7cloud.asia – Pemerintah Kota Yogyakarta melakukan intervensi kepada calon pengantin, ibu hamil, ibu bersalin dan bayi di bawah dua tahun (baduta) sebagai penguatan upaya pencegahan stunting.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyatakan, upaya pencegahan dilakukan dengan deteksi dini dan pendampingan bagi kelompok sasaran melalui Tim Pendamping Keluarga di tiap Kelurahan.
Hasto menegaskan, data itu menjadi sangat penting, apalagi data stunting ini harus diperbarui secara rutin untuk tahu angka real time berapa dan siapa saja yang berisiko stunting.
“Bukan hanya baduta saja tapi mencegah sejak dari awal ya dari calon pengantin, berapa yang sehat, anemia, kurang energi kronis (KEK) begitu juga dengan ibu hamil,” ujarnya pada Jumat (11/7/2025) dilansir jogjakota.go.id.
Baca: Faktor sosioekonomi sumbang risiko stunting
Untuk itu, lanjut Hasto, pihaknya memberdayakan Tim Pendamping Keluarga di tingkat kelurahan termasuk bidan yang dikerahkan dalam program satu kampung satu bidan.
Para bidan ini wajib secara intens memantau perkembangan kelompok sasaran pencegahan stunting by name by address.
“Dinas Kesehatan, DP3AP2KB, Puskesmas, Kemantren, Kelurahan, dan perangkat daerah terkait harus diperkuat koordinasinya supaya kelompok sasaran bisa diintervensi I sebelum terjadi stunting. Termasuk kaitannya dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) tepat sasaran,” terangnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani menjelaskan, per 7 Juli 2025 pihaknya telah mengintervensi 545 calon pengantin (catin) yang berdomisili di Kota Yogyakarta.
Baca: Infrastruktur, layanan air dan sanitasi lingkungan pengaruhi risiko stunting
Dari angka tersebut, 518 calon pengantin (catin) terpantau dalam kondisi sehat, 13 catin kurang energi kronis (KEK), 8 catin mengalami anemia, dan 5 catin terpantau KEK plus anemia.
“Intervensi untuk 26 calon pengantin berisiko dilakukan dengan PMT dan atau tablet tambah darah selama tiga bulan, yang mana setiap bulan akan dipantau perkembangannya,” jelasnya.
Sementara itu Sekretaris DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Sarmin mengatakan per Juli 2025 ada 9 ibu hamil, 443 baduta dan 161 keluarga baru yang masuk dalam kategori Keluarga Berisiko Stunting.
“Keluarga Berisiko Stunting tersebut diintervensi dengan PMT yang berasal dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), Dana Keistimewaan (Danais) dan BKKBN,” katanya.
Adapun prevalensi stunting di Kota Yogyakarta terus mengalami penurunan, pada tahun 2024 berada di angka 14,8 persen turun 2 persen dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 16,8 persen.

Leave a Reply