Tag: dingin

  • Musim Kemarau, Tapi Udara Terasa Dingin? Ini Penyebabnya

    Musim Kemarau, Tapi Udara Terasa Dingin? Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Beberapa pekan terakhir ini udara dingin kerap dirasakan oleh warga di sejumlah wilayah di Indonesia. Padahal saat ini tengah memasuki musim kemarau. Hal ini akibat adanya fenomena bediding.

    Dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) fenomena bediding adalah kondisi di mana suhu lingkungan terasa lebih dingin dari biasanya, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa.

    Fenomena bediding ditandai dengan rendahnya intensitas hujan. Kurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi panas dari permukaan bumi tidak terperangkap, sehingga suhu udara menjadi lebih dingin.

    Baca: Wisatawan berburu embun beku di dataran tinggi Dieng

    Fenomena ini terjadi selama musim kemarau, ketika angin monsun timuran membawa udara kering dan dingin. Munculnya angin monsun ini karena 4 faktor, yaitu udara kering, langit cerah, dan topografi.

    Di Pulau Jawa, suhu terendah yang tercatat selama fenomena bediding bisa mencapai sekitar 11-15°C. Suhu dingin yang ekstrem ini akan mencapai puncaknya pada Agustus nanti.

    Fenomena bediding umum terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah yang berdekatan dengan khatulistiwa hingga bagian utara.

    Baca: Mengenal fenomena embun es di Dieng dan dampaknya

    Pada wilayah ini, pada pagi hari udara cenderung lebih dingin dari biasanya. Kemudian siang harinya udara akan terasa lebih panas.

    Tak hanya di Pulau Jawa, fenomena bediding juga terjadi di daerah dataran tinggi di Indonesia bagian selatan lainnya, seperti Bali, NTB dan NTT.

     

     

  • Fenomena Bediding, Ini Dampaknya Bagi Kesehatan

    Fenomena Bediding, Ini Dampaknya Bagi Kesehatan

    7cloud.asia – Fenomena bediding yang kini tengah terjadi di wilayah Pulau Jawa, Bali, NTB dan NTT berdampak buruk yang serius bagi kesehatan.  

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat beberapa fakta penting tentang dampak fenomena perubahan udara menjadi lebih dingin pada pagi serta malam hari ini terhadap kesehatan.

    Udara dingin ekstrem seperti ini dapat mempengaruhi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.

    Baca: Penyebab udara dingin di musim kemarau

    Fenomena yang terjadi di musim kemarau ini membuat kondisi alam menjadi kering dan menyebabkan kurangnya pasokan air.

    Hal ini dapat menyebabkan imunitas tubuh menjadi turun dan orang yang memiliki kondisi tubuh kurang fit dapat dengan mudah terserang penyakit seperti diare, infeksi saluran pernapasan, flu/pilek, hingga muntaber.

    Selain itu, udara dingin juga bisa memengaruhi indeks kenyamanan tubuh. Karena itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat agar terhindar dari berbagai penyakit tersebut:

    Baca: Kiat menjaga kesehatan di musim pancaroba

    1. Menjaga asupan makanan empat sehat lima sempurna untuk membantu pencernaan dan daya tahan tubuh lebih baik
    2. Memperbanyak konsumsi air putih tanpa harus menunggu haus terlebih dahulu agar dapat meningkatkan cairan tubuh. 
    3. Perhatikan pola tidur dan jangan sampai kelelahan.
    4. Mengonsumsi vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. 
    5. Kenakan pakaian tebal dan hangat, karena dapat mempengaruhi kondisi tubuh saat diluar (terutama pada malam hari).

     

  • Tak Hanya Pada Manusia, Fenomena Bediding Juga Berdampak Pada Pertanian dan Peternakan

    Tak Hanya Pada Manusia, Fenomena Bediding Juga Berdampak Pada Pertanian dan Peternakan

    7cloud.asia – Udara yang terasa lebih dingin akibat adanya fenomena bediding beberapa minggu terakhir ini berdampak buruk pada sektor pertanian dan peternakan.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat beberapa fakta penting tentang dampak fenomena perubahan udara menjadi lebih dingin pada pagi serta malam hari ini terhadap pertanian dan peternakan.

    Seperti yang terjadi di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Di tempat ini setiap musim kemarau terjadi fenomena embun es atau frost.

    Kondisi ini dapat merusak tanaman, menyebabkan layu atau bahkan kematian tanaman sehingga berdampak pada hasil panen serta kesejahteraan petani.

    Baca: Musim kemarau, udara terasa lebih dingin? Ini penyebabnya

    Untuk mengatasi embun es ini, petani dapat mengupayakan berbagai cara untuk melindungi tanamannya.

    Misalnya dengan menutupi tanaman dengan plastik atau kain pada malam hari untuk melindungi dari embun es.

    Upaya lainnya adalah dengan menyemprotkan air ke tanaman pada pagi hari. Hal ini dilakukan untuk memecah embun es serta menjaga tanaman agar tidak kering karena udara dingin.

    Tak hanya petani. Peternak pun ikut terdampak dengan fenomena bediding. Hewan ternak mereka terancam mati akibat udara yang dingin ekstrem.

    Hewan ternak yang paling rentan terhadap cuaca dingin ekstrem adalah  unggas. Karena itu peternak harus mengantisipasinya.

    Baca: Dampak fenomena bediding bagi kesehatan

    Salah satu caranya adalah dengan memastikan hewan ternaknya mendapatkan perlindungan yang cukup dari suhu dingin.

    Pastikan kandang hewan hangat dan nyaman serta memiliki ventilasi yang baik. Jika perlu sediakan sumber panas di kandang hewan.

    Dengan demikian hewan ternak terlindungi dari angin dingin terutama pada malam dan pagi hari.

    Seperti yang diberitakan sebelumnya, fenomena bediding adalah kondisi di mana suhu lingkungan terasa lebih dingin dari biasanya, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa.

    Baca: Dampak fenomena embun es bagi pertanian

    Fenomena bediding ditandai dengan rendahnya intensitas hujan. Kurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi panas dari permukaan bumi tidak terperangkap, sehingga suhu udara menjadi lebih dingin.

    Fenomena ini terjadi selama musim kemarau, ketika angin monsun timuran membawa udara kering dan dingin.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • Suhu Udara Dingin Landa Kawasan Gunung Gede, Pendaki Diimbau Waspada

    Suhu Udara Dingin Landa Kawasan Gunung Gede, Pendaki Diimbau Waspada

    7cloud.asia – Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mencatat adanya penurunan suhu udara yang menurun ekstrem hingga membeku. Pendaki harus waspada dan mengantisipasinya.

    Humas Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP), Deni menjelaskan penurunan suhu terutama pada pagi hari di kawasan alun-alun Suryakancana.

    Melansir Antaranews, udara dingin tersebut bahkan sudah dapat dirasakan pengunjung di kawasan pintu masuk pendakian Cibodas dan Gunung Putri.

    “Suhu di kawasan Alun-alu Suryakancana sempat dilaporkan sampai 0 derajat saat pagi hari, penurunan suhu terjadi lebih dingin dibandingkan biasanya, untuk pastinya kami masih menunggu laporan petugas,” jelasnya.

    Baca: Dampak fenomena bediding terhadap pertanian dan peternakan

    Karena itu dia mengimbau kepada para pendaki agar dapat ekstra hati-hati dalam melakukan aktivitas pendakian.

    Selain itu, pendaki juga harus patuhi aturan dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku serta mematuhi anjuran petugas di pintu masuk pendakian.

    Setiap pendaki diminta untuk mempersiapkan diri dengan matang termasuk kesehatan fisik, teknis dan perlengkapan yang dibutuhkan dipastikan sesuai standar keselamatan agar terhindar dari hipotermia karena suhu dingin.

    “Kami juga menempatkan petugas di sepanjang jalur pendakian hingga Alun-alun Suryakancana, guna memastikan pendakian masih dapat dilakukan serta mengimbau pendaki menggunakan peralatan terutama pakaian yang dapat menghangatkan tubuh,” urainya.

    Baca: Penyebab udara dingin di musim kemarau

    Membekunya kawasan Alun-alun Surakancana Gunung Gede ini sempat dibagikan sejumlah pendaki di akun media sosialnya seperti yang disiarkan pendaki asal Bogor Muhammad Fikri.

    Saat pagi dan malam hari tenda yang ditempatinya diselimuti es. Bahkan menurutnya saat pagi hari rerumputan di kawasan tersebut dipenuhi embun yang membeku.

    Hal ini akibat suhu udara yang turun drastis sedangkan pada malam hari suhu lebih dingin sehingga dia dan sejumlah rekannya terpaksa menggunakan jaket rangkap dua.

    “Biasanya tidak sedingin ini, saat malam hari lebih dingin, ketika pagi di atas tenda tertutup es termasuk di rerumputan, es tersebut baru mencair menjelang siang,” ungkap Fikri.