Tag: Dengue

  • Kasus Dengue di Yogyakarta Turun Setelah Menerapkan Teknologi Bakteri Wolbachia

    Kasus Dengue di Yogyakarta Turun Setelah Menerapkan Teknologi Bakteri Wolbachia

    7cloud.asia – Kasus dengue di Yogyakarta turun di bawah incindent rate global 10 per 100.000 populasi. Penurunan ini karena adanya implementasi program penelitian bakteri Wolbachia dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

    “Anomali yang terjadi di Yogyakarta, yang berhasil menurunkan incident rate di bawah standar dunia secara konsisten, ini ternyata disebabkan oleh implementasi program penelitian Wolbachia dari teman-teman kita di UGM,” jelas Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin pada postingan Instagram-nya.

    Budi menjelaskan, sejak tahun 1968, insiden rate dengue di Indonesia terus menjauh dari standar dunia.

    Padahal berbagai upaya telah dilakukan pemerintah fogging atau pengasapan, larvasida/abate, hingga 3M Plus. Tetapi insiden rate dengue tetap saja jauh dari standar dunia.

    Baca: Teknologi baru nyamuk Aedes Aegypti mengandung bakteri Wolbachia kendalikan kasus demam berdarah

    Saat ini insiden rate dengue di Indonesia berada pada angka 28,5 per 100.000 populasi.

    “Bahkan, angka tersebut di Yogyakarta pernah menyentuh 300 sampai 400 per 100.000 populasi,” ungkapnya.

    Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Kemenkes RI, laju kasus dengue di Indonesia rata-rata mencapai 74.000 hingga 140.000 per tahun.

    Sejak bulan Januari hingga November 2023 kasus dengue mencapai 76.449 pasien dan 571 diantaranya berujung pada kematian.

    Baca: Aksi gerebek jumantik langkah sederhana berdampak besar untuk lingkungan

    Sebenarnya angka ini sudah menurun jika dibandingkan dengan tahun  2022 yang mencapai 143.300 pasien dan 1.236 diantaranya meninggal.

    Penurunan ini berkat adanya upaya menekan kasus dengue berupa pengasapan, larvasida, pemakaian kelambu, 3M plus, hingga Gerakan Satu Rumah Satu Jumatik.

    Bila kita ingat kematian anak di gagal ginjal akut berjumlah 200an orang, sedih rasanya melihat ribuan kematian anak-anak karena dengue.

    “Maka kita tiru suksesnya Yogyakarta menyelamatkan nyawa anak-anak mereka,” jelasnya.

    Baca: Suhu tinggi dan polusi picu pertumbuhan nyamuk malaria

    Karena itu, lanjut Budi, pemerintah memutuskan untuk menerapkan program wolbachia. Yaitu dengan memasukkan bakteri wolbachia ke tubuh nyamuk aedes aegypti.

    Nantinya bakteri ini akan  membuat nyamuk aedes aegypti tersebut tidak mampu lagi membawa virus dengue yang menimbulkan penyakit DBD.

    “Kebanyakan anak-anak yang wafat setiap tahun karena dengue. Kami menerapkan program wolbachia yang sukses di Yogyakarta,” ujarnya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Menuju Nol Kematian Demam Berdarah Dengue 2030: Diperlukan Pembenahan Tata Laksana Klinis

    Menuju Nol Kematian Demam Berdarah Dengue 2030: Diperlukan Pembenahan Tata Laksana Klinis

    7cloud.asia – Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), angka kematian akibat dengue di Indonesia telah menurun dari 0,9 persen pada 2021 menjadi 0,4 persen pada 2025. Angka penularan juga turun dari 92 kasus per 100.000 penduduk pada 2024 menjadi 57 kasus per 100.000 penduduk pada 2025.

    Namun demikian, Indonesia tetap tercatat sebagai negara dengan kasus demam berdarah dengue tertinggi di Asia Tenggara dan kedua tertinggi di dunia, serta menyumbang sekitar 17 persen dari total kematian dengue global pada 2025.

    Demikian terungkap dalam seminar dan workshop ASEAN Dengue Day (ADD) 2026 bertajuk “Menuju Nol Kematian Dengue 2030: Antara Impian atau Kenyataan?” yang berlangsung di Auditorium FK-KMK UGM, Senin (29/6/2026) lalu.

    Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor dan Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun, Ditjen Penanggulangan Penyakit, Kementerian Kesehatan, dr. Fadjar SM Silalahi mengatakan, meski angka kasus mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya, ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan agar tidak terjadi lonjakan kasus di masa mendatang.

    “Kalau kita lihat (data), Indonesia memiliki beban dengue tertinggi di Asia Tenggara. Ini menunjukkan betapa persoalan dengue ini harus terus menjadi perhatian kita,” katanya. 

    Dalam kesempatan itu dosen Departemen Kesehatan Anak FK-KMK UGM, Dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K) menekankan pentingnya tata laksana klinis dalam menekan angka kematian akibat dengue.

    Baca: Menekan Penularan Malaria dan Demam Berdarah di Tengah Tantangan Perubahan Iklim

    Menurutnya, perjalanan penyakit dengue berlangsung singkat dan dinamis sehingga diagnosis dini, pemantauan kondisi klinis, serta penanganan yang tepat menjadi faktor krusial untuk mencegah keterlambatan penanganan.

    “Dengue adalah penyakit infeksi akut, karena waktunya praksis tidak akan lebih dari 2 minggu, berbeda dengan HIV dan malaria yang bisa sampai berbulan-bulan,” ungkap Ida.

    Lebih jauh, Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam menangani dengue justru berada pada fase awal ketika gejala penyakit tersebut sulit dibedakan dengan penyakit infeksi lainnya yang juga banyak ditemukan di Indonesia.

    Selain tata laksana klinis, penguatan sistem rujukan juga dinilai berperan penting dalam menekan angka kematian.

    Dosen Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM, Dr. Diah Ayu Puspandari menyoroti masih banyak pasien yang langsung datang ke rumah sakit tanpa terlebih dahulu mengakses layanan primer.

    “Dari hasil kajian yang kami peroleh, ada sekitar 21,8 persen pasien yang langsung ke akses fasilitas kesehatan rujukan langsung, tanpa melalui puskesmas atau Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP),” jelasnya sembari menunjukkan data hasil kajian tim FKKMK UGM.

    Baca: Perubahan Iklim Memicu Penyebaran Demam Berdarah Dengue

    Kondisi tersebut, lanjut Diah, berdampak pada meningkatnya biaya pelayanan kesehatan.

    Karena itu, diperlukan penguatan peran FKTP, koordinasi antarfasilitas kesehatan, ketersediaan transportasi rujukan, peningkatan kapasitas fasilitas rujukan, serta pemanfaatan data dan sistem informasi agar pasien dapat dirujuk secara tepat waktu sehingga risiko kasus berat maupun kematian dapat ditekan.

    “Ini implikasinya adalah ke biaya pelayanan yang lebih tinggi,” ungkapnya.

    Dari sisi pembiayaan, Guru Besar FK UI, Prof. Hasbullah Thabrany menyampaikan bahwa target nol kematian dengue tidak cukup hanya mengandalkan kesiapan layanan klinis maupun sistem rujukan.

    Menurutnya, diperlukan dukungan pendanaan kesehatan yang memadai, efektif, dan efisien agar berbagai strategi pengendalian dengue dapat berjalan secara optimal. “Namun, coba kita lihat, apakah pendanaan untuk publik di bidang kesehatan sudah cukup?” tanyanya.

    Menurutnya, pendanaan publik melalui pemerintah dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) memiliki peran penting untuk memastikan upaya promotif, preventif, hingga kuratif dapat berlangsung secara berkelanjutan.

    Menurutnya, terdapat hubungan antara besarnya pendanaan dengan tingginya kasus dengue. “Angka kasus dan kematian tinggi ada korelasinya dengan pendanaan yang rendah,” papar Dosen Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM UI tersebut.