Tag: betawi

  • Belajar Budaya Betawi Pesisir di Museum Rumah si Pitung

    Belajar Budaya Betawi Pesisir di Museum Rumah si Pitung

    7cloud.asia – Cuaca terik di siang itu tak menyurutkan keceriaan pengunjung Rumah Si Pitung di Marunda Jakarta Utara. 

    Rumah Si Pitung yang berusia lebih seratus tahun masih dipertahankan sesuai aslinya. Dua bangunan penunjang berbentuk rumah panggung dengan tangga terbuat dari kayu melengkapi rumah asli pahlawan dari Betawi ini.

    Di pelataran, sejumlah anak tengah menjajal berbagai mainan tradisional dari Betawi seperti gasing, egrang atau jangkungan, dakon atau congklak dan lain lain.

    Seorang anak mengaku bernama Habibi, kelas 3 SD Poncol Bekasi bersama kakak perempuannya Sifa yang sudah klas 8 (SMP) tampak belajar egrang yang adalah salah stau mainan tradisional Betawi

    “Ternyata sulit ya,” kata Sifa sambil memegang sepasang egrang. Adik kecilnya mengambil sepasang egrang yang tersandar di dinding ternyata sudah rusak.

    Baca: 5 Museum batik yang wajib kamu kunjungi

    Di kolong Rumah Si Pitung, sejumlah remaja perempuan terlihat tengah berlatih tari tradisional Betawi. 

    “Nantinya, di sini akan disediakan bahan bacaannya serta tenaga edukatornya,” terang Sumardi, Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) Rumah Si Pitung.

    Sumardi menambahkan, ke depan Rumah Si Pitung akan dikembangkan sebagai tujuan wisata budaya untuk lebih mengenalkan budaya dan kehidupan sehari-hari warga Betawi pesisir. 

    “Dari lantai atas bangunan penunjang Rumah Si Pitung, kita juga dapat memandang ke laut. Dari sana kita bisa menikmati kesibukan kapal dan perahu nelayan yang mencari ikan,” kata Sumardi.

    Baca: Uniknya Kapal Pinisi dan kain songke di KTT ASEAN

    Tak hanya itu, berkunjung ke rumah si Pitung yang dikenal sebagai tokoh Betawi ini, pengunjung juga bisa mengenal lebih dekat budaya Betawi Pesisir, seperti tarian, musik, makanan tradisional bahkan permainan tradisional dan folklore pesisir.

    Seperti siang itu, pengunjung Rumah Si Pitung berkesempatan menikmati penampilan kelompok kesenian dari RW 07 Marunda Pulo yang sedang berlatih tari Betawi.

    Telinga kami pun sejenak dimanjakan uniknya musik tradisional Betawi yang mengiringi lenggak-lenggok tubuh penari yang sedang berlatih. 

    Sumardi menambahkan sesekali juga digelar pertunjukan teater, wayang golek, ataupun Lenong Betawi. Dan, pada momen seperti itu maka pengunjung Rumah Si Pitung akan semakin banyak.

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Rumah Si Pitung dibuka kembali untuk umum pada Desember tahun lalu, setelah dua bulan dilakukan konservasi dan renovasi.

    Pemeliharaan bangunan Rumah Si Pitung dan bangunan pendukungnya tersebut guna menjaga kelestariannya, dan meningkatkan kenyamanan wisatawan.

    “Kita buat Rumah Si Pitung ini sebagai tempat edukasi masyarakat yang nyaman mengenai sejarah dan budaya Betawi khususnya Betawi pesisir. Kita maksimalkan keberadaan Rumah Si Pitung sebagai  ruang ekspresi bagi seniman budayawan,” tandasnya.

    Tempat wisata Rumah Si Pitung juga dilengkapi sejumlah kios untuk berjualan makanan minuman maupun kerajinan khas Betawi pesisir. 

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    Menengok ke belakang, Si Pitung adalah sosok yang dihormati oleh warga Betawi. Dilansir laman Historia, Menurut sejarawan Belanda Margreet van Till dalam In Search of Si Pitung: The History of Indonesian Legend, cerita maupun sosok Si Pitung ini memang benar adanya dan bukan mitos belaka.

    Si Pitung adalah putra Betawi asli yang terlahir dengan nama Ahmad Nitikusumah. Ia merupakan anak laki-laki dari pasangan Pinah dan Piung asal Kampung Rawa Belong, Jakarta, dengan karakter pemberani.

    Sekitar abad ke-19, Rawa Belong yang didiami warga Betawi asli disebut ommelanden yang berarti pinggiran Batavia. Saat itu, kawasan ini telah dikenal padat penduduk.

    Si Pitung dibesarkan dengan latar pendidikan khas Betawi di sebuah pondok pesantren perguruan Hadji Naipin sehingga ia mampu mengaji dan berkepribadian baik.

    Si Pitung mulai melakukan aksi perampokan pada 1892-1893. Tapi hal itu dilakukan dengan alasan. Pemicunya adalah kejadian perampokan saat menyerang keluarganya.

    Baca: Tips wisata ramah lingkungan

    Mulanya Si Pitung selalu membantu sang ayah menjual kambing. Hingga suatu hari ada komplotan bandit Belanda dan Tionghoa yang merampok uang dari hasil berjualan kambing ayahnya.

    Kesal dan sakit hati karena perbuatan para bandit, Si Pitung pun mempelajari bela diri demi melawan bandit-bandit tersebut sampai akhirnya ia berhasil menemukannya.

    Atas kejadian itu Pitung mulai banyak mengenal komplotan bandit. Akan tetapi, pandangan orang terhadap dirinya jadi berubah seakan Si Pitung termasuk golongan bandit.

    Padahal niat Si Pitung menguasai bela diri menjadi seorang jagoan desa bukan semata-mata menjadi sosok yang ingin ditakuti. Melainkan ingin bisa melawan para bandit yang sekaligus tuan tanah Belanda yang kerap menindas warga miskin lemah dengan tindakan semena-mena.

    Baca: Mengenal tradisi seba yang rutin dilakukan masyarakat adat Badui

    Kemampuan bela diri Si Pitung pada akhirnya cukup membuat waswas para tuan tanah. Kemudian sekitar tahun 1892 Si Pitung melakukan aksi perampokan.

    Si Pitung kerap merampok rumah tuan tanah lain untuk mengambil hasil rampasan mereka dan membagikannya kembali ke warga miskin.

    Hampir semua tuan tanah sudah mengenal Si Pitung bahkan ketika mereka mengalami perampokan, namanya selalu diincar dan diburu polisi.

    Si Pitung juga dianggap pemberontak sehingga orang-orang Belanda ingin dirinya ditumpas seakan-akan mereka ini tidak bergerak bebas dalam menindas orang-orang kecil.

    Sampai pada akhirnya Si Pitung benar-benar tewas tertembak peluru emas milik kepala kepolisian karesidenan Batavia A.M.V Hinne.

  • Roti Buaya Harus Ada dalam Pernikahan Adat Betawi, Ini Maknanya

    Roti Buaya Harus Ada dalam Pernikahan Adat Betawi, Ini Maknanya

    7cloud.asia –  Roti buaya menjadi salah satu makanan yang wajib ada dalam acara pernikahan masyarakat Betawi.

    Roti buaya ini menjadi salah satu pelengkap dalam seserahan dari pengantin laki-laki kepada keluarga pengantin perempuan   

    Ternyata keberadaan roti buaya ini punya makna tersendiri. Roti buaya tak semata-semata simbol kesetiaan tetapi untuk mengingatkan adanya masyarakat Betawi terhadap keberadaan sungai atau air dalam kehidupan mereka.

    “Itu sebenarnya memori masyarakat Jakarta terhadap tempat air di dalam kebudayaan mereka,” ujar sejarawan Universitas Indonesia JJ Rizal dalam seminar daring yang dipantau di Jakarta, Selasa (27/2/2024).

    Baca: Perayaan Imlek di vihara tertua di Jakarta

    Dilansir Antaranews.com, JJ Rizal mengatakan Jakarta diketahui dialiri sekitar 13 sungai seperti Ciliwung, Angke, Pesanggrahan.

    Nama-nama tempat di ibu kota secara tidak langsung mengingatkan masyarakat terhadap asal usul dan fondasi historis tempat mereka hidup yang identik dengan air seperti rawa, kali, muara, tanjung, dan pulo.

    Kemudian, adanya ikatan antara orang Betawi dengan unsur air disimbolkan melalui buaya yang salah satunya terwujud melalui sesuatu yang paling dekat atau privat dalam keseharian masyarakat yakni makanan seperti roti buaya.

    Rizal mengatakan pada masa lalu, roti buaya yang dibawa pengantin pria saat perkawinannya ini sebenarnya untuk dipajang atau dipamerkan semisal di ruang tamu atau di atas lemari.

    Baca: Sejarah Jakarta, berawal dari Pangeran Jayakarta

    Menurut dia semakin keras tekstur roti maka semakin baik karena memungkinkan semakin panjang pula ingatan orang-orang Betawi terkait diri mereka yang lekat dengan ekologi air atau sungai.

    “Kok ada buaya di rumah? Karena kita (orang Betawi) masyarakat sungai, masyarakat yang dekat dengan air. Orang hanya ingat buaya kan binatang setia, seumur hidup hanya kawin dengan satu pasangan, merawat anaknya dengan baik,” jelas Rizal.

    Lebih lanjut terkait buaya, Rizal mengatakan, ada kepercayaan hewan ini tak dianggap berbahaya melainkan penjaga kawasan dan bagian dari keluarga besar masyarakat Jakarta dari sisi sejarah budaya.

    Masyarakat Condet misalnya, meyakini buaya buntung menghuni sungai-sungai di Jakarta sehingga inilah alasan mereka untuk merawat sungai.

    Baca: Mengenal budaya Betawi pesisir

    “Buaya itu simbol dari semacam reinkarnasi leluhur, dia menjaga kawasan. Jadi kalau ondel-ondel menjaga di darat, siluman buaya menjaga di kawasan air,” kata dia.

    Selain roti buaya, masih ada makanan khas Betawi lain yang juga menggambarkan sebenarnya mengingatkan bahwa masyarakat Jakarta sesungguhnya masyarakat air, salah satunya gabus pucung.

    Kita, ujarnya, akan dengan mudah menemukan makanan yang identik dengan air misalnya masyarakat tradisi masyarakat Betawi ada gabus pucung.

    “Itu kan makanan yang khas yang memanfaatkan ekologi rawa, ekologi kawasan berair dan sungai,” demikian ujar Rizal.

  • Lebaran Tenabang: Cara Orang Betawi Menyambut Bulan Syawal

    Lebaran Tenabang: Cara Orang Betawi Menyambut Bulan Syawal

    7cloud.asia – Warga Tanah Abang, Jakarta Pusat punya tradisi unik yang dirayakan setiap tahun di bulan Syawal, yakni Lebaran Tenabang.

    Lebaran Tenabang tahun ini digelar pada Sabtu (11/5/2024) atau dua hari lalu yang dibuka dengan tradisi palang pintu.

    Lebaran Tenabang 2024 digelar di Jalan K.H. Mas Mansyur, tepatnya di depan Kantor Kecamatan Tanah Abang selama satu hari penuh, dari pagi hingga malam hari.

    Lebaran Tenabang digelar setiap tahunnya dengan menyajikan beragam seni budaya dan makanan khas Betawi.

    Selain tradisi palang pintu, Lebaran Tenabang biasanya juga diramaikan dengan lomba “ngeset” atau menguliti kambing.

    Baca Juga: Belajar Budaya Betawi Pesisir di Museum Rumah si Pitung

    Selain itu, lomba koreografi silat Betawi, peragaan jalan jurus silat Tenabang, hingga penampilan orkes melayu dari Samrah Sikumbang.

