Tag: bumi

  • 3 Cara Agar Pendidikan Turut Memberi Solusi bagi Perubahan Iklim

    3 Cara Agar Pendidikan Turut Memberi Solusi bagi Perubahan Iklim

    Siswa SMAN 14 Semarang saat mengerjakan projek pembuatan pupuk organik di sekolah. Foto: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah

    7cloud.asia – Sebagai generasi yang tinggal di Bumi di masa depan, anak-anak perlu menyadari situasi Bumi semakin genting akibat dampak perubahan iklim

    Pemanasan global sekitar 1,2° C sejak 150 tahun lalu mengakibatkan berbagai dampak buruk bagi kehidupan: cuaca ekstrem, kebakaran hutan, pemanasan laut, hingga penurunan keanekaragaman hayati. Sebagian dampak dari perubahan iklim di antaranya sudah kita rasakan.

    Perubahan suhu Bumi berisiko mengubah iklim lebih drastis lagi pada 2050. Efek dari perubahan iklim bisa lebih parah, dan anak-anaklah yang paling berisiko merasakannya.


    Baca juga: “Neraka pada 2050”: krisis iklim isu hidup mati bagi generasi muda


    Nah, pendidikan dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenali situasi dan risiko akibat perubahan iklim tersebut.

    Studi menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan yang berkualitas dapat meningkatkan kesadaran akan ancaman perubahan iklim, bukan hanya terhadap anak-anak, tapi juga sampai “menular” ke orang tua dan keluarga mereka.

    Peran ini krusial, terutama bagi Indonesia, yang hanya 47% penduduknya percaya bahwa pemanasan global terjadi akibat perbuatan manusia.

     

    Kami mencoba melakukan telaah singkat dokumen Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka yang diterbitkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Dokumen ini adalah sekumpulan arahan materi dan kompetensi yang mesti dicapai siswa pada setiap jenjang pendidikan, mulai dari usia dini hingga menengah.

    Secara umum, kami mendapati literasi perubahan iklim dan energi sudah tercantum pada sejumlah mata pelajaran di semua jenjang pendidikan, dengan berbagai kata kunci, di antaranya: pemanasan global, perubahan iklim, energi alternatif, dan energi terbarukan.

    Namun, arahan dalam berbagai Capaian Pembelajaran ini belum berhasil diterjemahkan menjadi sesuatu yang dekat dan relevan bagi murid. Sekolah sering mengambil contoh yang justru jauh, tidak relevan, dan parsial.

    Contohnya adalah ajakan untuk melakukan 3R (mengurangi, menggunakan ulang, mendaur ulang sampah) tanpa menelaah aspek konsumsi yang berkelanjutan di dalamnya. Ada juga target bagi siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk memahami teknologi pengolahan hasil dan pengujian mutu pertanian di tengah perubahan iklim.

    Realitasnya, tidak semua SMK tersebut memiliki fasilitas seperti laboratorium dan akses internet yang baik.


    Baca juga: Riset awal tunjukkan nilai kesadaran perubahan iklim Gen-Z di Indonesia sangat tinggi


    Indonesia perlu memperkuat pendidikan perubahan iklim di sekolah sejak dini. Menurut kami, setidaknya ada tiga langkah pembenahan yang perlu dilakukan oleh pemerintah maupun pihak sekolah.

    Harapannya, para siswa dapat mengetahui langkah-langkah terbaik sejak dini untuk menanggulangi dampak perubahan iklim, ataupun beradaptasi di ruang hidup masing-masing.

    1. Memperbanyak materi belajar tentang perubahan iklim

    Siswa saat mengunjungi kawasan ekowisata berbasis keanekaragaman hayati. (KLHK)

    Pemerintah perlu memperbanyak materi belajar tentang krisis iklim pada mata pelajaran dalam kurikulum.

    Kami mencoba melakukan telaah awal dokumen Capaian Pembelajaran dengan menggunakan kata kunci “perubahan iklim”. Hasilnya, istilah perubahan iklim disebutkan 64 kali, dan tercakup dalam 32 topik dalam mata pelajaran.

    Sayangnya, mayoritasnya (28 topik) adalah mata pelajaran SMK. Sisanya tersebar di jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Padahal, jumlah SMK hanya sekitar 3,2% dari total 443 ribu sekolah di Indonesia.

    Oleh karena itu, agenda utama reformasi pendidikan di Indonesia harus memprioritaskan usaha untuk memberikan lebih banyak paparan tentang perubahan iklim kepada 96,8% sekolah lainnya.

    Upaya Kementerian Pendidikan (Kemdikbudristek) memadukan Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) patut diapresiasi sebagai langkah awal mengenali kondisi Bumi dan interaksinya dengan kehidupan manusia.

    Langkah selanjutnya adalah memperbanyak capaian pembelajaran perubahan iklim dalam IPAS sejak tingkat sekolah dasar (SD).

    Materi ini tak harus selalu seragam, tapi menyesuaikan dengan kondisi di setiap daerah. Misalnya, siswa SD di daerah pesisir akan lebih cepat menangkap fenomena abrasi ataupun ombak ganas sebagai imbas perubahan iklim dibandingkan siswa yang tinggal di dataran tinggi.

    Beberapa studi eksperimen menyimpulkan bahwa pembelajaran terkait isu perubahan iklim tepat dimulai pada usia SD (9-12 tahun). Pada usia ini, siswa dianggap sudah memiliki pemahaman konseptual dan kemampuan komunikasi yang baik.

    Siswa juga lebih mampu meniru dan mengadopsi perilaku-perilaku baik yang diamati dari proses pembelajaran topik perubahan iklim.


    Baca juga: Bagaimana mengajari anak-anak tentang perubahan iklim dan menginspirasi mereka untuk mengambil tindakan


    Indonesia dapat belajar dari Australia yang memiliki sumber materi pembelajaran berupa kumpulan studi kasus yang dapat diakses secara terbuka oleh guru dan siswa. Mereka menyediakan platform “Curious Climate” sebagai wadah anak-anak untuk bertanya seputar perubahan iklim dan dijawab langsung oleh ahlinya.

    Pemerintah dapat memilah sumber daya yang tersedia, menambah sumber daya, dan meletakkannya di portal yang sama untuk menjadi platform terpadu yang dapat digunakan oleh guru dan siswa.

    Platform yang sudah disediakan pemerintah, yaitu Merdeka Mengajar, dapat melayani tujuan ini.

    2. Pembelajaran berbasis projek

    Kurikulum Merdeka mewajibkan sekolah untuk menggunakan 20-30% waktunya untuk menyelenggarakan pembelajaran berbasis projek, dengan model Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila .

    Projek ini memuat isu lingkungan sebagai pilihan tema yang dapat diangkat, yaitu “Gaya Hidup Berkelanjutan”. Penerapannya berbeda-beda sesuai tingkat pendidikan.

    Projek dapat menjadi alat yang ampuh untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam terhadap isu perubahan iklim. Sebab, siswa diharapkan lebih aktif mencari informasi, melihat masalah, merancang projek, serta melaksanakan perencanaan tersebut secara individu maupun kelompok.

    Projek juga dapat mengintegrasikan ilmu alam dan sosial ke dalam kegiatan yang dilaksanakan.

    Salah satu penulis artikel ini (Vivi Fitriyanti) pernah menerapkan pembelajaran berbasis projek dengan memadukan isu lingkungan dan perubahan iklim dengan seni. Selama mengerjakan projek, siswa diajak untuk melakukan studi literatur, wawancara, dan observasi secara langsung ke Tempat Pembuangan Akhir Bantargebang, Kabupaten Bekasi.

    Anak-anak kemudian merespons isu dan hasil riset yang telah mereka lakukan dengan membuat sebuah karya seni dalam berbagai bentuk, seperti: instalasi, fotografi, dan seni kerajinan jarum, yang dipamerkan kepada masyarakat umum.

    Selain itu, penulis mengajak anak-anak untuk diskusi di sekolah terkait isu perubahan iklim dan mengundang pihak luar untuk berbicara terkait isu ini. Penulis dan guru lainnya juga mengajak anak-anak untuk ikut aksi langsung, yaitu parade Jeda untuk Iklim.


    Hal di atas tentu saja tidak akan terjadi apabila tidak ada kepemimpinan sekolah yang membolehkan kami untuk turun ke jalan. Maka dari itu, kepemimpinan sekolah yang sadar akan perubahan iklim dibutuhkan sebagai ruang transformasi dalam menumbuhkan kesadaran perubahan iklim pada anak-anak.

    Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila telah diterapkan di sekitar 142 ribu sekolah di seluruh tanah air pada 2022. Seratus ribu sekolah lainnya juga diperkirakan akan bergabung pada tahun 2023. Pemerintah perlu membuat perencanaan berjangka agar setiap sekolah di seluruh Indonesia dapat menerapkan pembelajaran berbasis projek tersebut.

    3. Kerja sama antarpihak

    Pemerintah perlu membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat pendidikan perubahan iklim di sekolah.

    Beberapa pihak ini, misalnya, organisasi pegiat isu lingkungan yang bisa menambahkan dan mengembangkan lebih banyak materi pengetahuan untuk guru secara gratis ke dalam platform Merdeka Mengajar.

     

    Sektor swasta juga dapat berkontribusi dengan menyediakan program magang untuk menjadikan pembelajaran lebih kontekstual, terutama mengenalkan lebih banyak peluang kerja hijau dan memaparkan mereka pada masalah dunia nyata. Sekolah, universitas, dan perusahaan dapat bekerja sama untuk mewujudkan hal ini.

    Terakhir, wali atau orang tua juga perlu berperan aktif dalam pendidikan anaknya dan mengenalkan isu perubahan iklim di rumah. Mereka dapat terlibat dalam percakapan dan diskusi yang bisa menginspirasi anak-anak.


    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation. Barry Mikhael Cavin, Content Manager Strategy and Core, GovTech Edu turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

  • DemiBumi Ada Karena Planet Bumi adalah Titipan dari Generasi Masa Depan

    DemiBumi Ada Karena Planet Bumi adalah Titipan dari Generasi Masa Depan

    7cloud.asiaSemua berawal dari sebuah cerita tentang kondisi yang mengancam planet Bumi. Karena kerusakan lingkungan dan perubahan iklim maka Bumi terancam tenggelam.

    Mendengar cerita tentang Bumi itu, putri Jessica Halim yang saat itu masih berusia 4 tahun menangis tersedu-sedu. Ia ketakutan dan khawatir akan masa depannya.

    Dari kejadian ini Jessica memutuskan untuk tidak tinggal diam dan tergerak untuk melakukan sesuatu demi menjaga Bumi yang lestari. Hingga kemudian lahirlah DemiBumi. 

    Untuk menggerakkan DemiBumi, Jessica yang sebelumnya berprofesi sebagai grafis desainer itu menggandeng temannya, Juliana.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari Siklus

    Awal mula berdirinya DemiBumi adalah misi pribadi duo Jessica-Juliana untuk mengurangi sampah rumah tangga sebagai bentuk kepedulian untuk menjaga dan melestarikan bumi untuk generasi mendatang.

    DemiBumi yang awalnya adalah proyek pribadi, kini telah berubah menjadi sebuah industri rumah tangga sekaligus gerakan untuk melestarikan lingkungan.

    DemiBumi kini tak hanya menghasilkan beragam produk ramah lingkungan, tapi telah berkembang menjadi sebuah gerakan edukasi untuk mengubah pola pikir bahwa sampah adalah bahan atau material untuk produk baru.

    Baca: Yuk beralih ke bioplastik yang lebih ramah lingkungan

    DemiBumi mengenalkan pola pikir untuk memanfaatkan sumber daya alam seefektif mungkin dan sebanyak mungkin menghindari produk yang terbuat dari plastik.

    DemiBumi mengolah beragam sampah menjadi beragam produk. Botol bekas wine misalnya yang dulu dibuang begitu saja, di tangan DemiBumi diubah menjadi gelas minuman. Kain perca atau pakaian bekas diubah menjadi tas belanja ataupun cepol.

    Yang pasti, DemiBumi terus mengajak warga untuk lebih bijak dalam mengonsumsi dan mengelola sampah yang dihasilkannya.

     

    “Mengurangi sebanyak mungkin pemakaian plastik sekali pakai yang menghasilkan sampah yang tidak bisa terurai dan mengotori tanah dan lautan,” ujar Jessica saat berbicara di acara World Environment Day 2023 bertajuk “Solution to Plastic Pollution, Collaboration Action Center ILUNI UI” pada Sabtu (3/6/2023) lalu.

    DemiBumi percaya, Bumi yang kita tinggali adalah pinjaman dari anak cucu yang harus dijaga dan dipelihara untuk dikembalikan kepada mereka dalam kondisi yang baik.

    Baca: 6 cara asyiik kurangi sampah plastik

    Lewat produk yang dihasilkannya, DemiBumi membantu mengedukasi masyarakat terutama generasi muda tentang pentingnya memulai kesadaran akan kehidupan yang berkelanjutan.

    Jessica menambahkan, sebuah perubahan besar hampir selalu berawal dari individu-individu yang kemudian menular ke masyarakat di sekitarnya yang selanjutnya menjangkau masyarakat yang lebih luas dan lebih banyak.

    Kesadaran untuk menjalankan gaya hidup ramah lingkungan ini dipraktekkan Jessica mulai dari rumahnya sendiri. Di kediaman Jessica, tempat sampah dipisahkan menjadi enam jenis.

    Dengan cara ini secara tidak langsung orang-orang yang tinggal ataupun tamu yang datang ke rumah Jessica akan diajak memilah sampah.

    Baca: Alasan untuk segera beralih ke pembalut kain

    Jessica juga tak segan ‘memamerkan’ kebiasaan memilah sampah saat berada di tempat publik. Dan ternyata, cara ini cukup ampuh untuk mengajak masyarakat untuk sadar memilah sampah.

    “Dengan kita mengubah diri sendiri kita bisa membuat orang di sekitar kita juga berubah,” imbuh Jessica.

    Untuk gaya hidup ramah lingkungan ini, Jessica mengaku banyak belajar dari masyarakat adat yang menurutnya sangat mandiri dalam memenuhi kebutuhan mereka.

    Masyarakat adat, ujar Jessica, sangat cerdas memanfaatkan kekayaan alam tanpa harus merusaknya.  

    Baca: Langkah sederhana mengelola sampah rumah tangga

    Proyek DemiBumi

    Setelah lima tahun berjalan, kini DemiBumi berhasil menghasilkan beragam produk. DemiBumi juga gencar memperkenalkan beragam produk rumah tangga ramah lingkungan, seperti pembalut kain, loofah, sampo alami dan sebagainya.

    DemiBumi juga tak segan membagikan ilmunya tentang kesadaran lingkungan, pengelolaan sampah dan limbah, serta mendaurulang sendiri sampah dan limbah rumah tangga dan memproduksi produk alami kepada masyarakat.

    “DemiBumi fokus pada pendidikan, karena tidak ada yang mengajari kami tentang proses sampah kami sejak di sekolah,” tandas Jessica.

    DemiBumi juga aktif mengajak masyarakat untuk mendaur ulang sampah plastik menjadi produk-produk yang bermanfaat. 

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampah plastiknya

    DemiBumi juga gencar mengajarkan urban farming alias bertani di lahan sempit di kawasan perkotaan.

    Tak berhenti di situ, DemiBumi juga menyisihkan pendapatannya untuk pengembangan segala hal yang berkaitan dengan gaya hidup dan produk ramah lingkungan yang diberi nama Thank You Project. 

    “Thank You Project sebagai solusi produk untuk mendanai penelitian, edukasi, pengembangan, dan inovasi solusi produk ramah,” terang Jessica.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Pemanasan Bumi Mencapai 2°C, Apa yang Sedang Terjadi dengan Lingkungan Kita?

    Pemanasan Bumi Mencapai 2°C, Apa yang Sedang Terjadi dengan Lingkungan Kita?

    7cloud.asia – Pada September 2023, pemanasan suhu Bumi tercatat melampaui 1,5°C.

    Dua bulan kemudian, atau pada November 2023 pemanasan suhu Bumi naik lagi hingga sempat menyentuh 2°C.

    Melihat angka pemansan suhu Bumi ini, wajar jika banyak orang bertanya-tanya  bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan planet ini.

    Apa yang kita lihat terkait fenomena pemanasan suhu Bumi di bulan November ini bukanlah perubahan iklim yang tidak terkendali.

    Ini adalah lonjakan suhu harian, bukan pola jangka panjang yang jadi acuan untuk mengatakan bahwa suhu dunia saat ini lebih panas 2°C dibandingkan era praindustri.

    Baca: Seperti ini peran multi pihak dalam perdagangan karbon

    Namun, kenaikan suhu atau pemanasan suhu Bumi pertama yang melewati batas aman Bumi ini adalah alarm terkeras sepanjang sejarah.

    Kenaikan suhu atau pemanasan Bumi ini terjadi seiring dengan peringatan Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

    UNEP menyebut, dunia masih berada di jalur menuju pemanasan 3°C yang “sangat buruk” pada akhir abad ini.

    Kendati demikian, kenaikan suhu ini tidak menandai kegagalan kita. Lonjakan pemanasan tiba-tiba tahun 2023 terjadi karena kombinasi beberapa faktor: perubahan iklim, El Nino kuat.

    Pemanasan Bumi ini juga menunjukkan kegagalan pembentukan kembali es laut setelah musim dingin, berkurangnya polusi aerosol, dan peningkatan aktivitas matahari.

    Baca: Emisi karbon catat rekor tertinggi pada 2023

    Pemanasan Bumi ini juga dipengaruhi faktor kecil seperti dampak letusan gunung berapi di dekat Tonga. 

    Seberapa signifikan faktor-faktor ini? Kita akan bahas dalam tulisan selanjutnya. 

    Apa hikmah dari pemanasan Bumi ini? Untuk menjawab pertanyaan ini bisa dijelaskan sebagai berikut.

    Iklim sangat kompleks. Kita patut melihat kenaikan suhu 2°C ini sebagai peringatan keras, bukan sebagai tanda untuk menyerah.

    Singkatnya, pemanasan Bumi secara harian ini bukanlah perubahan tiba-tiba. Kombinasi beberapa faktorlah yang mendorong lonjakan ini.

    Beberapa di antaranya, seperti El Nino, merupakan siklus alami sehingga keadaan dapat berubah kembali.

    Baca: Pemanasan global jadi masalah serius bagi lingkungan

    Namun, ketika para delegasi bersiap untuk perundingan iklim COP28 pekan depan, ini merupakan tanda lain bahwa kita tidak bisa menyerah.

    Kita-–akhirnya—-melihat tanda-tanda kemajuan nyata dalam penerapan energi terbarukan dan transportasi ramah lingkungan.

    Tahun ini, kita bahkan mungkin melihat emisi dari pembangkit listrik akhirnya mencapai puncaknya dan kemudian mulai jatuh.

    Kita belum gagal. Namun, saat ini kita berada di planet yang memanas dengan cepat.

    Kita kini dapat melihat dampaknya dengan jelas, bahkan dalam catatan suhu harian terbaru ini.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation. Penulis Andrew King, Senior Lecturer in Climate Science, The University of Melbourne

     

  • WWF Serukan Earth Hour Secara Serentak pada 23 Maret 2024

    WWF Serukan Earth Hour Secara Serentak pada 23 Maret 2024

    7cloud.asia – Organisasi lingkungan internasional, World Wide Fund for Nature (WWF) mengajak masyarakat dunia untuk melakukan Earth Hour atau Jam Bumi pada Sabtu, 23 Maret 2024 mendatang.

    Earth hour ini dilakukan dengan mematikan lampu selama 60 menit mulai pukul 20.30 hingga 21.30 waktu setempat.

    Earth hour kali ini mengusung tema “Momen Terbesar untuk Bumi” dengan tujuan untuk mendukung dan merayakan pentingnya Bumi.

    Earth hour yang sering disebut sebagai gerakan lingkungan akar rumput terbesar di dunia ini kembali dilakukan untuk ke-18 kalinya. 

    “Lebih banyak orang yang perlu bergabung dalam Earth Hour tahun ini untuk memanfaatkan kekuatan kolektif individu dan komunitas,” kata Direktur Jenderal WWF Internasional Kirsten Schuijt dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (19/3/2024).

    Baca: 17 cara gaya hidup ramah lingkungan

    Kirsten mengatakan keterlibatan manusia dalam menyelamatkan bumi mendesak dilakukan, jika ingin meningkatkan kesadaran mengenai tantangan lingkungan hidup dan membengkokkan kurva hilangnya keanekaragaman hayati pada tahun 2030 mendatang.

    Untuk benar-benar menyatukan jutaan orang di seluruh dunia, kata dia, penting bagi Earth Hour untuk memperluas jangkauannya melampaui jumlah pendukung yang sudah sangat besar dan melibatkan individu-individu yang belum terlibat.

    “Melindungi planet kita adalah tanggung jawab bersama dan memerlukan tindakan kolektif dari seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

    WWF, lanjutnya, juga meluncurkan Hour Bank, alat daring interaktif untuk menemukan cara paling menyenangkan dalam memberikan satu jam untuk bumi.

    Beragam cara dilakukan dalam hour bank ini seperti berjalan-jalan di hutan untuk menikmati aroma udara, merasakan bumi, dan mendengarkan suara, atau melakukan pemilahan di rumah untuk mengidentifikasi

    Baca: Gaya hidup konsumtif berdampak buruk pada lingkungan

    Atau pun menukar produk yang tidak ramah lingkungan dengan produk alternatif yang ramah lingkungan.

    Pada tahun 2023 lebih dari 410.000 jam telah diberikan kepada bumi oleh para pendukung di 190 negara dan wilayah, yang mewakili 90 persen penduduk bumi.

    Sejak pertama kali dilakukan pada tahun 2009 di Indonesia, Earth Hour dikenal dengan momen “mematikan lampu”.

    Selain Ikon-ikon kota, para pendukung Earth Hour di seluruh dunia juga diajak secara simbolis mematikan alat elektronik yang tidak digunakan.

    Earth hour juga bisa diwujudkan dengan memberikan satu jam untuk bumi dengan memanfaatkan 60 menit untuk melakukan apapun yang positif bagi bumi.

    Baca: Ciri produk ramah lingkungan

    CEO Yayasan WWF-Indonesia Aditya Bayunanda mengatakan Earth Hour mengingatkan manusia untuk mengembalikan sebagian dari apa yang telah dinikmati dari alam ini kepada alam.

    “Cara yang paling mudah adalah dengan simbolis mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak terpakai, karena lampu menyimbolkan bagaimana manusia seharusnya memanfaatkan sumber daya alam secara lestari dan berkelanjutan,” ujarnya.

    Untuk itu ia mengajak seluruh masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan berbagai aktivitas yang dapat dilihat di laman web resmi wwf.id serta media sosial @wwf_id.

  • Memperbaiki Kerusakan Lingkungan di Planet Bumi Mungkin Dilakukan, Tapi Mencegah Kerusakan Jauh Lebih Baik

    Memperbaiki Kerusakan Lingkungan di Planet Bumi Mungkin Dilakukan, Tapi Mencegah Kerusakan Jauh Lebih Baik

    7cloud.asia – Apakah mungkin memperbaiki kerusakan yang telah kita lakukan pada Bumi? Demikian pertanyaan yang diajukan Anthony, anak umur 13 dari Amerika Serikat.

    Pertanyaan ini sederhana tetapi sangat menggelitik buat mereka yang peduli pada kelestarian lingkungan dan kelangsungan hidup di planet Bumi. 

    Dan berikut tulisan , Professor of Atmospheric Science, Colorado State University, AS menjawab pertanyaan Anthony soal planet Bumi yang dimuat di The Conversation beberapa waktu lalu

    Terkadang tampaknya manusia telah mengubah Bumi tanpa bisa memperbaikinya. Tapi planet kita adalah sistem yang luar biasa di mana energi, air, karbon, dan banyak lainnya mengalir dan memelihara kehidupan.

    Bumi diperkirakan telah berusia sekitar 4,5 miliar tahun dan telah mengalami perubahan besar.

    Di beberapa titik dalam sejarah Bumi, kebakaran membakar area yang luas. Di tempat lain, sebagian besar ditutupi es. Ada juga kepunahan massal yang memusnahkan hampir semua makhluk hidup di permukaannya.

    Baca: Cara keramas yang lebih ramah lingkungan

    Iklim bumi bervariasi dari periode yang sangat hangat tanpa lapisan es kutub hingga fase ketika sebagian besar planet membeku.

    Planet kita sangat tangguh dan dapat menyembuhkan dirinya sendiri dari waktu ke waktu. Masalahnya adalah sistem penyembuhan dirinya sangat, sangat lambat. Bumi akan baik-baik saja, tetapi masalah manusia lebih mendesak.

    Manusia telah merusak sistem yang menopang kita dalam berbagai cara. Kita telah mencemari udara dan air, dengan plastik yang berserakan , dan berbagai sampah lain nya baik di tanah, laut dan sungai serta menghancurkan habitat tumbuhan dan hewan.

    Tapi kita tahu bagaimana kita bisa membantu proses natural dan menyelesaikan kekacauan yang banyak ini. Bahkan telah ada banyak kemajuan sejak manusia mulai sadar akan adanya masalah ini masalah ini 50 tahun yang lalu

    Sejak tahun 1970, Amerika Serikat telah sangat mengurangi polusi udara bahkan ketika ekonominya telah tumbuh secara dramatis. 

    Namun, masih banyak masalah yang harus diselesaikan. Beberapa polutan, seperti plastik bertahan selama beberapa ribu tahun ,jadi lebih baik berhenti menggunakannya daripada harus mengumpulkannya nanti.

    Baca: Jarang mencuci baju bagus untuk lingkungan

    Dan kepunahan bersifat permanen, jadi satu-satunya cara efektif untuk menguranginya adalah dengan lebih berhati-hati dalam melindungi hewan, tumbuhan, dan spesies lain.

    Mungkinkah mengembalikan perubahan iklim? Kerusakan paling serius yang dilakukan manusia terhadap Bumi utamanya berasal dari pembakaran batu bara, minyak dan gas, yang berakibat pada naiknya temperatur.

    Membakar bahan bakar berbasis karbon ini mengubah kimia dan fisika dasar udara dan lautan.

    Setiap bongkahan batu bara atau galon bensin yang dibakar melepaskan karbon dioksida ke atmosfer. Gas tersebut memanaskan permukaan bumi , menyebabkan banjir, kebakaran dan juga kekeringan.

    Beberapa dari karbon dioksida ini larut ke dalam lautan dan membuat laut menjadi asam dan membahayakan rantai makanan laut.

    Perubahan iklim adalah masalah yang akan bertambah buruk sampai manusia berhenti memperburuknya – dan kemudian akan membutuhkan waktu berabad-abad agar iklim kembali seperti semula sebelum revolusi industri.

    Baca: Slow fashion alternatif pilihan untuk beralih dari fast fashion yang merusak lingkungan

    Satu-satunya cara untuk menghindari keadaan yang lebih buruk adalah dengan berhenti membakar karbon. Itu berarti masyarakat perlu bekerja keras untuk membangun sistem energi yang dapat membantu semua orang hidup dengan baik tanpa perlu membakar karbon.

    Kabar baiknya adalah kita tahu bagaimana membuat energi tanpa melepaskan karbon dioksida dan polusi lainnya. Listrik yang terbuat dari tenaga surya, angin, dan panas bumi sekarang ini merupakan energi termurah dalam sejarah.

    Membersihkan pasokan listrik global dan kemudian mengelektrifikasi semuanya bisa dengan cepat menghentikan polusi karbon untuk jadi lebih buruk.

    Ini akan membutuhkan mobil dan kereta listrik, pemanas dan alat masak listrik, dan pabrik listrik. Kita juga memerlukan sistem transmisi dan penyimpanan listrik jenis baru untuk menyalurkan semua listrik bersih dari tempat pembuatannya ke tempat penggunaannya.

    Sisa dari kekacauan karbon dapat dibersihkan melalui pengelolaan pertanian dan hutan yang lebih baik. Hutan dan pertanian menyimpan karbon di tanah dan tanaman alih-alih melepaskannya ke atmosfer. Ini juga merupakan masalah yang para ilmuwan tahu bagaimana memecahkannya.

    Bumi pasti akan sembuh, tapi mungkin butuh waktu yang sangat lama. Cara terbaik untuk memulai adalah dengan semua orang melakukan bagian mereka untuk menghindari kerusakan yang lebih buruk.

    Arina Apsarini dari Binus University menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris

     
  • Suhu Permukaan Bumi Meningkat, BMKG Sebut Pengamatan Sistem Kebumian Penting untuk Menghadapinya

    Suhu Permukaan Bumi Meningkat, BMKG Sebut Pengamatan Sistem Kebumian Penting untuk Menghadapinya

    7cloud.asia – Suhu permukaan bumi meningkat dengan cepat setiap tahun berdampak buruk pada manusia. Pengamatan sistem kebumian yang sistematis menjadi penting dalam menghadapinya.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam Ocean and Climate Change Dialogue 2024 yang diselenggarakan oleh United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCC) di Bonn, Jerman beberapa waktu lalu.

    Dwikorita menjelaskan peningkatan suhu global tidak dapat dianggap sepele. Laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), suhu permukaan global telah meningkat dengan cepat.

    Baca: Cara mencegah kematian manusia akibat perubahan iklim

    Rata-rata tahunan mencapai 1,45 derajat celcius pada tahun 2023 dibandingkan dengan baseline setelah era Revolusi Industri.

    Padahal di tahun 2020, menurut laporan WMO tentang keadaan iklim global, kenaikan rata-rata suhu global adalah 1,2 derajat celcius. Artinya dalam beberapa tahun, ada peningkatan suhu permukaan yang signifikan.

    “Tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas, dan informasi ini hanya dapat diperoleh melalui pengamatan sistematis untuk fenomena kebumian. Tanpa pengamatan kebumian yang sistematis, informasi yang diberikan bisa menyesatkan atau salah,” urai Dwikorita.

    “Pengamatan kebumian yang sistematis ini diperlukan baik di tingkat nasional, regional, maupun global,” lanjutnya lagi.

    Menurutnya pengamatan sistematis sangat dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Misalnya untuk memberikan data dukung dalam aksi adaptasi iklim, aksi mitigasi iklim atau keputusan, kebijakan apa pun terkait mitigasi dan adaptasi iklim.

    Pengamatan sistematis tersebut, lanjut dia, juga harus diikuti oleh tindakan yang sistematis di segala lini.

    Baca: Perubahan iklim bisa bunuh 1 milyar orang

    Dia mencontohkan informasi mengenai fenomena El Nino yang menyebabkan kenaikan panas laut yang meluas di Pasifik tropis bagian timur.

    Hal ini, lanjut Dwikorita, merupakan hasil pengamatan kebumian sistematis yang didukung juga oleh pemantauan satelit.

    Selain itu, prediksi Food and Agriculture Organization (FAO) mengenai ancaman krisis pangan pada tahun 2050 mendatang juga merupakan hasil dari pengamatan kebumian yang sistematis secara global, nasional, dan lokal.

    Karena itu, mantan rektor Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut menekankan pentingnya pengamatan sistematis di seluruh negara di dunia untuk melakukan analisis dan prediksi lebih lanjut.

    “Analisis masa lalu merupakan cara untuk memvalidasi dampak dari peningkatan suhu yang berlangsung dan kondisi Bumi kekinian,” kata Dwikorita.

    Baca: Batubara adalah salah satu penyebab utama krisis iklim

    “Selanjutnya, pada analisisi lebih lanjut yang didasarkan pada data pengamatan sistematis dapat diketahui bahwa ternyata perubahan iklim memberi tekanan pada sumber daya air yang sudah langka, menghasilkan hotspot air. Nah, hal ini dapat ditangkap dan dianalisis lagi berdasarkan pengamatan sistematis,” jelasnya.

    Kenaikan suhu global tidak hanya berdampak pada suhu bumi yang makin panas. Tetapi juga dapat meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi.

    Dampak lainnya adalah kekeringan, buruknya kualitas udara, kebakaran hutan dan lahan, gelombang panas, risiko kesehatan, penurunan kualitas hidup, hingga ancaman kelangsungan hidup spesies di bumi.

    Kondisi ini lanjut Dwikorita, akhirnya akan menganggu stabilitas perekonomian dan politik dunia.

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan Indonesia meningkatkan jaringan pengamatan kebumian baik di laut maupun darat.

    Baca: Butuh triliunan dollar untuk hadang perubahan iklim

    Hal tersebut juga diiringi dengan peningkatan kapasitas pemrosesan data dan peningkatan penyebaran informasi kepada publik dan sektorpengguna.

    “Salah satu fokus pengamatan kami (Indonesia-red) terhadap dampak perubahan iklim adalah laut. Hal ini karena kunci dari perubahan iklim adalah laut, yang juga berinteraksi dengan atmosfer. Ini adalah upaya kami untuk memperkuat kapasitas prakiraan, prediksi ataupun proyeksi,” urainya.

    “Jadi ketika kita berbicara tentang dampak perubahan iklim, kita tidak bisa mengabaikan integrasi pengamatan laut dan atmosfer, mulai dari pemrosesan data, analisis, prediksi, dan proyeksinya, hingga penyebarluasan hasil analisis/ informasi utk berbagai kepentingan layanan, ” paparnya.

    Karena itu, dia berharap UNFCC dapat menjadikan pengamatan sistematis untuk fenomena kebumian sebagai dasar negosiasi dan pengambilan kebijakan.

    Hal ini perlu dilakukan untuk mendukung negara-negara di dunia untuk mengambil tindakan sistematis untuk mengatasi perubahan iklim.

    Dia khawatir jika kebijakan dibuat tanpa mempertimbangkan pengamatan sistematis fenomena kebumian bisa menjadi sesuatu yang salah atau menyesatkan.

     

  • Pada 2024 Belahan Bumi Utara Alami Musim Panas Terpanas Sepanjang Sejarah, Lampaui Rekor Tahun Lalu

    Pada 2024 Belahan Bumi Utara Alami Musim Panas Terpanas Sepanjang Sejarah, Lampaui Rekor Tahun Lalu

    7cloud.asia – Negara-negara di belahan Bumi utara mengalami musim panas paling panas sepanjang sejarah sejak pencatatan suhu Bumi dilakukan.

    Demikian hasil pengamantan terbaru layanan pemantau perubahan iklim bentukan Uni Eropa, Copernicus Climate Change Service (C3S).

    Musim panas di belahan Bumi utara berlangsung selama tiga bulan, yakni antara Juni hingga Agustus. Pada Juni, suhu rata-rata Bumi naik 1,5 derajat celsius dibandingkan masa praindustri.

    Sedangkan pada Juli, suhu rata-ratanya lebih tinggi 1,48 derajat celsius daripada masa praindustri. Memasuki bulan Agustus, temperaturnya 1,51 derajat celsius lebih panas daripada rata-rata masa praindustri.

    Selama musim panas tahun 2024 kemarin, belahan Bumi utara mengalami serentetan kejadian ekstrem seperti panas ekstrem, kebakaran hebat, dan berbagai peristiwa ekstrem lainnya.

    Baca: Kota-kota dihadapkan pada panas ekstrem

    Dilansir Kompas.com yang mengutip Axios, Sabtu (7/9/2024), Eropa menjadi wilayah yang paling terdampak dari musim panas terpanas ini.

    Berbagai peristiwa yang dipicu panas berulangkali memengarungi berbagai negara di Eropa seperti Yunani, Italia, dan Spanyol, bersama dengan kebakaran hutan.

    Selama musim panas kemarin, kebakaran hutan beberapa kali melanda ibu kota Yunani, Athena, dan para turis tersiksa oleh panas yang menyengat.

    Di Longyearbyen, Norwegia, Agustus menjadi terpanas yang pernah tercatat, memecahkan rekor sebelumnya, dengan suhu rata-rata 11 derajat celsius.

    Sementara itu, Jepang mengalami beberapa suhu terpanas yang pernah tercatat selama akhir musim panas. Meksiko juga mengalami gelombang panas yang memecahkan rekor dan berlangsung lama.

    Baca: Perubahan iklim membuat gelombang panas semakin ganas

    Wakil Direktur C3S Samantha Burgess mengatakan, selama tiga bulan terakhir, dunia mencatat bulan Juni dan Agustus terpanas sepanjang sejarah.

    Selain itu, pada Juli 2024 dunia juga menyaksikan rekor suhu rata-rata dunia yang dipecahkan hanya dalam tiga hari.

    Tiga hari terpanas secara berturut-turut jatuh pada Minggu, Senin, dan Selasa (21-23 Juli 2024), menurut data C3S.

    Pada Minggu 21 Juli 2024, rata-rata suhu Bumi mencapai 17,09 derajat celsius. Pada Senin 22 Juli 2024, temperatur rata-rata Bumi tembus 17,16 derajat celsius alias menjadi yang terpanas.

    Baca: Tanpa perubahan perilaku, pada 2100 kota-kota di Jawa akan alami pemanasan

    Sedangkan pada Selasa, suhu rata-rata Bumi sedikit lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya yakni 17,15 derajat celsius.

    Tingginya rata-rata suhu Bumi selama tiga hari tersebut melampaui rekor hari terpanas sebelumnya yakni pada 6 Juli 2023 dengan rata-rata suhu 17,09 derajat celsius.

    “Peristiwa ekstrem terkait suhu yang terjadi pada musim panas ini akan semakin intens, dengan konsekuensi yang lebih dahsyat bagi manusia dan planet ini kecuali kita mengambil tindakan segera untuk mengurangi emisi gas rumah kaca,” kata Burgess.

