Tag: das

  • DLHK Sumatera Utara Tanami DAS Asahan dengan Tanaman Bambu dan Beringin

    DLHK Sumatera Utara Tanami DAS Asahan dengan Tanaman Bambu dan Beringin

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sumatera Utara melakukan penanaman bibit tanaman bambu dan beringin di Desa Simangulampe, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara Yuliani Siregar mengatakan penanaman bibit bambu ini untuk pemulihan alam pascabanjir bandang dan longsor.

    “Pascabanjir bandang ini kami telah berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk melakukan penanaman bibit tanaman bambu dan beringin,” ujar Yuliani Siregar di Medan, Minggu (10/12/2023).

    Baca: Mengenal manfaat hutan bambu

    Menurutnya dua jenis tanaman ini mudah tumbuh dan akarnya kuat untuk menahan erosi di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) di lingkungan wilayah tersebut.

    “Selain itu, normalisasi sungai yang akan diperluas, dibuatkan dam untuk solusi penahan banjir sambil menunggu tanaman tersebut tumbuh,” tutur Yuliani.

    Pihaknya juga mengundang para pemangku kepentingan untuk membahas penanganan di kawasan yang terdampak pascabanjir bandang dan longsor.

    “Kami juga meminta masyarakat menjaga lingkungan seperti tidak menebang pohon sembarangan terutama di hutan lindung maupun di sekitar sungai,” ucapnya.

    Baca: Teknik daisugi, budidaya kayu hutan yang berkelanjutan

    Menurutnya dari pengamatan terjadi banjir bandang diakibatkan di antaranya curah hujan yang cukup tinggi di wilayah itu.

    “Di sana juga ada air terjun dan ada sungai yang mungkin mengarah ke desa. Di air terjun itu ada juga tebing dan bebatuan, mungkin saja karena tergerus hujan lebat bisa jadi batu itu sehingga menimbulkan erosi,” katanya.

    Sebelumnya, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Masyarakat  Sumatra Utara Basarin Yunus Tanjung mengatakan, dokumen pemetaan risiko bencana DAS Asahan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sangat bermanfaat untuk mitigasi bencana.

    “Kajian pemetaan risiko ini menjadi penting untuk pemerintah daerah dalam melakukan mitigasi bencana,” ujarnya.

    Baca: Bahaya deforestasi untuk lingkungan

    Ia menjelaskan pemetaan risiko bencana oleh BNPB merupakan panduan bagi kabupaten/kota untuk mengelola DAS Asahan Toba.

    Peta ini juga penting untuk mempertahankan daya dukung DAS dengan kondisi lahan, kualitas, kuantitas, kontinuitas air, sosial ekonomi, investasi bangunan air, dan pemanfaatan ruang wilayah yang berfungsi sebagaimana mestinya.

    Oleh karena itu pemetaan risiko bencana DAS Asahan Toba amat bermanfaat dan bersifat strategis bagi Pemprov Sumut serta 10 pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan dan pengendalian DAS lebih baik di masa mendatang

    “Sehingga dapat mengurangi risiko bencana di sepanjang DAS,” kata Basarin.

    Sumber: Antaranewscom

  • BMKG: Waspada! Cuaca Ekstrem di Beberapa Wilayah Termasuk Jabodetabek

    BMKG: Waspada! Cuaca Ekstrem di Beberapa Wilayah Termasuk Jabodetabek

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengajak masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah termasuk Jabodetabek hingga 16 Januari mendatang.

    Selain wilayah Jabodetabek, seluruh Pulau Jawa, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan sebagian Sulawesi Selatan juga berpotensi terjadi cuaca ekstrem.  

    Wilayah tersebut pada bulan Januari kini tengah berada di puncak musim hujan dengan waktu yang berbeda-beda.

    Direktur Meteorologi Publik pada BMKG, Andri Ramdhani di Jakarta menjelaskan cuaca ekstrem tersebut dapat berupa hujan lebat hingga sangat lebat disertai angin kencang dan petir.

    Baca: Peringatan Dini BMKG, Waspada Gelombang Tinggi Hingga 6 Meter

    Dia mengatakan dampak cuaca ekstrem bermacam-macam bisa berupa genangan, banjir, tanah longsor, pohon tumbang akibat angin kencang dan petir.

    “Ini tergantung pada kondisi masing-masing wilayah seperti kondisi dataran rendah, pemukiman dengan sistem drainase terbatas kemudian sekitar aliran sungai atau Daerah Aliran Sungai (DAS), daerah perbukitan yang tanahnya telah jenuh waspada dengan hujan terus menerus,” jelasnya.

    Lebih jauh Andri menjelaskan kondisi ini dipengaruhi oleh penguatan monsun Asia yaitu angin dari daratan Asia yang membawa uap air.

    “Ini setiap tahun datang periode musim hujan dan Januari ini lagi kuat-kuatnya. Ditambah dengan dinamika atmosfer. Ada Madden-Julian Oscillation (MJO) dan Rossby Equator sedang aktif tekanan rendah di sebelah selatan NTB, di Samudera Hindia,” terang Andri.

    Baca: Cuaca Tahun 2026 Lebih Bersahabat, Meski Tetap Waspada Cuaca Ekstrem

    “Ini mempengaruhi pola sirkulasi angin sehingga terjadi konvergensi atau perlambatan pola angin. Artinya ini yang berpotensi meningkatkan terbentuknya awan-awan hujan,” lanjutnya.

    BMKG mengimbau masyarakat agara meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan jika terdapat beberapa indikator terjadinya genangan atau banjir.

    “Indikator tersebut jika masyarakat melihat hujan yang tidak berhenti biasanya di pagi hari kalau musim hujan ya dinihari, pagi hari berlangsung kemudian agak mereda kembali di siang hari lalu nanti meningkat lagi di sore hingga menjelang malam hari,” urainya.

     

  • Ketahanan Ekologis Dimulai dari Rumah, Peran Perempuan Disorot

    Ketahanan Ekologis Dimulai dari Rumah, Peran Perempuan Disorot

    7cloud.asia – Perempuan memegang peranan penting dalam menjaga lingkungan. Salah satu contohnya adalah seorang ibu mendidik anaknya bagaimana menjaga lingkungan agar tetap lestari.

    Hal ini diungkapkan oleh Direktur Teknik Konservasi Tanah dan Reklamasi Hutan Kementerian Kehutanan RI, Sri Handayaningsih dalam Forum Nasional Perempuan Indonesia beberapa hari yang lalu.

    Dia menjelaskan peran ibu sebagai ‘madrasah’ pertama bagi anak-anaknya sebelum si anak duduk di bangku sekolah.

    Baca: Ketimpangan Geder Disebut Akar Krisis Iklim

    “Ketahanan ekologis menjadi fondasi penting masa depan bangsa. Perempuan memiliki posisi strategis karena terlibat langsung dalam pengelolaan pangan keluarga, air, energi rumah tangga, hingga ekonomi berbasis masyarakat,” jelas Sri dalam forum yang digelar di kantornya tersebut.

    Perempuan, lanjut Sri,  memiliki kontribusi nyata dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), rehabilitasi hutan dan lahan.

    Perempuan juga berperan dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti kopi, madu, minyak atsiri, rotan, dan serat alam yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat tanpa merusak kelestarian hutan.

    Baca: Koalisi Perempuan Indonesia Sebut Perempuan Masih Tersisih

    Sri juga mengajak masyarakat menjaga DAS sebagai penopang utama kehidupan dan keberlanjutan lingkungan.

    “Semua daratan terbagi dalam DAS. Karena itu menjaga DAS berarti menjaga keberlangsungan seluruh sektor kehidupan,” tegasnya.

    Pada kesempatan itu, Sri menjelaskan isu kehutanan dan lingkungan hidup memiliki hubungan erat dengan agenda pembangunan nasional dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

    Khususnya dalam mewujudkan swasembada pangan, energi, air, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.