Tag: danau

  • Riset: Pemanasan Global Akibatkan Separuh Danau di Dunia Mengering

    Riset: Pemanasan Global Akibatkan Separuh Danau di Dunia Mengering

    7cloud.asia – Hasil penelitian terbaru menunjukkan pemanasan global dan tingkat konsumsi manusia menyebabkan danau-danau di dunia mengalami kekeringan.

    Lebih dari separuh danau di dunia telah menyusut, menurut sebuah studi baru yang diterbitkan pada hari Kamis (18/05/2023) lalu.
     
    Tim peneliti internasional mempublikasikan temuan mereka di jurnal Science dan menemukan bahwa pemanasan global dan aktivitas manusia menjadi penyebab utama mengeringnya danau-danau yang mneyimpan sekitar 87% air tawar di Bumi.

    Laporan tersebut juga menyoroti perlunya solusi pengelolaan air, khususnya di danau air tawar menyusul pemanasan global

    Menurut penelitian yang dipimpin oleh ahli hidrologi Fangfang Yao dari University of Colorado, danau dan waduk besar di dunia telah menyusut sejak awal tahun 1990-an akibat pemanasan global.

    Tim ahli mengatakan bahwa beberapa sumber air tawar yang penting di dunia telah kehilangan air dengan laju kumulatif sekitar 22 gigaton per tahun selama hampir tiga dekade.

    “Lebih dari separuh penurunan tersebut terutama disebabkan oleh konsumsi manusia atau sinyal tidak langsung dari manusia melalui pemanasan iklim,” kata Yao yang menunjukkan bahwa pemanasan global memberikan kontribusi yang lebih besar.

    Para peneliti juga menemukan bahwa perubahan curah hujan dan limpasan air, sedimentasi, dan kenaikan suhu telah menyebabkan penurunan permukaan danau secara global.

    Menggunakan data satelit hampir 30 tahun
    Tim peneliti juga mengukur perubahan permukaan air di hampir 2.000 danau dan badan air lainnya di dunia serta menggunakan laporan data satelit yang dikumpulkan antara tahun 1992 dan 2020.

    Di Amerika Serikat, Danau Mead kehilangan dua pertiga airnya selama periode 28 tahun. Studi ini juga menemukan bahwa penggunaan yang tidak berkelanjutan oleh manusia telah mengeringkan danau-danau, termasuk Laut Aral di Asia Tengah dan Laut Mati di Timur Tengah.

    Danau-danau di Afganistan, Mesir, dan Mongolia dilanda kenaikan suhu, yang menyebabkan peningkatan laju penguapan permukaan.

    Para ilmuwan mengatakan bahwa pemanasan global harus dibatasi hingga 1,5 derajat Celsius untuk menghindari konsekuensi dari perubahan iklim. Dunia saat ini memanas dengan laju sekitar 1,1 derajat Celsius.

    Dampak Perubahan Iklim, Dunia Mengalami Krisis Air

    Meningkatnya suhu dan gelombang panas yang ekstrem akibat pemanasan global telah membuat negara-negara di seluruh dunia gersang. Bencana kekeringan melanda Cina, AS, Etiopia, hingga Inggris.

    Krisis kelaparan di Tanduk Afrika
    Etiopia, Kenya, dan Somalia saat ini mengalami kekeringan terburuk dalam lebih dari 40 tahun. Kondisi lahan kering menyebabkan masalah ketahanan pangan yang parah di wilayah tersebut, dengan 22 juta orang terancam kelaparan.

    Lebih dari 1 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena bencana kekeringan, yang diperkirakan akan berlanjut selama berbulan-bulan.

    Sungai Yangtze mengering
    Dasar sungai terpanjang ketiga di dunia, Sungai Yangtze, tersingkap karena krisis kekeringan melanda Cina. Permukaan air yang rendah berdampak pada distribusi dan pembangkit listrik tenaga air, dengan produksi listrik dari Bendungan Tiga Ngarai turun 40%.

    Sebagai upaya membatasi penggunaan listrik, beberapa pusat perbelanjaan mengurangi jam buka dan pabrik melakukan penjatahan listrik.

    Hujan yang jarang terjadi di Irak
    Irak yang sangat rentan terhadap perubahan iklim dan isu penggurunan terus berjuang mengatasi kekeringan yang terjadi selama tiga tahun berturut-turut. Sebuah situs Warisan Dunia UNESCO di selatan negara itu pun telah mengering.

    Bencana kekeringan berkontribusi pada kontraksi ekonomi sekitar 17% dari sektor pertaniannya selama setahun terakhir.

    Pembatasan penggunaan air di Amerika Serikat
    Pasokan air Sungai Colorado menyusut setelah curah hujan jauh di bawah rata-rata selama lebih dari dua dekade. Krisis ini diyakini sebagai yang terburuk dalam lebih dari 1.000 tahun.

    Sungai yang mengalir melalui barat daya Amerika Serikat dan Meksiko, memasok air bagi jutaan orang dan lahan pertanian. Sejumlah negara bagian diminta untuk mengurangi penggunaan air dari Sungai Colorado.

    Eropa alami gelombang panas ekstrem, sedikit hujan, dan kebakaran hutan.
    Hampir setengah wilayah benua itu saat ini terancam kekeringan, yang menurut para ahli bisa menjadi yang terburuk dalam 500 tahun.

    Sungai-sungai besar termasuk Rhein, Po, dan Loire telah menyusut. Permukaan air yang rendah berdampak pada transportasi barang dan produksi energi.

    Dilarang pakai selang di Inggris
    Beberapa wilayah di Inggris berada dalam status kekeringan pada pertengahan Agustus. Krisis kekeringan parah sejak 1935 melanda negara itu di bulan Juli.

    Pihak berwenang mencatat suhu terpanas Inggris pada 19 Juli mencapai 40,2 derajat Celsius. Penggunaan selang air untuk menyiram kebun atau mencuci mobil tidak diperbolehkan lagi selama Agustus di seluruh negeri.

    Masa lalu prasejarah Spanyol terbongkar

    Spanyol sangat terdampak oleh krisis kekeringan dan gelombang panas. Kondisi tersebut telah memicu kebakaran hutan hebat yang menghanguskan lebih dari 280.000 hektar lahan dan memaksa ribuan orang mengungsi.

    Permukaan air yang surut di sebuah bendungan mengungkap lingkaran batu prasejarah yang dijuluki “Stonehenge Spanyol”.

    Beradaptasi dengan dunia yang lebih kering
    Dari Tokyo hingga Cape Town, banyak negara dan kota di dunia beradaptasi mengatasi kondisi yang semakin kering dan panas. Solusinya tak harus berteknologi tinggi.

    Di Senegal, para petani membuat kebun melingkar yang memungkinkan akar tumbuh ke dalam, yang bisa menampung air berharga di daerah yang jarang hujan. Di Cile dan Maroko, orang menggunakan jaring yang mampu mengubah kabut jadi air minum.

    Setelah Cape Town, Afrika Selatan, nyaris kehabisan air pada tahun 2018, kota ini memperkenalkan sejumlah langkah untuk memerangi kekeringan.

    Salah satu solusinya adalah menghilangkan spesies invasif seperti pinus dan kayu putih, yang menyerap lebih banyak air dibanding tanaman asli seperti semak fynbos. Pendekatan berbasis alam telah membantu menghemat miliaran liter air.

  • Komunitas Peduli Lingkungan Tuang 1.300 Larutan Eco Enzyme ke Danau Buyan

    Komunitas Peduli Lingkungan Tuang 1.300 Larutan Eco Enzyme ke Danau Buyan

    7cloud.asia – Komunitas peduli lingkungan Bali menuangkan 1.300 larutan eco enzyme ke Danau Buyan dalam upaya untuk merawat danau yang ada di wilayah Kabupaten Buleleng tersebut.

    Kegiatan ini diikuti oleh Anggota Forum Penggiat Lingkungan Bali, Bersih-Bersih Bali, Tol-Tol, Trash WarriorDelod Bencingah, Teman Parta, Bali Happy.

    Selain itu organisasi lain seperti SAI Green, Enzyme Bakti Indonesia, Pancawara Bali, dan komunitas peduli lingkungan yang lain berpartisipasi dalam kegiatan yang berlangsung pada Minggu (24/12/2023).

    Penuangan larutan eco enzyme dari hasil fermentasi sisa buah dan sayur ke danau ditujukan untuk membersihkan danau dan memperbaiki kualitas airnya.

    Baca: Ekowisata di sepanjang Sungai Ciliwung

    “Ini menjadi upaya kami untuk menjaga dan merawat kembali Danau Buyan,” kata Renggo selaku ketua panitia acara bertajuk “Eco Enzyme for Lake Buyan, Satu Danau, Satu Masa Depan, Satu Tindakan Menyelamatkan Peradaban.”

    Dia menyampaikan bahwa penuangan larutan eco enzyme ke Danau Buyan akan dilakukan secara berkala hingga tiga tahun ke depan.

    “Kami akan merawat Danau Buyan ini selama tiga tahun ke depan. Penuangan eco enzyme akan dilakukan secara berkala dua kali dalam sebulan,” katanya.

    Selain itu, menurut dia, anggota komunitas peduli lingkungan akan memberikan penyuluhan kepada warga sekitar mengenai pentingnya menjaga Danau Buyan.

    Baca: Upaya industri dan fesyen kurangi limbah tekstil

    Perbekel (kepala desa) Desa Pancasari Wayan Komiarsa berterima kasih kepada komunitas-komunitas yang membantu menjaga kelestarian Danau Buyan.

    “Gerakan ini menjadi tonggak sejarah bagi Danau Buyan. Dengan berbuat untuk bumi tentu akan memberikan karma yang baik,” kata Komiarsa.

    “Kami juga siap menyediakan tempat untuk pembuatan eco enzyme,” ia menambahkan.

    Anggota Dewan Perwakilan Daerah Made Mangku Pastika berharap eco enzyme dapat menjadi “obat” bagi Danau Buyan.

    Gubernur Bali periode 2008-2018 itu menyampaikan bahwa sekitar 10 tahun lalu luas perairan Danau Buyan sudah berkurang sekitar 60 hektare akibat sedimentasi dan sekarang danau semakin menyempit.

    Baca: Dampak belanja online terhadap lingkungan

    Semasa Pastika menjadi Gubernur Bali, pemerintah daerah merencanakan normalisasi Danau Buyan dan pembuatan sabuk hijau untuk menjaga kebersihan danau.

    Selain itu pemerintah daerah juga mengajak warga Desa Pancasari mengganti detergen dengan buah lerak agar air danau tidak tercemar detergen.

    “Waktu itu juga sudah didatangkan sejumlah ahli untuk melakukan penelitian terkait kondisi Danau Buyan. Selain itu direncanakan di atas Danau Buyan akan ditampilkan pergelaran kesenian terapung seperti yang banyak dilakukan di danau-danau di China yang menjadi salah satu atraksi wisata,” ia menjelaskan.

    Namun, menurut Pastika, rencana pemerintah daerah untuk membenahi Danau Buyan dan menjadikannya sebagai objek wisata tidak dapat diwujudkan.

    Hal ini karena muncul tentangan dari pihak yang menilai upaya itu dapat menodai kesucian danau.

    “Kalau banyak komunitas lingkungan yang mendukung, mungkin bisa saya akan hidupkan lagi rencana itu,” katanya.

    Sumber: Antaranews

  • Deklarasi Hari Danau Sedunia: Respon terhadap Persediaan Air yang Kian Menipis

    Deklarasi Hari Danau Sedunia: Respon terhadap Persediaan Air yang Kian Menipis

    7cloud.asia – Inisiatif Indonesia untuk aksi penyelamatan danau sebagai upaya menjaga keberlanjutan sumber daya air global menjadi salah satu klausul Deklarasi Menteri di World Water Forum Ke-10 Bali, Rabu (22/5/2024).

    Deklarasi yang dihadiri oleh 106 delegasi negara dan 27 organisasi internasional itu sekaligus membuka peluang bagi para pemangku kepentingan dalam merespons persediaan air yang kian menipis.

    Danau selama ini terbentuk secara alami pada sejumlah ruas sungai hingga membentuk basin yang sangat luas. Fungsi utamanya sebagai wadah penampung air dan pendukung ekosistem perairan darat.

    WWF, yang kini menginjak usia 30 tahun, semakin menyadari bahwa danau memiliki multifungsi untuk memainkan peran penting dalam siklus makanan, pemurnian air, iklim, keanekaragaman hayati, serta mendukung kegiatan rekreasi, dan tradisional.

    Dewan Sumber Daya Air Nasional (DSDAN) dalam laporannya menyebutkan jumlah danau di Indonesia dalam kurun 3 tahun terakhir sebanyak 840 danau besar dan 735 danau kecil berupa telaga, ranu, dan situ.

    Baca Juga: Warna Air Danau Kawah Gunung Dempo Berubah Menjadi Keputihan, Ini Penjelasan ESDM

    Jumlah danau besar terbanyak berada di Sumatera sebanyak 170, sedangkan di Kalimantan (139), Jawa dan Bali (31), Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat (14), Sulawesi (30), Maluku (10), dan Papua sebanyak 127 danau.

    Dari total tersebut, DSDAN memperkirakan danau di Indonesia ditaksir mampu menampung hingga 500 miliar meter kubik air.

    Di sisi lain, kondisi danau saat ini mengalami degradasi karena kerusakan daerah tangkapan air dan pemanfaatan yang berlebihan yang berpotensi menimbulkan dampak bagi lingkungan danau, berupa sedimentasi, pencemaran, hingga penurunan biodiversitas.

    Contohnya, fenomena eutrofikasi eceng gondok dan pendangkalan yang banyak terjadi di berbagai danau, salah satunya di Danau Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

    Danau alami dengan luas sekitar 2.670 hektare itu, hampir separuhnya dipenuhi dengan tumbuhan bernama bahasa Latin alga blooming.

    KLHK melaporkan danau alami maupun buatan, menyediakan 87 persen dari air tawar di permukaan Bumi.

    Baca Juga: Riset: Pemanasan Global Akibatkan Separuh Danau di Dunia Mengering

    Volume danau air tawar juga dilaporkan menurun hingga setengahnya, dengan lebih dari setengah danau terbesar di dunia mengalami penyusutan akibat tekanan besar dari penggunaan air dan cekungan yang berlebihan serta krisis iklim.

    Komitmen penyelamatan danau dalam WWF membuka peluang berbagi pemikiran pemangku kepentingan dalam merespons isu penting ekosistem danau yang sangat rentan terhadap tekanan di sekitarnya.

    Dalam diskusi panel bertajuk “Too much, too little, too polluted – Water Security for Resilient, Livable Cities”, di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Selasa (21/5/2024), mengungkap bahwa bencana kekeringan setiap musim kemarau dan banjir pada musim hujan di berbagai belahan dunia adalah fakta dari sistem manajemen air yang lemah.

    Indonesia sebagai negara kepulauan tropis di dunia, menangkap curah hujan tinggi berkisar 1.000 hingga 4.000 milimeter per tahun sebagai cadangan air tanah yang bisa bermanfaat bagi kehidupan pada musim kemarau.

    Zero Delta Q menjadi salah satu praktik regulasi manajemen air di Indonesia dalam mempertahankan keseimbangan daerah aliran sungai (DAS) secara nonstruktural.

    Prinsip kerjanya memberikan ruang untuk air pada DAS lewat kebijakan penataan ruang.

    Baca Juga: Pemkab Bangli Bersihkan Danau Batur dengan Menggunakan Eco Enzyme

    Peraturan Pemerintah (PP) No. 13 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional mengharuskan setiap bangunan tidak boleh menjadi penyumbang bertambahnya debit air ke sistem saluran drainase atau sistem aliran sungai.

    Regulasi itu mensyaratkan para pengembang perumahan, perkantoran, hingga industri memasang instalasi pembuangan air mengarah ke dalam tanah melalui fasilitas sumur resapan, embung, polder, hingga danau.

    Skema itu diharapkan dapat menambah cadangan air tanah yang berguna bagi kebutuhan hidup masyarakat pada musim kemarau, selain sebagai mitigasi dari bencana banjir akibat luapan sungai.

    Deklarasi Hari Danau Sedunia lahir dari diskusi panel WWF bertajuk “Seruan Mendesak untuk Menyelamatkan Danau Kita: Mempromosikan Agenda Global dan Upaya Kolaboratif untuk Pengelolaan Danau Berkelanjutan, serta Meningkatkan Momentum Hari Danau Sedunia.”

    Baca Juga: Komunitas Peduli Lingkungan Tuang 1.300 Larutan Eco Enzyme ke Danau Buyan

    Usulan penetapan Hari Danau Sedunia juga didukung penuh oleh Presiden Majelis Umum PBB Dennis Francis, yang sebelumnya telah mengadakan pertemuan bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

    Pemerintah Indonesia selaku tuan rumah penyelenggaraan WWF Ke-10 segera bekerja untuk menyiapkan berbagai data dan argumentasi yang mendukung inisiatif tersebut lewat peran Kementerian Luar Negeri dan duta besar di luar negeri.

    Dokumen hasil deklarasi Hari Danau Sedunia di World Water Forum Ke-10 di Bali segera diajukan ke Majelis Umum PBB untuk proses penetapan agar dapat diperingati masyarakat sedunia. Proses itu sekaligus membahas tanggal peringatan.

    Peringatan Hari Danau Sedunia tentunya tidak sekadar simbolis, namun perlu dipahami sebagai salah satu kunci untuk memperkuat kemitraan strategis antarabangsa dalam menjamin kelestarian danau.

    Kekeringan sebagai dampak krisis air sudah menjadi perhatian dunia sejak tahun 1979, semakin menguat dan kian menjadi perhatian penting di periode 2018-2022.

    WWF, salah satunya melihat hal ini untuk memitigasi krisis air melalui pengelolaan air bersama yang berkeadilan dan berkelanjutan.

    Sumber:Antaranews.com

  • Pemanasan Global Akibatkan Penurunan Kadar Oksigen di Ribuan Danau di Seluruh Dunia

    Pemanasan Global Akibatkan Penurunan Kadar Oksigen di Ribuan Danau di Seluruh Dunia

    7cloud.asia – Sebuah penelitian yang diterbitkan pada Sabtu (22/3/2025) menemukan, penurunan kadar oksigen di danau-danau di seluruh dunia akibat pemanasan global dan meningkatnya gelombang panas.

    Para peneliti menemukan tren penurunan kadar oksigen tersebut setelah menganalisis data tingkat oksigen terlarut, jumlah oksigen dalam air, di lebih dari 15.000 danau di seluruh dunia selama 20 tahun terakhir.

    Diterbitkan dalam jurnal Science Advances, penelitian tersebut menemukan bahwa 83 persen danau di seluruh dunia mengalami penurunan kadar oksigen permukaan, dan tingkat rata-rata hilangnya oksigen di danau lebih tinggi daripada di lautan dan sungai.

    Temuan ini menyoroti betapa seriusnya masalah yang ditimbulkan pemanasan global. Penulis studi tersebut menilai pemanasan global merupakan penyebab utama dari penurunan tingkat oksigen ini, yang berkontribusi terhadap 55 persen penurunan oksigen dengan mengurangi kelarutan oksigen.

    Baca: Pemanasan global akibatkan separuh danau di dunia mengering

    Baca: Kondisi Danau Lido dalam kondisi kritis

    Selain itu, meningkatnya konsentrasi nutrisi di danau, yang dikenal sebagai eutrofikasi, menyebabkan sekitar 10 persen dari total penurunan kadar oksigen.

    Studi tersebut juga menganalisis dampak gelombang panas terhadap penurunan oksigen di permukaan danau.

    Studi menunjukkan bahwa gelombang panas memberikan dampak yang cepat dan nyata pada penurunan oksigen, yang mengakibatkan penurunan sebesar 7,7 persen dibandingkan dengan kondisi pada suhu rata-rata.

    Para penulis mengatakan temuan ini menggarisbawahi dampak mendalam perubahan iklim pada ekosistem air tawar, yang membutuhkan kadar oksigen cukup untuk menopang kehidupan aerobik dan menjaga komunitas biologis tetap sehat.

    Baca: Suhu Bumi lampaui ambang batas pemanasan global

    Baca: Dampak lingkungan jika pemanasan global mencapai 2°C

    “Menurunnya oksigen dapat menyebabkan kepunahan spesies, kematian organisme akuatik, dan runtuhnya industri perikanan komersial,” kata rekan penulis Zhang Yunlin, seorang peneliti di Institut Geografi dan Limnologi Nanjing di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China.

    Hilangnya oksigen terlarut di danau telah dilaporkan sebelumnya. Misalnya, sebuah studi tahun 2021 yang diterbitkan dalam jurnal Nature menunjukkan bahwa penurunan terjadi secara luas di permukaan dan perairan dalam danau beriklim sedang.

    Namun, penulis studi baru tersebut meyakini bahwa temuan mereka memberikan pandangan yang lebih komprehensif, karena danau yang diteliti adalah danau di seluruh dunia yang memiliki luas lebih dari 10 kilometer persegi.

    Sebaliknya, danau yang diteliti dalam studi sebelumnya tidak termasuk danau dari zona iklim tropis dan dingin.

    Kebutuhan mendesak untuk memerangi meningkatnya ancaman kehilangan oksigen juga ditekankan.

    Rekan penulis Shi Kun, juga seorang peneliti dari lembaga yang berpusat di Nanjing, mengatakan bahwa upaya harus difokuskan pada pengurangan konsentrasi nutrisi di danau, seperti membatasi penggunaan pupuk dan emisi limbah ternak, serta meningkatkan pengelolaan air limbah domestik dan industri perkotaan.

    “Menanam vegetasi terendam dan membangun lahan basah juga dapat membantu memulihkan ekosistem danau,” kata Shi kepada Xinhua.

    Para peneliti dari Universitas Nanjing di China dan Universitas Bangor di Inggris juga berpartisipasi dalam penelitian ini.

    Sumber:Antaranews.com/Xinhua

  • Hari Danau 2025: Kondisi 15 Danau Prioritas Tidak Baik-baik Saja

    Hari Danau 2025: Kondisi 15 Danau Prioritas Tidak Baik-baik Saja

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup tengah mempersiapkan langkah untuk mengintensifkan upaya penyelamatan 15 danau prioritas nasional yang belum mencapai target strategi penyelamatan yang sudah ditetapkan.

    Merujuk Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 60 tahun 2021 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional 15 danau prioritas adalah Danau Toba (Sumatra Utara), Danau Singkarak dan Danau Maninjau (Sumatra Barat), dan Danau Kerinci (Jambi).

    Juga Danau Rawa Danau (Banten), Danau Rawa Pening (Jawa Tengah), Danau Tondano (Sulawesi Utara), Danau Kaskade Mahakam (Kalimantan Timur), Danau Sentarum (Kalimantan Barat).

    Enam danau lainnya adalah Danau Limboto (Gorontalo), Danau Poso (Sulawesi Tengah), Danau Tempe (Sulawesi Selatan), Danau Matano (Sulawesi Selatan), Danau Batur (Bali), dan Danau Sentani (Papua).

    Dalam puncak peringatan Hari Danau Sedunia 2025 sekaligus Rakornas Penyelamatan Danau Indonesia di Jakarta, Rabu (1/10/2025), Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengakui masih banyak danau di Indonesia berada dalam kondisi tidak baik.

    “15 danau prioritas tadi yang disebutkan, seluruhnya dalam kondisi tidak baik. Angka-angka tadi, penilaian secara administratif, tetapi secara fisik 15 danau tadi benar-benar belum kita sentuh dengan kegiatan nyata yang membawa dampak real untuk perubahan 15 danau tadi,” kata Hanif.

    Baca: Pemanasan global perburuk kondisi danau di seluruh dunia

    Beberapa danau bahkan mencatatkan nihil perkembangan dalam implementasi program penyelamatan, seperti Danau Maninjau yang dilaporkan hasil nol persen dalam kategori penataan ruang.

    Sementara Danau Batur dan Tondano hanya mencapai poin terendah yaitu 50 persen dalam kategori kebijakan dan anggaran.

    Di kategori penyelamatan ekosistem perairan, sempadan, dan tangkapan air, Danau Tondano kembali mencatat nilai terendah dengan poin 30 persen.

    Dalam kategori penerapan riset, pemantauan dan basis data, Danau Limboto dan Singkarak memperlihatkan capaian terendah dengan nilai nol persen.

    Untuk kategori pengembangan sosial ekonomi, penguatan kelembagaan dan peran masyarakat, Danau Singkarak menjadi yang terendah dengan capaian 33 persen.

    Secara khusus Hanif menyoroti hampir seluruh danau di Pulau Jawa berada kondisi mengkhawatirkan. Mulai dari adanya masalah sedimentasi, penggunaan keramba yang tidak terkontrol, dan masuknya spesies invasif yang menekan populasi satwa endemik.

    Baca: Pemanasan global mengakibatkan separuh danau di dunia mengering

    Kondisi itu, katanya, membuat penurunan kapasitas dan kualitas daya dukung serta daya tampung danau menurun yang dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

    Untuk itu dia memastikan akan mengambil respons cepat setelah rapat koordinasi yang dilakukan hari Rabu kemarin.

    Berkaca dari pengalaman yang dibagikan oleh para pakar, pihaknya akan memberikan waktu satu bulan kepada para pemangku kepentingan dari Kementerian/Lembaga (K/L) dan pemerintah daerah untuk memaparkan rencana strategis penyelamatan 15 danau prioritas tersebut.

    Dia memastikan KLH/BPLH akan melakukan koordinasi untuk memastikan rencana aksi tersebut dapat diimplementasikan di lapangan.

    “Kita minta disusun rencana konkret, saya minta waktu sebulan dari sekarang. Rencana aksi ini harus segera kita bicarakan di level expert nasional untuk mendapat review dari semua kementerian terlibat, sehingga langkah aksinya tidak hanya seremoni,” kata Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq.

    Baca: Hari Danau Sedunia lahir sebagai respons terhadap persediaan air yang menipis