7cloud.asia – Cuaca terik di siang itu tak menyurutkan keceriaan pengunjung Rumah Si Pitung di Marunda Jakarta Utara.
Rumah Si Pitung yang berusia lebih seratus tahun masih dipertahankan sesuai aslinya. Dua bangunan penunjang berbentuk rumah panggung dengan tangga terbuat dari kayu melengkapi rumah asli pahlawan dari Betawi ini.
Di pelataran, sejumlah anak tengah menjajal berbagai mainan tradisional dari Betawi seperti gasing, egrang atau jangkungan, dakon atau congklak dan lain lain.
Seorang anak mengaku bernama Habibi, kelas 3 SD Poncol Bekasi bersama kakak perempuannya Sifa yang sudah klas 8 (SMP) tampak belajar egrang yang adalah salah stau mainan tradisional Betawi
“Ternyata sulit ya,” kata Sifa sambil memegang sepasang egrang. Adik kecilnya mengambil sepasang egrang yang tersandar di dinding ternyata sudah rusak.
Baca: 5 Museum batik yang wajib kamu kunjungi
Di kolong Rumah Si Pitung, sejumlah remaja perempuan terlihat tengah berlatih tari tradisional Betawi.
“Nantinya, di sini akan disediakan bahan bacaannya serta tenaga edukatornya,” terang Sumardi, Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) Rumah Si Pitung.
Sumardi menambahkan, ke depan Rumah Si Pitung akan dikembangkan sebagai tujuan wisata budaya untuk lebih mengenalkan budaya dan kehidupan sehari-hari warga Betawi pesisir.
“Dari lantai atas bangunan penunjang Rumah Si Pitung, kita juga dapat memandang ke laut. Dari sana kita bisa menikmati kesibukan kapal dan perahu nelayan yang mencari ikan,” kata Sumardi.
Baca: Uniknya Kapal Pinisi dan kain songke di KTT ASEAN
Tak hanya itu, berkunjung ke rumah si Pitung yang dikenal sebagai tokoh Betawi ini, pengunjung juga bisa mengenal lebih dekat budaya Betawi Pesisir, seperti tarian, musik, makanan tradisional bahkan permainan tradisional dan folklore pesisir.
Seperti siang itu, pengunjung Rumah Si Pitung berkesempatan menikmati penampilan kelompok kesenian dari RW 07 Marunda Pulo yang sedang berlatih tari Betawi.
Telinga kami pun sejenak dimanjakan uniknya musik tradisional Betawi yang mengiringi lenggak-lenggok tubuh penari yang sedang berlatih.
Sumardi menambahkan sesekali juga digelar pertunjukan teater, wayang golek, ataupun Lenong Betawi. Dan, pada momen seperti itu maka pengunjung Rumah Si Pitung akan semakin banyak.
Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik
Rumah Si Pitung dibuka kembali untuk umum pada Desember tahun lalu, setelah dua bulan dilakukan konservasi dan renovasi.
Pemeliharaan bangunan Rumah Si Pitung dan bangunan pendukungnya tersebut guna menjaga kelestariannya, dan meningkatkan kenyamanan wisatawan.
“Kita buat Rumah Si Pitung ini sebagai tempat edukasi masyarakat yang nyaman mengenai sejarah dan budaya Betawi khususnya Betawi pesisir. Kita maksimalkan keberadaan Rumah Si Pitung sebagai ruang ekspresi bagi seniman budayawan,” tandasnya.
Tempat wisata Rumah Si Pitung juga dilengkapi sejumlah kios untuk berjualan makanan minuman maupun kerajinan khas Betawi pesisir.
Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta
Menengok ke belakang, Si Pitung adalah sosok yang dihormati oleh warga Betawi. Dilansir laman Historia, Menurut sejarawan Belanda Margreet van Till dalam In Search of Si Pitung: The History of Indonesian Legend, cerita maupun sosok Si Pitung ini memang benar adanya dan bukan mitos belaka.
Si Pitung adalah putra Betawi asli yang terlahir dengan nama Ahmad Nitikusumah. Ia merupakan anak laki-laki dari pasangan Pinah dan Piung asal Kampung Rawa Belong, Jakarta, dengan karakter pemberani.
Sekitar abad ke-19, Rawa Belong yang didiami warga Betawi asli disebut ommelanden yang berarti pinggiran Batavia. Saat itu, kawasan ini telah dikenal padat penduduk.
Si Pitung dibesarkan dengan latar pendidikan khas Betawi di sebuah pondok pesantren perguruan Hadji Naipin sehingga ia mampu mengaji dan berkepribadian baik.
Si Pitung mulai melakukan aksi perampokan pada 1892-1893. Tapi hal itu dilakukan dengan alasan. Pemicunya adalah kejadian perampokan saat menyerang keluarganya.
Baca: Tips wisata ramah lingkungan
Mulanya Si Pitung selalu membantu sang ayah menjual kambing. Hingga suatu hari ada komplotan bandit Belanda dan Tionghoa yang merampok uang dari hasil berjualan kambing ayahnya.
Kesal dan sakit hati karena perbuatan para bandit, Si Pitung pun mempelajari bela diri demi melawan bandit-bandit tersebut sampai akhirnya ia berhasil menemukannya.
Atas kejadian itu Pitung mulai banyak mengenal komplotan bandit. Akan tetapi, pandangan orang terhadap dirinya jadi berubah seakan Si Pitung termasuk golongan bandit.
Padahal niat Si Pitung menguasai bela diri menjadi seorang jagoan desa bukan semata-mata menjadi sosok yang ingin ditakuti. Melainkan ingin bisa melawan para bandit yang sekaligus tuan tanah Belanda yang kerap menindas warga miskin lemah dengan tindakan semena-mena.
Baca: Mengenal tradisi seba yang rutin dilakukan masyarakat adat Badui
Kemampuan bela diri Si Pitung pada akhirnya cukup membuat waswas para tuan tanah. Kemudian sekitar tahun 1892 Si Pitung melakukan aksi perampokan.
Si Pitung kerap merampok rumah tuan tanah lain untuk mengambil hasil rampasan mereka dan membagikannya kembali ke warga miskin.
Hampir semua tuan tanah sudah mengenal Si Pitung bahkan ketika mereka mengalami perampokan, namanya selalu diincar dan diburu polisi.
Si Pitung juga dianggap pemberontak sehingga orang-orang Belanda ingin dirinya ditumpas seakan-akan mereka ini tidak bergerak bebas dalam menindas orang-orang kecil.
Sampai pada akhirnya Si Pitung benar-benar tewas tertembak peluru emas milik kepala kepolisian karesidenan Batavia A.M.V Hinne.

Leave a Reply