7cloud.asia – Pernyataan Kaesang Pangarep untuk “Siap menjadi Depok Pertama” sebagaimana dirilis di akun @kaesangp, menuai perhatian warganet dan menimbulkan beragam respons.
Pernyataan Kaesang Pangarep ini memang belum bisa dikatakan sebagai kesediaan ataupun deklarasi resmi pencalonan putra bungsu Presiden Jokowi itu untuk menjadi balon walikota Depok.
Tapi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang pertama kali mewacanakan Kaesang Pangarep menjadi orang nomor satu di Depok menilai, inisiatif pencalonan Kaesang ini mampu menggugah kesadaran warga bahwa Depok memang butuh perubahan.
“Terlepas dari serius atau enggaknya pernyataan Kaesang Pangarep ini, PSI yakin dan percaya bahwa Depok memang butuh perubahan ke arah yang lebih baik, dan maju!” demikian pernyataan Ketua DPP PSI, Cheryl Tanzil yang dirilis di akun Youtube PSI.
Baca: Respon PDIP dan PKS atas pencalonan Kaesang Pangarep
PSI menyebut, pencalonan Kaesang Pangarep menjadi balon walikota Depok mendapat tanggapan positif dari warga Depok. Respon ini oleh PSI dinilai sebagai tingginya harapan warga Depok untuk sebuah perubahan.
Bahkan, sejumlah partai nasional disebut juga mendukung pencalonan Kaesang Pangarep menjadi orang nomor satu di Depok.
“Inisiatif pencalonan Kaesang Pangarep dari pengurus PSI Depok ini dapet banyak dukungan dari warga Depok sendiri, dan bahkan dari partai-partai nasionalis lainnya,” demikian narasi PSI yang disebut dalam rekaman video tersebut.
Baca: PPP ingin Sandiaga Uno jadi cawapresnya Ganjar Pranowo
Ada sejumlah masalah yang menjadi sorotan PSI sehingga Depok butuh perubahan. Bahkan PSI menyebut, Depok memiliki masalah yang kompleks.
Yang pertama adalah status Kota Depok sebagai salah satu kota yang paling intoleran di Indonesia.
Menurut riset yang dilakukan SETARA, selam atiga tahun berturut-turut Depok menjadi kota paling intoleran. Beberapa kebijakan Pemkot Depok dinilai mendiskrimasi kelompok tertentu.
Selain itu PSI juga menyoroti tingginya angka pengangguran di Kota Depok. Disebutkan angka pengangguran terbuka di Kota Depok di atas angka rata-rata nasional.
Menurut catatan BPS, pada 2022 angka pengangguran di Depok mencapai 7,82 persen, sementara angka pengangguran nasional berada di kisaran 5,82 persen.
Baca: Internal PAN cenderung dukung Ganjar Pranowo – Erick Thohir
Masalah lainnya adalah pembangunan yang tidak merata. PSI melihat pembangunan di Kota Depok terlalu Margonda sentris, atau terlalu terpusat di jalan Margonda yang menjadi jalan utama di kota tersebut.
“Selain itu Depok juga menghadapi masalah kemacetan dan darurat sampah,” imbuh Cheryl.
Mengakhiri narasinya, Cheryl mengatakan keputusan akhir sepenuhnya ada di tangan Kaesang Pangarep. PSI tidak akan mendesak, apalagi Pilkada Serentak 2024 baru akan digelar pada November tahun depan, sehingga masih ada waktu untuk menunggu.
Meski nantinya Kaesang Pangarep tidak bersedia dicalonkan menjadi walikota Depok, Cheryl menegaskan bahwa PSI akan tetap mengajak dan mendorong anak muda untuk terjun ke dunia politik dan melakukan perubahan dari dalam struktur.
Baca: 6 nama dikaji untuk dampingi Ganjar Pranowo
Lantas bagaimana sebenarnya tanggapan warga Depok terhadap pencalonan Kaesang Pangarep ini?
Dalam wawancara 7cloud.asia dengan sejumlah warga Depok terungkap, pencalonan Kaesang Pangarep memberi harapan perubahan untuk warga Depok.
“Sesekali perlu ada warna baru di Depok, siapa tahu pemilih muda akan menjadi penyokong suaranya,” ujar Haribudi.
Tiwi, warga Depok lainnya mengungkap hal senada. Tiwi menyebut, Depok butuh terobosan untuk keluar dari stagnasi. Namun, diakuinya jalan yang harus ditempuh Kaesang Pangarep untuk mejadi Depok 1 tidak akan mudah.
“Kalau melihat ‘iklim’ di Depok yang notabene PKS mengakar kuat dan dari kapabilitas Kaesang belum terbukti, tidak akan mudah. Tapi perlu dicoba, siapa tahu dia didukung anak muda,” ujarnya.
Tiwi juga menyoroti mengapa PSI mencalonkan Kaesang yang adalah putra Presiden. banyak pihak menyebut pencalonan Kaesang Pangarep akan menmbangun dinasti politik di keluarga Jokowi. Hal ini, menurutnya, tak sehat untuk iklim demokrasi di Indonesia.
Baca: Akankah polarisasi masih warnai Pemilu 2024?
Selama lima periode atau 25 tahun terakhir Kota Depok menjadi wilayah kekuasaan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Namun, keberhasilan PKS ini juga menuai kritik, karena kinerjanya dinilai tidak memuaskan.
Bahkan sejumlah kalangan menilai, selama ini Kota Depok adalah kota autopilot atau kota yang berjalan sendiri karena Pemkotnya tidak bekerja secara optimal.
Jadi inikah momen untuk Kota Depok dan warganya untuk berubah? Kita tunggu saja hasilnya di Pilkada 2024 mendatang.



