Tag: ciliwung

  • Ekowisata di Sepanjang Aliran Sungai Ciliwung, Jalan-jalan Sambil Merawat Lingkungan

    Ekowisata di Sepanjang Aliran Sungai Ciliwung, Jalan-jalan Sambil Merawat Lingkungan

    7cloud.asia – Gerakan Ciliwung Bersih yang didukung oleh 36 Komunitas Peduli Ciliwung dan sejumlah perusahaan meluncurkan kawasan ekowisata dan eduwisata lingkungan di sepanjang aliran Sungai Ciliwung.

    Kawasan ekowisata dan eduwisata lingkungan yang diluncurkan berasal dari berbagai daerah yang dialiri oleh Sungai Ciliwung baik di Bogor, Depok maupun Jakarta.

    Kawasan ekowisata lingkungan ini mulai dari Puncak, Bogor, Depok, Lenteng Agung, Pejaten, Condet dan Kantor Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) di Penjernihan, Jakarta Pusat.

    “Seiring dengan mutu air Sungai Ciliwung yang mulai membaik hingga ke level 2, kami akhirnya memberanikan diri membuka ekowisata dan eduwisata lingkungan di sepanjang Sungai Ciliwung,” kata Ketua Gerakan Ciliwung Bersih Peni Susanti
    pada Peringatan Hari Ciliwung di Penjernihan, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

    Baca: 8 spot wisata alam yang mudah diakses dari Jakarta

    Peni menjelaskan, dengan dibukanya ekowisata dan eduwisata di Sungai Ciliwung akan menambah pilihan wisata untuk warga Jakarta.

    Di eduwisata Ciliwung ini masyarakat umum sampai pelajar dapat berwisata sambil mempelajari seluk-beluk, sejarah serta upaya pelestarian sungai sepanjang 120 kilometer tersebut.

    Peni mengungkapkan bahwa saat GCB berdiri pada 1989, kualitas air Sungai Ciliwung pada saat itu sangat tercemar.

    Dengan upaya dari Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) dan perusahaan, seperti seperti Indofood, Indonesia Power, PLN dan PAM Jaya, mutu air Sungai Ciliwung berangsur membaik.

    Baca: Ini caranya wisata ramah lingkungan

    Saat ini mutu air Sungai Ciliwung  mencapai tingkat dua atau sudah layak sebagai bahan baku air minum.

    Sebagai tujuan ekowisata dan eduwisata, ada beberapa titik lokasi wisata yang bisa dikunjungi masyarakat.

    Mulai dari Kantor Sekretariat GCB yang terletak di Jln Penjernihan, Karet Bivak, masyarakat bisa mempelajari sejarah Sungai Ciliwung di Galeri Sungai Ciliwung.

    Warga juga bisa mempelajari pemilahan dan pengolahan sampah sungai dengan TOSS (Teknologi Olah Sampah Sungai) melalui metode peyeumisasi, susur sungai.

    Baca: Mengintip pilihan penganut slow living saat berwisata

    Selain itu warga juga bisa memanen hasil hidroponik ventikultur sambil menikmati kopi di kedai pinggir Sungai Ciliwung.

    Ketua KPC Pejaten H Royani mengungkapkan, di Sekolah Sungai KPC Pejaten, masyarakat bisa melihat hewan purba endemik dan langka

    Binatang itu adalah Senggawangan atau bulus raksasa (Chitra Chitra javanensis) yang memiliki berat 300 kilogram (kg) yang ditemukan pada 11 November 2011.

    “Tidak hanya itu para pengunjung juga dapat mempelajari budaya masyarakat sepanjang Sungai Ciliwung sekaligus menikmati makanan dan minuman khas Betawi seperti dodol dan bir pletok,” kata Royani.

    Baca: Ke Papua Barat nggak cuma ada Raja Ampat

    Ketua KPC Lenteng Agung, Sarmili mengatakan, masyarakat dapat melakukan kegiatan susur sungai Ciliwung dengan suasana taman.

    Sehingga para pengunjung dari titik awal hingga akhir dapat menikmati pemandangan taman-taman yang bagus dan indah.

    “Mereka juga bisa belajar tentang kerajinan tangan dan berbagai produk inovatif seperti ‘eco print’ dan produk kreatif lainnya di ekowisata Ciliwung ini,” kata Sarmili.

    Sumber: Antaranews.com

     

     

     

  • Daerah Aliran Sungai Ciliwung dalam Kondisi Kritis, Mungkinkah Dikembalikan Ke Kondisi Normal?

