BRIN Finalisasi Tinjauan terhadap Tujuh Cagar Biosfer di Indonesia

Written by

in

7cloud.asia – Saat ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan tinjauan berkala terhadap tujuh cagar biosfer di Indonesia guna melestarikan dan memanfaatkan keanekaragaman hayati dengan mengintensifkan tinjauan berkala terhadap pengelolaan Cagar Biosfer.

Indonesia memiliki 20 cagar biosfer yang telah dikukuhkan oleh Man and Biosphere (MAB) badan budaya PBB, UNESCO.

Cagar biosfer ini memainkan peran penting dalam melindungi kawasan konservasi hutan tropis dunia yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.

Cagar biosfer berfungsi sebagai wadah tata kelola pengelolaan lingkungan hidup yang diakui UNESCO, dengan landasan riset yang kuat, penguatan tata kelola pemerintahan, dan koordinasi dengan pemangku kepentingan pada setiap cagar biosfer yang ada di Indonesia.

Setiap cagar biosfer harus ditinjau kembali keberadaannya setiap sepuluh tahun sekali agar UNESCO dapat memberikan penilaian terhadap kegiatan pengelolaan yang telah dilakukan.

Baca: BRIN tinjau tujuh cagar biosfer di Indonesia

Program ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas konservasi berbasis lanskap, sejalan dengan dinamika lingkungan yang berubah, kebutuhan pembangunan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan lingkungan serta tantangan sosial ekonomi.

Tujuh cagar biosfer yang akan melaporkan tinjauannya pada 2024 adalah Leuser, Siberut, Bromo Tengger Semeru Arjuno, Tanjung Puting, Takabonerate, Lore Lindu, dan Komodo.

Ketua Komite Nasional MAB Indonesia Maman Turjaman menjelaskan, dalam pengembangan Cagar Biosfer sangat penting pendekatan berbasis lanskap yang menekankan pentingnya memahami kawasan konservasi sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas.

Ini termasuk kawasan penyangga dan kawasan transisi yang melibatkan aktivitas manusia.

Dalam cagar biosfer, wilayah inti dapat dilindungi secara ketat, sementara kawasan penyangga dan transisi diatur untuk memastikan penggunaan lahan yang berkelanjutan.

Baca: Temu pengelola Kebun Raya di Indonesia

“Dengan tinjauan berkala, dapat diidentifikasi intervensi yang lebih tepat sasaran, mulai dari pengelolaan kehati, peningkatan nilai sosial dan ekonomi hingga penyelesaian konflik manusia-satwa liar,” ujar Maman.

Tinjauan berkala ini lanjut Maman, akan mengevaluasi berbagai aspek pengelolaan cagar biosfer.

Tinjauan termasuk perlindungan sumber daya alam, tata kelola ekosistem, pembangunan ekonomi berkelanjutan, serta pelibatan masyarakat lokal.

Tinjauan ini juga membantu program mitigasi perubahan iklim yang diterapkan sejalan dengan kebijakan pemerintah dan agenda global, seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Perjanjian Paris.

Sumber:brin.go.id

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *