara baru memanfaatkan apa yang selama ini dianggap sampah untuk sesuatu yang bisa menciptakan pengalaman yang indah. Jadi itu sudah mendarah daging di Potato Head sejak awal,” jelasnya.

    Pestridge mengatakan, perhatian klub pantainya mulai terfokus pada sampah plastik pada tahun 2016, ketika sampah jenis itu mencemari banyak pantai di Indonesia, terutama Bali, dan merusak kehidupan laut.

    Baca: Cara Robries memberi nilai lebih pada sampah plastik

    Sampah, termasuk sampah plastik itu, katanya, berasal dari sungai-sungai yang dipenuhi polutan plastik. Ia dan timnya merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu untuk mengatasinya.

    “Ini benar-benar sebuah proses yang didasarkan pada kreativitas, jadi kami melihat limbah yang dihasilkan dan kemudian kami mencoba untuk berkreasi tentang apa yang dapat kami lakukan dengannya, menggunakan sains, desain, berbagai elemen,” imbuhnya.

    Dari Juni tahun 2022 hingga April 2023, Potato Head, menurut Prestidge telah mendaur ulang sekitar seribu kilogram sampah plastik untuk berbagai proyek ramah lingkungan.

    Baca: Guna ulang lebih disarankan ketimbang daur ulang, mengapa?

    Tidak hanya sampah plastik, Potato Head juga, berupaya meminimalisir sampah lainnya seperti minyak bekas dan botol anggur kosong.

    Kedua barang itu, contohnya, digunakan, untuk membuat lilin yang dibutuhkan untuk dekorasi dan penerangan. Pestridge mengaku, apa yang dilakukan klub pantainya mendapat sambutan positif para pelanggannya.

    “Kami memilik etos, indah dan berkelanjutan. Oleh karena itu apa yang kami ciptakan harus indah dan menciptakan pengalaman yang lebih baik bagi para tamu tapi mendukung keberlanjutan lingkungan. Dan mereka menanggapi positif hal ini,” komentarnya.

    Baca: Kurangi sampah plastik, kurangi 5 jenis sampah plastik ini

    Pantai-pantai ikonik Bali dalam beberapa tahun terakhir kerap dipenuhi sampah plastik, terutama saat musim hujan mencapai puncaknya.

    Tak sedikit di antaranya berasal dari kiriman pulau di dekatnya, Jawa. Angin kencang dan hujan menyapu sampah dari Jawa ke Bali.

    Meski demikian, penduduk lokal dan banyak wisatawan optimistis bahwa Bali bergerak ke ‘arah yang benar’.

    Baca: Tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023 untuk kurangi sampah plastik

    Napas Vongkusolkit, turis asal Thailand, mengatakan, “Sungguh mengesankan inisiatif orang Bali, hotel, dan apa yang dilakukan kebanyakan orang di sekitar sini dalam hal mengumpulkan dan mendaur ulang sampah.”

    Upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk mengurangi sampah plastik di Bali antara lain melalui pelarangan penggunaan kantong plastik di supermarket-supermarket.

    Polusi yang diakibatkan sampah plastik mengancam eksistensi banyak spesies laut, dan mikroplastik kini telah menjadi bagian dari rantai makanan mereka.

    Kelompok-kelompok lingkungan memperingatkan sampah plastik menimbulkan konsekuensi yang parah bagi kehidupan dan planet ini.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Pegiat Lingkungan Asal Prancis Bangun Rumah dari Sampah Plastik di Bali

    Pegiat Lingkungan Asal Prancis Bangun Rumah dari Sampah Plastik di Bali

    7cloud.asia – Sejumlah pegiat lingkungan di Bali yang peduli pada sampah plastik menggelar berbagai cara untuk mengatasi limbah yang sulit terdekomposisi itu.

    Para pegiat lingkungan di Bali mendaur ulang sampah plastik menjadi berbagai benda yang bermanfaat dan bahkan sama sekali berbeda dengan bentuk asalnya.

    Untuk tahu rasanya tinggal dalam rumah yang hampir semuanya terbuat dari sampah plastik, kita bisa berkunjung ke rumah aktivis lingkungan asal Prancis yang kini tinggal di Bali, Gary Bencheghib.

    Baca: Sumber terbesar sampah plastik yang cemari lingkungan

    Rumah seluas 12 meter persegi yang dinamai “Pondok Alit” itu sepenuhnya terbuat dari sampah plastik. Tempat tidur, kamar mandi dan dapur dibuat dari sampah plastik yang dikumpulkan dari sungai dan kemudian diproses

    “Kita menggunakan 35.000 kantong keresek plastik yang kita olah menjadi papan yang dibutuhkan untuk membuat dinding, lantai, dan atap (rumah ini),” jelasnya.

    Telah lebih dari setengah tahun, Bencheghib, mengaku tidur di rumah bergaya minimalis itu. Jadi jangan harap pengunjung menemukan benda mewah atau moderen di sana.

    Baca: Guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik, tapi diabaikan

    Untuk mengatasi udara Bali yang panas, rumah dari sampah plastik ini mengandalkan sistem ventilasi udara alami.

    “The inspiration behind this is really to show that apapun dari sampah palstik yang paling kotor bisa menjadi karya kreatif bila kita giving them the second life,” komentarnya.

    Penerima penghargaan bergengsi Ramon Magsaysay Award tahun 2022 ini adalah pendiri organisi nirlaba “Sungai Watch”.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari Siklus

    Sungai Watch didirikan pada tahun 2020 ini memiliki tujuan utama membersihkan sungai-sungai yang tersumbat, pantai-pantai yang kotor, dan tempat-tempat pembuangan sampah ilegal di sekitar Bali dan Jawa.

    Target utama organisasi itu adalah menghentikan sampah, khususnya sampah plastik, dibuang masuk ke laut.

    Sampah plastik memang menjadi masalah serius bagi lingkungan di Indonesia, termasuk di Bali. 

    Baca: Robries memberi nilai lebih pada sampah plastik

    Kementerian Kehutanan dan Lingkungan mencatat, sepanjang tahun 2021 saja Bali memproduksi 915.500 ton sampah yang sebagian besar berupa sampah plastik.

    Kondisi ini membuat Bali provinsi penghasil sampah terbesar ke-8 di Indonesia. Namun kini berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi sampah plastik ini.

    Setelah menyelesaikan rumah pertamanya yang terbuat dari sampah plastik yang didaur ulang, Bencheghib ingin mengembangkan lebih lanjut model rumah itu dan memproduksinya secara massal untuk korban bencana alam.

    Baca: Baru dua produsen yang serius garap sampah plastiknya

    Namun, ia mengaku, usahanya itu masih berliku mengingat tidak murahnya upaya mendaur ulang sampah plastik menjadi bahan baku rumah.

    Ia hanya berharap, jika teknologi memungkinkan, rumah plastik kelak dibuat secara massal di pabrik.

    “Apakah bisa jadi seperti prefab, artinya dibuat di pabrik sehingga di lapangan kita hanya tinggal merakitnya,” jelasnya.

    Baca: Dunia targetkan turunkan sampah plastik hingga 80 persen pada 2040

    Tidak hanya Gary dan Sungai Watch yang berusaha mendaur uang sampah plastik untuk menyelamatkan lingkungan di Bali.

    Salah satu klub pantai kelas atas di Bali juga mendorong upaya nol sampah dengan membuat furnitur dan ornamen dekorasi sendiri dari sampah plastik.

    Kursi, kalung, kotak tisu, dan tatakan gelas di klub pantai Potato Head dibuat di fasilitas mereka sendiri dengan menggunakan berkilo-kilo sampah plastik.

    Namun detail seperti apa yang dilakukan Potato Head dalam mengolah sampah plastik, ikuti di tulisan selanjutnya. 

    Sumber: VOA Indonesia

     

  • Dampak El Nino, Kekeringan di Bali Meluas

    Dampak El Nino, Kekeringan di Bali Meluas

    7cloud.asia – Kekeringan akibat kemarau panjang masih terjadi di sejumlah tempat meski di beberapa wilayah hujan mulai turun.

    Seperti yang terjadi Bali, kekeringan akibat kemarau panajng terus meluas dan kini telah dialami 15 kecamatan.

    Kekeringan ini terjadi sebagai dampak fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang sehingga mengakibatkan beberapa wilayah di Bali tidak turun hujan selama 80 hari.

    “Secara umum di Bali berada pada kategori masih ada hujan hingga kekeringan ekstrem,” ujar Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar, I Nyoman Gede Wiryajaya seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Kekeringan picu krisis air bersih, warga Muara Angke harus beli air dengan harga mahal

    Kelimabelas kecamatan tersebut adalah Kecamatan Buleleng, Gerokgak, Kubutambahan, Sawan, dan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

    Selain itu, Kecamatan Melayan, Kabupaten Jembrana; Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli; Kecamatan Karangasem dan Kubu, Kabupaten Karangasem.

    Kecamatan Kuta, Kuta Utara, dan Kuta Selatan, Kabupaten Badung; Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung; dan Kecamatan Denpasar Timur dan Denpasar Selatan, Kota Denpasar juga tak luput dari kekeringan.

    Baca: Kekeringan bikin biaya tanam melonjak

    Di antara 15 kecamatan tersebut, lanjut Nyoman, yang paling lama mengalami kekeringan adalah Kecamatan Kubu, Kubutambahan, dan Kintamani.

    Dengan demikian, BMKG menerbitkan peringatan dini kekeringan di Pulau Dewata yang berlaku selama dasarian atau per 10 hari yang akan diperbarui berdasarkan pengamatan terbaru BMKG.

    Pada 10 hari lalu, BMKG Denpasar mencatat kekeringan terjadi di 14 kecamatan di Bali.

    Baca: Harga beras naik, sebagian warga Rangkasbitung beralih konsumsi palawija

    Selanjutnya Nyoman menjelaska meski kini kekeringan meluas hingga 15 kecamatan, tetapi masih ada potensi terjadi hujan hingga 30 September 2023.

    Wlayah yang berpotensi hujan yaitu, Kecamatan Selemadeg, Selemadeg Barat, dan Sidemen.“Distribusi curah hujan di Bali secara umum itu antara nol hingga 215,5 milimeter per 10 hari,” ungkapnya.

    Sebelumnya, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Bali terjadi pada Juli-Agustus 2023 yang dipengaruhi fenomena El Nino.

    Baca: El Nino picu kekeringan, produksi beras diperkirakan bakal minus

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya.

    Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali. Fenomena alami ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Tradisi Perang Ketupat, Wujud Rasa Syukur Warga Bali atas Kesuburan Tanah

    Tradisi Perang Ketupat, Wujud Rasa Syukur Warga Bali atas Kesuburan Tanah

    7cloud.asia – Ribuan warga meramaikan  Tradisi Aci Tabuh Rah Pengangon atau Tradisi Perang Ketupat di Desa Kapal, Badung, Bali, Jumat (29/9/2023).

    Tradisi perang ketupat di desa Kapal, Badung Bali ini sudah dimulai sejak tahun 1939 dan telah ditetapkan UNESCO  sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2019.

    Tradisi perang ketupat di Bali ini digelar setiap setahun sekali tepatnya pada hari suci purnama kapat untuk memohon kesejahteraan serta wujud syukur atas kesuburan pada lahan pertanian. 

    Dilansir punapiBali.com, prosesi Perang Ketupat diawali dengan upacara persembahyangan oleh warga secara bersamaan di pura setempat.

    Baca: Mengenal tradisi Seba dari masyarakat Badui

    Pada saat berlangsungnya upacara Perang Ketupat, pemangku adat mengikuti sambil membaca mantra-mantra dan memercikkan air suci ke seluruh warga setempat.

    Kemudian ia akan memohon kepada Sang Hyang Widhi agar perang tersebut bisa sukses dan memberikan kesejahteraan serta keselamatan bagi warga desa.

    Setelah melakukan persembahyangan di pura setempat, peserta akan menyiapkan amunisi. Di sinilah sisi unik dari Perang Ketupat.

    Sebagaimana namanya, Perang Ketupat ini memiliki amunisi berupa ketupat yang dihasilkan dari sumbangan warga desa Kapal. Ketupat tersebut jumlahnya ribuan dan selanjutnya digunakan untuk memukul atau mengenai lawan.

    Baca: Tradisi mudik ternyata sudah ada sejak jaman Majapahit

    Peserta tradisi Perang Ketupat dibagi menjadi dua kelompok yang satu sama lain saling berhadapan.

    Perang pun dimulai dengan diberi aba-aba terlebih dahulu. Tradisi tersebut menjadi sangat menarik karena sorak-sorai dari warga setempat yang berpartisipasi dalam acara tersebut. 

     

    Tradisi perang ketupat ini menarik wisatawan yang datang, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

    Sebagaimana layaknya sebuah perang, warga akan saling berhadap-hadapan dan melempar ketupat ke arah lawan. Pesertanya adalah warga masyarakat di desa tersebut.