    Salah satu juri lomba “ngeset” kambing, Bang Faray (43), mengatakan lomba ini merupakan inisiasi dari warga yang diusulkan kepada Pemkot Jakarta Pusat.

    Lomba itu diusulkan karena sebagian besar warga Tanah Abang memiliki mata pencaharian sebagai pedagang kambing hidup.

    “Ini merupakan warisan sejarah Kampung Tanah Abang. Jadi, kita mencoba meneruskan budaya. Kebanyakan di sini anak, bapak, engkong, buyutnya semua pedagang kambing turun temurun,” kata Faray.

    Selain penampilan seni dan budaya, puluhan gerai makanan dan kerajinan tangan khas Betawi berjejer di sepanjang jalan.

    Baca Juga: Dodol Betawi, Makanan Khas Betawi yang Rumit Pembuatannya

    Masyarakat pun antusias mencicipi dodol khas Betawi yang dijual Rp10 ribu per bungkus, serta bir pletok dengan harga yang sama.

    Pemerintah Kota Jakarta Pusat berupaya menularkan semangat Lebaran Tenabang yang menonjolkan kearifan lokal, ke dua kecamatan lainnya yakni Gambir dan Johar Baru.

    “Kita akan tularkan dari acara ini, akan terus melakukan kearifan lokal sehingga setiap kecamatan punya ciri khas acaranya tersendiri,” kata Wakil Wali Kota Jakarta Pusat Chaidir.

    Ia mengatakan Tanah Abang merupakan satu dari delapan kecamatan di Jakarta Pusat yang memiliki acara tahunan bernama Lebaran Tenabang dengan rangkaian budaya dan seni Betawi yang ditampilkan.

    Baca Juga: Roti Buaya Harus Ada dalam Pernikahan Adat Betawi, Ini Maknanya

    Ia menilai, agenda itu akan menjadi cikal bakal kecamatan lainnya untuk merayakan Lebaran dengan kearifan lokal masing-masing wilayah.

    Chaidir menjelaskan bahwa setelah Lebaran Tenabang, acara sejenis juga bisa muncul di kecamatan lain, contohnya Gambir dengan nama Lebaran Kampung Gambir.

    Lebaran Kampung Gambir baru dimulai pada 2023 dengan menampilkan pagelaran seni dan budaya Betawi, serta bazar yang diisi oleh UMKM binaan Jakpreneur.

    Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat pada tahun ini juga mengadakan acara serupa.

    Sumber: Antaranews.com

  • Delapan Karya Budaya Betawi Diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

    Delapan Karya Budaya Betawi Diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

    7cloud.asia – Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Lembaga Kebudayaan Betawi berhasil menghantarkan delapan karya budaya agar bisa ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia 2024.

    Penetapan WBTb Betawi disampaikan Ketua Tim Ahli WBTb Indonesia Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) G.R. Lono Lastoro Simatupang dan Sekretaris Tim Ahli WBTb Toto Sucipto setelah melalui proses persidangan.

    “Alhamdulillah, sebuah perjalanan yang panjang bisa sampai pada hari ini. Delapan karya budaya DKI Jakarta yang berhasil lolos sampai tahap sidang ini telah ditetapkan menjadi WBTb Indonesia. Semoga warisan budaya ini terus terjaga dengan baik bersama-sama,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Iwan Henry Wardhana  di Jakarta, Sabtu (24/08/2024).

    Baca: Bangun sekolah adat untuk lestarikan budaya Suku Rejang

    Iwan  menjelaskan proses penetapan karya budaya menjadi WBTb dilakukan melalui tiga tahap penilaian yang telah berlangsung sejak Januari 2024 dan diakhiri dengan sidang penetapan oleh Tim Ahli WBTb Indonesia Kemdikbudristek pada 19-22 Agustus 2024 di Hotel Holiday Inn & Suites, Jakarta.

    Iwan melanjutkan delapan karya budaya yang ditetapkan sebagai WBTb yaitu Nyorog, Kopi Jahe Betawi, Si Pitung, Rias Bakal, Bahasa Kreol Tugu, Oblog, Musik Sampyong, dan Gambus Betawi.

    Sebanyak 272 karya budaya dari 31 provinsi ditetapkan menjadi WBTb Indonesia 2024. Pemprov DKI Jakarta telah memiliki 85 WBTb Indonesia yang ditetapkan sejak 2013 hingga saat ini.

    Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbudristek Hilmar Farid mengatakan penetapan WBTb ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran dan tanggung jawab.

    Baca: Jamu jadi warisan budaya dunia

    Selain itu juga semangat untuk terus melakukan pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan terhadap warisan budaya.

    Ia juga berharap warisan budaya baik yang telah dicatatkan atau ditetapkan dapat masuk dalam pendidikan formal, informal, dan nonformal sebagai sumber pembelajaran kebudayaan.

    “Penetapan WBTb ini tidak hanya menjadi sebuah kegiatan yang berujung pada sertifikat saja. Namun, yang paling penting dan perlu dipikirkan bersama adalah tindak lanjut setelah penetapan, bagaimana warisan budaya ini tetap terjaga dan dapat bermanfaat bagi masyarakat luas,” kata Hilmar.

    Sumber: Antaranews

  • Tradisi Andilan Potong Kebo: Semangat Gotong Royong Warga Betawi Sambut Lebaran

    Tradisi Andilan Potong Kebo: Semangat Gotong Royong Warga Betawi Sambut Lebaran

    7cloud.asia – Masyarakat Betawi punya tradisi unik menyambut datangnya hari raya Idul Fitri atau Lebaran, yaitu Andilan Potong Kebo.

    Lebaran Betawi merupakan tradisi yang dilaksanakan sebagai rangkaian perayaan Hari Raya Idulfitri sekaligus wadah untuk mempererat persaudaraan dan melestarikan budaya.

    Adapun Andilan Potong Kebo adalah tradisi urunan masyarakat Betawi untuk membeli kerbau, yang kemudian disajikan dan disantap bersama sebagai ajang silaturahmi saat Lebaran.

    Masyarakat Betawi biasanya andilan untuk membeli kerbau sebulan sebelum Lebaran. Kerbau itu dipelihara agar tumbuh lebih besar.

    Dua hari jelang Lebaran, kerbau tersebut dipotong dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat yang turut andilan sesuai dengan besaran uang patungan masing-masing.

    Sayangnya, tradisi Andilan Potong Kebo saat ini mulai ditinggalkan. Karena itu wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno mendukung dihidupkannya kembali tradisi ini.

    Baca: Cara orang Betawi menyambut Bulan Syawal

    “Andilan, kalau dalam bahasa Betawi berarti patungan. Saya berharap tahun depan, minimal di enam wilayah DKI Jakarta, Andilan Potong Kebo ini harus ada,“ ujarnya saat menghadiri tradisi Andilan Potong Kebo sebagai acara pembuka Lebaran Betawi 2025 di Agro Edukasi Wisata Ragunan, Pasar Minggu, Sabtu (29/3/2025).

    Dia menambahkan, jika satu wilayah menyembelih 10 ekor kerbau, Insyaallah Wakil Gubernur masih bisa mendukung itu.

    ”Supaya masyarakat bisa merasakan kembali bahwa Hari Raya harus dirayakan dengan bahagia,” ujarnya.

    Rano Karno yang besar dalam tradisi Betawi itu mengaku terharu saat memasuki area digelarnya Andilan Potong Kebo.

    Ia sampai menitikkan air mata karena mengingat masa kecilnya di Kemayoran, saat orang tuanya bersama warga Betawi lainnya patungan untuk membeli dan memotong kerbau.

    “Air mata menetes melihat tradisi ini masih ada. Memang tugas kita untuk melanjutkannya. Kalau bukan kita, siapa lagi? Dulu sapi itu harganya mahal, makanya yang bisa dibeli adalah kerbau. Karena harga kerbau mahal, maka dibeli secara patungan,” kenangnya.

    Baca: Dodol Betawi jadi hidangan lebaran khas Betawi 

    Rano menambahkan ada semangat berkurban, nilai gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian sosial dalam tradisi Andilan Potong Kebo ini.

    “Menjelang Lebaran kita menyembelih kerbau, lanjutnya, dan memilih tempat-tempat di mana masyarakatnya membutuhkan daging, lalu kita andilan di sana,“ ujarnya.

    Wagub Rano secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Gubernur DKI Jakarta periode 2013–2018, Fauzi Bowo, bersama Majelis Kaum Betawi yang telah menyelenggarakan rangkaian kegiatan Lebaran Betawi.

    “Saya juga berterima kasih kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat yang terus menjaga budaya Betawi serta memperkuat keberagaman dan kerukunan di Jakarta. Inilah bentuk gotong royong masyarakat Jakarta,” tuturnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Fauzi Bowo selaku Ketua Dewan Adat Betawi mengatakan, tradisi Andilan Potong Kebo yang sudah mulai terlupakan dapat digelar kembali berkat dukungan penuh dari Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno.

    Dia menilai Pramono Anung dan Rano Karno memiliki komitmen kuat untuk merawat dan mengembangkan budaya Betawi.

    ”Sekali lagi, tradisi budaya Betawi ini tidak bisa bertumbuh kembang dan berkesinambungan tanpa dukungan pemerintah. Mudah-mudahan dengan komitmen mereka berdua, tradisi Betawi di Jakarta dapat terus berkembang,” jelas Fauzi Bowo.

    Baca: Mengapa ketupat menjadi hidangan wajib saat Lebaran

     

     

  • Salak Condet Diusulkan untuk Mendapatkan Indikasi Geografis dari Kemenkum

    Salak Condet Diusulkan untuk Mendapatkan Indikasi Geografis dari Kemenkum

    7cloud.asia – Setelah tanaman Duku Condet mendapatkan Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum (Kemenkum) Republik Indonesia, Pemprov DKI Jakarta akan mengajukan Salak Condet mendapat pengakuan serupa.

    Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Timur, Taufik Yulianto dilansir jakartago.id mengatakan, tim dari Kemenkum telah berkunjung ke Kebun Bibit Condet di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati untuk melihat tanaman Salak Condet.

    “Kehadiran tim dari Kemenkum RI ini sangat bermanfaat bagi kami karena menjadi kesempatan untuk berdiskusi agar Salak Condet bisa mendapatkan indikasi geografis,” ujarnya, Senin (24/5/2025).

    Menurutnya, Suku Dinas KPKP Jakarta Timur bersama Dinas KPKP DKI Jakarta saat ini sedang berupaya agar keinginan tersebut dapat terwujud secepatnya.

    Ia menambahkan, pengajuan Indikasi Geografis sangat bermanfaat untuk mendukung pelestarian Salak Condet yang kian langka sekaligus menjaga identitas Betawi.

    “Salak Condet merupakan maskot DKI Jakarta yang belum mendapat hak paten dari Kemenkum RI. Kita akan terus perjuangkan,” terangnya.

    Baca: 10 Hotel bintang lima di Jakarta tampilkan budaya Betawi

    Taufik menjelaskan, Salak Condet memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari jenis salak lainnya, antara lain daging buahnya yang tebal, berwarna agak kuning, kelat, dan tidak berair.

    “Ciri khas lain adalah kulitnya yang lebih tipis dan mudah dikupas. Selain itu, salak Condet juga memiliki aroma yang wangi, meskipun ukuran dan tingkat kemanisannya bervariasi,” ucapnya.

    Ia berharap, jika Salak Condet sudah mendapatkan Indikasi Geografis dari Kemenkum RI maka pelestarian buah yang menjadi kearifan lokal Jakarta ini bisa lebih maksimal.

    “Kami tentunya juga akan terus membantu merawat, menjaga, dan melestarikan agar tanaman khas ini agar tidak punah,” tandasnya.

    Meski telah ditetapkan menjadi maskot DKI Jakarta, Salak Condet kini makin sulit ditemukan di pasaran.

    Beruntungnya, saat ini masih terdapat pusat budidaya Cagar Buah Condet, Kelurahan Balekambang, Condet, Kramat Jati Jakarta Timur. 

    Baca: 8 Karya Budaya Betawi diajukan menjadi warisan budaya takbenda

    Di atas lahan seluas 3,5 hektare, ratusan pohon Salak Condet tumbuh berdampingan dengan pohon duku Condet.

    Pengajuan duku dan salak Condet merupakan upaya menjaga kearifan lokal di Condet yang tidak hanya terkait seni dan budaya saja tapi juga kuliner dan tanaman khas.

    Sebelumnya, tokoh masyarakat Condet, Arifin menginginkan agar Condet sebagai Kawasan Strategis Sosial Budaya bisa masuk dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).

    “Ini sangat penting agar Condet dengan kearifan lokalnya bisa terus terjaga. Kalau ada wilayah lain di Jakarta menjadi sentra bisnis, kita ingin di sini menjadi sentra seni budaya yang menunjang sektor pariwisata di Jakarta,” tandasnya.

    Pelestarian Kebudayaan Betawi diatur dalam Perda 4 Tahun 2015, dan saat ini terus didorong agar betul-betul terlaksana dengan baik meskipun secara bertahap.

    Baca: Belajar budaya Betawi Pesisir di Museum Rumah si Pitung

  • Pembentukan Lembaga Adat Betawi untuk Jaga Identitas Kota Jakarta

    Pembentukan Lembaga Adat Betawi untuk Jaga Identitas Kota Jakarta

    7cloud.asia – Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Farah Savira mendukung pembentukan Lembaga Adat Masyarakat Betawi untuk menjaga identitas kota Jakarta.

    Pembentukan lembaga adat ini tengah digodok melalui Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) di Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DKI Jakarta.

    “Kami sangat mendukung, karena untuk pelestarian dan perlindungan cagar budaya khususnya di Jakarta memang perlu ada lembaga khusus yang menaunginya,” ujar Farah, Senin (22/9/2025).

    Farah menilai, keberadaan lembaga adat ini diharapkan tidak hanya membuat pelestarian budaya bertumpu pada Dinas Kebudayaan (Disbud) DKI Jakarta, tetapi juga membuka ruang bagi pemangku kepentingan lainnya.

    Baca: 10 Hotel bintang lima di Jakarta wajib tampilkan budaya Betawi

    “Yang penting lembaga adat ini efektif dan bisa memberi peluang bagi stakeholder lain yang fokus pada pelestarian budaya untuk ikut serta,” jelasnya seperti dikutip jakarta.go.id

    Ia juga berharap lembaga tersebut dapat mengantarkan budaya Betawi terlibat dalam forum internasional, termasuk ikut serta dalam pertemuan badan kebudayaan PBB, UNESCO.

    “Kita butuh stakeholder seperti NGO baik profit maupun non-profit agar bisa masuk di situ. Itu peluang dari Raperda,” imbuhnya.

    Selain itu, Farah menyambut baik rencana pembentukan Pamong Budaya Betawi yang dikonsep seperti pecalang di Bali, guna memperkuat persatuan sekaligus menjaga ketertiban masyarakat.

    Baca: 8 Karya budaya Betawi diajukan jadi warisan budaya takbenda Indonesia

    “Sejauh ini kami menyetujui, tapi implementasinya harus benar-benar dikawal,” tandasnya.

    Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno menegaskan bahwa Raperda Lembaga Masyarakat Adat Betawi merupakan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta.

    Dalam Raperda tersebut, Rano menggagas kehadiran Pamong Budaya yang bertugas meredam potensi kericuhan, termasuk mencegah perusakan fasilitas umum saat aksi unjuk rasa.

    “Budaya punya keunggulan, karena mampu menjahit perbedaan apapun menjadi persatuan di Jakarta,” ujar pria yang akrab disapa Bang Doel itu.

  • Tradisi ”Nganter Bandeng” Saat Tahun Baru Imlek

    Tradisi ”Nganter Bandeng” Saat Tahun Baru Imlek

    7cloud.asia – Masyarakat Betawi memiliki tradisi unik menyambut tahun baru Imlek yakni tradisi nganter bandeng.

    Tradisi nganter bandeng merupakan tradisi membagikan ikan bandeng pada keluarga dan tetangga saat tahun baru Imlek. Tradisi ini merupakan warisan budaya Betawi yang sarat nilai penghormatan, kekeluargaan, dan silaturahmi.

    Di masa lalu, Tradisi nganter bandeng terutama dilakukan keluarga laki-laki Betawi yang wajib mengantar bandeng ke rumah pacar. Ini merupakan keharusan sebagai lelaki Betawi untuk membuat keluarga si perempuan senang.

    Tradisi nganter bandeng tidak lepas dari kepercayaan etnis Tionghoa. Dalam bahasa Mandarin, “ikan” disebut “yu”, yang terdengar seperti “surplus” atau “berlimpah”.

    Itulah kenapa ikan bandeng melambangkan harapan untuk mendapatkan rezeki yang berlimpah di tahun yang baru.

    Adapun ukuran ikan bandeng yang diantar melambangkan kemakmuran. Itu artinya semakin besar ikan bandeng maka semakin besar pula rezeki yang diharapkan. Selain itu, ikan bandeng memiliki banyak duri. Duri diibaratkan sebagai rintangan dalam hidup.

    Baca: Ikan bandeng jadi menu wajib saat Imlek

    Namun, duri-duri tersebut dapat diatasi dengan ketelitian dan kehati-hatian. Ini sekaligus melambangkan harapan agar bisa melewati tahun baru dan mencapai keberuntungan.

    Sementara, dalam budaya Betawi, ikan bandeng juga melambangkan kesuksesan. Hal ini karena ikan bandeng merupakan salah satu komoditas penting bagi masyarakat Betawi.

    Saat Imlek tiba, tak hanya dirayakan oleh etnis Tionghoa, tapi juga masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi biasanya juga semarak menjual berbagai kebutuhan saat Imlek, termasuk bandeng.

    Terbukti, sebagian besar pembeli bandeng Imlek di kawasan Pasar Rawa Belong, Jakarta Barat justru didominasi warga Betawi. Munculnya pasar bandeng dadakan menjelang perayaan Imlek tentu menjadi perayaan tersendiri bagi warga Betawi.

    Tradisi nganter bandeng ini juga disinggung Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, saat membuka Festival Bandeng Rawa Belong 2026 di Pasar Bandeng Rawa Belong, Jakarta Barat, pada Sabtu (14/2/2026).

    Kehadiran Gubernur Pramono disambut antusias warga, pedagang ikan bandeng, serta tokoh masyarakat setempat. Sejumlah atraksi kebudayaan Betawi turut memeriahkan pembukaan festival yang kental dengan nuansa perayaan Tahun Baru Imlek.

    Baca: Mengenal Festival Bandeng Rawa Belong

    Pada kesempatan tersebut, Gubernur Pramono juga menyapa langsung para pedagang ikan bandeng di area pasar.

    “Kebiasaan ini menjadi bukti nyata akulturasi budaya Betawi dan Tionghoa yang telah mengakar dan membentuk harmoni sosial di Jakarta,” ujarnya.

    Menurut Pramono, Festival Bandeng Rawa Belong tidak hanya berperan dalam menjaga dan melestarikan tradisi budaya, tetapi juga menjadi penggerak perekonomian masyarakat karena melibatkan pedagang bandeng lokal serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan Rawa Belong.

    Lebih lanjut, Gubernur Pramono menegaskan, kehadirannya dalam festival tersebut merupakan bentuk dukungan nyata terhadap peningkatan kesejahteraan UMKM.

    “Saya baru datang saja sudah membeli tiga ikan bandeng, dan nanti sebelum pulang akan membeli tiga ikan bandeng lagi. Total enam ikan bandeng, termasuk bandeng terbesar dengan berat 14,67 kilogram,” ungkapnya.

    Baca: Mengapa tahun baru Imlek dirayakan di bulan Februari