Tag: dewan keamanan pbb

  • Dewan Keamanan PBB Setujui Resolusi Bantuan Kemanusiaan untuk Gaza, AS dan Rusia Abstain

    Dewan Keamanan PBB Setujui Resolusi Bantuan Kemanusiaan untuk Gaza, AS dan Rusia Abstain

    7cloud.asia – Setelah negosiasi yang intens selama berhari-hari, Dewan Keamanan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) meloloskan resolusi tentang bantuan untuk Gaza.

    Dilansir VOA Indonesia, pembicaraan intens di Dewan Keamanan PBB mengenai jeda kemanusiaan dan pengiriman bantuan ke Jalur Gaza akhirnya membuahkan hasil pada Jumat (22/12/2023).

    Dewan Keamanan PBB, yang beranggotakan 15 negara, menyetujui resolusi bantuan untuk Gaza itu pada Jumat (22/12/2023) setelah Amerika Serikat (AS) dan Rusia abstain dalam pemungutan suara.

    “Hari ini, dewan menyerukan langkah-langkah-langkah mendesak untuk segera memungkinkan akses bantuan kemanusiaan yang aman, tanpa hambatan dan memperluas akses kemanusiaan serta menciptakan kondisi untuk penghentian permusuhan yang berkelanjutan,” kata Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield, menggarisbawahi untuk pertama kalinya dewan menggunakan bahasa seperti itu.

    Thomas-Greenfield menegaskan para sandera harus segera dibebaskan, dan baik Israel maupun Hamas harus menghormati hukum kemanusiaan internasional.

    Dia menambahkan bahwa AS “sangat kecewa” karena resolusi itu tidak mengutuk serangan teror Hamas pada 7 Oktober yang menewaskan 1.200 orang di Israel.

    Baca: AS veto resolusi Dewan Keamanan PBB untuk gencatan senjata

    Rusia, yang menginginkan kritik lebih keras terhadap Israel dalam resolusi itu, juga abstain dalam pemungutan suara.

    Rusia menyebut draf akhir resolusi yang mencantumkan amandemen yang diusulkan oleh Washington sebagai “sangat dikebiri” dan “tak bergigi.”

    “Teks rancangan tersebut tidak lagi merujuk pada kecaman atas semua serangan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil,” kata Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzy, yang berbicara melalui penerjemah.

    “Sinyal apa yang dikirimkan oleh hal ini kepada komunitas internasional? Bahwa Dewan Keamanan memberikan lampu hijau kepada Israel untuk melakukan kejahatan perang?”

    Duta Besar Rusia mengecam anggota dewan karena tindakan mereka yang “mencap keputusan yang nyaman bagi Washington.”

    Thomas-Greenfield menepis “kata-kata kasar” Nebenzya. “Rusia juga menciptakan kondisi yang mereka keluhkan saat ini dalam perang yang tidak beralasan di Ukraina,” katanya membalas ucapan Nebenzy.

    Baca: Gaza terputus dari bantuan makanan dan obat-obatan

    Menghindari veto AS

    Para diplomat, sejak Senin (18/12/2023) telah mengerjakan resolusi yang dirancang oleh Uni Emirat Arab, berupaya menghindari penggunaan bahasa yang menyebabkan AS berulang kali memveto pemungutan suara Dewan Keamanan PBB sejak Israel melancarkan operasi militer ke Gaza.

    Operasi militer yang telah berlangsung selama 10 minggu itu menewaskan lebih dari 20.000 orang di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan di wilayah itu.

    Dua poin yang mengganjal bagi Israel dan AS adalah seruan untuk menghentikan kekerasan dan perselisihan mengenai siapa yang akan mengawasi pengiriman barang-barang ke Gaza untuk menyaring senjata dan peralatan lain yang akan membantu Hamas.

    Saat ini, Israel mengawasi dengan sangat ketat konvoi pengiriman barang-barang ke Gaza.

    Alih-alih menuntut gencatan senjata, rancangan akhir resolusi menyerukan pihak-pihak yang bertikai untuk menciptakan “kondisi-kondisi bagi penghentian kekerasan yang berkelanjutan.”

    Baik Amerika Serikat maupun Israel saat ini tidak mendukung gencatan senjata di Gaza

    Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres akan menunjuk seorang senior koordinator untuk membentuk mekanisme PBB untuk mempercepat penyediaan bantuan kemanusiaan.

    Pada rancangan resolusi awal, Guterres punya hak eksklusif untuk mengontrol seluruh pemeriksaan truk bantuan.

    Baca : 80 persen warga Gaza terusir dari tempat tinggalnya

    Menyusul pemungutan suara, Duta Besar Israel untuk PBB Gilad Erdan mengucapkan terima kasih kepada AS karena berpihak kepada Israel dan “mempertahankan garis tegas” bagi kewenangan Israel untuk memeriksa bantuan yang memasuki Gaza.

    Bahasa yang lunak. Seorang sumber diplomatik yang meminta tidak diungkap identitasnya mengatakan kepada VOA bahwa tindakan AS memperlunak bahasa yang digunakan dalam rancangan resolusi.

    Penggunaan bahasa yang lunak terutama menghindari seruan gencatan senjata ini telah memantik kemarahan negara-negara anggota PBB lainnya.

    Thomas-Greenfield menolak tuduhan bahwa teks final telah diperlunak. “Sebuah resolusi yang sangat kuat yang didukung penuh oleh kelompok Arab,” katanya kepada para wartawan pada Kamis (21/12/2023) malam.

    Dalam konferensi pers usai pemungutan suara, Guterres mengulangi seruan untuk pemberlakuan gencatan senjata sebagai satu-satunya cara untuk memenuhi “kebutuhan mendesak masyarakat di Gaza dan mengakhiri mimpi buruk mereka yang terus berlanjut.”

    Pemimpin PBB itu melontarkan kata-kata keras kepada Israel yang menegaskan bahwa operasi militernya “menciptakan hambatan masif” bagi warga Gaza yang sangat membutuhkan bantuan.

    “Operasi bantuan di Gaza membutuhkan keamanan; anggota staf yang bisa bekerja dengan aman; kapasitas logistik, dan dimulainya kembali aktivitas komersial,” kata Guterres.

    “Ini adalah empat elemen yang tidak ada.”

    Ketika ditanya apakah Hamas berperan memblokir bantuan, Guterres mengatakan “tentunya bukan faktor yang utama.”

    Guterres menambahkan “penggunaan warga sipil sebagai tameng manusia oleh Hamas dan penembakan roket yang terus berlangsung ke target-target warga sipil “tidak pernah menjadi pembenaran hukuman kolektif bagi rakyat Palestina.”

    “Jangan membebaskan Israel dari kewajiban hukumnya.”

  • AS Abstain, Dewan Keamanan PBB Sukses Lahirkan Resolusi Gencatan Senjata di Gaza

    AS Abstain, Dewan Keamanan PBB Sukses Lahirkan Resolusi Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Dewan Keamanan PBB, Senin (25/3/2024) menyepakati resolusi yang menuntut gencatan senjata segera antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas.

    Dewan Keamanan PBB ini juga menuntut pembebasan seluruh sandera Hamas dengan segera dan tanpa syarat, pasca gencatan senjata ini.

    Resolusi Dewan Keamanan PBB ini disahkan setelah Amerika Serikat memutuskan abstain dari pemungutan suara terhadap resolusi DK tersebut.

    Sementara itu, 14 negara anggota DK PBB lainnya memberi suara mendukung resolusi yang diusulkan 10 negara anggota tidak tetap Dwan Keamanan PBB.

    Baca: Sekjen PBB akui tak punya kuasa hentikan serangan Israel ke Gaza

    Pada berbagai kesempatan sebelumnya, Washington menolak istilah “gencatan senjata” dalam perang di Jalur Gaza yang sudah berlangsung selama hampir enam bulan.

    AS juga menggunakan hak vetonya untuk melindungi Israel, sekutu dekatnya dalam upayanya membalas serangan Hamas pada 7 Oktober yang disebut Israel telah menewaskan 1.200 orang.

    Akan tetapi, di tengah meningkatnya tekanan global untuk gencatan senjata dalam perang yang telah menewaskan 32.000 warga Palestina itu, AS akhirnya abstain dari pemungutan suara pada hari Senin (25/3/2024).

    Sikap AS ini memungkinkan Dewan Keamanan PBB menuntut gencatan senjata segera selama bulan suci Ramadan, yang akan berakhir dua minggu lagi.

    Baca: Kelaparan di Gaza sudah sangat parah

    DK PBB juga menuntut pembebasan seluruh sandera dengan segera dan tanpa syarat. Israel mengatakan Hamas menculik 253 orang pada serangan 7 Oktober lalu.

    Resolusi DK PBB juga “menekankan kebutuhan mendesak untuk membuka distribusi bantuan kemanusiaan dan memperkuat perlindungan warga sipil di seluruh Jalur Gaza.

    Resolusi itu juga menegaskan kembali tuntutannya untuk mencabut semua hambatan atas penyediaan bantuan kemanusiaan dalam skala besar.”

    Sesaat sebelum pertemuan Dewan Keamanan PBB dimulai, radio militer Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan membatalkan pengiriman delegasi Israel ke Washington apabila AS tidak memveto resolusi tersebut.

    Baca: Israel jadikan kelaparan sebagai senjata perang barunya di Gaza

    AS sudah tiga kali memveto draf resolusi Dewan Keamanan PBB terkait perang israel dan Hamas di Gaza.

    AS juga telah dua kali menyatakan abstain, sehingga memungkinkan Dewan Keamanan PBB mengadopsi sejumlah resolusi yang bertujuan untuk meningkatkan bantuan ke Gaza dan menyerukan jeda pertempuran yang diperpanjang.

    Rusia dan China juga telah memveto dua draf resolusi AS terkait konflik Isral-Hamas pada Oktober dan Jumat (22/3/2024) lalu.

    Sumber: skynews. 

  • Kelompok Hamas Sambut Baik Proposal Gencatan Senjata yang Diajukan Dewan Keamanan PBB

    Kelompok Hamas Sambut Baik Proposal Gencatan Senjata yang Diajukan Dewan Keamanan PBB

    7cloud.asia – Dewan Keamanan PBB pada Senin (10/6/2024) mendukung proposal gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza yang sebelumnya dipaparkan Presiden AS Joe Biden.

    VOA Indonesia melansir Reuters, menyebut Dewan Keamanan PBB mendesak kelompok Hamas untuk menerima proposal gencatan senjata yang bertujuan untuk mengakhiri perang selama delapan bulan terakhir.

    Hamas menyambut baik penerapan resolusi yang disusun AS tersebut dan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya siap bekerja sama dengan para mediator dalam menerapkan prinsip-prinsip rencana tersebut.

    Rusia abstain dalam pemungutan suara di Dewan Keamanan PBB, sementara 14 anggota DK PBB lainnya mendukung resolusi rencana gencatan senjata tiga tahap yang diuraikan Biden pada 31 Mei lalu.

    Rencana gencatan senjata ini oleh Biden disebut sebagai inisiatif Israel.

    Baca: Jemaah haji dari seluruh dunia berdoa untuk Gaza

    “Hari ini kita memilih perdamaian,” kata Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield di hadapan dewan setelah pemungutan suara.

    Isi resolusi Dewan Keamanan PBB menyambut baik proposal gencatan senjata yang baru, menyatakan bahwa Israel telah setuju.

    Dan menyerukan kepada Hamas untuk juga menyepakatinya dan “mendesak kedua pihak untuk sepenuhnya melaksanakan semua ketentuan tanpa penundaan dan tanpa syarat.”

    Aljazair, satu-satunya anggota dewan dari jazirah Arab, mendukung resolusi tersebut karena “kami percaya ini selangkah lebih dekat menuju gencatan senjata segera dan permanen,” ungkap Duta Besar Aljazair untuk PBB Amar Bendjama kepada dewan.

    “Ini memberi secercah harapan kepada warga Palestina,” ungkapnya. “Ini saatnya untuk menghentikan pembantaian.”

     

    Baca: Operasi bebaskan 4 sandera, militer Israel tewaskan lebih dari 200 warga Palestina

    Resolusi itu juga merinci proposal yang diajukan dan menyebutkan bahwa “apabila negosiasi memakan waktu lebih lama dari enam pekan untuk fase pertama, maka gencatan senjata akan diteruskan selama negosiasi berlanjut.”

    Thomas-Greenfield mengatakan bahwa hasil pemungutan suara itu menunjukkan kepada Hamas bahwa komunitas internasional bersatu.

    Dia mengatakan, dunia bersatu dalam sebuah kesepakatan yang akan menyelamatkan banyak nyawa dan membantu warga sipil Palestina di Gaza untuk memulai proses pembangunan kembali dan pemulihan.

    ”Bersatu dalam sebuah kesepakatan yang akan mempersatukan kembali para sandera dengan keluarga mereka setelah delapan bulan disandera,” ujarnya.

    Maret lalu, DK PBB menuntut gencatan senjata segera dan pembebasan tanpa syarat seluruh sandera yang disekap Hamas.

    Baca: AS ingatkan Israel agar tak biarkan otoritas Palestina tumbang

    Selama berbulan-bulan, para perunding dari AS, Mesir dan Qatar telah berusaha memediasi gencatan senjata.

    Hamas menginginkan diakhirinya perang di Jalur Gaza secara permanen dan penarikan diri Israel dari wilayah kantong yang menjadi tempat tinggal 2,3 juta orang itu.

    Israel melancarkan serangan balasan terhadap Hamas, yang menguasai Gaza, atas serangan 7 Oktober yang dilakukan kelompok militan itu.

    Lebih dari 1.200 orang tewas dan lebih dari 250 lainnya diculik Hamas pada serangan 7 Oktober, menurut data Israel. Lebih dari 100 orang sandera diyakini masih ditahan di Gaza.

    Israel meluncurkan serangan udara, darat dan laut ke wilayah Palestina itu dan menewaskan lebih dari 37.000 warga Palestina, menurut kementerian kesehatan Gaza.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Kondisi Palestina Terus Memburuk, Menlu RI Pertanyakan Kepemimpinan Dewan Keamanan PBB

    Kondisi Palestina Terus Memburuk, Menlu RI Pertanyakan Kepemimpinan Dewan Keamanan PBB

    7cloud.asia – Indonesia mempertanyakan bagaimana kepemimpinan Dewan Keamanan (DK) PBB dalam menciptakan perdamaian ketika kondisi di Palestina terus memburuk.

    Pernyataan tegas tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat berpidato di hadapan forum Debat Terbuka Tingkat Tinggi DK PBB di Markas Besar PBB New York, Rabu (25/9).

    “Kita semua di sini membicarakan tentang kepemimpinan dalam isu perdamaian. Namun, damai itu tidak pernah dirasakan oleh Bangsa Palestina,” ujar Menlu.

    Baca: Gaza dan Ukraina jadi pembahasan di sidang umum PBB

    Dengan kondisi mengkhawatirkan di Palestina di mana 41.000 orang telah kehilangan nyawa dan jutaan orang lainnya mengungsi, serta akses terhadap bantuan diputus, menurut Retno, “Kita layak mempertanyakan rasa kemanusiaan dunia”.

    “Jika kita tidak bisa melaksanakan hal yang dimandatkan DK PBB untuk menciptakan perdamaian, apa lagi yang tersisa dari kepemimpinan DK dalam isu perdamaian?” Retno mempertanyakan.

    Karena itu, Indonesia menawarkan cara-cara untuk mengembalikan kredibilitas dan kepercayaan atas DK PBB dengan mengupayakan kepemimpinan yang lebih demokratis serta mengikutsertakan lebih banyak pihak.

    Baca: Dunia gagal melindungi warga sipil di Gaza yang tak bersalah

    “Indonesia menyerukan mekanisme yang lebih demokratis untuk pengambilan keputusan yang efektif supaya tidak ada kelambanan dalam menghadapi ancaman besar terhadap kedamaian dan keamanan internasional,” ucap Menlu.

    Retno menutup pidatonya dengan satu penegasan bahwa dunia tidak perlu repot-repot mencari cara untuk menciptakan perdamaian di masa depan, karena langkah-langkah itu harus dimulai sejak saat ini juga.

    Sumber: Antaranews

  • Aljazair Usulkan Resolusi Dewan Keamanan PBB untuk Hentikan Semua Pembatasan di Gaza

    Aljazair Usulkan Resolusi Dewan Keamanan PBB untuk Hentikan Semua Pembatasan di Gaza

    7cloud.asia – Aljazair mengusulkan sebuah resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan pencabutan segera dan tanpa syarat semua pembatasan yang menghambat pengiriman bantuan ke Gaza.

    Menurut dokumen yang diperoleh koresponden RIA Novosti pada Jumat (23/5/2025) rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB tersebut ‘menuntut pencabutan segera dan tanpa syarat seluruh larangan masuk bantuan kemanusiaan dan pendistribusiannya di Jalur Gaza

    Juga menyerukan perbaikan listrik, pasokan air bersih, dan layanan penting lainnya sesuai dengan hukum humaniter internasional dan resolusi yang relevan oleh DK PBB.”

    Baca: Israel disebut sengaja menciptakan kelaparan di Gaza

    Lebih jauh dokumen rancangan tersebut menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi bencana kemanusiaan dan perkembangan terakhir di Jalur Gaza setelah pelanggaran perjanjian gencatan senjata,”

    Resolusi itu juga menyerukan semua pihak mematuhi tanggung jawab di bawah hukum internasional.

    Yang terakhir, dokumen tersebut menyatakan mendukung upaya mediasi oleh Mesir, Qatar, dan AS “untuk segera membawa kembali para pihak dalam pelaksanaan perjanjian gencatan senjata dengan semua tahapannya”, sebagaimana tercantum dalam resolusi Dewan Keamanan 2735.

    Baca: Israel batasi jumlah bantuan yang bisa masuk ke Gaza

    Karena draf dokumen tersebut masih berupa usulan, perubahan mungkin muncul sebelum diajukan untuk pemungutan suara.

    Sebelumnya pada Kamis, Misi Israel di PBB menyampaikan pernyataan kepada wartawan, yang menyatakan ketidaksetujuannya dengan rancangan resolusi yang diusulkan Aljazair.

    Pernyataan tersebut mengatakan bahwa resolusi kemanusiaan tersebut akan diputuskan pada Rabu, 28 Mei.

    Masyarakat internasional sudah berulang kali mendesak Israel untuk menghentikan blokade terhadap Gaza, namun hingga hari ini Israel tidak bergeming

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik

  • Hamas Sebut Resolusi Dewan Keamanan PBB Soal Gaza Tak Sesuai Keinginan Rakyat Palestina

    Hamas Sebut Resolusi Dewan Keamanan PBB Soal Gaza Tak Sesuai Keinginan Rakyat Palestina

    7cloud.asia – Kelompok perjuangan kemerdekaan Palestina, Hamas, mengecam resolusi terkait pemulihan Gaza yang disahkan oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) baru-baru ini.

    Dalam pernyataannya, Hamas menyebut Resolusi Dewan Keamanan PBB tersebut tidak sesuai dengan kehendak ataupun tuntutan rakyat Palestina.

    “Resolusi tersebut tidak menjawab tuntutan dan hak politik maupun kemanusiaan rakyat Palestina, khususnya mereka yang berada di Jalur Gaza,” kata pernyataan Hamas pada Senin (17/11/2025).

    “Resolusi ini memberlakukan mekanisme perwalian internasional di Jalur Gaza, sesuatu yang ditolak oleh rakyat kami maupun faksi-faksi mereka,” menurut organisasi Palestina tersebut.

    Baca: Otoritas Palestina desak komunitas internasional tekan Israel percepat masuknya bantuan

    Diketahui, Dewan Keamanan PBB, Senin (17/11/2025) mengadopsi resolusi yang disponsori Amerika Serikat (AS) untuk membentuk Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilisation Force/ISF) di Jalur Gaza.

    Resolusi tersebut memberi dasar bagi pembentukan ISF yang akan beroperasi di Gaza melalui kerja sama dengan Israel dan Mesir, serta dengan mandat awal selama dua tahun.

    Pasukan tersebut bertugas mengamankan perbatasan Gaza, melindungi warga sipil, menyalurkan bantuan kemanusiaan, melatih kembali kepolisian Palestina, serta mengawasi proses pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya.

    Sebanyak 13 negara anggota Dewan Keamanan PBB mendukung resolusi tersebut, sementara Rusia dan China menyatakan abstain.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

  • 1.095 Personel Penjaga Perdamaian Tewas Saat Bertugas: Dewan Keamanan PBB Adopsi Resolusi untuk Perlindungan

    1.095 Personel Penjaga Perdamaian Tewas Saat Bertugas: Dewan Keamanan PBB Adopsi Resolusi untuk Perlindungan

    7cloud.asia – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (23/6/2026), secara bulat mengadopsi resolusi yang bertujuan memperkuat akuntabilitas atas kejahatan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB.

    Resolusi yang didukung 15 anggota Dewan Keamanan PBB ini sekaligus menegaskan pentingnya penyelidikan dan penuntutan terhadap serangan yang menargetkan personel dalam operasi perdamaian.

    Resolusi yang disusun bersama oleh Pakistan dan Denmark tersebut mendapat dukungan seluruh 15 anggota Dewan Keamanan dan turut disponsori oleh lebih dari 100 negara anggota PBB.

    Menurut data PBB, sebanyak 1.095 personel penjaga perdamaian tewas akibat tindakan yang disengaja sejak 1948, termasuk 359 orang sejak 2013. Sementara itu, beberapa ribu personel lainnya mengalami luka-luka.

    Menjelang pemungutan suara, Duta Besar Pakistan untuk PBB Asim Iftikhar Ahmad mengatakan Dewan Keamanan harus melangkah lebih jauh daripada sekadar menyampaikan keprihatinan.

    “Rancangan resolusi ini bertujuan mendorong Dewan melampaui pernyataan yang hanya mengecam serangan-serangan tersebut. Pernyataan Dewan memang penting dan belasungkawa memang diperlukan, tetapi itu saja tidak cukup,” ujarnya.

    Ahmad menjelaskan bahwa resolusi tersebut memperkenalkan langkah-langkah praktis untuk memperkuat mekanisme akuntabilitas yang sudah ada.

    Hal ini termasuk kewajiban pelaporan tahunan oleh Sekretaris Jenderal PBB mengenai penyelidikan dan proses hukum terkait pembunuhan serta tindak kekerasan terhadap pasukan penjaga perdamaian.

    Setelah resolusi disahkan, Duta Besar Denmark untuk PBB Christina Markus Lassen menyambut baik adopsi atas resolusi tersebut dan menyampaikan apresiasi kepada anggota Dewan Keamanan atas keterlibatan mereka selama proses negosiasi.

    “Dukungan bulat terhadap resolusi ini mengirimkan pesan yang kuat dan penting kepada lebih dari 50.000 personel yang saat ini bertugas dalam misi penjaga perdamaian,” katanya.

    Lassen menambahkan bahwa Denmark merasa senang dapat bekerja sama erat dengan Pakistan dalam inisiatif tersebut sebagai bagian dari kerja sama kedua negara dalam isu-isu penjaga perdamaian di Dewan Keamanan.

    Resolusi yang diadopsi sebagai Resolusi PBB Nomor 2823 itu mengecam seluruh bentuk serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB dan memberikan penghormatan kepada personel yang gugur saat menjalankan tugas.

    Resolusi tersebut menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang serta menempatkan akuntabilitas sebagai instrumen penting untuk mencegah kekerasan di masa depan dan meningkatkan keselamatan serta keamanan misi-misi PBB.

    Dokumen itu juga menyerukan kepada seluruh pihak terkait untuk bekerja sama dengan PBB dalam upaya menegakkan akuntabilitas.

    Dokumen itu juga kembali menegaskan tanggung jawab negara tuan rumah untuk menyelidiki kejahatan semacam itu dan membawa para pelakunya ke hadapan hukum sesuai ketentuan hukum nasional maupun internasional.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu