Tag: bioplastik

  • Mengenal Bioplastik, Apakah Benar-benar Ramah Lingkungan?

    Mengenal Bioplastik, Apakah Benar-benar Ramah Lingkungan?

    Bio bag product explanation – source: biobagworld.com.au

    7cloud.asia – Saat memunguti sampah di lokasi Citayam Fashion Show di Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu, artis Cinta Laura Kiehl menenteng kantung plastik yang disebutnya ramah lingkungan. Plastik yang ditenteng Cinta Laura ini biasa disebut dengan bioplastik.

    Apa itu bioplastik? Bioplastik merupakan bahan plastik yang terbuat dari material biologis selain minyak bumi, contohnya tanaman dan bakteri.

    Bioplastik dikatakan relatif lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik sintetis karena lebih mudah terurai di alam dan bahkan bisa menjadi kompos. 

    Berbeda dari plastik biasa yang berbahan minyak bumi (petroleum) yang tidak dapat diproduksi ulang secara cepat, bioplastik menggunakan biomasa yang terbarukan.

    Itu sebabnya bioplastik dianggap sebagai solusi bagi berbagai masalah lingkungan yang dipicu oleh sampah plastik.

    Baca: Bahaya mikroplastik untuk kesehatan

    Dalam Diskusi memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada Sabtu (3/6/2023) lalu  7cloud.asia berkesempatan mengikuti pemaparan dari Asmuwahyu, seorang pakar ilmu kimia yang kini menjaid produsen bioplastik. 

    Menurut Asmuwahyu yang adalah mantan dosen UI tersebut, bioplastik dapat dibedakan menjadi dua jenis yakni diodegradable atau yang bisa terurai dan decompostable atau yang bisa menjadi kompos.

    “Compostable bioplastik berarti biodgradble, tetapi tidak sebaliknya,” ujarnya.

    Hal ini bisa diterangkan karena tidak semua bioplastik bisa diubah menjadi kompos. Bioplastik compostable, menurutnya, akan terbiodegradasi di tanah kompos pada suhu 45- 60 derajat celcius karbon organiknya 90% bisa terurai menjadi karbondioksia atau CO2. 

    Adapun waktu yang dibutuhkan maksimum 180 hari. Sementara karbon organisi pada biodegradable bioplastik tidak sepenuhnya bisa terurai.

     

    Baca: 6 Cara asyik kurangi sampah plastik

    Tapi semua bioplastik bisa dikatakan lebih ramah lingkungan karena bisa terurai, sehingga tidak menghasilkan mikroplastik yang kini memicu banyak masalah bagi lingkungan dan kesehatan. 

    Namun demikian, proses produksi bioplastik hingga saat ini jauh lebih besar sehingga mempengaruhi harga bioplastik menjadi lebih mahal dibanding plastik biasa.

    Dilansir waste4change.com, bioplastik atau bioplastic polyhydroxybutyrate (PHB), pertama kali ditemukan pada tahun 1926 oleh ahli riset Perancis bernama  Maurice Lemoigne.

    Bioplastik ini merupakan hasil  percobaan yang dia lakukan menggunakan bakteri Bacillus megaterium. Bioplastic polyhydroxybutyrate (PHB) dibentuk oleh fenomena biosynthesis yang dilakukan oleh bakteri di saat kondisi nutrisi terbatas.

    Setelahnya banyak jenis bioplastik lainnya yang mulai ditemukan, seperti Polylactic acid (PLA), Polyamide 11, Polyhydroxyalkanoate, Bio-derived polyethylene, Cellulose-based plastics, Protein-based plastics ataupun Lipid-derived polymers.

    Baca: Botol kaca dan botol plastik, mana lebih ramah lingkungan

    Beberapa materi biologis yang bisa dikembangkan sebagai bahan dasar bioplastik antara lain adalah minyak nabati, amilum jagung, klobot Klobot jagung, ketela, rumput laut, jerami, ampas tebu, kayu, alga dan sebagainya. 

    Bioplastik dapat terurai di alam lebih cepat dari plastik sintetis, namun ada beberapa tingkatan penguraian untuk jenis bioplastik yang berbeda.

    Beberapa kondisi yang dibutuhkan bioplastik untuk terurai secara optimal di antaranya:

    1. Oxo Degradable Plastic – Dapat terurai dengan bantuan oksigen
    2. Photodegradable Plastic – dapat terurai dengan bantuan radiasi ultraviolet dari matahari
    3. Biodegradable Plastic – dapat terurai dengan bantuan mikroorganisme tertentu
    4. Compostable Plastic – dapat terurai melewati proses pengomposan yang membutuhkan tingkatan suhu dan kondisi tertentu

    Baca: Kenali jenis-jenis plastik berikut ini

    Jika tidak mendapatkan elemen-elemen yang sesuai untuk proses penguraiannya dan masih diproses dengan cara dibuang di bak sampah tertutup bersama materi anorganik lainnya atau hanya dibiarkan menumpuk di TPA atau lautan, bioplastik kemungkinan besar masih akan menumpuk di alam lebih lama dari yang seharusnya.

    Ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa penguraian bioplastik juga bisa melepaskan gas metan (CH4) ke udara yang merupakan salah satu gas rumah kaca yang bisa menyebabkan penipisan lapisan ozon. 

    Hal ini menunjukkan bahwa masih perlu ada sistem khusus yang harus disediakan lebih dahulu oleh agen daur ulang dan pemerintah, jika bioplastik akan diproduksi secara masif untuk menggantikan plastik sintetik polimer (baca juga sejarah plastic polimer di sini). 

    Baca: Tak hanya plastik seklai pakai, styrofoam harusnya juga dilarang

    Karena itu penerapan konsep 3R (Reduce-Reuse-Recycle) tetap memegang peran penting untuk mengurangi sampah.

    Selalu bijak dalam memilih material dengan menggunakan bahan yang bisa digunakan berulang kali penting dilakukan sebelum mengambil langkah daur ulang. 

    Jika kamu penasaran di mana bisa membeli bioplastik dan berapa harganya, ikuti di tulisan tentang plastik di 7cloud.asia edisi selanjutnya.   

     

    Referensi: https://waste4change.com/blog/bioplastik/

  • Lakukan Ini Saat Beli Produk Bioplastik yang Ramah Lingkungan

    Lakukan Ini Saat Beli Produk Bioplastik yang Ramah Lingkungan

     

    7cloud.asia – Dalam artikel tentang bioplastik yang telah diterbitkan di 7cloud.asia beberapa waktu lalu, disebutkan ada beberapa jenis plastik yang disebut ramah lingkungan. 

    Beberapa jenis plastik ramah lingkungan makin banyak ditemukan di pasaran, baik itu oxodegradable (jenis plastik yang ditambah senyawa prodegradant agar dapat hancur dalam waktu singkat) dan bioplastik yang merupakan jenis plastik yang mengandung bahan tumbuhan. 

    Plastik jenis oxodegradable dan bioplastik biasanya ada dalam bentuk kantong belanja (kresek) dan sedotan sekali pakai. Sementara bioplastik lainnya bentuknya lebih beragam seperti alat makan, 

    Penggunaan plastik ramah lingkungan makin banyak digunakan dan diyakini sebagai salah satu solusi dari plastik konvensional (dari minyak bumi).

    Baca: Mengenal apa itu bioplastik yang diklaim ramah lingkungan

    Di Indonesia sejumlah produsen telah memasarkan plastik ramah lingkungan berupa bioplastik baik yang biodegradable maupun compostable.

    Beberapa produk bioplastik yang sudah beredar di pasar Indonesia adalah Ecofrenbag dan Cassaplast.

    Marketing Cassaplast, Cacam Samsiah Imron saat ditemui di sela pameran Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2023 di Kampus UI Depok, Jawa Barat akhir pekan lalu mengatakan, produk Cassaplast dibuat dari pati singkong, minyak nabati dan bioplastik polimer.

    Produk Cassaplast yang terdiri dari kantung kresek dan alat makan ini disebut tahan panas, dapat terurai dalam 180 hari. 

    “Produk Cassaplast dapat dikomposkan dan tidak berbahaya jika dikonsumsi mikroorganisme,” terangnya.

    Di dalam negeri produk Cassaplast yang antara lain berupa kantung kresek, alat makan, laundrybag masih terbatas penggunaannya seperti di restoran dan hotel ramah lingkungan, rumah sakit tertentu. Hal ini tak lepas dari harganya yang relatif lebih mahal yakni empat kali lipat.

    Tak hanya memenuhi pasar dalam negeri, Cassaplast juga sudah diekspor ke sejumlah negara antara lain Jepang, AS, Uni Emirat Arab dan Australia.

    Baca: Bahaya mikroplastik untuk kesehatan

    Sementara Ecofrenbag yang juga ikut dalam pameran tersebut menggunakan sari pati jagung dan ampas tebu sebagai bahan bakunya. 

    Marketing Executive Ecofrenbag Michaela menyebut penggunaan ampas tebu membuat produk Ecofrenbag tahan panas, tahan air dan tahan minyak. 

    Produk Ecofrenbag bisa terurai yang hasil akhirnya bisa menjadi kompos atau pupuk dalam waktu 6 bulan hingga satu tahun.

    Produk Ecofrenbag cukup kuat untuk digunakan beberapa kali dan mampu menahan beban hingga belasan kilogram.

    “Lifespend Ecofrenbag bisa bertahan hingga satu tahun, jika lewat satu tahun dan mudah sobek maka sudah waktunya untuk dibuat kompos. Caranya tinggal disobek dan dibuang ke komposer atau dibuang ke tanah,” terangnya.

    Baca: Bersikap yuk, boikot produk yang tak olah kembali sampah plastiknya

    Lantas benarkah bioplastik benar-benar ramah lingkungan? Dilansir aliansizerowaste.id menyebut klaim tersebut tidak sepenuhnya benar.

    Sebab, ada beberapa plastik ramah lingkungan yang terbukti gagal menyelesaikan krisis sampah plastik dan tetap mengancam kelestarian lingkungan. 

    Berdasarkan penelitian yang dilakukan Imogen Napper dan Richard Thompson di University of Plymouth, Inggris, bioplastik tidak terurai setelah tiga tahun dibiarkan di alam bahkan masih utuh seperti sedia kala.
     
    Napper dan Thompson meletakkan empat jenis plastik (compostable, biodegradable, oxo-degradable, dan plastik polythene konvensional) pada tiga kondisi: dikubur di tanah, dibiarkan di udara terbuka, dan ditenggelamkan di laut.
     
    Semua plastik masih utuh seperti sedia kala dalam jangka waktu tiga tahun setelah pertama kali penelitian dilakukan. 
     

    Ada pula laporan berjudul “Biodegradable Plastics and Marine Litter. Misconceptions, Concerns and Impacts on Marine Environment” yang dirilis oleh UN Environment pada tahun 2015 menyimpulkan bahwa istilah plastik biodegradable bukanlah jawaban yang tepat dalam mengurangi pencemaran di lautan.

    Plastik jenis ini hanya bisa ‘hancur’ secara sempurna dalam kondisi lingkungan yang seringkali hanya ditemukan pada industrial composter (seperti pada suhu di atas 50°C) dan bukan alam bebas.

    Senada dengan yang dirilis oleh UN Environment, hasil riset Kopernik berjudul “Alternative Packaging Solutions: Experiment Result” juga menemukan bahwa alternatif pengemasan (diberi label sebagai kompos, biodegradable, oxo-biodegradable) tidak terdegradasi ke tingkat yang signifikan dalam periode eksperimen enam bulan di lingkungan pengujian mana pun.

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    Karena banyak alternatif kemasan yang terlihat seperti plastik konvensional, kemungkinan besar mereka akan dibuang dengan cara yang mirip dengan plastik konvensional dan juga dapat bocor atau dialirkan ke lingkungan terbuka alami dengan cara yang mirip dengan plastik konvensional.

    Plastik ramah lingkungan yang disebut dalam laporan tersebut berpotensi akan hancur menjadi potongan-potongan kecil atau biasa kita sebut dengan mikroplastik.

    Mikroplastik ini akan tetap berada di alam, dengan bentuknya yang sangat kecil dan bahkan tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang, jenis plastik ini sangat berbahaya karena bisa dengan mudahnya terhirup atau masuk ke makanan dan minuman kita.

    Baca: Gunakan produk isi ulang untuk kurangi sampah plastik

    Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi mengatakan, plastik berjenis oxodegradable dan bioplastik sebenarnya tidak ‘sehijau’ apa yang disampaikan oleh pihak-pihak industri kepada masyarakat.

    Plastik jenis ini membutuhkan kondisi khusus, seperti suhu dan tingkat kelembaban tertentu, untuk akhirnya benar-benar bisa terurai.

    “Selain itu, solusi seperti ini tidak mendorong konsumen untuk benar-benar beralih dari gaya hidup instan yang mengandalkan produk-produk sekali pakai,” jelasnya sebagaimana dikutip aliansizerowaste.id pada Maret 2022 lalu.

    Jadi sebisa mungkin mengurangi produk sekali pakai tetap menjadi hal penting terkait bioplastik ini. 

    Sumber: 

    Mengapa Plastik Ramah Lingkungan Bukan Solusi?

  • Ilmuwan AS Kembangkan Bioplastik Berbahan Bangkai Lalat Hitam

    Ilmuwan AS Kembangkan Bioplastik Berbahan Bangkai Lalat Hitam

    7cloud.asia – Sebuah kabar baik bagi lingkungan datang dari Amerika Serikat. Dilansir The Guardian, peneliti dari Universitas A&M Texas berhasil mengubah bangkai lalat menjadi bioplastik yang bisa terurai. 

    Temuan bioplastik dari bangkai lalat ini dipresentasikan pada pertemuan musim gugur American Chemical Society (ACS).

    Teknologi yang mampu mengubah bangkai lalat menjadi bioplastik ini diprediksi akan sangat bermanfaat, karena sulit untuk menemukan sumber polimer yang bisa terurai dengan kegunaan yang bersaing.

    “Selama 20 tahun, kelompok kami telah mengembangkan metode untuk mengubah produk alami – seperti glukosa yang diperoleh dari tebu atau pohon – menjadi polimer yang dapat terurai di lingkungan,” kata peneliti utama, Karen Wooley.

    Baca: Mengenal bioplastik, apakah benar-benar aman untuk lingkungan

    “Tetapi produk alami tersebut dipanen dari sumber daya yang juga digunakan untuk makanan, bahan bakar, konstruksi, dan transportasi.”

    Woley menambahkan, temuan ini berawal saat seorang koleganya menyarankan untuk menggunakan produk limbah yang tersisa dari pertanian, yakni lalat hitam menjadi bahan bioplastik.

    Selama ini, larva lalat yang kaya protein dan nutrisi dibudidayakan untuk pakan ternak. Larva lalat ini juga dibudidayakan untuk memecah limbah makanan. 

    Namun, lalat dewasa kurang bermanfaat dan dibuang setelah masa hidupnya yang singkat.

    Baca: Lakukan ini saat menggunakan bioplastik biar nggak nyampah

    Tim Wooley telah mencoba menggunakan bangkai lalat hitam ini untuk membuat bahan yang berguna seperti bioplastik ini.

    Para peneliti menemukan bahwa kitin, polimer berbasis gula, adalah komponen utama lalat dan memperkuat cangkang, atau kerangka luar, serangga dan krustasea.

    Cangkang udang dan kepiting sudah digunakan untuk ekstraksi kitin. Para peneliti mengatakan bubuk kitin yang bersumber dari lalat tampak lebih murni daripada dari krustasea.

    Lebih dari itu, memproses kitin dari lalat dapat menghindari kekhawatiran soal beberapa alergi akibat makanan laut.

    Baca: Lima produsen sampah plastik terbesar di dunia

    Dari produk tersebut, tim menciptakan hidrogel yang mampu menyerap air 47 kali lipat beratnya hanya dalam waktu satu menit.

    Produk ini dapat digunakan di lahan pertanian untuk menangkap air banjir dan kemudian melepaskan kelembapan secara perlahan selama musim kemarau.

    “Di sini di Texas, kami terus-menerus berada dalam situasi banjir atau kekeringan, jadi saya telah mencoba memikirkan bagaimana kami dapat membuat hidrogel penyerap super yang dapat mengatasi hal ini.” imbuh Woley,

    Para ilmuwan berharap mereka dapat segera membuat bioplastik seperti polikarbonat atau poliuretan yang secara tradisional terbuat dari petrokimia, namun kali ini berbahan bangkai lalat hitam.

    Baca: 5 jenis plastik sekali pakai yang wajib dihindari

    Bioplastik ini disebut akan menjadi solusi bagi sampah plastik karena tidak menambah sampah plastik.

    Wooley berkata: “Pada akhirnya, kami ingin serangga (lalat, red) memakan sampah plastik sebagai sumber makanan mereka, lalu kami akan memanennya lagi dan mengumpulkan komponennya untuk membuat plastik baru.”

    “Jadi serangga tidak hanya menjadi sumbernya, tetapi mereka juga akan mengkonsumsi plastik yang dibuang.”

    Sumber: The Guardian, baca artikel asli di sini

  • Bioplastik dari Bonggol Jagung Hasil Inovasi Tim Bravethon UKSW Raih Hult Prize On Campus Program

    Bioplastik dari Bonggol Jagung Hasil Inovasi Tim Bravethon UKSW Raih Hult Prize On Campus Program

    7cloud.asia – Berawal dari melihat limbah jagung yang melimpah Tim Bravethon Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) kemudian menciptakan bioplastik yang terbuat dari sampah bonggol jagung.

    Bioplastik dari imbah bonggol jagung ini juga yang mengantar Tim Bravethon UKSW meraih juara Hult Prize On Campus Program.

    Tim penemu bioplastik dari limbah jagung ini beranggotakan Bramadi Theodorus, Nathania Calista, dan Benita Elma, yang semuanya mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB).

    “Ide ini berawal dari tumpukan bonggol jagung yang menjadi salah satu sampah. Beranjak dari permasalahan tersebut kami berkomitmen untuk mengolah bonggol jagung menjadi produk bioplastik,” ungkap Bramadi, dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/3/2024).

    Baca: Ilmuwan AS kembangkan bioplastik dari cangkang lalat hitam  

    Ide bisnis ini bertujuan untuk mengurangi sampah plastik, sampah bonggol jagung, sekaligus meningkatkan pendapatan petani jagung.

    Rekan Bramadi, Nathania yang juga merupakan anggota tim Bravethon mengungkapkan produk ini diberi nama “Re-cornstic+” dan sudah memiliki prototype bioplastik.

    Campus Director Hult Prize at UKSW 2024 Natania Desyderia mengungkapkan, kegiatan Hult Prize merupakan kompetisi ide-ide bisnis berbasis internasional yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

    “Adapun rangkaian Hult Prize at UKSW 2024 berawal dari training, kemudian mentoring, trial pitch hingga final pitch untuk dinilai oleh para juri yang ahli di bidangnya masing-masing,” ujarnya.

    Baca: Apakah bioplastik benar-benar aman untuk lingkungan

    Sementara itu, Ryan Tuelah Bundt, S.SI., Tenaga Kependidikan Diker menerangkan bahwa program Hult Prize at UKSW sudah ada sejak tahun 2020. 

    Menurut Ryan, kegiatan ini bertujuan untuk mencari ide baru dalam pendirian startup yang mendukung SDGs.

    Empat tahapan program Hult Prize yakni OnCampus Program, Regional Summits, Global Accelerator, dan Global Finals.

    “Gelaran program ini juga sejalan dengan visi UKSW untuk menjadi entrepreneurship research university yang menciptakan wirausaha-wirausaha baru,” tuturnya.

    Baca: Bahaya mikroplastik pada kesehatan

    Pada acara ini, dihadirkan sebagai pembicara tunggal Jessi Febria Chief Technology Officer (CTO) dan Co-Founder PetaNetra, sebuah aplikasi peta bagi penyandang tunanetra.

    “Terdapat dua hal penting yang harus diperhatikan untuk memulai sebuah bisnis. Pertama kita harus memiliki pondasi yang kuat, kemudian kedua harus memiliki produk yang kuat,” jelasnya. 

    Jessi menekankan bahwa seorang pebisnis pemula perlu memahami metode bisnis yang dapat mengurangi pemborosan perusahaan.

    Metode tersebut, imbuh Lusi, adalah memiliki ide untuk dieksekusi yakni dengan menerjemahkan masalah menjadi sebuah solusi.

    Baca: Daur ulang plastik di Jepang mencapai 85 persen

    “Beberapa hal lainnya adalah melakukan building product, menilai produk yang akan dipasarkan, mengumpulkan data, dan belajar dari data tersebut,” paparnya. 

  • Plastik Biodegradable: Solusi atau Ilusi Ramah Lingkungan?

    Plastik Biodegradable: Solusi atau Ilusi Ramah Lingkungan?

    7cloud.asia – Pernah berbelanja dan mendapati kantong plastik bertuliskan ‘bioplastik’, plastik ‘biodegradable’, ‘ramah lingkungan’, atau ‘pasti terurai’?

    Memakai kantong plastik dengan label-label biodegradable dan lain-lain itu mungkin selintas membuat kamu berpikir sudah membuat pilihan yang lebih baik bagi Bumi. Namun, pernahkah kamu berpikir apakah klaim tersebut benar adanya?

    Riset membuktikan, plastik dengan label biodegradable sekalipun ternyata tidak bisa hancur secara keseluruhan dengan sendirinya di lingkungan terbuka.

    Apa itu plastik biodegradable? Plastik biodegradable umumnya didefinsikan sebagai jenis plastik yang bisa diurai oleh mikroorganisme menjadi air, karbon dioksida, dan biomassa. Plastik biodegradable terbagi menjadi dua kelompok, yakni:

    Plastik yang terbuat dari bahan polimer alami atau bioplastik, seperti plastik olahan pati singkong, polylactic acid (PLA) dari pati jagung, dan polyhydroxyalkanoates (PHA) yang diproduksi oleh mikroba.

    Plastik sintetis seperti oxo-biodegradable, yang diberi tambahan zat pro-oksidan agar lebih mudah terurai saat terkena panas atau terpapar sinar matahari.

    Baca: Apakah bioplastik benar-benar ramah lingkungan?

    Kemampuan kedua jenis plastik ini untuk terurai sangat bergantung pada jenis bahan dan lingkungan tempat plastik itu dibuang.

    Contohnya, plastik berbahan PLA yang sering digunakan untuk alat makan sekali pakai, hanya bisa terurai secara optimal di fasilitas industri, dengan suhu tinggi di atas 58°C dan juga butuh mikroorganisme khusus untuk mengurainya.

    Dengan kata lain, jika plastik tersebut masuk tempat pembuangan biasa, maka nasibnya akan sama saja dengan sampah plastik biasa yang sulit terurai.

    Sementara untuk jenis bioplastik berbasis pati singkong, penelitian kami yang dipublikasikan pada 2022 silam menunjukkan bahwa plastik tersebut bisa menyusut hingga 74 persen saat dikubur di tanah kompos selama 120 hari.

    Namun, butuh penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah jenis bioplastik ini memang bisa terurai sepenuhnya dalam jangka waktu tertentu, dan apakah ada potensi dampak lingkungan lebih lanjut.

    Baca: Lakukan hal ini saat membeli bioplastik

    Plastik sintetis seperti oxo-biodegradable lebih sulit lagi. Studi lain yang terbit di jurnal American Chemical Society menunjukkan, sebuah kantong plastik yang dilabel oxo-biodegradable masih tampak utuh setelah tiga tahun dikubur di tanah.

    Plastik biodegradable tetap menjadi limbah
    Pada akhirnya, plastik biodegradabel, baik bioplastik maupun oxo-biodegradable tetap dapat menghasilkan limbah, sama dengan plastik konvensional.

    Limbah ini bisa berbentuk nanoplastik, dan bahkan dalam beberapa kasus menghasilkan mikroplastik lebih banyak dibandingkan dengan plastik biasa.

    Sebuah studi yang terbit pada 2024 lalu membandingkan pembentukan mikroplastik dari plastik konvensional dan bioplastik pada saat penguraian dalam air.

    Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata mikroplastik justru lebih banyak terbentuk dari bioplastik, sebab kemampuannya untuk terurai dalam air sangat rendah. Di perairan, bioplastik akan mengapung atau mengendap di badan air menjadi sedimen.

    Baca: Bioplastik berbahan bonggol jagung

    Sama seperti sampah plastik biasa, plastik biodegradabel juga mengandung berbagai zat aditif atau bahan tambahan untuk meningkatkan kualitas produknya.

    Bahan kimia itu seperti plasticizer (pelembut), flame retardant (penahan api), antioksidan, agen hidrofobik atau zat anti-air dan senyawa kimia berbahaya lainnya.

    Pada saat plastik tersebut terurai, zat aditif tersebut ikut terlepas ke lingkungan dan berpotensi membahayakan kesehatan.

    Penelitian terbaru pada tikus menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap bioplastik berbahan dasar pati misalnya, bisa menyebabkan gangguan metabolisme, seperti resistensi insulin dan gangguan dalam pengolahan lemak tubuh.

    Jadi, bisa dikatakan mengurangi plastik adalah opsi terbaik ketimbang menggunakan plastik biodegradabel.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Watumesa A. Tan
    (Associate Professor in Biotechnology, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya) dan Dian Burhani (Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)