Tag: cagar biosfer

  • Mengenal Tujuh Cagar Biosfer di Indonesia

    Mengenal Tujuh Cagar Biosfer di Indonesia

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini sedang mengevaluasi secara berkala tujuh cagar biosfer yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia.

    Ketujuh cagar biosfer yang telah ditetapkan oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tersebut, adalah Cagar Biosfer Leuser, Siberut, Tanjung Puting,

    Juga cagar biosfer Takabone Rate, Lore Lindu, Bromo Tengger Semeru Arjuno, dan Komodo.

    Peneliti sekaligus Ketua Focal Point MAB UNESCO Indonesia-BRIN Maman Turjaman mengatakan,kondisi tujuh cagar biosfer ini dilaporkan pada Sidang Tahunan Pengelola Cagar Biosfer (ICC MAB) ke-36 di Maroko, 1-5 Juli 2024 lalu.

    “Tujuh cagar biosfer yang sudah ditetapkan UNESCO ini sudah eksis selama lebih dari 10 tahun, sehingga harus dievaluasi secara berkala apakah kegiatan pengelolaannya berjalan baik,” kata dikutip Antaranews.com, Rabu (10/7/2024).

    Baca Juga: Tokoh Masyarakat Adat Tabi, Papua Minta Pemerintah Lebih Serius Menjaga Kelestarian Cagar Alam Pegunungan Cycloop

    Biosfer adalah sebuah sistem ekologi global yang menyatukan seluruh makhluk hidup dan hubungan antarmereka, termasuk interaksi dengan unsur hidrosfer (air), litosfer (batuan), dan atmosfer (udara) Bumi.

    Biosfer juga bisa diartikan sebagai perpaduan antara lingkungan udara, air, dan permukaan bumi yang bisa menjadi tempat tinggal makhluk hidup.

    Keanekaragaman flora dan fauna dalam sebuah biosfer bergantung pada banyak hal seperti letak geografis, kondisi lingkungan, iklim, cuaca, dan lain sebagainya.

    Kondisi-kondisi yang tak sama di setiap kawasan ini menjadi faktor penentu suatu jenis flora atau fauna bisa berkembang atau tidak di satu tempat.

    Adapun cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli, ekosistem unik, dan atau ekosistem yang telah mengalami degradasi yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan dilestarikan bagi kepentingan penelitian dan pendidikan.

    Baca Juga: Temu Pengelola Kebun Raya Indonesia 2024: Konservasi Tumbuhan Butuh Perhatian Serius

    Terkait laporan tersebut, kata Maman, dokumen tinjauan berkala (periodic review) akan disampaikan ke MAB-UNESCO, Paris, Prancis paling lambat pada September 2024.

    Dalam sidang tahunan itu pula, ia juga menyampaikan bahwa Indonesia sukses menggelar kegiatan Konferensi Internasional Perhimpunan Cagar Biosfer Asia Tenggara (SeaBRnet) ke-15 di Wakatobi pada Mei 2024, sebagai upaya pelestarian cagar biosfer.

    Untuk itu, Maman menilai delegasi Indonesia diharapkan dapat menghadiri Sidang ICC-MAB ke-37 di Hangzhou, China tahun 2025.

    “Kehadiran ini penting untuk mengikuti perkembangan terbaru dalam pengelolaan cagar biosfer di bawah protokol UNESCO, serta mendapatkan informasi terkini tentang Lima Action Plan (LAP) yang akan berakhir pada 2025,” ujarnya.

    Dalam sidang tahunan tersebut, Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay menekankan pentingnya peran masyarakat adat dan lokal dalam menjaga ekosistem di cagar biosfer.

    Baca Juga: UNESCO Beri Kartu Kuning pada Pengelola Geopark Kaldera Toba

    “MAB menghadapi tantangan besar ke depan dalam melaksanakan komitmen global untuk mengelola keanekaragaman hayati di cagar biosfer di bawah pengawasan UNESCO,” katanya.

    Sebagai informasi, sidang tahunan ini menghasilkan penetapan 756 cagar biosfer baru dengan jumlah pengelola total dari 136 negara.

    Selain itu, sekitar 20 cagar biosfer memenuhi kriteria berdasarkan dokumen tinjauan berkala, sehingga mendapatkan perpanjangan status.

    Namun, ada empat cagar biosfer di dunia yang datanya belum memenuhi syarat dan perlu diperbaiki.

     

  • BRIN Finalisasi Tinjauan terhadap Tujuh Cagar Biosfer di Indonesia

    BRIN Finalisasi Tinjauan terhadap Tujuh Cagar Biosfer di Indonesia

    7cloud.asia – Saat ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan tinjauan berkala terhadap tujuh cagar biosfer di Indonesia guna melestarikan dan memanfaatkan keanekaragaman hayati dengan mengintensifkan tinjauan berkala terhadap pengelolaan Cagar Biosfer.

    Indonesia memiliki 20 cagar biosfer yang telah dikukuhkan oleh Man and Biosphere (MAB) badan budaya PBB, UNESCO.

    Cagar biosfer ini memainkan peran penting dalam melindungi kawasan konservasi hutan tropis dunia yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.

    Cagar biosfer berfungsi sebagai wadah tata kelola pengelolaan lingkungan hidup yang diakui UNESCO, dengan landasan riset yang kuat, penguatan tata kelola pemerintahan, dan koordinasi dengan pemangku kepentingan pada setiap cagar biosfer yang ada di Indonesia.

    Setiap cagar biosfer harus ditinjau kembali keberadaannya setiap sepuluh tahun sekali agar UNESCO dapat memberikan penilaian terhadap kegiatan pengelolaan yang telah dilakukan.

    Baca: BRIN tinjau tujuh cagar biosfer di Indonesia

    Program ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas konservasi berbasis lanskap, sejalan dengan dinamika lingkungan yang berubah, kebutuhan pembangunan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan lingkungan serta tantangan sosial ekonomi.

    Tujuh cagar biosfer yang akan melaporkan tinjauannya pada 2024 adalah Leuser, Siberut, Bromo Tengger Semeru Arjuno, Tanjung Puting, Takabonerate, Lore Lindu, dan Komodo.

    Ketua Komite Nasional MAB Indonesia Maman Turjaman menjelaskan, dalam pengembangan Cagar Biosfer sangat penting pendekatan berbasis lanskap yang menekankan pentingnya memahami kawasan konservasi sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas.

    Ini termasuk kawasan penyangga dan kawasan transisi yang melibatkan aktivitas manusia.

    Dalam cagar biosfer, wilayah inti dapat dilindungi secara ketat, sementara kawasan penyangga dan transisi diatur untuk memastikan penggunaan lahan yang berkelanjutan.

    Baca: Temu pengelola Kebun Raya di Indonesia

    “Dengan tinjauan berkala, dapat diidentifikasi intervensi yang lebih tepat sasaran, mulai dari pengelolaan kehati, peningkatan nilai sosial dan ekonomi hingga penyelesaian konflik manusia-satwa liar,” ujar Maman.

    Tinjauan berkala ini lanjut Maman, akan mengevaluasi berbagai aspek pengelolaan cagar biosfer.

    Tinjauan termasuk perlindungan sumber daya alam, tata kelola ekosistem, pembangunan ekonomi berkelanjutan, serta pelibatan masyarakat lokal.

    Tinjauan ini juga membantu program mitigasi perubahan iklim yang diterapkan sejalan dengan kebijakan pemerintah dan agenda global, seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Perjanjian Paris.

    Sumber:brin.go.id

  • Indonesia Berkomitmen Serahkan Tinjauan Berkala 7 Cagar Biosfer Sesuai Jadwal

    Indonesia Berkomitmen Serahkan Tinjauan Berkala 7 Cagar Biosfer Sesuai Jadwal

    7cloud.asia – Indonesia memiliki 20 cagar biosfer yang telah dikukuhkan dan diakui oleh Man and Biosphere (MAB) UNESCO.

    Pada tahun ini terdapat tujuh cagar biosfer yang memiliki kewajiban untuk melaporkan tinjauan berkala 10 tahun.

    Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN Mego Pinandito mengatakan, ketujuh cagar biosfer tersebut antara lain Leuser, Siberut, Bromo Tengger-Semeru-Arjuno, Tanjung Putting, Takabonerate, Lore Lindu, dan Komodo.

    “Dalam program ini BRIN berupaya untuk melihat bagaimana sebetulnya fungsi yang ada di cagar biosfer dalam mempertahankan kelestarian lingkungan. Mempertahankan keseimbangan antara menjaga hutan, dan menjaga lingkungan,” jelasnya saat membuka kegiatan Finalisasi Dokumen Tinjauan Berkala (Periodic Review) Tahun 2024 Tujuh Cagar Biosfer Indonesia di Gedung BJ. Habibie Jakarta, Rabu (18/9/2024).

    Dia menambahkan, Indonesia sebuah negara yang terus berkembang, membutuhkan lahan-lahan baru untuk pemukiman, membutuhkan lahan-lahan baru untuk membangun jalan, jembatan.

    Program-program dan proyek-proyek nasional yang cukup besar, dan ini membutuhkan satu tatanan yang luar biasa.

    “Nah konsep inilah yang kemudian bersama-sama antara bagaimana upaya kita agar pembangunan bisa berjalan dengan baik. Kemudian kelestarian hutan dan penjagaan cagar biosphere itu menjadi sesuatu yang sinergi,” tambahnya.

    Menurutnya, kegiatan ini adalah langkah strategis untuk memastikan bahwa pengelolaan cagar biosfer di Indonesia dapat berjalan sesuai standar internasional.

    Baca: BRIN sedang merampungkan tinjauan berkala terhadap tujuh biosfer di Indonesia

    Mego melanjutkan, cagar biosfer merupakan laboratorium alami yang sangat penting, tidak hanya untuk konservasi keanekaragaman hayati tetapi juga sebagai model untuk pembangunan berkelanjutan.

    BRIN akan terus mendukung upaya ini melalui pendekatan riset yang berkelanjutan dan inovasi dalam tata kelola lingkungan.

    BRIN, ujarnya, akan siap bersedia membantu, memberikan solusi-solusi, mungkin juga dengan bagaimana kita bisa mencari berbagai terobosan yang terkait dengan vegetasinya, dengan masalah pengelolaan tanahnya dan sebagainya.

    ”Hal yang penting juga adalah bagaimana kita bisa membantu masyarakat di sekitarnya untuk bisa mendapatkan tambahan ataupun memberdayakan masyarakat, terlebih lagi dikaitkan dengan keberadaan dari sebuah cagar biosfer ini,” jelasnya.

    Sementara Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Itje Chodidjah memaparkan, KNIU bertugas menjalankan fungsi sebagai penghubung antara Pemerintah Indonesia dengan UNESCO maupun membawa berita dari UNESCO ke Indonesia.

    Selain itu juga memiliki peran untuk memastikan tujuan dari pemerintah Indonesia di dunia internasional, dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan khususnya pada partisipasi Indonesia di UNESCO.

    “Tentunya harapan kita semua melalui kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kegiatan UNESCO, kita akan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi-diplomasi internasional,” urainya.

    Dia melanjutkan, setelah pengajuan tersebut disetujui, UNESCO kemudian memasukkan kawasan-kawasan ini ke dalam daftar cagar biosfer melalui program Man and the Biosphere atau MAB ini.

    Baca: Mengenal tujuh biosfer yang ada di Indonesia

    Sebagai bagian dari komitmen ini, UNESCO memiliki hak dan menerima laporan berkala dari semua negara yang memiliki cagar biosfer dalam bagian program MAB tersebut.

    “Kami sangat berharap agar cagar biosfer Indonesia dapat menjadi sarana melaksanakan komitmen bangsa Indonesia. Dalam melaksanakan program UNESCO terkait dengan lingkungan hidup, keanekaragaman hayat, dan perubahan iklim,” ungkapnya.

    Dalam berbagai pertemuan, lanjut Itje, hal ini selalu didengungkan terkait dengan perubahan iklim yang mengakibatkan kerentanan kehidupan sosial di atas bumi.

    Tentunya menjadi cagar biosfer yang mendorong keselarasan antara manusia dan alam untuk pembangunan berkelanjutan, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan manusia.

    “Di samping itu juga sebagai penghormatan terhadap nilai-nilai budaya dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi perubahan sesuai dengan tujuan program UNESCO. Kami berharap laporan periodik review 7 cagar biosfer dapat selesai dengan baik, sehingga laporan tersebut dapat kami kirimkan dan diteruskan kepada UNESCO tepat waktu,” harapnya.

    Itje menyatakan, Indonesia berkomitmen untuk memastikan bahwa laporan tersebut mencerminkan capaian dan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan cagar biosfer, sehingga dapat terus meningkatkan kontribusi Indonesia dalam inisiatif global.

    “Tentunya ini semua adalah upaya kita bersama meningkatkan martabat bangsa Indonesia di forum internasional,” pungkasnya.

    Sumber:brin.go.id

  • Raja Ampat Diusulkan Menjadi Cagar Biosfer di Bawah MAB UNESCO untuk Lindungi Kekayaan Lingkungan

    Raja Ampat Diusulkan Menjadi Cagar Biosfer di Bawah MAB UNESCO untuk Lindungi Kekayaan Lingkungan

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi mengusulkan Raja Ampat sebagai Cagar Biosfer di bawah program Man and the Biosphere (MAB) Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO).

    Cagar Biosfer adalah kawasan yang terdiri dari daratan, perairan, dan pantai yang dikelola untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan konservasi dan kepentingan sosial ekonomi.

    Peneliti BRIN sekaligus Ketua Komite Nasional MAB-UNESCO Indonesia, Maman Turjaman melalui keterangan di Jakarta, Kamis (26/9/2024) menyampaikan pengusulan ini akan menjadi upaya dalam mendukung pelestarian lingkungan.

    Pengusulan Raja Ampat menjadi cagar biosfer sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat melalui pembangunan berkelanjutan.

    “Keberhasilan pengelolaan Raja Ampat sebagai Cagar Biosfer bergantung pada sinergi antara semua pihak yang terlibat,” katanya seperti dilansir Antaranews.com.

    Baca: Komitmen Indonesia menjaga cagar biosfer

    Maman mengatakan Raja Ampat dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terunik di dunia.

    Dengan status Cagar Biosfer, pengelolaan wilayah ini akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, masyarakat adat, sektor swasta, LSM, dan akademisi.

    Ia memaparkan proses nominasi Raja Ampat sebagai Cagar Biosfer telah dimulai sejak 2023 dengan berbagai konsultasi publik dan sosialisasi untuk memperkuat dokumen nominasi.

    Status Cagar Biosfer, kata Maman, tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat lokal untuk berpartisipasi dalam ekonomi berkelanjutan melalui pariwisata ramah lingkungan dan perikanan berkelanjutan.

    Ia juga menekankan bahwa status ini tidak akan mengubah kewenangan lokal, melainkan memperkuat kerjasama dalam melestarikan ekosistem serta menjaga stabilitas ekonomi dan sosial.

    Baca: Pengelolaan tujuh cagar biosfer di Indonesia sedang ditinjau

    “Pengelolaan berbasis kearifan lokal akan tetap menjadi prioritas, dengan dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat adat,” ujarnya.

    Dengan status Cagar Biosfer, Maman menyebut Raja Ampat juga akan menjadi pusat penelitian internasional untuk keanekaragaman hayati laut dan perubahan iklim.

    Ia berharap Raja Ampat akan diresmikan sebagai Cagar Biosfer dalam pertemuan tahunan MAB-UNESCO di Hangzhou, China, pada 2025 mendatang.

    Jika berhasil, Raja Ampat akan menjadi Cagar Biosfer pertama di Papua, yang menggabungkan pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat.

    Maman optimistis bahwa dengan dukungan berbagai pihak, nominasi Raja Ampat akan menjadi contoh sukses pengelolaan Cagar Biosfer di Indonesia Timur, dengan pendekatan berbasis kearifan lokal dan komitmen kuat terhadap keberlanjutan.

    “Raja Ampat memiliki potensi besar untuk menjadi contoh global dalam konservasi dan pembangunan berkelanjutan,” ucap Maman Turjaman.

    Sumber:Antaranews.com

  • Tinjauan Berkala Cagar Biosfer Komodo Diusulkan Diperluas

    Tinjauan Berkala Cagar Biosfer Komodo Diusulkan Diperluas

    7cloud.asia – Cagar Biosfer Komodo (CBK) diusulkan untuk diperluas. Usulan perluasan Cagar Biosfer Komodo itu akan menambah 25 kilometer persegi (km2) daratan dan 479 km2 perairan laut.

    Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Manggarai Barat Theresia Yunita memaparkan, luas kawasan inti Cagar Biosfer Komodo saat ini adalah 1.817 km2, termasuk 603 km2 daratan (33persen) dan 1.214 km2 (67persen) perairan laut.

    Dilansir di laman resmi brin.go.id, Cagar Biosfer Komodo terletak di kawasan Sunda Kecil yang terdiri dari gugusan pulau dan perairan di sekitarnya. Letaknya di sisi timur garis Wallacea dan memiliki bentang alam yang sangat unik.

    Kawasan inti mempunyai nilai yang sangat tinggi, mengandung kekayaan sumber daya hayati dan budaya.

    Kawasan inti Cagar Biosfer Komodo terdiri dari sabana, hutan dataran, sebagian hutan hujan tropis di puncak gunung, hutan pantai, hutan bakau, perairan laut, serta deretan pegunungan dan perbukitan.

    Daerah tersebut dipengaruhi oleh angin muson, dan iklim secara umum kering. Di bentang alam tertentu, seperti perbukitan dan pegunungan, iklimnya lebih lembab.

    Kawasan inti Cagar Biosfer Komodo meliputi Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Pulau Gilimotang, pulau-pulau kecil di sekitar keempat pulau tersebut, dan perairan laut.

    Cagar Biosfer Komodo merupakan seluruh kawasan konservasi Taman Nasional Komodo (TNK). CBK berperan sebagai sistem penyangga kehidupan kawasan lindung, khususnya fungsi perlindungan flora dan fauna.

    Baca: Komitmen RI serahkan tinjauan berkala 7 Cagar Biosfer sesuai jadwal

    Fungsi keseimbangan ekologi, perubahan iklim, dan fungsi hidrologi yang telah dirasakan oleh masyarakat di wilayah ini.

    Hal tersebut disampakannya pada gelaran Finalisasi Dokumen Tinjauan Berkala (Periodic Review) Tahun 2024 Tujuh Cagar Biosfer Indonesia di Gedung BJ. Habibie Jakarta, September 2024.

    Menurutnya, sebagai lingkungan yang gersang, CBK mempunyai sedikit atau tidak ada curah hujan sama sekali selama kurang lebih 8 bulan dalam setahun, dan sangat dipengaruhi oleh hujan muson.

    Tingkat kelembapan yang tinggi sepanjang tahun hanya ditemukan di hutan kuasi-awan di puncak gunung dan punggung bukit.

    Selain itu kawasan inti juga mempunyai peranan sebagai sumber plasma nutfah bagi kehidupan manusia, yaitu manfaat iptek, pendidikan dan pelatihan, dukungan budidaya perikanan, ekowisata, dan jasa ekosistem lainnya.

    Sistem zonasi TNK sebagai kawasan inti Cagar Biosfer Komodo, meliputi zona inti yang terdiri dari hutan belantara, kamuse zona, zona tradisional, zona rehabilitasi, dan konservasi Komodo.

    TNK juga sebagai zona penyangga, biasanya mengelilingi atau berbatasan langsung dengan kawasan inti.

    “Selain zona inti ada juga zona penyangga, biasanya mengelilingi atau berbatasan langsung dengan kawasan inti. Dalam menentukan zona penyangga disarankan hanya untuk kepentingan ekologis kegiatan yang sehat seperti pendidikan lingkungan, stasiun penelitian, rekreasi, budidaya agroforestri, ekowisata dan pembangunan alam berkelanjutan,” urainya.

    Baca: Raja Ampat diusulkan menjadi Cagar Biosfer di Bawah MAB UNESCO

    Hasil identifikasi dan pemetaan Cagar Biosfer Komodo, wilayah buffer zone meliputi lahan seluas 259.680,14 hektar terletak di Kabupaten Manggarai Barat.

    Di samping itu ada daerah transisi sebagai daerah peralihan CBK di selatan dan utara berupa laut dan dalam timur dan barat berupa desa dan kota.

    Daerah peralihan adalah bagian timur bentuk perkotaan (Labuan Bajo), kawasan pertanian, kawasan pemukiman, dan kawasan kegunaan lainnya.

    Di daerah transisi ini dilakukan kegiatan pengembangan lingkungan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola lahan dan kegiatan produksi. Daerah transisi menjadi wadah kerja sama antar pihak.

    Khususnya masyarakat lokal yang terkait seperti lembaga pemerintah, LSM, kelompok budaya, ilmuwan, ekonomi publik, dan lainnya.

    Daerah transisi juga digunakan untuk praktik pembangunan ekonomi dan sosial budaya, kegiatan penelitian dan pengembangan, dalam bentuk eksperimen yang dapat dilakukan untuk menentukan pola dan proses ekosistem di wilayah tersebut.

    “Selama 10 tahun sejak review pertama, Cagar Biosfer Komodo mengalami kemajuan pesat dalam pembangunan, antara lain bidang pertanian sebagai kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan untuk menghasilkan bahan pangan. Bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya,” imbuh Yunita.

    Di bidang kehutanan, sumber daya hutan merupakan salah satu penyangga kehidupan yang harus dikelola dengan bijaksana agar mampu memberikan kontribusi dan manfaat secara optimal dan lestari, dan pariwisata.

    Baca: Pengelolaan 7 Cagar Biosfer di Indonesia sedang ditinjau

    Hutan rakyat dapat memberikan manfaat sebagai salah satu penyangga ekonomi masyarakat.

    Pada bidang pariwisata, tambah Yunita, perkembangan pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat, menciptakan peluang bagi pemasaran produk lokal.

    Kebutuhan pangan untuk menyuplai pariwisata semakin besar seiring dengan ekspansi dan diversifikasi pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat.

    Di samping potensi ekonomi kelautan yang besar, Manggarai Barat dihadapkan pada ancaman perubahan iklim yang semakin meningkatkan kerentanan ekosistem pesisir terhadap kerusakan.

    Pengelolaan CBK bertujuan untuk mencapai keberhasilan fungsi cagar biosfer yaitu fungsi konservasi keanekaragaman hayati dan budaya. Untuk berkontribusi pada konservasi lanskap, ekosistem, spesies, dan variasi genetik.

    Fungsi pembangunan ekonomi berkelanjutan untuk mendorong pembangunan ekonomi dan manusia yang berkelanjutan secara sosial budaya dan ekologis.

    Fungsi dukungan logistik untuk memberikan dukungan penelitian, pemantauan, pendidikan dan pertukaran informasi berkaitan dengan isu-isu lokal nasional dan global konservasi dan pembangunan.

    Dirinya menerangkan, dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut, pengelolaan CBK diharapkan dapat berkontribusi dalam beberapa hal, yaitu meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan mengatasi perubahan iklim.

    Meningkatkan kontribusi sumber daya perairan beserta ekosistemnya untuk perekonomian daerah dan nasional.

    “Mengoptimalkan pengelolaan dan distribusi manfaat pengelolaan pariwisata yang berkeadilan dan berkelanjutan. Untuk kesejahteraan masyarakat, meningkatkan tata kelola pembangunan pariwisata, dan lingkungan hidup yang baik,” pungkasnya.

    Sumber:brin.go.id