    Daerah Aliran Sungai Ciliwung dalam Kondisi Kritis, Mungkinkah Dikembalikan Ke Kondisi Normal?

    7cloud.asia – Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai terbesar dari 13 sungai yang membelah Kota Jakarta.

    Ke-13 sungai yang mengalir ke Jakarta itu adalah Sungai Ciliwung, Sungai Angke, Sungai Pesanggrahan, Sungai Grogol, Sungai Krukut, Sungai Baru Barat, Sungai Mookevart.

    Juga Sungai Baru Timur, Sungai Cipinang, Sungai Sunter, Sungai Buaran, Sungai Jati Kramat, dan Sungai Cakung.

    Kondisi Daerah Aliran Sungai Ciliwung (DAS Ciliwung) saat ini dalam kondisi kritis.

    Pakar Air Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Evi Anggraheni mengatakan kritisnya DAS Ciliwung ditunjukkan dengan elevasi muka air saat musim kemarau sangat rendah.

    Pun demikian dengan kualitas air sungai Ciliwung yang buruk. Kekeringan ketika musim kemarau dan banjir saat musim hujan merupakan indikasi bahwa DAS Ciliwung tersebut kritis.

    Baca Juga: Saking Panjangnya, Ada Sekitar 50 Komunitas di Sungai Ciliwung

    DAS Sungai Ciliwung yang kritis perlu jadi perhatian dan keberlanjutan sumber air Ciliwung harus dijaga karena peran vitalnya untuk warga Jakarta.

    DAS Ciliwung yang kritis sejatinya juga bukan hanya terkait dengan komitmen pemerintah saja akan tetapi juga membutuhkan kerja sama dan kolaborasi antarpemangku kepentingan serta masyarakat sekitar sungai.

    Selain itu, juga komunitas lingkungan yang bergerak agar sungai berfungsi sebagai mana mestinya.

    Misalnya, peningkatan edukasi dan kesadaran kepada masyarakat atas lingkungan. Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan adalah faktor yang sangat penting menjaga kelestarian aliran Sungai Ciliwung.

    Penanganan masalah DAS Ciliwung juga perlu melibatkan berbagai pihak termasuk komunitas-komunitas sungai setempat.

    Baca Juga: Ekowisata di Sepanjang Aliran Sungai Ciliwung, Jalan-jalan Sambil Merawat Lingkungan

    Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kerusakan DAS Ciliwung adalah larangan tegas untuk tidak membuang sampah ke sungai, melarang warga untuk tidak mendirikan bangunan di bantaran sungai.

    Berikutnya, penetapan DAS sebagai daerah wisata, penghijauan di daerah hulu sungai, penerapan sanksi kepada warga yang membuang limbah ke sungai.

    Komunitas Ciwilung Depok telah melakukan pemetaan terhadap potensi permasalahan di sepanjang Sungai Ciliwung dan merumuskan penanganan dan solusi untuk jangka panjang.

    Agar DAS Ciliwung terjaga, di antaranya dilakukan dengan kegiatan bersih-bersih sungai, kemudian sampahnya dibuat ecobrick, yaitu salah satu cara memanfaatkan kembali limbah yang sulit didaur ulang dan kerajinan dari bambu-bambu bekas.

    Selain itu, ada sejumlah titik potensial yang menjadi titik permasalahan di DAS Sungai Ciliwung seperti sampah, longsor, limbah, wisata, serta titik edukasi seperti Saung Pustaka Air (SPA).

    Baca Juga: Normalisasi Kali Ciliwung Belum Maksimal, Kawasan Kebon Pala Kembali Dilanda Banjir

    Titik ini berada di Sungai Ciliwung sepanjang Kampung Utan Pondok Jaya Depok sampai perbatasan Jakarta Selatan.

    Beberapa upaya yang bisa dilakukan adalah melakukan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat agar mereka lebih peduli terhadap sungai. Perlu pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) secara individual dan komunal.

    Upaya lainnya adalah pembuatan tempat penampungan sampah sementara, melakukan penataan landscaping di beberapa titik longsor, serta menjadikan taman pinggir sungai sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).

    Lebih dari itu perlu juga penataan wilayah dari segi pemahaman dan infrastruktur objek wisata juga perlu dilakukan, termasuk menjadikan Sungai Ciliwung sebagai tempat wisata edukasi berbasis masyarakat.

    Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merawat Ciliwung, antara lain mengurangi run-off air dari daratan masuk ke sungai.

    Menetapkan garis sempadan sungai sebagai wilayah konservasi dan penegakan hukum atas pelanggaran pemanfaatan dan pengelolaan sungai.

    Sumber:Antaranews.com