Ancaman Banjir Lahar Dingin Jadi Perhatian Serius BNPB pada 2025

Written by

in

7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, jenis bencana yang paling signifikan dan fatal atau banyak memakan korban jiwa adalah banjir lahar dingin dan banjir bandang yang terjadi di sejumlah daerah.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan banjir lahar dingin ini antara lain terjadi di Gunung Marapi, Sumatra Barat dan Gunung Ibu di Halmahera, Maluku Utara.

Upaya meminimalisir potensi dampak kerusakan infrastruktur dan korban jiwa akibat bencana banjir bandang yang bercampur material lahar dingin gunung berapi menjadi perhatian khusus BNPB pada 2025.

Hal ini diungkap Muhari dalam jumpa pers “Kaleidoskop bencana 2024 dan outlook potensi bencana 2025” yang digelar BNPB secara daring di Jakarta, Selasa (7/1/2025),

“Dampaknya luar biasa dan sudah terjadi tapi tidak mudah, karena ada ratusan gunung di Indonesia yang puluhan di antaranya aktif sementara kondisi kita belum memiliki sistem pendeteksi banjir dan penumpukan material erupsi gunung api,” kata Muhari. 

Baca: BNPB catat 2.107 bencana alam sepanjang 2024

Muhari menambahkan, data yang diperoleh BNPB selama ini adalah prakiraan cuaca. Sementara potensi terjadinya banjir lahar dingin akibat tumpukan material di hulu sungai tidak diketahui.

Karena itu, sejak akhir 2024 BNPB sudah mulai membangun peralatan sistem peringatan dini banjir lahar terintegrasi di aliran sungai yang berhulu dari Gunung Marapi, Sumatera Barat.

Enam dari 26 aliran sungai Gunung Marapi sudah dipasang sistem peringatan dini yang berupa perangkat sensor, kamera pengawas (CCTV) dan menara sirene itu.

Keberadaan alat peringatan dini tersebut dinilai sangat penting untuk memberi tahu sekitar 72 ribu orang masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai Gunung Marapi bila terjadi peningkatan debit aliran sungai dan pergerakan endapan material lahar maka mereka bisa segera mengevakuasi diri.

”Dari 26 sungai yang berhulu ke puncak Marapi, baru enam aliran sungai yang sudah ada alatnya dan selebihnya akan jadi perhatian kita tahun ini,” kata Abdul Muhari.

Baca: Langkah mitigasi di kawasan bencana Gunung Marapi

Selain memakan korban puluhan nyawa manusia, banjir lahar dingin yang terjadi pada bulan Mei 2024 di lima kabupaten/kota di Sumatera Barat itu juga merusak ratusan rumah hingga 35 unit infrastruktur jembatan dan lebih dari 150 meter jalan.

Peristiwa tersebut, ujar Muhari, membuktikan BNPB tidak bisa hanya mengandalkan peringatan dini potensi hujan deras harian dari BMKG saja. Data yang dibutuhkan harus lebih spesifik lagi.

”Sehingga ada respons yang tepat sebelum banjir lahar memberikan dampak kepada masyarakat,” jelasnya.

Selain Gunung Marapi, BNPB tahun ini juga akan mempercepat pemetaan dan survei lokasi untuk memasang peralatan peringatan dini banjir lahar dingin pada aliran sungai yang berhulu di Gunung Ibu, Halmahera Barat, Maluku Utara dan beberapa gunung berapi lainnya.

BNPB mengharapkan dukungan multi-pihak supaya upaya pengurangan risiko bencana banjir bandang dan lahar dingin tersebut bisa berjalan progresif tahun 2025 ini.

Hal ini mengingat potensi hujan diprakirakan bakal tinggi dan merata sepanjang tahun 2025 dipengaruhi oleh fenomena atmosfer berupa La Nina lemah.

Baca: Banjir dan tanah longsor di Sukabumi terparah dalam 10 tahun terakhir

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *