7cloud.asia – Dalam artikel tentang bioplastik yang telah diterbitkan di 7cloud.asia beberapa waktu lalu, disebutkan ada beberapa jenis plastik yang disebut ramah lingkungan.
Beberapa jenis plastik ramah lingkungan makin banyak ditemukan di pasaran, baik itu oxodegradable (jenis plastik yang ditambah senyawa prodegradant agar dapat hancur dalam waktu singkat) dan bioplastik yang merupakan jenis plastik yang mengandung bahan tumbuhan.
Plastik jenis oxodegradable dan bioplastik biasanya ada dalam bentuk kantong belanja (kresek) dan sedotan sekali pakai. Sementara bioplastik lainnya bentuknya lebih beragam seperti alat makan,
Penggunaan plastik ramah lingkungan makin banyak digunakan dan diyakini sebagai salah satu solusi dari plastik konvensional (dari minyak bumi).
Baca: Mengenal apa itu bioplastik yang diklaim ramah lingkungan
Di Indonesia sejumlah produsen telah memasarkan plastik ramah lingkungan berupa bioplastik baik yang biodegradable maupun compostable.
Beberapa produk bioplastik yang sudah beredar di pasar Indonesia adalah Ecofrenbag dan Cassaplast.
Marketing Cassaplast, Cacam Samsiah Imron saat ditemui di sela pameran Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2023 di Kampus UI Depok, Jawa Barat akhir pekan lalu mengatakan, produk Cassaplast dibuat dari pati singkong, minyak nabati dan bioplastik polimer.
Produk Cassaplast yang terdiri dari kantung kresek dan alat makan ini disebut tahan panas, dapat terurai dalam 180 hari.
“Produk Cassaplast dapat dikomposkan dan tidak berbahaya jika dikonsumsi mikroorganisme,” terangnya.
Di dalam negeri produk Cassaplast yang antara lain berupa kantung kresek, alat makan, laundrybag masih terbatas penggunaannya seperti di restoran dan hotel ramah lingkungan, rumah sakit tertentu. Hal ini tak lepas dari harganya yang relatif lebih mahal yakni empat kali lipat.
Tak hanya memenuhi pasar dalam negeri, Cassaplast juga sudah diekspor ke sejumlah negara antara lain Jepang, AS, Uni Emirat Arab dan Australia.
Baca: Bahaya mikroplastik untuk kesehatan
Sementara Ecofrenbag yang juga ikut dalam pameran tersebut menggunakan sari pati jagung dan ampas tebu sebagai bahan bakunya.
Marketing Executive Ecofrenbag Michaela menyebut penggunaan ampas tebu membuat produk Ecofrenbag tahan panas, tahan air dan tahan minyak.
Produk Ecofrenbag bisa terurai yang hasil akhirnya bisa menjadi kompos atau pupuk dalam waktu 6 bulan hingga satu tahun.
Produk Ecofrenbag cukup kuat untuk digunakan beberapa kali dan mampu menahan beban hingga belasan kilogram.
“Lifespend Ecofrenbag bisa bertahan hingga satu tahun, jika lewat satu tahun dan mudah sobek maka sudah waktunya untuk dibuat kompos. Caranya tinggal disobek dan dibuang ke komposer atau dibuang ke tanah,” terangnya.
Baca: Bersikap yuk, boikot produk yang tak olah kembali sampah plastiknya
Lantas benarkah bioplastik benar-benar ramah lingkungan? Dilansir aliansizerowaste.id menyebut klaim tersebut tidak sepenuhnya benar.
Sebab, ada beberapa plastik ramah lingkungan yang terbukti gagal menyelesaikan krisis sampah plastik dan tetap mengancam kelestarian lingkungan.
Ada pula laporan berjudul “Biodegradable Plastics and Marine Litter. Misconceptions, Concerns and Impacts on Marine Environment” yang dirilis oleh UN Environment pada tahun 2015 menyimpulkan bahwa istilah plastik biodegradable bukanlah jawaban yang tepat dalam mengurangi pencemaran di lautan.
Plastik jenis ini hanya bisa ‘hancur’ secara sempurna dalam kondisi lingkungan yang seringkali hanya ditemukan pada industrial composter (seperti pada suhu di atas 50°C) dan bukan alam bebas.
Senada dengan yang dirilis oleh UN Environment, hasil riset Kopernik berjudul “Alternative Packaging Solutions: Experiment Result” juga menemukan bahwa alternatif pengemasan (diberi label sebagai kompos, biodegradable, oxo-biodegradable) tidak terdegradasi ke tingkat yang signifikan dalam periode eksperimen enam bulan di lingkungan pengujian mana pun.
Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik
Karena banyak alternatif kemasan yang terlihat seperti plastik konvensional, kemungkinan besar mereka akan dibuang dengan cara yang mirip dengan plastik konvensional dan juga dapat bocor atau dialirkan ke lingkungan terbuka alami dengan cara yang mirip dengan plastik konvensional.
Plastik ramah lingkungan yang disebut dalam laporan tersebut berpotensi akan hancur menjadi potongan-potongan kecil atau biasa kita sebut dengan mikroplastik.
Mikroplastik ini akan tetap berada di alam, dengan bentuknya yang sangat kecil dan bahkan tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang, jenis plastik ini sangat berbahaya karena bisa dengan mudahnya terhirup atau masuk ke makanan dan minuman kita.
Baca: Gunakan produk isi ulang untuk kurangi sampah plastik
Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi mengatakan, plastik berjenis oxodegradable dan bioplastik sebenarnya tidak ‘sehijau’ apa yang disampaikan oleh pihak-pihak industri kepada masyarakat.
Plastik jenis ini membutuhkan kondisi khusus, seperti suhu dan tingkat kelembaban tertentu, untuk akhirnya benar-benar bisa terurai.
“Selain itu, solusi seperti ini tidak mendorong konsumen untuk benar-benar beralih dari gaya hidup instan yang mengandalkan produk-produk sekali pakai,” jelasnya sebagaimana dikutip aliansizerowaste.id pada Maret 2022 lalu.
Jadi sebisa mungkin mengurangi produk sekali pakai tetap menjadi hal penting terkait bioplastik ini.
Sumber:

Leave a Reply