7cloud.asia – Pemerintah Provinsi DKI terus melakukan penataan peternakan sapi di RT 009/RW 003 Jalan Cikoko Barat III, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.
Penataan peternakan sapi di Cikoko ini dilakukan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di dinas yakni tata cara mengelola, mengemas, hingga perbaikan saluran pipa-pipa instalasi biogas di kawasan ini.
Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono, saat mengunjungi peternakan sapi Cikoko, mengatakan bahwa limbah dari peternakan sapi ini diolah menjadi energi terbarukan berupa biogas yang sudah tersalurkan ke 27 rumah di sekitar lokasi.
Saatvini, penggunaan biogas ini masih gratis. Namun, ke depannya akan dikenakan tarif Rp30.000 per rumah setiap bulan.
“Kalau warga biasanya menggunakan dua tabung elpiji tiga kilogram bisa habis Rp60.000. Sekarang cukup Rp30.000, gasnya bisa dipakai tanpa batas. Silakan saja dipakai,” ujar Heru Budi.
Baca: Peternakan terpadu di Balaraja
Selain menjadi gas, limbah peternakan sapi Cikoko ini juga diolah menjadi pupuk cair dan pupuk padat. Satu botol pupuk cair dijual seharga Rp25.000. Uang penjualan pupuk, susu hingga biogas dari olahan peternakan itu akan masuk ke koperasi.
Heru Budi berharap peternakan sapi Cikoko ini menjadi percontohan bagi kawasan lain secara bertahap dengan menggandeng program CSR yang ada di sekitar kawasan peternakan.
“Ini adalah bukti komplit yang sudah pemda lakukan karena merupakan bagian langkah ramah lingkungan, energi terbarukan dan organik yang menghasilkan biogas,” ujarnya seperti dilansir Antaranews.com.
Pada 2023, peternakan sapi di Cikoko, Jakarta Selatan, ini sempat menjadi sorotan publik. Selain menguarkan bau tak sedap nan menyengat, melainkan juga menjadi sarang nyamuk lantaran lembab.
Kala itu, peternakan sapi hanya terdapat beberapa bak penampungan sementara dalam tanah. Namun, bak tersebut hanya berfungsi sebagai tempat penampungan limbah tanpa ada pengolahan lebih lanjut.
Baca: Peternakan ayam petelur tanpa sangkar
Jika musim hujan dan bak terisi penuh, maka limbah kandang dari peternakan itu akan meluap ke saluran pembuangan (parit) di permukiman warga. Tanpa ada pengolahan limbah peternakan maka menyebabkan polusi udara, air, dan tanah.
Peternakan dengan populasi 40 sapi itu disebut bisa menghasilkan kotoran padat rata-rata 40 kilogram (kg)/ekor/hari atau total kotoran padat yang dihasilkan dari kandang 1.600 kg per hari.
Jumlah yang cukup besar untuk volume kotoran ternak di perkotaan padat penduduk.
Melihat permasalahan tersebut, Pemerintah Kota Jakarta Selatan menawarkan salah satu solusi mengolah limbah itu menjadi bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar, yakni melalui biogas.
Pemerintah–melalui BAZIS Baznas–lalu memasang dua unit digester biogas dengan kapasitas 17 meter kubik (m3) dan satu unit instalasi biourine untuk mengolah limbah feses dan urin di kandang sapi pada Maret 2024.
Baca: Peternakan sumbang 41 persen deforestasi global
Instalasi biogas yang terpasang tersebut bisa mengurangi volume limbah per hari hingga 60 persen. Sisanya sebanyak 40 persen akan keluar sebagai bioslurry yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik cair dan padat.
Burhan, pemilik peternakan sapi di kawasan itu, merasakan adanya perubahan yang dialami usai peternakannya dilengkapi instalasi pengolahan biogas.
Burhan kini merasakan peternakannya menjadi lebih bersih, tertata rapi, dan lebih banyak untung karena ada pendapatan dari hasil pengolahan limbah.
Limbah kotoran sebanyak 1.600 kg per hari itu akan menghasilkan 20 m3 biogas per hari dengan asumsi 1 kg kotoran dengan bahan kering 21 persen, akan menghasilkan 0,06 m3 biogas.
Pemanfaatan biogas ini dapat digunakan untuk menyalakan kompor dan lampu dengan maksimal pemakaian 20 rumah serta 27 kompor tungku, yang bisa menghemat pengeluaran untuk membeli bahan bakar.
Baca: Mengurangi konsumsi daging ternyata lebih ramah lingkungan
“Sampai 3 bulan ini penggunaan biogas ke rumah warga masih gratis,” ujar Burhan. Tidak disebutkan kapan biogas tersebut dimonetasi karena saat ini masih dihitung.
Selain itu, hasil buangan sisa pembuatan biogas masih juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.
Per harinya dari pengolahan pupuk itu bisa menghasilkan 10–20 kantong (isi 1 kg) yang dihargai Rp10.000 per kantong.
Dalam reaktor biodigester ini dilakukan penguraian bahan-bahan organik yang terkandung dalam kotoran sapi menjadi asam-asam organik. Selanjutnya asam-asam organik ini akan terurai secara anaerobik menjadi biogas.
Selanjutnya, biogas yang tertampung akan mengalir melalui pipa koneksi/selang menuju ke rumah-rumah. Biogas inilah yang digunakan sebagai bahan bakar generator dan kompor biogas.
Baca: Membangun instalasi pengolahan biogas skala mikro
Solusi pengolahan limbah kotoran seperti biogas bisa menjadi model pengelolaan peternakan. Selain lebih ramah lingkungan, juga mampu memberi tambahan pendapatan bagi peternak.
“Kalau bisa (usaha kami) dibikin maju, misalnya, pupuk kebutuhan pemerintah diambil dari peternakan kami. Dinas Pertamanan bisa memanfaatkan pupuk kami,” ujarnya.
Sukses pengolahan limbah di peternakan milik Burhan itu mendorong Lurah Cikoko, Fadhilah Nursehati, mengusulkan program ini dalam lomba kelurahan tingkat Provinsi DKI Jakarta.
Masih ada 73 peternakan di Jakarta yang belum menerapkan pengolahan limbah. Setiap peternakan rata-rata memiliki 10 sampai 15 ekor sapi yang diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih bagi lingkungan sekitar.