Tag: bantuan kemanusiaan

  • Tega! Pasukan Israel Menembaki Warga Palestina Saat Menunggu Bantuan Kemanusiaan

    Tega! Pasukan Israel Menembaki Warga Palestina Saat Menunggu Bantuan Kemanusiaan

    7cloud.asia – Setidaknya 100 warga Palestina tewas dan terluka ketika pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah kerumunan yang sedang menunggu bantuan kemanusiaan di Kota Gaza selatan pada Kamis (29/1/2024).

    Menurut saksi mata, ratusan warga Palestina sedang menunggu untuk mendapatkan bantuan dekat Dowar al-Nablusi, di bagian selatan Kota Gaza, ketika mereka ditembaki oleh Israel.

    Namun, Kementerian Kesehatan Palestina belum memberikan data resmi terkait jumlah korban jiwa akibat serangan tersebut.

    Baca: Serangan Israel tewaskan lebih dari 27 ribu warga Palestina.

    Israel terus melancarkan serangan militer mematikan di Jalur Gaza sebagai balasan atas serbuan Hamas pada 7 Oktober tahun lalu, yang menurut Tel Aviv menewaskan hampir 1.200 orang.

    Serangan militer Israel telah menewaskan sedikitnya 30.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 70.000 lainnya.

    Rentetan serangan Israel itu disertai dengan kehancuran massal dan kekurangan berbagai kebutuhan pokok.

    Israel juga memberlakukan blokade yang melumpuhkan Jalur Gaza hingga menyebabkan penduduk wilayah itu, khususnya di Gaza utara, berada di ambang kelaparan.

    Baca: PM Palestina mengundurkan diri

    Perang Israel-Hamas telah menyebabkan 85 persen penduduk Gaza mengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan.

    Sementara 60 persen infrastruktur di wilayah kantong tersebut rusak atau hancur, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa. 

    Israel di Mahkamah Internasional (ICJ) digugat melakukan genosida. Pengadilan tersebut pada Januari mengeluarkan keputusan sementara.

    Yaitu memerintahkan Israel untuk menghentikan tindakan genosida serta agar menjalankan tindakan untuk menjamin bantuan kemanusiaan diterima oleh para warga sipil di Gaza.

    Sumber: Anadolu

  • Indonesia Dukung Penyaluran Bantuan untuk Warga Palestina dengan Metode Airdrop

    Indonesia Dukung Penyaluran Bantuan untuk Warga Palestina dengan Metode Airdrop

    7cloud.asia – Pemerintah Indonesia, melalui Tentara Nasional Indonesia (TNI), mengirimkan setidaknya 900 buah payung udara ke Yordania. Payung udara tersebut akan dipakai sebagai sarana pengiriman bantuan kemanusiaan ke warga Palestina di Gaza via udara (airdrop).

    Bantuan kemanusiaan untuk Palestina ini dilepas Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto di Apron Lanud Halim Perdana Kusumah, Jakarta Timur, Jumat (29/3/2024).

    “Pengiriman bantuan kemanusiaan ke Palestina ini merupakan tindak lanjut, permintaan kebutuhan payung udara dari pemerintah Yordania dalam rangka pengiriman bantuan kemanusiaan ke Palestina. Personil yang akan dikerahkan sejumlah 26 orang,” ungkap Agus.

    Agus menjelaskan, payung udara tersebut nantinya akan digunakan untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan dari pemerintah Indonesia yang sudah tiba terlebih dahulu di Yordania. Pengiriman bantuan kemanusiaan dengan metode airdrop ini nantinya akan dilakukan oleh pihak militer udara Yordania.

    “Nanti payung tersebut akan digunakan untuk mendrop dengan cara airdrop dari pesawat di Gaza tersebut. Jadi yang 900 itu kita akan serahkan kepada pemerintahan Yordania, nanti Yordania yang akan meng-airdrop-nya,” jelasnya seperti dikutip VOA Indonesia.

    Baca: Jutaan warga Palestina terancam kelaparan ekstrem

    Misi tersebut, katanya, akan berlangsung selama sepuluh hari. Adapun rute pemberangkatannya terdiri dari Halim, Aceh, Myanmar, India, Uni Emirat Arab (UEA) dan Yordania. Rute yang sama berlaku juga untuk kepulangan langsung ke tanah air.

    Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Bagus Hendraning Kobarsyih yang ikut melepas  pengiriman bantuan tersebut, mengatakan, metode airdrop ini merupakan salah satu cara alternatif yang bisa dilakukan mengingat situasi jalur darat pada saat ini tidak kondusif.

    Jalur darat sekarang di Rafah, ujarnya, tensinya tinggi sekali, Israel berkali-kali mengancam untuk menyerbu Rafah. Kondisi ini sangat eksplosif, tidak pasti.

    ”Kalau itu dipakai tidak ada jaminan juga barang itu bisa sampai ke sasaran dengan selamat. Sebenarnya ini jalur alternatif untuk menghadapi blokade Israel yang ada di mana-mana,” ungkap Hendraning kepada VOA Indonesia.

    Baca: Peneliti PBB serukan embargo senjata untuk Israel

    Meskipun pengiriman bantuan kemanusiaan via udara ini kerap memakan korban masyarakat sipil, Hendraning berharap militer Yordania dapat menjalankan tugasnya dengan baik karena secara teknis mereka cukup memahami situasi di lapangan.

    Pertimbangan Indonesia menitipkan bantuan payung udara orang dan barang ini kepada pihak Yordania adalah karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

    Sedangkan untuk bisa terbang memasuki wilayah Gaza, menurutnya, dibutuhkan izin dari pihak Israel.

    “Yordania punya hubungan diplomatik dengan Israel, Indonesia tidak punya. Oleh karena itu, kalau kita terbang masuk ke wilayah ke Gaza semuanya harus mendapatkan clearance dari Israel. Ini yang kita hindari,” jelasnya.

    Jadi tidak konsisten, lanjutnya, karena selama ini kita tidak mengakui Israel kita mendukung perjuangan Palestina tiba-tiba kita harus meminta untuk bisa terbang di atas wilayah mereka.

    Baca: Layanan kesehatan di Palestina sudah sangat memprihatinkan

    Yang sebetulnya bisa dilakukan dengan cara lainnya salah satunya dengan cara kerja sama dengan pemerintah Yordania

    Sementara itu, Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Agung Nurwijoyo mengatakan pengiriman bantuan kemanusiaan bagi rakyat Gaza dengan metode airdrop ini menggambarkan adanya kegentingan dalam pemberian bantuan.

    Karena pemberian bantuan untuk rakyat Palestina melalui jalur darat sangat sulit untuk dilakukan. Airdrop, ujarnya, menjadi salah satu opsi rasional yang bisa dilakukan untuk memberikan bantuan bagi rakyat Gaza.

    ”Dan juga sangat logis untuk kemudian memilih mitranya adalah Yordania, karena Yordania pun adalah salah satu aktor yang sudah tahu secara teknis di lapangan, sudah paham, bahkan di bawahnya langsung Raja Abdullah pernah mengirimkan secara langsung bantuan via udara,” ungkap Agung.

    Sumber: VOA Indonesia

     

  • Truk Pembawa Bantuan Kemanusiaan Terbalik di Gaza, 20 Orang Tewas

    Truk Pembawa Bantuan Kemanusiaan Terbalik di Gaza, 20 Orang Tewas

    7cloud.asia – Insiden mewarnai hari pertama diizinkannya truk pengangkut bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah Gaza, Palestina pada Rabu (6/8/2025)

    Sebuah truk pengangkut bantuan kemanusiaan terbalik dan menimpa warga Palestina di Jalur Gaza bagian tengah pada Rabu dini hari.

    Kejadian ini mengakibatkan, 20 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka, menurut laporan otoritas setempat.

    Baca: Israel izinkan bantuan kemanusiaan tertentu masuk ke Gaza

    Insiden itu terjadi ketika para korban berusaha mendapatkan bantuan kemanusiaan “di tengah situasi bencana di Gaza dan kekacauan yang dipicu oleh pendudukan” Israel.

    Otoritas Gaza menuding pasukan Israel sengaja mengarahkan truk tersebut melewati jalan-jalan yang tidak aman dan sulit dilalui karena sebelumnya telah dibombardir.

    Sejak bantuan kembali disalurkan sebagian, otoritas di wilayah kantong Palestina itu berulang kali menuduh Israel berupaya menyabotase distribusi bantuan dan “menciptakan kekacauan” di lapangan.

    Baca: Israel sengaja membuat warga Gaza kelaparan

    Menurut mereka, Israel gagal menjamin keselamatan selama pembagian bantuan kepada penduduk Gaza.

    Pada Senin (4/8/2025), otoritas Gaza menyebut bahwa sejak pengiriman bantuan dilanjutkan pada 27 Juli, Israel hanya mengizinkan 674 truk masuk ke wilayah itu — hanya mencukupi sekitar 14 persen dari kebutuhan penduduk.

    Untuk memenuhi kebutuhan minimum warga Gaza akan makanan, bahan pokok, bahan bakar, dan obat-obatan, dibutuhkan sekitar 600 truk bantuan per hari, menurut otoritas setempat.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti-OANA

  • UNRWA Mendesak Bantuan Kemanusiaan Diizinkan Masuk Gaza

    UNRWA Mendesak Bantuan Kemanusiaan Diizinkan Masuk Gaza

    7cloud.asia – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) pada Sabtu (25/10/2025) kembali mendesak agar pengiriman bantuan kemanusiaan diizinkan masuk ke Jalur Gaza.

    Menurut pernyataan yang dikutip dari situs UNRWA, badan PBB itu menyatakan bahwa menjelang musim dingin di Gaza, kebutuhan masyarakat untuk tempat mengungsi dan menjaga kehangatan semakin meningkat.

    Dalam pernyataannya, UNRWA menambahkan bahwa bahan bangunan untuk pengungsian dan perlengkapan musim dingin bagi keluarga pengungsi Palestina sebenarnya tersedia di gudang-gudang UNRWA di Yordania dan Mesir, namun pengirimannya tertahan.

    Saat genosida di Gaza memasuki tahun kedua, para pengungsi menghadapi kondisi yang sulit dan tak tertahankan di tenda-tenda yang bahkan tidak memiliki perlindungan dasar.

    Mereka adalah manusia yang mencari tempat untuk berlindung, dan beberapa di antaranya, khususnya anak-anak, meninggal akibat cuaca dingin ekstrem selama dua musim dingin terakhir.

    Sebelumnya, badan pangan dunia (WFP) juga memperingatkan bahwa jumlah itu masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga di wilayah tersebut.

    “Gencatan senjata telah membuka sedikit peluang, dan WFP bergerak cepat untuk memperluas bantuan pangan serta menjangkau keluarga yang telah berbulan-bulan menghadapi blokade, pengungsian, dan kelaparan,” kata juru bicara WFP, Abeer Etefa, kepada wartawan di Jenewa, Jumat (17/10/2025).

    Pada periode 11–15 Oktober, sekitar 230 truk membawa sekitar 2.800 ton pasokan pangan ke Gaza. Dua konvoi tambahan masuk melalui perlintasan Kerem Shalom pada Kamis dengan membawa tepung gandum dan bahan pangan bergizi, meski jumlah pastinya masih dihitung.

    “(Jumlah bantuan) yang kami (kirimkan) masih berada di bawah angka kebutuhan, tetapi kami sedang menuju ke arah yang benar,” ujarnya, menambahkan bahwa rata-rata pengiriman harian telah mencapai sekitar 560 ton sejak gencatan senjata berlaku.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA

  • Israel Tolak Masuknya Lebih 100 Bantuan Kemanusiaan ke Gaza

    7cloud.asia – PBB mengatakan bahwa Israel menolak 107 permintaan masuknya bahan-bahan bantuan ke Jalur Gaza sejak gencatan senjata 10 Oktober. Penolakan Israel ini menghambat pasokan bantuan kemanusiaan yang dibutuhkan.

    “Mitra kami melaporkan bahwa sejak gencatan senjata, otoritas Israel telah menolak 107 permintaan masuknya bantuan, termasuk selimut, pakaian musim dingin, serta peralatan dan bahan untuk memelihara dan mengoperasikan layanan air, sanitasi, dan kebersihan,” ujar juru bicara PBB Farhan Haq dalam konferensi pers Kamis (6/11/2025).

    “Hampir 90 persen dari permohonan yang ditolak ini berasal dari lebih dari 330 LSM lokal dan internasional. Lebih dari separuhnya ditolak dengan alasan organisasi-organisasi tersebut tidak berwenang membawa barang-barang bantuan ke Gaza.”

    Sembari menekankan bahwa PBB dan mitra-mitranya di lapangan “dapat berbuat lebih banyak jika hambatan-hambatan lain dihilangkan,” Haq melaporkan bahwa “beberapa barang bantuan yang ditolak masuk ke Gaza adalah barang-barang yang dianggap oleh otoritas Israel berada di luar cakupan bantuan kemanusiaan.”

    Baca: Menlu 7 Negara Islam bertemu membahas masa depan Gaza

    “Barang-barang lainnya dikategorikan sebagai barang dwiguna, mulai dari kendaraan dan suku cadangnya hingga panel surya, beberapa jenis jamban bergerak, mesin sinar-X, dan generator,” imbuhnya.

    Mengutip Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Haq mencatat bahwa “pengeboman secara terus menerus terhadap bangunan tempat tinggal warga dilaporkan setiap hari di beberapa wilayah tempat militer Israel masih dikerahkan, terutama di Khan Younis timur, Kota Gaza timur, dan Rafah.”

    Sembari mengatakan bahwa serangan Israel di dekat apa yang disebut “garis kuning” terus berlanjut sehingga menimbulkan korban jiwa, Haq menekankan bahwa “aktivitas militer ini membahayakan warga sipil, termasuk pekerja bantuan.”

    Dia mengingatkan “militer Israel tentang kewajibannya untuk terus-menerus menjaga keselamatan warga selama operasinya.”

    Baca: Pasca gencatan senjata, Gaza hadapi masa depan yang penuh tantangan

    “Garis kuning” adalah garis pertama yang ditentukan dalam fase awal perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang mulai berlaku pada 10 Oktober.

    Garis tersebut memisahkan wilayah yang masih berada di bawah kendali militer Israel di timur, dari wilayah di mana warga Palestina diizinkan untuk beraktivitas di bagian barat.

    Terkait pergerakan warga sipil yang terus berlanjut di daerah kantong tersebut, Haq melaporkan bahwa “lebih dari 680 ribu pergerakan dari selatan ke utara Gaza telah dilaporkan sejak dimulainya gencatan senjata.”

    “Sementara, hampir 113 ribu pergerakan dari barat ke timur Khan Younis juga telah dilaporkan.”

    “Namun, mitra kami menyatakan bahwa banyak pengungsi menyampaikan keinginan mereka untuk tetap tinggal di lokasi mereka saat ini karena kerusakan yang sangat luas, kurangnya alternatif, dan ketidakpastian yang terus berlanjut terhadap keselamatan dan layanan di daerah asal mereka,” ujarnya.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu Foto: Anadolu