7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini sedang mengevaluasi secara berkala tujuh cagar biosfer yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia.
Ketujuh cagar biosfer yang telah ditetapkan oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tersebut, adalah Cagar Biosfer Leuser, Siberut, Tanjung Puting,
Juga cagar biosfer Takabone Rate, Lore Lindu, Bromo Tengger Semeru Arjuno, dan Komodo.
Peneliti sekaligus Ketua Focal Point MAB UNESCO Indonesia-BRIN Maman Turjaman mengatakan,kondisi tujuh cagar biosfer ini dilaporkan pada Sidang Tahunan Pengelola Cagar Biosfer (ICC MAB) ke-36 di Maroko, 1-5 Juli 2024 lalu.
“Tujuh cagar biosfer yang sudah ditetapkan UNESCO ini sudah eksis selama lebih dari 10 tahun, sehingga harus dievaluasi secara berkala apakah kegiatan pengelolaannya berjalan baik,” kata dikutip Antaranews.com, Rabu (10/7/2024).
Biosfer adalah sebuah sistem ekologi global yang menyatukan seluruh makhluk hidup dan hubungan antarmereka, termasuk interaksi dengan unsur hidrosfer (air), litosfer (batuan), dan atmosfer (udara) Bumi.
Biosfer juga bisa diartikan sebagai perpaduan antara lingkungan udara, air, dan permukaan bumi yang bisa menjadi tempat tinggal makhluk hidup.
Keanekaragaman flora dan fauna dalam sebuah biosfer bergantung pada banyak hal seperti letak geografis, kondisi lingkungan, iklim, cuaca, dan lain sebagainya.
Kondisi-kondisi yang tak sama di setiap kawasan ini menjadi faktor penentu suatu jenis flora atau fauna bisa berkembang atau tidak di satu tempat.
Adapun cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli, ekosistem unik, dan atau ekosistem yang telah mengalami degradasi yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan dilestarikan bagi kepentingan penelitian dan pendidikan.
Baca Juga: Temu Pengelola Kebun Raya Indonesia 2024: Konservasi Tumbuhan Butuh Perhatian Serius
Terkait laporan tersebut, kata Maman, dokumen tinjauan berkala (periodic review) akan disampaikan ke MAB-UNESCO, Paris, Prancis paling lambat pada September 2024.
Dalam sidang tahunan itu pula, ia juga menyampaikan bahwa Indonesia sukses menggelar kegiatan Konferensi Internasional Perhimpunan Cagar Biosfer Asia Tenggara (SeaBRnet) ke-15 di Wakatobi pada Mei 2024, sebagai upaya pelestarian cagar biosfer.
Untuk itu, Maman menilai delegasi Indonesia diharapkan dapat menghadiri Sidang ICC-MAB ke-37 di Hangzhou, China tahun 2025.
“Kehadiran ini penting untuk mengikuti perkembangan terbaru dalam pengelolaan cagar biosfer di bawah protokol UNESCO, serta mendapatkan informasi terkini tentang Lima Action Plan (LAP) yang akan berakhir pada 2025,” ujarnya.
Dalam sidang tahunan tersebut, Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay menekankan pentingnya peran masyarakat adat dan lokal dalam menjaga ekosistem di cagar biosfer.
Baca Juga: UNESCO Beri Kartu Kuning pada Pengelola Geopark Kaldera Toba
“MAB menghadapi tantangan besar ke depan dalam melaksanakan komitmen global untuk mengelola keanekaragaman hayati di cagar biosfer di bawah pengawasan UNESCO,” katanya.
Sebagai informasi, sidang tahunan ini menghasilkan penetapan 756 cagar biosfer baru dengan jumlah pengelola total dari 136 negara.
Selain itu, sekitar 20 cagar biosfer memenuhi kriteria berdasarkan dokumen tinjauan berkala, sehingga mendapatkan perpanjangan status.
Namun, ada empat cagar biosfer di dunia yang datanya belum memenuhi syarat dan perlu diperbaiki.




