7cloud.asia – Udara yang terasa lebih dingin akibat adanya fenomena bediding beberapa minggu terakhir ini berdampak buruk pada sektor pertanian dan peternakan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat beberapa fakta penting tentang dampak fenomena perubahan udara menjadi lebih dingin pada pagi serta malam hari ini terhadap pertanian dan peternakan.
Seperti yang terjadi di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Di tempat ini setiap musim kemarau terjadi fenomena embun es atau frost.
Kondisi ini dapat merusak tanaman, menyebabkan layu atau bahkan kematian tanaman sehingga berdampak pada hasil panen serta kesejahteraan petani.
Baca: Musim kemarau, udara terasa lebih dingin? Ini penyebabnya
Untuk mengatasi embun es ini, petani dapat mengupayakan berbagai cara untuk melindungi tanamannya.
Misalnya dengan menutupi tanaman dengan plastik atau kain pada malam hari untuk melindungi dari embun es.
Upaya lainnya adalah dengan menyemprotkan air ke tanaman pada pagi hari. Hal ini dilakukan untuk memecah embun es serta menjaga tanaman agar tidak kering karena udara dingin.
Tak hanya petani. Peternak pun ikut terdampak dengan fenomena bediding. Hewan ternak mereka terancam mati akibat udara yang dingin ekstrem.
Hewan ternak yang paling rentan terhadap cuaca dingin ekstrem adalah unggas. Karena itu peternak harus mengantisipasinya.
Baca: Dampak fenomena bediding bagi kesehatan
Salah satu caranya adalah dengan memastikan hewan ternaknya mendapatkan perlindungan yang cukup dari suhu dingin.
Pastikan kandang hewan hangat dan nyaman serta memiliki ventilasi yang baik. Jika perlu sediakan sumber panas di kandang hewan.
Dengan demikian hewan ternak terlindungi dari angin dingin terutama pada malam dan pagi hari.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, fenomena bediding adalah kondisi di mana suhu lingkungan terasa lebih dingin dari biasanya, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa.
Baca: Dampak fenomena embun es bagi pertanian
Fenomena bediding ditandai dengan rendahnya intensitas hujan. Kurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi panas dari permukaan bumi tidak terperangkap, sehingga suhu udara menjadi lebih dingin.
Fenomena ini terjadi selama musim kemarau, ketika angin monsun timuran membawa udara kering dan dingin.
Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

Leave a Reply