    Baca: UNESCO tetapkan sumbu filosofi Yogya menjaid warisan dunia

    Perang Ketupat merupakan sebuah acara adat, dimana semua peserta melakukan perang dengan saling melempar ketupat.

    Di Indonesia sendiri, tradisi perang ketupat juga ditemukan di Bangka Belitung dan Bali. Untuk Perang Ketupat di Bali disebut dengan Aci Rah Pengangon.

    Perang Ketupat di desa Kapal merupakan tradisi leluhur yang masih dilestarikan hingga saat ini. Perayaannya dilakukan satu tahun sekali.

    Tradisi Perang Ketupat sudah ada sejak tahun 1930an-an. Pada awal kemunculannya, tradisi tersebut melibatkan dua orang laki-laki yang bertelanjang dada. Masing-masing dari mereka bersenjatakan ketupat serta kue bantal.

    Baca: Tradisi ngarak Maulid di Tangerang

    Begitu Perang Ketupat dinyatakan mulai, kedua peserta akan saling menyerang dengan melemparkan ketupat ataupun kue bantal.

    Tidak ada aturan khusus dalam perang ketupat, setiap pemain bebas melempar ke arah manapun di kubu lawan.

    Warga Desa Kapal, Badung, Bali percaya bahwa dengan digelarnya Perang Ketupat, mereka akan memperoleh kesejahteraan.

    Bahkan, menurut ungkapan sesepuh di desa tersebut, perang ketupat dianggap sebagai simbol dari kemakmuran warga.

    Baca: Makna sebar apem ya qowiyyu di Klaten

    Perang Ketupat ini juga merupakan salah satu ritual yang diyakini sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas semua berkah yang selama ini telah diberikan.

    Kegiatan melempar ketupat ke arah lawan tersebut merupakan bentuk ekspresi, yang maksudnya adalah nasi dan ketupat tersebut dipersembahkan kepada alam semesta.

    Setelah selesai prosesi, ketupat-ketupat tersebut akan dinikmati oleh semua masyarakat.

     

  • Kebakaran di Tempat Pembuangan Sampah Akhir atau TPA Suwung, Diduga Api Dipicu Gas Metana

    Kebakaran di Tempat Pembuangan Sampah Akhir atau TPA Suwung, Diduga Api Dipicu Gas Metana

    7cloud.asia – Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kembali terjadi. Kali ini TPA Regional Sarbagita (TPA Suwung), Denpasar, Bali.

    Kebakaran yang mulai terjadi Kamis (12/10/2023) siang terus meluas hingga hampir setengah lahan TPA Suwung Bali tersebut hangus.

    Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar, Ardy Ganggas seperti dilansir Antaranews mengatakan, berdasarkan pemantauan udara pada Kamis sore, sekitar seperempat luas lahan TPA terbakar.

    “Tetapi kini hampir separuh yang terbakar. Dari lahan TPA seluas 32 hektare, hampir separuhnya terbakar,” jelas Ardy.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan ditimbun sudah saatnya diakhiri

    Ardy menambahkan, pihaknya terus melakukan pemadaman dengan menggunakan alat berat untuk memotong arus api dengan mengeruk lumpur-lumpur dan mengantisipasi api menjalar hingga ke pemukiman penduduk.

    “Alat berat digunakan untuk melakukan blokir dengan lumpur berair untuk menutup pergerakan api,” ujarnya.

    Tim pemadam kebakaran BPBD Kota Denpasar juga digantikan dengan regu malam untuk melakukan pemadaman.

    Baca: Pengelolaan sampah dengan teknologi Masaro mampu olah sekilo sampah jasi 1 gram emas

    Setidaknya tujuh mobil damkar (pemadam kebakaran) dari Kota Denpasar dikerahkan untuk memadamkan kebakaran di TPA Suwung, Bali ini. 

    “Selain itu juga dibantu dua damkar dari Kabupaten Badung dan satu damkar dari Kabupaten Gianyar,” urainya.

    Operasi pemadaman dilakukan dengan dipimpin Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, Made Rentin bersama Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Made Teja.

    Baca: Bakteri pemangsa gas metana untuk menahan laju pemanasan global

    Sebanyak 10 unit mobil damkar dikerahkan untuk memadamkan api. Selain itu dua unit mobil ambulans dari BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kota Denpasar bersiaga di lokasi TPA Suwung.

