Daerah Aliran Sungai Ciliwung dalam Kondisi Kritis, Mungkinkah Dikembalikan Ke Kondisi Normal?

Written by

in

7cloud.asia – Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai terbesar dari 13 sungai yang membelah Kota Jakarta.

Ke-13 sungai yang mengalir ke Jakarta itu adalah Sungai Ciliwung, Sungai Angke, Sungai Pesanggrahan, Sungai Grogol, Sungai Krukut, Sungai Baru Barat, Sungai Mookevart.

Juga Sungai Baru Timur, Sungai Cipinang, Sungai Sunter, Sungai Buaran, Sungai Jati Kramat, dan Sungai Cakung.

Kondisi Daerah Aliran Sungai Ciliwung (DAS Ciliwung) saat ini dalam kondisi kritis.

Pakar Air Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Evi Anggraheni mengatakan kritisnya DAS Ciliwung ditunjukkan dengan elevasi muka air saat musim kemarau sangat rendah.

Pun demikian dengan kualitas air sungai Ciliwung yang buruk. Kekeringan ketika musim kemarau dan banjir saat musim hujan merupakan indikasi bahwa DAS Ciliwung tersebut kritis.

Baca Juga: Saking Panjangnya, Ada Sekitar 50 Komunitas di Sungai Ciliwung

DAS Sungai Ciliwung yang kritis perlu jadi perhatian dan keberlanjutan sumber air Ciliwung harus dijaga karena peran vitalnya untuk warga Jakarta.

DAS Ciliwung yang kritis sejatinya juga bukan hanya terkait dengan komitmen pemerintah saja akan tetapi juga membutuhkan kerja sama dan kolaborasi antarpemangku kepentingan serta masyarakat sekitar sungai.

Selain itu, juga komunitas lingkungan yang bergerak agar sungai berfungsi sebagai mana mestinya.

Misalnya, peningkatan edukasi dan kesadaran kepada masyarakat atas lingkungan. Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan adalah faktor yang sangat penting menjaga kelestarian aliran Sungai Ciliwung.

Penanganan masalah DAS Ciliwung juga perlu melibatkan berbagai pihak termasuk komunitas-komunitas sungai setempat.

Baca Juga: Ekowisata di Sepanjang Aliran Sungai Ciliwung, Jalan-jalan Sambil Merawat Lingkungan

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kerusakan DAS Ciliwung adalah larangan tegas untuk tidak membuang sampah ke sungai, melarang warga untuk tidak mendirikan bangunan di bantaran sungai.

Berikutnya, penetapan DAS sebagai daerah wisata, penghijauan di daerah hulu sungai, penerapan sanksi kepada warga yang membuang limbah ke sungai.

Komunitas Ciwilung Depok telah melakukan pemetaan terhadap potensi permasalahan di sepanjang Sungai Ciliwung dan merumuskan penanganan dan solusi untuk jangka panjang.

Agar DAS Ciliwung terjaga, di antaranya dilakukan dengan kegiatan bersih-bersih sungai, kemudian sampahnya dibuat ecobrick, yaitu salah satu cara memanfaatkan kembali limbah yang sulit didaur ulang dan kerajinan dari bambu-bambu bekas.

Selain itu, ada sejumlah titik potensial yang menjadi titik permasalahan di DAS Sungai Ciliwung seperti sampah, longsor, limbah, wisata, serta titik edukasi seperti Saung Pustaka Air (SPA).

Baca Juga: Normalisasi Kali Ciliwung Belum Maksimal, Kawasan Kebon Pala Kembali Dilanda Banjir

Titik ini berada di Sungai Ciliwung sepanjang Kampung Utan Pondok Jaya Depok sampai perbatasan Jakarta Selatan.

Beberapa upaya yang bisa dilakukan adalah melakukan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat agar mereka lebih peduli terhadap sungai. Perlu pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) secara individual dan komunal.

Upaya lainnya adalah pembuatan tempat penampungan sampah sementara, melakukan penataan landscaping di beberapa titik longsor, serta menjadikan taman pinggir sungai sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Lebih dari itu perlu juga penataan wilayah dari segi pemahaman dan infrastruktur objek wisata juga perlu dilakukan, termasuk menjadikan Sungai Ciliwung sebagai tempat wisata edukasi berbasis masyarakat.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merawat Ciliwung, antara lain mengurangi run-off air dari daratan masuk ke sungai.

Menetapkan garis sempadan sungai sebagai wilayah konservasi dan penegakan hukum atas pelanggaran pemanfaatan dan pengelolaan sungai.

Sumber:Antaranews.com

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *