Tag: calon pengantin

  • Mengapa Pencegahan Stunting Harus Dilakukan Sejak Pasangan Akan Menikah

    Mengapa Pencegahan Stunting Harus Dilakukan Sejak Pasangan Akan Menikah

    7cloud.asia –  Pencegahan stunting atau tengkes disarankan sudah mulai dilakukan jauh sebelum anak lahir, yakni sejak pasangan masih menjadi calon pengantin.

    Pasalnya, para calon pengantin inilah yang akan menjadi cikal bakal terbentuknya keluarga yang sehat dan bebas stunting.

    Dengan mempersiapkan kondisi kesehatan calon pengantin, diharapkan dapat melahirkan generasi penerus yang sehat dan bebas stunting. 

    Sehingga ke depan akan terlahir keluarga sehat, sejahtera dan berkualitas.

    Baca: Empat provinsi penyumbang stunting terbanyak ada di Pulau Jawa

    Hal ini diungkapkan, Direktur RSUD Cempaka Putih Selvy Devita Anggeraini  dalam seminar pencegahan stunting bertajuk “Sehat Generasi Berkualitas dan Bebas Stunting atau Tengkes” di Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (16/7/2023)

    “Sebelum menikah, catin (calon pengantin) harus mempersiapkan kondisi kesehatannya agar dapat menjalankan kehamilan sehat dan mencegha stunting pada anak,” ujarnya

    Tak hanya stunting, pemeriksaan kesehatan pada calon pengantin juga dapat mencegah kematian ibu dan bayi serta potensi penyakit menular seksual yang juga bisa mengancam kesehatan anak yang akan dilahirkan.

    Baca: Jokowi gemas 80 persen dana pengentasan stunting di satu daerah habis untuk rapat

    Seminar pencegahan stunting ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Jakarta Pusat bersama RSUD Cempaka Putih dan diikuti ratusan calon pengantin untuk mengedukasi agar keluarganya kelak bebas stunting.

    Seminar  itu diikuti 100 peserta yang terdiri dari 25 pasang calon pengantin, PKK kecamatan dan kelurahan, kader PKK serta para mitra dan peserta dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

    Selain mengikuti seminar, calon pengantin juga menjalani pemeriksaan kesehatan pranikah (premarital checkup) yang wajib dilakukan untuk mencegah masalah kesehatan pasangan dan keturunan ke depan.

    Baca: Cara pemerintah turunkan kemiskinan dan stunting

    Setidaknya ada 10 kelurahan di Jakarta Pusat yang menjaid prioritas pengentasan stunting. Di wilayah tersebut dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi kondisi gizi buruk.

    Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Jakarta Pusat Ucu Jamilah menilai seminar ini mendukung program Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengentaskan stunting.

    Pengentasan stunting, kata Ucu, dilakukan tidak hanya dari balita, tetapi dari calon-calon pengantin yang menghasilkan generasi penerus bebas stunting. 

    Baca: Keluarga menjadi awal dari pencegahan stunting

    Ucu menambahkan, pencegahan stunting harus dilakukan dalam 1.000 hari pertama bayi yang dimulai dari masa kehamilan.

    Dia berharap kegiatan seperti ini tidak hanya di Cempaka Putih saja, tapi juga dapat dilaksanakan di kecamatan lainnya di Jakarta Pusat.

    “Kegiatan ini sangat bagus. Ini pertama kalinya diadakan pendalaman materi bagi calon pengantin yang ingin menikah dan yang menjadi perhatian kita,” katanya.

    Sumber: Antaranews

  • Cegah Anak Stunting, Pemerintah Kota Yogyakarta Lakukan Intervensi pada Calon Pengantin

    Cegah Anak Stunting, Pemerintah Kota Yogyakarta Lakukan Intervensi pada Calon Pengantin

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Yogyakarta melakukan intervensi kepada calon pengantin, ibu hamil, ibu bersalin dan bayi di bawah dua tahun (baduta) sebagai penguatan upaya pencegahan stunting.

    Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyatakan, upaya pencegahan dilakukan dengan deteksi dini dan pendampingan bagi kelompok sasaran melalui Tim Pendamping Keluarga di tiap Kelurahan.

    Hasto menegaskan, data itu menjadi sangat penting, apalagi data stunting ini harus diperbarui secara rutin untuk tahu angka real time berapa dan siapa saja yang berisiko stunting.

    “Bukan hanya baduta saja tapi mencegah sejak dari awal ya dari calon pengantin, berapa yang sehat, anemia, kurang energi kronis (KEK) begitu juga dengan ibu hamil,” ujarnya pada Jumat (11/7/2025) dilansir jogjakota.go.id.

    Baca: Faktor sosioekonomi sumbang risiko stunting

    Untuk itu, lanjut Hasto, pihaknya memberdayakan Tim Pendamping Keluarga di tingkat kelurahan termasuk bidan yang dikerahkan dalam program satu kampung satu bidan.

    Para bidan ini wajib secara intens memantau perkembangan kelompok sasaran pencegahan stunting by name by address.

    “Dinas Kesehatan, DP3AP2KB, Puskesmas, Kemantren, Kelurahan, dan perangkat daerah terkait harus diperkuat koordinasinya supaya kelompok sasaran bisa diintervensi I sebelum terjadi stunting. Termasuk kaitannya dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) tepat sasaran,” terangnya.

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani menjelaskan, per 7 Juli 2025 pihaknya telah mengintervensi 545 calon pengantin (catin) yang berdomisili di Kota Yogyakarta.

    Baca: Infrastruktur, layanan air dan sanitasi lingkungan pengaruhi risiko stunting

    Dari angka tersebut, 518 calon pengantin (catin) terpantau dalam kondisi sehat, 13 catin kurang energi kronis (KEK), 8 catin mengalami anemia, dan 5 catin terpantau KEK plus anemia.

    “Intervensi untuk 26  calon pengantin berisiko dilakukan dengan PMT dan atau tablet tambah darah selama tiga bulan, yang mana setiap bulan akan dipantau perkembangannya,” jelasnya.

    Sementara itu Sekretaris DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Sarmin mengatakan per Juli 2025 ada 9 ibu hamil, 443 baduta dan 161 keluarga baru yang masuk dalam kategori Keluarga Berisiko Stunting.

    “Keluarga Berisiko Stunting tersebut diintervensi dengan PMT yang berasal dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), Dana Keistimewaan (Danais) dan BKKBN,” katanya.

    Adapun prevalensi stunting di Kota Yogyakarta terus mengalami penurunan, pada tahun 2024 berada di angka 14,8 persen turun 2 persen dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 16,8 persen.