    Ada pula satu unit wheel loader dan empat ekskavator untuk membuka jalan dan akses mendekati titik-titik api agar mobil pemadam kebakaran lebih mudah bergerak menyemprotkan air.

    Sementara itu, Polresta Denpasar menyatakan penyebab kebakaran di TPA Suwung diduga akibat metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah.

    Baca: Yuk kenali sampah plastik dan nilai ekonominya

    “Penyebab kebakaran diperkirakan dari panasnya tumpukan sampah dan gas metan yang dihasilkan, sehingga berpotensi mengeluarkan api,” kata Kepala Seksi Humas Polresta Denpasar, Iptu Ketut Sukadi.

    Sukadi mengatakan peristiwa kebakaran tersebut terjadi pada Kamis (12/10/2023) sejak pukul 11.00 Wita.

    Seorang saksi bernama Gede Mahardika (51) mengatakan ketika ia bekerja di kantor TPA Suwung tiba tiba melihat kepulan asap hitam pekat bersumber dari tumpukan sampah.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan bakteri untuk bersihkan polusi tanah

    Tak lama setelah itu, kata Gede, asap hitam pekat berubah menjadi asap putih dan tersebar di sekitar daerah Sesetan, Denpasar Selatan.

    Setelah melihat api yang cepat membesar tersebut, pihak pengelola TPA langsung menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran Kota Denpasar dan BPBD Denpasar untuk memadamkan api tersebut.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Kekeringan Berlanjut, Pemprov Bali Tetapkan Siaga Darurat

    Kekeringan Berlanjut, Pemprov Bali Tetapkan Siaga Darurat

    7cloud.asia – Kekeringan masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia, salah satunya terjadi di Bali.

    Akibat kekeringan yang berkepanjangan ini, Pemprov Bali menetapkan status siaga darurat kekeringan selama 14 hari ke depan.

    Status darurta kekeriangan di Bali ini dikatakan oleh Penjabat (Pj) Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya seperti dikutip Antaranews.

    “Dengan melihat perkembangan situasi yang ada, untuk perlindungan masyarakat dan meningkatkan kesiapsiagaan, serta memudahkan akses, kami sepakat menetapkan 14 hari ke depan status siaga darurat, mulai hari ini,” katanya, Kamis (19/10/2023).

    Baca: Pejelasan BMKG mengapa cuaca terasa begitu terik beberapa hari ini

    Selanjutnya Sang Made menjelaskan dalam kurun waktu 14 hari tersebut pihaknya akan berupaya mengintesifkan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan yang saat ini sedang terjadi di sejumlah wilayah di Bali.

    Termasuk menyalurkan bantuan kepada daerah-daerah yang dalam kondisi krisis air bersih atau kekeringan.

    Menurut Sang Made, status siaga darurat kekeringan ini eskalasi yang paling rendah ya menurut undang-undang.

    “Sehingga nanti kita gerakan dan aksesnya (dalam menangani bencana) lebih mudah, baik melakukan berbagai kegiatan termasuk memberi ruang dukungan,” jelasnya.

    Baca: 5 kota yang paling nyaman dikunjungi

    Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Bali, I Made Rentin dalam rapat koordinasi penanganan darurat bencana bersama mengatakan ada dua permohonan dalam situasi ini.

    Pertama, permohonan kelengkapan alat untuk penanganan kedaruratan kekeringan di seluruh Bali.

    Kedua, penerapan teknologi modifikasi cuaca (TMC) mengingat berdasarkan data BMKG Wilayah III Denpasar terdapat tiga kecamatan di Provinsi Bali yang lebih dari 94 hari berstatus hari tanpa hujan (HTH).

    “Pertama Kecamatan Kubu, Karangasem, kedua Kubutambahan, Buleleng, ketiga Gerokgak, Buleleng. Oleh karena itu menjadi urgen dan mendesak bagi kami di Bali untuk menerapkan TMC,” kata Rentin.

    Baca: 8 kota pilihan untuk menghabiskan masa pensiun

    Menanggapi hal ini, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto meminta agar daerah segera mengajukan peralatan yang dibutuhkan.

    Selain itu, Suharyanto berjanji menurunkan armada dan peralatan penyemaian untuk melakukan modifikasi cuaca.

    Sebagai informasi BNPB ini sudah melaksanakan TMC 3 bulan terakhir terus menerus, permasalahannya itu di sarana prasarananya, jadi per hari ini kita hanya punya lima pesawat, itu pun lima dari swasta.

    “Lima pesawat itu fokus ke Kalimantan dan Sumatera, sekarang kita fokus ke Riau dan Sumatera Selatan. Setelah reda kita laksanakan di Bali ya,” papar Suharyanto.

    Baca: Mengenal kota ramah lansia, ini kriterianya

    “Satu pesawat ini bisa untuk Bali lah, karena Bali banyak event-event internasional, kalau kondisinya kurang baik malu juga sebagai negara. Pasti itu ya TMC, tapi juga kita lihat prediksi BMKG,” sambungnya.

    Sementara itu, Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III, I Nyoman Gede Wiryajaya untuk melalukan TMC pihaknya harus memastikan posisi dan keberadaan awan.

    Jika telah disetujui, maka BMKG akan melakukan pemantauan posisi dan arah pergerakan awan ke Bali, baik melalui arah Banyuwangi, ataupun Lombok.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kekeringan di Bali Meluas Hingga 35 Kecamatan, BBMKG Rilis Peringatan Dini

    Kekeringan di Bali Meluas Hingga 35 Kecamatan, BBMKG Rilis Peringatan Dini

    7cloud.asia – Meski beberapa wilayah di Indonesia sudah mulai diguyur hujan, tetapi kekeringan masih melanda. Diantaranya Bali, kekeringan meluas hingga 35 kecamatan di Pulau Dewata ini.

    Berdasarkan data dari Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, sebelumnya kekeringan di Bali melanda 26 kecamatan.

    Kemudian pada minggu ketiga Oktober hingga memasuki November 2023 kekeringan yang melanda menjadi 35 kecamatan di Bali.

    “Daerah tanpa hujan berturut-turut di wilayah itu hingga 121 hari,” ucap Koordinator Bidang Data dan Informasi BBMKG Wilayah III Denpasar, I Nyoman Gede Wiryajaya yang dikutip Antaranews.

    baca: dampak el nino kekeringan di bali meluas

    BBMKG wilayah III Denpasar mengeluarkan peringatan dini kekeringan untuk Kabupaten Buleleng yaitu di Buleleng, Gerokgak, Kubutambahan, Sawan, Seririt, dan Tejakula.
     
    Kemudian di Kabupaten Jembrana di Melaya, Pekutatan dan Mendoyo, Kabupaten Tabanan di Kediri, Marga, Penebel, Kerambitan, dan Tabanan.

    Selain itu, peringatan dini kekeringan juga berlaku untuk Kabupaten Bangli di Bangli, Tembuku dan Kintamani, kemudian di Kabupaten Karangasem di Abang, Karangasem dan Kubu.
     
    Peringatan dini kekeringan juga untuk Kabupaten Badung di Kuta, Kuta Utara, Kuta Selatan, Mengwi, serta di Kabupaten Klungkung di Dawan, dan Nusa Penida.
     
    Wilayah lain yang mengalami kekeringan yakni di Kabupaten Gianyar meliputi Payangan, Sukawati, Blahbatuh, Tampaksiring dan Ubud serta di Kota Denpasar yakni di Denpasar Timur, Denpasar Barat, Denpasat Utara dan Denpasar Selatan.

    baca: kekeringan berlanjut pemprov bali tetapkan siaga darurat

    Selanjutnya Wiryajaya menjelaskan kecamatan dengan hari tanpa hujan paling banyak berturut-turut yakni di Kecamatan Kubu selama 121 hari, Kubutambahan selama 120 hari dan Gerokgak selama 115 hari.

    Namun, BBMKG Denpasar memprediksi hujan masih berpotensi turun di sejumlah kawasan di Bali selama periode 1-10 November 2023 yakni di Kabupaten Tabanan, Kecamatan Pekutatan, Busungbiu, Seririt.
     
    Hujan juga diperkirakan turun di Sukasada, Banjar, Petang, Abiansemal, Mengwi, Payangan, Tegalalang, Tampaksiring, Susut, Tembuku, Bangli, Selat, Sidemen dan Rendang.
     
    “Distribusi curah hujan di Bali secara umum antara nol hingga 86,5 milimeter per 10 hari,” katanya.
     
    Puncak musim hujan di Bali diperkirakan terjadi pada Januari 2024 dengan curah hujan antara 500-600 milimeter per bulan.

    baca: imbas kekeringan petani di bogor dapat asuransi rp 6 juta

    Hanya satu zona musim, yakni di Karangasem bagian selatan yang diperkirakan puncak musim hujannya terjadi pada Februari 2024.

    Saat puncak musim hujan ini, BMKG mengimbau masyarakat agar mewaspadai dampak bencana hidrometeorologi di antaranya banjir dan tanah longsor.
     
    Sementara itu, BBMKG Denpasar akan memperbarui pemantauan potensi kekeringan dan musim hujan di Bali per dasarian atau per 10 hari.
     
    Reporter: Nurakhmayani

  • Pemilu 2024: Saksi PDI Perjuangan Bali Tolak Tandatangani Hasil Pleno Rekapitulasi Suara

    Pemilu 2024: Saksi PDI Perjuangan Bali Tolak Tandatangani Hasil Pleno Rekapitulasi Suara

    7cloud.asia – Sejumlah saksi PDI Perjuangan di kabupaten/kota di Bali menolak menandatangani hasil pleno rekapitulasi suara Pemilu 2024 di KPUD Bali.

    Wakil Sekretaris Badan Saksi Pemilu Nasional (BSPN) PDI Perjuangan Ketut Bela Nusantara mengatakan keengganan saksi menandatangani hasil pleno rekapitulasi tingkat provinsi Bali karena beberapa alasan.

    Menurutnya ini terjadi secara spontan dan natural tanpa instruksi, namun bukan karena hasil rekapitulasi di Bali, Penolakan itu sebagai bentuk protes mereka atas pelaksanaan Pemilu 2024 di pusat.

    “Di Bali sudah, sudah sesuai sejauh ini karena kan kita punya data dari bawah, komparasikan diawasi juga suara pemilihan presiden dan pemilihan legislatifnya,” kata Bela di Denpasar, Jumat (8/3/2024).

    Ia menyampaikan hingga proses rekapitulasi suara tingkat provinsi berlangsung, kerja KPU Bali sudah sesuai, namun mereka memprotes soal pencalonan salah satu peserta pemilu.

    Baca: DPD PDI Perjuangan Bali sempat minta Sirekap diaudit

    Para saksi juga menyoal  proses rekapitulasi tingkat kecamatan yang sempat dihentikan serentak akibat perbaikan Sirekap, dan indikasi peran aparat yang membantu salah satu paslon.

    “Banyak ya yang kita lihat prosesnya banyak anomali, terjadi banyak dugaan-dugaan kecurangan pemilu yang kita sudah diskusikan, tapi karena kita partai yang punya aturan jadi kita menyampaikan melalui keberatan itu,” ujarnya.

    Meski keberatan mereka tak berkaitan langsung dengan proses di rekapitulasi suara di Pulau Dewata, KPU Bali tak mempermasalahkan jika ada kejadian khusus berupa keberatan saksi.

    PDI Perjuangan di Bali juga menyebut tak ada instruksi khusus bagi saksinya di bawah untuk tidak menandatangani berita acara pleno, semuanya berjalan natural dan secara tidak disengaja kompak dilakukan saksi di 9 kabupaten/kota.

    “Kalau instruksi sebenarnya tidak ada, karena yang kita bekali ke saksi kalau dia melihat ada kejanggalan yasudah dilaporkan, itu sudah alamiah saja,” kata Bela.

    Baca: Jusuf Kalla sebut Pemilu 2024 terburuk sepanjang sejarah

    Pada proses rekapitulasi suara tingkat provinsi yang hari ini berlangsung, PDI Perjuangan Bali mengatakan akan menunjukkan sikap juga pada akhir pleno.

    Namun, Bela enggan membocorkan apa yang akan dimunculkan oleh kader PDI Perjuangan di Bali.

    Dalam kesempatan ini ia datang bersama 3 orang saksi lainnya, ia mengaku tak akan ragu berdiskusi dan mengajukan keberatan apabila terjadi kesalahan dalam proses rekapitulasi provinsi.

    KPU Bali menggelar proses pleno rekapitulasi suara provinsi menghadirkan saksi peserta Pemilu 2024 dan KPU kabupaten/kota.

    Selama proses mereka akan membacakan hasil penghitungan suara kelima jenis surat suara tiap kabupaten/kota untuk selanjutnya dijumlahkan dan diserahkan ke KPU pusat. 

    Sumber: Antaranews.com