Tag: banjir lahar dingin

  • Banjir Lahar Dingin Gunung Marapi Putuskan Jalur Padang-Bukittinggi

    Banjir Lahar Dingin Gunung Marapi Putuskan Jalur Padang-Bukittinggi

    7cloud.asia – Banjir lahar dingin Gunung Marapi yang menerjang beberapa daerah di Sumatera Barat pada Jumat (5/4/2024) mengakibatkan ruas jalan lintas Bukittinggi-Padang putus total.

    Banjir lahar dingin Gunung Marapi yang ditandai oleh aliran deras air berwarna hitam pekat yang menerjang daerah-daerah yang dilaluinya.

    Kerusakan karena besarnya banjir lahar dingin dari Gunung Marapi itu terpantau terjadi di daerah Air Angek Kabupaten Tanah Datar dan Bukit Batabuah, Canduang dan Sungai Puar Kabupaten Agam.

    Baca: Gunung Marapi meletus tewaskan 11 orang

    “Kami mendengar dan melihat aliran air yang membesar sebanyak dua kali, pertama sekitar jam 15.00 WIB dan satu jam setelahnya, aliran kedua berbunyi gemuruh,” kata seorang warga Bukit Batabuah Sutan Makmur (68), di Bukittinggi dilansir Antaranews.com.

    Aliran lahar dingin ini terlihat merusak sawah dan pekarangan warga serta memutus akses jalan hingga beberapa kendaraan ikut terjebak.

    Di Bukit Batabuah, tampak personel kepolisian bersama TNI dan BPBD serta warga berusaha membersihkan sisa material banjir yang hanyut hingga menutup aliran air di bawah jembatan.

    Baca: Hindari jatuhnya korban warga diimbau jauhi daerah rawan bencana  

    “Sempat ada pengendara sepeda motor yang terseret namun telah bisa diselamatkan dan dievakuasi. Kami masih melakukan evakuasi dan pembersihan,” kata Kapolresta Bukittinggi Kombespol Yessi Kurniati.

    Ia menegaskan melakukan koordinasi dengan BPBD dan pihak lainnya untuk segera membuka akses jalan.

    “Kami tunggu alat berat dan terus melakukan pembersihan karena material banjir menyumbat di jembatan, warga diminta tetap waspada,” ujarnya.

    Sumber: Antaranews.com

  • Ancaman Banjir Lahar Dingin Jadi Perhatian Serius BNPB pada 2025

    Ancaman Banjir Lahar Dingin Jadi Perhatian Serius BNPB pada 2025

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, jenis bencana yang paling signifikan dan fatal atau banyak memakan korban jiwa adalah banjir lahar dingin dan banjir bandang yang terjadi di sejumlah daerah.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan banjir lahar dingin ini antara lain terjadi di Gunung Marapi, Sumatra Barat dan Gunung Ibu di Halmahera, Maluku Utara.

    Upaya meminimalisir potensi dampak kerusakan infrastruktur dan korban jiwa akibat bencana banjir bandang yang bercampur material lahar dingin gunung berapi menjadi perhatian khusus BNPB pada 2025.

    Hal ini diungkap Muhari dalam jumpa pers “Kaleidoskop bencana 2024 dan outlook potensi bencana 2025” yang digelar BNPB secara daring di Jakarta, Selasa (7/1/2025),

    “Dampaknya luar biasa dan sudah terjadi tapi tidak mudah, karena ada ratusan gunung di Indonesia yang puluhan di antaranya aktif sementara kondisi kita belum memiliki sistem pendeteksi banjir dan penumpukan material erupsi gunung api,” kata Muhari. 

    Baca: BNPB catat 2.107 bencana alam sepanjang 2024

    Muhari menambahkan, data yang diperoleh BNPB selama ini adalah prakiraan cuaca. Sementara potensi terjadinya banjir lahar dingin akibat tumpukan material di hulu sungai tidak diketahui.

    Karena itu, sejak akhir 2024 BNPB sudah mulai membangun peralatan sistem peringatan dini banjir lahar terintegrasi di aliran sungai yang berhulu dari Gunung Marapi, Sumatera Barat.

    Enam dari 26 aliran sungai Gunung Marapi sudah dipasang sistem peringatan dini yang berupa perangkat sensor, kamera pengawas (CCTV) dan menara sirene itu.

    Keberadaan alat peringatan dini tersebut dinilai sangat penting untuk memberi tahu sekitar 72 ribu orang masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai Gunung Marapi bila terjadi peningkatan debit aliran sungai dan pergerakan endapan material lahar maka mereka bisa segera mengevakuasi diri.

    ”Dari 26 sungai yang berhulu ke puncak Marapi, baru enam aliran sungai yang sudah ada alatnya dan selebihnya akan jadi perhatian kita tahun ini,” kata Abdul Muhari.

    Baca: Langkah mitigasi di kawasan bencana Gunung Marapi

    Selain memakan korban puluhan nyawa manusia, banjir lahar dingin yang terjadi pada bulan Mei 2024 di lima kabupaten/kota di Sumatera Barat itu juga merusak ratusan rumah hingga 35 unit infrastruktur jembatan dan lebih dari 150 meter jalan.

    Peristiwa tersebut, ujar Muhari, membuktikan BNPB tidak bisa hanya mengandalkan peringatan dini potensi hujan deras harian dari BMKG saja. Data yang dibutuhkan harus lebih spesifik lagi.

    ”Sehingga ada respons yang tepat sebelum banjir lahar memberikan dampak kepada masyarakat,” jelasnya.

    Selain Gunung Marapi, BNPB tahun ini juga akan mempercepat pemetaan dan survei lokasi untuk memasang peralatan peringatan dini banjir lahar dingin pada aliran sungai yang berhulu di Gunung Ibu, Halmahera Barat, Maluku Utara dan beberapa gunung berapi lainnya.

    BNPB mengharapkan dukungan multi-pihak supaya upaya pengurangan risiko bencana banjir bandang dan lahar dingin tersebut bisa berjalan progresif tahun 2025 ini.

    Hal ini mengingat potensi hujan diprakirakan bakal tinggi dan merata sepanjang tahun 2025 dipengaruhi oleh fenomena atmosfer berupa La Nina lemah.

    Baca: Banjir dan tanah longsor di Sukabumi terparah dalam 10 tahun terakhir

  • BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca untuk Cegah Banjir Lahar Dingin di Lereng Gunung Semeru

    BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca untuk Cegah Banjir Lahar Dingin di Lereng Gunung Semeru

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara resmi melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) selama lima hari di Jawa Timur, dimulai sejak 26 November 2025.

    Operasi ini merupakan langkah antisipasi terhadap potensi banjir lahar dingin di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menyusul banyaknya material erupsi vulkanik dari Gunung Semeru yang meletus pada 19 November lalu.

    Dilansir di laman resminya, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menegaskan bahwa fokus utama OMC kali ini adalah mengurangi intensitas hujan di wilayah hulu untuk mencegah banjir lahar dingin yang bersifat destruktif.

    Selain itu, OMC ditujukan untuk antisipasi kejadian hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi basah lainnya seperti longsor di Provinsi Jawa Timur.

    Misi OMC di Provinsi Jawa Timur kali ini lebih difokuskan untuk antisipasi banjir lahar dingin, pasca erupsi Gunung Semeru. Setiap hari BMKG memantau hasil prakiraannya, apabila ada potensi hujan yang tinggi, maka kami upayakan intervensi melalui OMC.

    Baca: Banjir lahar dingin jadi perhatian serius BNPB

    Supaya hujan di hulu tidak terlalu ekstrem, dengan berkurangnya intensitas hujan maka potensi banjir lahar dingin dapat direduksi,” kata Seto, Kamis (27/11/2025).

    Adapun pelaksanaan OMC didasarkan pada analisis meteorologi yang menunjukkan potensi peningkatan pembentukan awan hujan signifikan di Jawa Timur.

    Di mana, nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) pada periode 30 November hingga 2 Desember 2025 menunjukkan nilai negatif di sebagian wilayah Jawa Timur, mengindikasikan peningkatan pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan.

    Di sisi lain, BMKG juga mendeteksi adanya aktivasi Gelombang Rossby Equator dan Low Frequency di sebagian besar Jawa Timur pada periode 25 November hingga 2 Desember 2025.

    Kondisi cuaca ini bertepatan dengan telah masuknya musim hujan di area Jawa Timur, yang meningkatkan risiko bencana susulan mengingat material erupsi vulkanik banyak mengendap di permukaan, khususnya di aliran material erupsi di Kab. Lumajang.

    Baca: Banjir lahar dingin dan banjir bandang jadi bencana hidrometeorologi yang fatal

    Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan bahwa BMKG mengoperasikan OMC dari Lanudal Juanda, Surabaya. Hingga hari ini, telah dilakukan empat sorti penerbangan dengan total empat ton bahan disemai.

    Dalam operasi kali ini, pesawat Cessna Caravan akan mengintervensi awan yang berpotensi menjadi hujan lebat sebelum awan tersebut mencapai area target yang ingin diamankan (Kabupaten Lumajang).

    “Hal ini tidak lepas dari pertimbangan safety penerbangan agar selain efektif, OMC juga berjalan dengan aman akibat faktor Gunung Semeru yang masih aktif,” jelas Budi.

    Sementara itu, Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Edison Kurniawan, menekankan soliditas sinergi antara BMKG dan BNPB dalam misi kebencanaan ini.

    BMKG secara aktif memberikan rekomendasi implementasi OMC kepada BNPB apabila terdeteksi potensi cuaca pemicu bencana, memastikan upaya mitigasi dilaksanakan secara tepat waktu dan tepat sasaran.