    C3S kini memproyeksikan, tahun 2024 akan melampaui tahun 2023 sebagai tahun terpanas di dunia yang pernah tercatat. 13 dari 14 bulan terakhir, dunia juga menyaksikan suhu permukaan rata-rata global yang melampaui 1,5 derajat celsius di atas masa praindustri.

     

  • UNCDD: Lebih Separuh Permukaan Bumi Terancam Kekeringan Permanen dalam Beberapa Dekade Mendatang

    UNCDD: Lebih Separuh Permukaan Bumi Terancam Kekeringan Permanen dalam Beberapa Dekade Mendatang

    7cloud.asia – Menurut laporan terbaru Organisasi Pencegahan Penggurunan PBB (UN Convention to Combat Desertification/UNCCD), tiga perempat tanah di muka Bumi ini akan mengalami pengeringan secara permanen dalam beberapa puluh tahun mendatang.

    UNCCD mengungkapkan temuan tersebut dalam laporan berjudul The Global Threat of Drying Lands: Regional and global aridity trends and future projections yang dirilis dalam Konferensi Para Pihak ke-16 (COP16) di Riyadh, Arab Saudi, Senin (9/12/2024).

    Dalam beberapa puluh tahun terakhir, 77,6 persen daratan Bumi melewati ambang batas kekeringan yaitu dari lahan tidak kering menjadi lahan kering, atau dari kelas lahan kering yang kurang kering ke kelas yang lebih kering.

    Lahan kering yang meluas membuat ekosistem dan penduduk yang tinggal di sana menderita akibat dampak kekeringan yang mengancam jiwa.

    Diperkirakan 25 persen populasi dunia atau sekitar 2,3 miliar orang akan tinggal di wilayah yang akan mengalami kekeringan permanen.

    Ilmuwan dari UNCCD Barron Orr menyampaikan, tanpa adanya upaya bersama-sama, miliaran orang akan terdampak kekeringan seperti kelaparan, kemiskinan, hingga pengungsian paksa.

    “Namun, dengan merangkul solusi inovatif dan membina solidaritas global, umat manusia dapat bangkit untuk menghadapi tantangan ini,” ujar Orr dikutip dari siaran pers, Senin (9/12/2024).

    “Pertanyaannya bukanlah apakah kita memiliki alat untuk merespons, melainkan apakah kita memiliki kemauan untuk bertindak,” sambungnya.

    Menurut laporan tersebut, dampak dari meningkatnya kekeringan menyentuh hampir setiap aspek kehidupan dan masyarakat. Diingatkan, seperlima dari seluruh daratan dapat mengalami perubahan ekosistem yang mendadak akibat meningkatnya kekeringan pada akhir abad ini.

    Di sisi lain, lebih dari dua pertiga dari seluruh lahan di planet Bumi diproyeksikan akan menyimpan lebih sedikit air pada akhir abad ini, jika emisi gas rumah kaca terus meningkat.

    Contoh perubahan tersebut seperti terdegradasinya hutan menjadi padang rumput. Kondisi ini bisa menyebabkan banyak kepunahan, baik pada tumbuhan maupun hewan.

    Kekeringan dianggap sebagai penyebab terbesar dari degradasi sistem pertanian. Di mana 40 persen lahan subuh di Bumi saat ini mengalami degradasi.

    Selain itu, kekeringan dianggap sebagai salah satu dari lima penyebab degradasi lahan terpenting di dunia. Meningkatnya kekeringan di Timur Tengah berkaitan dengan lebih seringnya badai pasir dan debu yang lebih besar di wilayah tersebut.

    Peningkatan kekeringan diperkirakan juga akan meningkatkan kebakaran hutan yang lebih besar dan lebih intens di masa depan.

    Di samping itu, kekeringan juga berdampak pada kemiskinan, kelangkaan air, degradasi lahan, dan tentu saja produksi pangan.

    Berbagai sebab tersebut memiliki kaitan dengan meningkatnya angka penyakit dan kematian secara global, terutama di kalangan anak-anak dan perempuan

    COP16 Riyadh yang berlangsung pekan lalu menghasilkan komitmen Rp 191 triliun untuk atasi kekeringan dan degradasi lahan akibat kekeringan.

  • Seperti Ini Kondisi Planet Bumi pada 2050, Jika Manusia Tidak Mengubah Sikapnya terhadap Lingkungan

    Seperti Ini Kondisi Planet Bumi pada 2050, Jika Manusia Tidak Mengubah Sikapnya terhadap Lingkungan

    7cloud.asia – Cuaca panas yang menyengat. Kepunahan spesies. Langit yang dipenuhi polusi. Inilah masa depan yang menanti dunia kecuali umat manusia mengambil langkah-langkah dramatis terkait caranya memperlakukan lingkungan.

    Perubahan dramatis ini harus dilakukan untuk mengakhiri serangkaian krisis lingkungan yang semakin meluas, demikian temuan laporan baru dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

    Edisi ketujuh dari Global Environment Outlook (GEO7) menawarkan visi suram tentang kondisi Bumi dalam dekade mendatang.

    Namun, para penulisnya mengatakan bahwa ramalan terburuk masih dapat dihindari jika negara-negara dengan cepat mengambil langkah-langkah berarti untuk mengatasi perubahan iklim, alam, hilangnya lahan dan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.

    “Dengan upaya seluruh pemerintah dan seluruh masyarakat, umat manusia masih dapat membalikkan keadaan,” kata Maarten Kappelle, Kepala Layanan di Kantor Sains UNEP seperti dilansir di laman resmi unep.org.

    Baca: Pemanasan global mengakibatkan kerusakan hutan makin mengkhawatirkan

    Dia menambahkan, “Tetapi jika negara-negara terus berlarut-larut, miliaran orang akan menghadapi masa depan yang tidak pasti, terutama mereka yang berada di negara berkembang.”

    Diluncurkan pada tahun 1997, seri GEO menawarkan pandangan yang tak tertandingi tentang keadaan dunia alami dan memberikan cetak biru bagi para pembuat kebijakan untuk menciptakan planet yang lebih sehat.

    Edisi ketujuh GEO atau GEO-7, berjudul A Future We Choose, dirilis pada Desember 2025.

    GEO-7, hasil karya hampir 300 ilmuwan, menciptakan model tentang bagaimana planet Bumi akan terlihat pada tahun 2050 jika negara-negara terus melakukan tiga hal yang merusak lingkungan.

    Tiga hal itu adalah mencemari, terus menambah emisi gas rumah kaca, dan menghancurkan lingkungan atau hutan alam. Dalam cerita pertama dari tiga cerita tentang laporan tersebut, berikut beberapa temuan kunci dari pemodelan tersebut.

    Baca: Pemanasan global datang lebih cepat karena emisi tidak dikurangi

    Emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global diperkirakan akan meningkat menjadi 75 miliar ton per tahun pada tahun 2050, atau meningkat hampir 50 persen dari saat ini.

    Hal ini akan mengakibatkan destabilisasi iklim dan menyebabkan lonjakan gelombang panas, yang diperkirakan akan memengaruhi hampir semua orang di Bumi atau sekitar 9,2 miliar orang,  pada tahun 2050.

    “Hampir tidak ada sudut planet ini yang akan terhindar dari panas ekstrem,“ tulis laporan tersebut.

    Pada tahun 2050, manusia akan mengambil 165 miliar ton bahan mentah dari Bumi setiap tahunnya. Ini merupakan peningkatan lebih dari 60 persen dari tahun 2020.

    GEO-7 menyatakan bahwa ekstraksi semua logam, mineral, dan bahan bakar fosil ini akan menghancurkan banyak ruang alam, memperburuk perubahan iklim, dan mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati.

    Baca: Pemanasan global mengubah pola hujan ekstrem dalam 70 tahun terakhir

    Perubahan iklim diperkirakan akan mengurangi produk domestik bruto global sebesar 4 persen setiap tahunnya pada tahun 2050. Seiring dengan kenaikan suhu dan semakin dalamnya krisis, angka tersebut akan meningkat menjadi 20 persen pada tahun 2100.

    Angka ini sedikit lebih rendah daripada kontraksi yang dialami Amerika Serikat selama Depresi Besar tahun 1920-an dan 1930-an. Penurunan ekonomi akan diperparah oleh dampak polusi dan hilangnya alam.

    Kelompok miskin akan paling menderita akibat gejolak ekonomi ini dan kesenjangan antara mereka dan kaum kaya akan terus melebar.

    Namun, Laporan GEO-7 menyebutkan masih ada waktu untuk menyelamatkan planet ini.
    Seserius apa pun situasinya, masa depan Bumi tidak tertulis di batu, demikian argumen GEO-7. Masih ada waktu bagi umat manusia untuk mengatasi perubahan iklim, hilangnya alam, dan polusi.

    Tetapi hal itu membutuhkan perubahan mendesak dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam cara negara-negara mengatur perekonomian mereka, menangani material dan limbah, menghasilkan energi, memproduksi makanan, menggunakan bahan mentah, dan memperlakukan lingkungan.

  • BMKG: Badai Geomagnetik Global Berdampak Terbatas di Indonesia

    BMKG: Badai Geomagnetik Global Berdampak Terbatas di Indonesia

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan badai geomagnetik kuat yang terjadi pada 20–21 Januari 2026 berdampak terbatas di wilayah Indonesia

    Badai geomagnetik merupakan fenomena gangguan pada medan magnet Bumi yang disebabkan oleh aliran partikel bermuatan berenergi tinggi dari Matahari.

    Secara global, dampak badai geomagnetik ini mencapai tingkat G4 atau masuk kategori berat.

    Ketua Tim Kerja Geofisika Potensial BMKG Syirojudin dilansir Antaranews.com, Selasa (20/1/2026) mengatakan bahwa badai geomagnetik tersebut dipicu aktivitas Matahari yang tinggi berupa suar Matahari (solar flare) kelas X1.9 pada 18 Januari 2026.

    Fenomena ini kemudian diikuti lontaran massa korona atau coronal mass ejection (CME) ke arah Bumi.

    “Secara global, peringatan badai geomagnetik mencapai level G4. Namun dampak fisik di wilayah Indonesia relatif lebih rendah karena posisi geografis Indonesia berada di lintang rendah,” kata dia.

    Baca: Mengenal fenomena aphelion saat matahari berada di titik terjauh

    Ia menjelaskan, pemantauan BMKG melalui jaringan observatorium magnet Bumi, salah satunya di Tondano, Sulawesi Utara, menunjukkan adanya gangguan magnetik lokal yang sejalan dengan peristiwa global, meskipun intensitasnya teredam oleh kondisi geomagnetik ekuator.

    Berdasarkan pengamatan, indeks K lokal di wilayah Tondano tercatat berada pada kisaran K=8 hingga K=9 yang mengindikasikan terjadinya badai magnet Bumi besar hingga ekstrem, dengan puncak gangguan terekam sejak dini hari 20 Januari 2026 waktu Indonesia barat.

    Indeks K dan Indeks A merupakan parameter ilmiah yang digunakan untuk mengukur tingkat gangguan medan magnet Bumi akibat aktivitas Matahari (cuaca antariksa) yang keduanya lazim dipakai oleh BMKG, NOAA, dan lembaga geofisika dunia.

    Syirojudin mengatakan, Indonesia relatif terlindungi dari dampak terburuk badai geomagnetik karena adanya fenomena equatorial electrojet yang berperan sebagai perisai alami terhadap partikel bermuatan energi tinggi dari aktivitas Matahari.

    Meski demikian, BMKG mencatat potensi dampak sementara yang dapat dirasakan di Indonesia, antara lain penurunan akurasi navigasi satelit global positioning system (GPS), gangguan komunikasi radio frekuensi tinggi (HF).

    Baca: Badai Matahari dan dampaknya pada manusia

    Selain itu juga terjadi fluktuasi pada layanan internet berbasis satelit di sejumlah titik.

    Ia menegaskan bahwa badai geomagnetik tersebut tidak berdampak langsung pada kesehatan manusia dan tidak menimbulkan risiko fatal terhadap infrastruktur kelistrikan nasional.

    “PLN dan sistem kelistrikan nasional dinilai aman dari risiko fatal akibat badai geomagnetik ini,” ujarnya.

    BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan meminta operator telekomunikasi serta navigasi untuk memantau kualitas sinyal satelit selama periode gangguan berlangsung.

    Selain itu, Syrojudin juga mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk terus mengikuti informasi resmi terkait aktivitas geomagnetik melalui kanal pemantauan yang disediakan BMKG.

    Baca: Mengenal fenomena titik balik Matahari