Tag: Dirty Vote

  • Film Dokumenter Dirty Vote Tuai Perdebatan, Ini Penjelasan Sang Sutradara

    Film Dokumenter Dirty Vote Tuai Perdebatan, Ini Penjelasan Sang Sutradara

    7cloud.asia – Dalam tiga hari ini warga disuguhi perdebatan dan pro kontra terkait film dokumenter Dirty Vote yang disutradarai Dhandy Dwi Laksono. 

    Sejak dirilis pada Minggu (11/2/2024) film Dirty Vote yang diunggah di akun Youtube WatchDoc ini telah ditonton lebih dari 6 juta orang.

    Pada Senin (12/2/202) film Dirty Vote ini sempat kena shadow banned dari YouTube, tetapi Selasa (13/2/2024) pagi ini sudah bisa disaksikan kembali.

    Bagi yang pro, film Dirty Vote yang mengupas dugaan kecurangan dalam proses pemilihan umum (pemilu) dan pemilihan presiden (pilpres) 2024 ini bisa menjadi alat edukasi bagi masyarakat. 

    Dirty Vote yang menghadirkan tiga pakar hukum tatanegara ini dianggap bisa menjadi pembelajaran bagi negara untuk menggelar pesta demokrasi yang sehat dan jauh dari kecurangan.

    Baca: Aksi mahasiswa tolak Pemilu curang

    Sedangkan mereka yang kontra, menyebut film Dirty Vote ini sengaja dirilis paslon yang tak siap kalah karena dirilis menjelang hari pemungutan suara pada Rabu (14/2/2024).

    Lebih buruk, Dirty Vote dianggap berisi informasi fitnah terhadap salah satu pasangan calon (paslon).

    Dilansir Kompas.com,  Film Dirty Vote ditayangkan perdana melalui kanal rumah produksi WatchDoc di Youtube pada Minggu (11/2/2024), pukul 11.00 WIB, bertepatan hari pertama masa tenang pemilu.

    Di dalam film dokumenter itu menampilkan tiga orang pakar hukum tata negara. Mereka adalah Feri Amsari, Bivitri Susanti, dan Zainal Arifin Mochtar.

    Baca: Suara sivitas akademika terkait ketidaknetralan Jokowi di Pemilu 2024

    Ketiganya memaparkan tentang penyimpangan yang terjadi dalam berbagai hal terkait proses Pemilu di dalam Indonesia yang menerapkan praktik demokrasi.

    Dandhy mengatakan film ini bisa menjadi bahan edukasi bagi masyarakat menjelang hari pemungutan suara.

    Terus terang Dandhy mengatakan, seyogyanya Dirty Vote akan menjadi tontonan yang reflektif di masa tenang pemilu.

    “Diharapkan tiga hari yang krusial menuju hari pemilihan, film ini akan mengedukasi publik serta banyak ruang dan forum diskusi yang digelar,” kata Dandhy, dikutip dari siaran pers, Minggu (11/2/2024).

    Baca: Sivitas akademika UGM nilai Jokowi sudah keluar jalur

    Dandhy berharap semua elemen masyarakat untuk sejenak mengesampingkan dukungan politik kepada para calon presiden-calon wakil presiden (capres-cawapres), dan menyimak isi dokumenter itu secara terbuka.

    “Ada saatnya kita menjadi pendukung capres-cawapres. Tapi hari ini, saya ingin mengajak setiap orang untuk menonton film ini sebagai warga negara,” ujar Dandhy.

    Ketua Umum Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) sekaligus produser Dirty Vote, Joni Aswira menyebut dokumenter itu turut memfilmkan hasil riset kecurangan pemilu yang selama ini dikerjakan koalisi masyarakat sipil.

    Biaya produksi film Dirty Vote, kata Joni, dihimpun melalui pengumpulan dana (crowd funding), sumbangan individu dan lembaga.

    “Biayanya patungan. Selain itu Dirty Vote juga digarap dalam waktu yang pendek sekali sekitar dua minggu, mulai dari proses riset, produksi, penyuntingan, hingga rilis. Bahkan lebih singkat dari penggarapan End Game KPK (2021),” kata Joni.

  • Begini Tanggapan Tiga Paslon Capres-Cawapres Soal Film Dirty Vote

    Begini Tanggapan Tiga Paslon Capres-Cawapres Soal Film Dirty Vote

    7cloud.asia – Film dokumenter Dirty Vote yang dirilis Minggu (11/2/2024) atau hari pertama masa tenang Pemilu 2024 menuai kontroversi.

    Di satu sisi, Dirty Vote yang memotret kecurangan di Pemilu 2024 mulai proses di Mahkamah Konstitusi yang diduga melibatkan Presiden Jokowi ini menuai apresiasi.

    Di sisi lain, Dirty Vote dituding sengaja dirilis untuk menggembosi paslon capres-cawapres nomor urut 2 yang secara kasat mata mendapat dukungan dari Jokowi.

    Lantas bagaimana tanggapan tiga paslon capres-cawapres terkait Dirty Vote yang diproduksi WatchDoc dan telah disaksikan lebih dari 6 juta kali ini?  

    Baca: Begini penjelasan sutradara film Dirty Vote

     

    Cawapres nomor urut 1 Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menyebut film Dirty Vote bisa menjadi alat pembelajaran politik bagi Indonesia untuk mengantisipasi kecurangan dalam proses pemilu dan pilpres.

    Ia sendiri mendukung penayangan film ini. Sebab, film ini berangkat dari kajian akademik dan menjadi refleksi pentingnya mengedepankan etika dalam dunia politik.

    Cak Imin mengakui, baru kali ini ada film akademik, etik, moral ditonton sebanyak itu dalam waktu yang singkat.

    “Kayak film hiburan. Ini menarik sekali lah, harus jadi pelajaran semua. Kalau bikin film mencerdaskan, sangat-sangat laku ternyata,” ujar Muhaimin di Jombang, Jawa Timur, Senin (12/1/2024).

    Baca: Pakar bilang Jokowi sudah bisa dimakzulkan  

    Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menegaskan, kecurangan dalam pesta demokrasi sudah seharusnya tidak terjadi.

    Menurutnya, harga yang harus dibayar bangsa ini atas kecurangan itu akan sangat besar.

    Apalagi jika dibandingkan dengan anggaran yang sudah digelontorkan oleh negara untuk menyelenggarakan pemilu dan pilpres 2024.

    “Kalau terjadi kecurangan, kelihatan curang itu ya sebaiknya jangan dilihat sebagai legitimasi, (karena) menjadi tidak legitimate hasil pemilu. Maka hancur semua selama lima tahun kita,” tegas dia.

    Baca: Jokowi dan Ibu Iriana dilaporkan ke Bawaslu

    Senada, Tim Hukum Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar Pranowo-Mahfud MD, Todung Mulya Lubis berharap tidak ada pihak yang baper atas film Dirty Vote.

    Todung menilai, Dirty Vote merupakan suguhan pendidikan politik untuk masyarakat, sehingga sudah sepatutnya tidak ada yang keberatan atas film ini dengan melapor ke pihak berwenang.

    “Jadi jangan baper lah, itu saja yang mau saya bilang. Dan jangan sedikit-dikit melapor ke kepolisian. Ini kan tidak sehat buat kita sebagai bangsa. Tidak mendidik buat kita sebagai bangsa kita,” kata Todung di Jakarta, Minggu (11/2/2024).

    Todung menyebut film tersebut pada intinya tak ada informasi yang baru. Pasalnya, dugaan kecurangan sudah banyak dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

    Baca: Koalisi Pemilu Bersih kritik Jokowi

    Kecurangan itu mulai dari keterlibatan kepala desa mendukung salah satu paslon hingga politisasi bantuan sosial (bansos) di tengah masa kampanye.

    “Jadi apa yang ditulis atau dibuat dalam film tersebut itu tidak ada yang baru sama sekali. Dan, mengingatkan kita bahwa pelanggaran dan potensi pelanggaran itu sangat masif terjadi di Indonesia,” ungkap Todung.

    Ia juga menegaskan film tersebut sama sekali tidak mendiskreditkan penyelenggara pemilu. “Menurut saya tidak tepat sama sekali,” ujarnya. 

    Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Habiburokhman menegaskan film Dirty Vote berisi informasi fitnah yang diarahkan ke pasangan Prabowo-Gibran.

    Baca: Diduga gunakan fasilitas negara untuk kampanye, Prabowo dilaporkan ke KPU

    Karena itu, ia mempertanyakan kebenaran pernyataan pakar-pakar hukum yang terlibat di film itu.

    “Sebagian besar yang disampaikan dalam film tersebut adalah sesuatu yang bernada fitnah, narasi kebencian yang sangat asumtif, dan sangat tidak ilmiah,” kata Habiburokhman, dikutip dari siaran pers. 

    Habiburokhman menilai film Dirty Vote sengaja dibuat untuk mendegradasi penyelenggaraan Pemilu 2024. Dia menilai tuduhan-tuduhan yang disampaikan dalam film tersebut tak berdasar.

    Habiburokhman juga mengatakan, saat ini masyarakat semakin pintar menyikapi fitnah. Berdasarkan fakta di lapangan dan hasil survei terkini, mayoritas publik faham dengan apa yang telah dikerjakan pemerintahan Presiden Jokowi. 

    Baca: Mungkinkah Gibran didiskualifikasi

    Meski film Dirty Vote menyampaikan fakta-fakta yang telah ditulis oleh sejumlah media, Habiburokhman menilai film ini menyampaikan informasi yang tidak argumentatif, tendensius, untuk menyudutkan pihak tertentu.

    “Saat ini saya lihat rakyat begitu antusias dengan apa yang disampaikan Pak Prabowo soal melanjutkan segala capaian pemerintahan yang ada sekarang ya,” sambungnya.

    Sumber: Kompas.com

     

     

  • Sutradara dan Pemeran Utama Film Dirty Vote Dilaporkan, Warganet: Ancaman Serius pada Demokrasi

    Sutradara dan Pemeran Utama Film Dirty Vote Dilaporkan, Warganet: Ancaman Serius pada Demokrasi

    7cloud.asia – Empat orang yang berperan penting dalam tim produksi film dokumenter Dirty Vote, dilaporkan ke polisi pada Selasa (13/2/2024).

    Keempat orang tersebut adalah sutradara film Dirty Vote Dandhy Dwi Laksono, dan pakar hukum tata negara yang menjadi pemeran utama film tersebut, yaitu Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari 

    Sutradara dan para aktor film Dirty Vote yang viral ini dilaporkan ke polisi dengan tuduhan  melanggar Undang-undang Pemilu nomor 7 tahun 2017.

    Laporan dilayangkan oleh Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Santri Indonesia (DPP Foksi) ke Mabes Polri.

    Baca: Film Dirty Vote yang kontroversial

    Kepada media, Ketua Umum Foksi, M Natsir Sahib menekankan bahwa film mengandung unsur penyudutan hingga merugikan salah satu paslon Pilpres 2024.

    “Kami konsultasi dengan Bareskrim Mabes Polri dan melaporkan dugaan pelanggaran Pemilu yang diLakukan 3 akademisi, Feri Amsari, Zainal Arifin Muhtar, dan Bivitri Susanti, serta Dandy Laksono, selaku sutradara,” kata Natsir, Selasa, 13 Februari 2024.

    Selain unsur yang dikandung, film dokumenter tersebut juga dinilai bermasalah lantaran ditayangkan perdana di masa tenang pemilu.

    Selain pelaporan ini sejumlah warganet juga mulai mengulik masa lalu keempat orang tersebut dan mengaitkannya dengan Mahfud MD.

    Baca:  Tanggapan paslon terkait film Dirty Vote

    Pada Senin (12/2/2024) Dandhy yang juga pernah menyutradai film dokumenter Sexy Killer sempat buka suara mengenai potensi ancaman yang dialami setelah merilis film Dirty Vote. 

    Dandhy mengaku sejauh ini dirinya dan orang-orang yang terlibat dalam film dokumenter Dirty Vote dalam keadaan baik-baik saja.

    Ia mengatakan bentuk serangan yang muncul hanya berkaitan dengan upaya pembunuhan karakter guna mengaburkan isi Dirty Vote yang mengungkap kecurangan di Pemilu 2024.

    “Kami sejauh ini baik-baik saja. Serangannya (berupa) upaya untuk membunuh karakter supaya orang ragu dengan substansinya,” ujar Dandhy seperti dikutip CNNIndonesia.com, Senin (12/2/2024).

    Baca: Ibu-ibu menangis di depan Istana tolak capres pelanggar HAM

    Dandhy mengatakan, situasi yang hampir sama juga dia alami saat membuat film dokumenter Sexy Killers.

    “Selalu begitu polanya, sejak Sexy Killers juga begitu. Enggak ada yang benar-benar menjawab satu per satu premisnya,” lanjut Dandhy.

    Sementara,selebgram Okky Madasari menyebut pelaporan kru film Dirty Vote ini merupakan ancaman nyata terhadap demokrasi dan bidang lain seperti dunia seniman, kreator, dan warganet.

    “Masih belum juga tergerak dgn isu HAM atau pelanggaran etika?” ujarnya, dilansir dari akun X (Twitter) pribadinya, @okkymadasari, pada Selasa 13 Februari 2024.

    Baca: 

    Ia melanjutkan, “Mungkin ini: Jangan pilih paslon yang partai pendukungnya, relawannya, tokoh2nya hobi ngelaporin2in ke polisi. Ini ancaman nyata untuk demokrasi, untuk seniman, untuk kreator, untuk netizen, untuk semua orang,” 

    Film dokumenter Dirty Vote dirilis Minggu (11/2/2024) atau hari pertama masa tenang Pemilu 2024 menuai kontroversi.

    Di satu sisi, Dirty Vote yang memotret kecurangan di Pemilu 2024 mulai proses di Mahkamah Konstitusi yang diduga melibatkan Presiden Jokowi ini menuai apresiasi.

    Di sisi lain, Dirty Vote dituding sengaja dirilis untuk menggembosi paslon nomor urut 2 yang secara kasat mata mendapat dukungan dari Jokowi.

    Esti Utami dari berbagai sumber.
    l

     

  • Masyarakat Menonton Film Dirty Vote Tapi Tetap Memilih Paslon 02 yang Diduga Kuat Curang, Mengapa?

    Masyarakat Menonton Film Dirty Vote Tapi Tetap Memilih Paslon 02 yang Diduga Kuat Curang, Mengapa?

    7cloud.asia – Film Dirty Vote, yang bertepatan dengan masa tenang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, menimbulkan beragam reaksi dari berbagai kelompok masyarakat.

    Di film Dirty Vote tersebut, para ahli Hukum Tata Negara, di antaranya Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari menyajikan bukti yang meyakinkan tentang pola kecurangan dan penyalahgunaan kekuasaan yang diduga dilakukan oknum negara pada Pemilu 2024.

    Film Dirty Vote mengeksplorasi taktik propaganda yang digunakan oleh para pejabat publik untuk menggunakan kekuasaannya dalam memainkan situasi politik 2024.

    Pengaruh kepala daerah dan pejabat publik terhadap hasil Pemilu 2024 rupanya menjadi aspek penting bagi pasangan calon presiden (capres) tertentu. Ini membuat netralitas pejabat negara diragukan.

    Setiap kandidat presiden dalam film ini diduga terlibat dalam taktik manipulatif menggunakan otoritas mereka masing-masing. Namun, pasangan calon (paslon) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mendapat lebih banyak sorotan.

    Film Dirty Vote sempat diprediksi akan menjatuhkan perolehan suara Prabowo-Gibran.

    Baca: Punggawa film Dirty Vote mendapat ancaman, nasib demokrasi di pinggir jurang

    Fakta di lapangan
    Menurut hasil hitung cepat KPU pada 19 Februari 2024, pukul 20:00:15, 589.624 suara dari 823.236 lokasi pemungutan suara telah dihitung, atau sama dengan 71,62% dari total suara yang masuk.

    Prabowo-Gibran memperoleh 56.424.389 suara atau setara dengan 58,6%. Jika paslon tersebut menerima lebih dari 50% suara dan memiliki distribusi geografis melebihi 20%, mereka akan memenangkan Pemilu 2024.

    Meskipun film Dirty Vote telah ditonton sebanyak 9,1 juta kali dan telah diunggah ulang di berbagai kanal YouTube lainnya, data menunjukkan bahwa film ini tidak memengaruhi suara yang didapat Prabowo-Gibran.

    Kandidat capres-cawapres ini terbukti berhasil bertahan, bahkan unggul dalam hasil hitung cepat.

    Masyarakat, terutama di tingkat akar rumput, kemungkinan besar tidak menunjukkan minat pada isu demokrasi yang disajikan dalam film Dirty Vote.

    Kampanye Prabowo-Gibran tentang makan siang dan susu gratis bisa jadi lebih relevan untuk masyarakat menengah ke bawah.

    Dari segi pendidikan, misalnya, hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) tahun 2021-2022 menunjukkan bahwa persentase pemilih yang berpendidikan SMP ke bawah sebesar 53,2% dan 36% di antaranya memilih Prabowo.

    Baca: Seperti ini penjelasan sutardara Dirty Vote

    Peta pemilih Prabowo-Gibran
    Harold Dwight Lasswell, seorang ilmuwan politik Amerika Serikat (AS), mengembangkan formula analisis politik yang dikenal sebagai “Who gets What?, When, and How” untuk memeriksa model politik, yang digunakan juga pada negara-negara mayoritas Muslim seperti di Indonesia.

    Saya menggunakan formula ini untuk melihat siapa yang sebenarnya mendapatkan keuntungan dari film Dirty Vote.

    Paslon Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD memang mendapat manfaat dari narasi yang dibangun di dalam film. Namun, Prabowo-Gibran justru makin tenar dan mendapatkan panggung.

    Berdasarkan wawancara pribadi dengan tim kampanye Prabowo-Gibran, film tersebut tidak berdampak signifikan terhadap hasil Pemilu.

    Dia menyatakan bahwa suara mereka telah terdistribusi di lima kelompok sumber suara.

    Baca: Aksi mahasiswa tolak pemilu curang

    1. Pemilih pemula fokus pada isu-isu anak muda

    Kelompok pertama terdiri dari pemilih pemula yang didominasi oleh Gen Z, anak muda yang lahir di antara tahun 1997 dan 2012 atau saat ini mereka berusia 12 hingga 27 tahun.

    Terlepas dari apakah mereka menonton film itu atau tidak, ada beberapa penyebab banyaknya suara di kelompok pertama untuk Prabowo-Gibran. Di antaranya, Ganjar Pranowo dianggap bertanggung jawab atas kegagalan terselenggaranya Piala Dunia U20 di Indonesia.

    Selain itu, promosi narasi “gemoy” telah menarik banyak pemilih muda. Begitu juga dengan posisi Gibran yang dianggap sangat mewakili generasi muda.

    2. ‘Jiwa Korsa’ mematuhi komando

    Kategori kedua terdiri dari kelompok yang memiliki “Jiwa Korsa” (semangat daya juang atas dasar persamaan rasa persaudaraan, persahabatan, dan kekompakan) yang kuat, yakni kelompok militer.

    Logika korps membuat kelompok ini tidak akan terpengaruh oleh film Dirty Vote, dan justru bersatu di bawah komando untuk kemenangan Prabowo, seorang mantan pejabat militer dan masih sangat dihormati.

    Baca: Sivitas akademika dari 60 kampus ingatkan cara curang yang dilakukan Jokowi 

    3. Percaya bahwa Prabowo adalah penerus Jokowi

    Kelompok ketiga terdiri dari simpatisan Presiden Joko “Jokowi” Widodo. Keberpihakan Jokowi terhadap kubu Prabowo-Gibran terlihat jelas karena bagaimanapun, Gibran adalah putra Presiden.

    Kelompok ini tergolong kelompok “Die-Hard” (pendukung fanatik) Jokowi. Mereka akan sukarela memilih siapapun yang didukung oleh Jokowi.

    Selain itu, papan reklame yang menampilkan pembicaraan bahwa pemilihan presiden 2024 adalah jatah Prabowo, antara Jokowi dan Prabowo, juga merupakan salah satu instrumen penting dalam kemenangan Prabowo-Gibran.

    4. ‘Dirty Vote’ hanyalah kampanye hitam

    Kelompok keempat adalah kelompok kontranarasi. Kelompok ini menyerang kembali para penggemar film Dirty Vote bahwa film tersebut memiliki kecenderungan politik tertentu, tidak netral, dan selaras dengan kampanye hitam.

    Sebagai contoh kelompok FOKSI (Forum Komunikasi Santri Indonesia) yang melaporkan tiga akademisi dalam film tersebut.

    Baca: Pemilu 2024 dibajak Jokowi, masyarakat sipil siap melawan

    5. Simpatisan kegigihan Prabowo

    Kelompok kelima adalah masyarakat umum. Baik yang tinggal di pedesaan ataupun di perkotaan. Mirip dengan Generasi Z, kelompok ini menunjukkan rasa tidak peduli terhadap film Dirty Vote.

    Mereka percaya bahwa Prabowo adalah capres dengan tingkat ambisi tertinggi untuk menang dan beberapa faktor alasan pembenaran lainnya.

    Upaya Prabowo yang gagal sebagai cawapres pada Pilpres 2009 dan sebagai capres pada Pilpres 2014 dan 2019 mendapat rasa simpatik dari rakyat Indonesia.

    Prabowo memenangkan hati dan rasa iba dari banyak orang karena tekadnya yang tidak tergoyahkan untuk menjadi presiden Indonesia. Dengan narasi tersebut, Prabowo telah berhasil membangun citra sebagai orang yang tidak mudah menyerah.

    Dalam kacamata teori Lasswell, hasil politik muncul karena adanya interaksi antara aturan, realitas, dan pilihan. Pilihan yang diambil para pemilih dalam menghadapi peraturan dan kenyataan menentukan hasil politik.

    Aturan menunjukkan bahwa ada indikasi kecurangan pemilu dan penyalahgunaan kekuasaan pada Pemilu 2024 sebagaimana ditampilkan dalam film Dirty Vote.

    Namun, pemilih memiliki realitas mereka terkait citra dan karakter yang dibangun Prabowo, dukungan presiden, maupun fanatisme. Ketika dihadapkan pada dua hal ini, pemilih memilih untuk tetap memberikan suaranya pada Prabowo-Gibran meskipun sudah menonton film itu.

    Dengan kata lain, film yang awalnya dianggap akan mereduksi jumlah pemilih Prabowo justru menguntungkan Prabowo-Gibran

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, penulis:  Mahasiswa Doktoral Fakultas Studi Islam di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)