7cloud.asia – Empat orang yang berperan penting dalam tim produksi film dokumenter Dirty Vote, dilaporkan ke polisi pada Selasa (13/2/2024).
Keempat orang tersebut adalah sutradara film Dirty Vote Dandhy Dwi Laksono, dan pakar hukum tata negara yang menjadi pemeran utama film tersebut, yaitu Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari
Sutradara dan para aktor film Dirty Vote yang viral ini dilaporkan ke polisi dengan tuduhan melanggar Undang-undang Pemilu nomor 7 tahun 2017.
Laporan dilayangkan oleh Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Santri Indonesia (DPP Foksi) ke Mabes Polri.
Baca: Film Dirty Vote yang kontroversial
Kepada media, Ketua Umum Foksi, M Natsir Sahib menekankan bahwa film mengandung unsur penyudutan hingga merugikan salah satu paslon Pilpres 2024.
“Kami konsultasi dengan Bareskrim Mabes Polri dan melaporkan dugaan pelanggaran Pemilu yang diLakukan 3 akademisi, Feri Amsari, Zainal Arifin Muhtar, dan Bivitri Susanti, serta Dandy Laksono, selaku sutradara,” kata Natsir, Selasa, 13 Februari 2024.
Selain unsur yang dikandung, film dokumenter tersebut juga dinilai bermasalah lantaran ditayangkan perdana di masa tenang pemilu.
Selain pelaporan ini sejumlah warganet juga mulai mengulik masa lalu keempat orang tersebut dan mengaitkannya dengan Mahfud MD.
Baca: Tanggapan paslon terkait film Dirty Vote
Pada Senin (12/2/2024) Dandhy yang juga pernah menyutradai film dokumenter Sexy Killer sempat buka suara mengenai potensi ancaman yang dialami setelah merilis film Dirty Vote.
Dandhy mengaku sejauh ini dirinya dan orang-orang yang terlibat dalam film dokumenter Dirty Vote dalam keadaan baik-baik saja.
Ia mengatakan bentuk serangan yang muncul hanya berkaitan dengan upaya pembunuhan karakter guna mengaburkan isi Dirty Vote yang mengungkap kecurangan di Pemilu 2024.
“Kami sejauh ini baik-baik saja. Serangannya (berupa) upaya untuk membunuh karakter supaya orang ragu dengan substansinya,” ujar Dandhy seperti dikutip CNNIndonesia.com, Senin (12/2/2024).
Baca: Ibu-ibu menangis di depan Istana tolak capres pelanggar HAM
Dandhy mengatakan, situasi yang hampir sama juga dia alami saat membuat film dokumenter Sexy Killers.
“Selalu begitu polanya, sejak Sexy Killers juga begitu. Enggak ada yang benar-benar menjawab satu per satu premisnya,” lanjut Dandhy.
Sementara,selebgram Okky Madasari menyebut pelaporan kru film Dirty Vote ini merupakan ancaman nyata terhadap demokrasi dan bidang lain seperti dunia seniman, kreator, dan warganet.
“Masih belum juga tergerak dgn isu HAM atau pelanggaran etika?” ujarnya, dilansir dari akun X (Twitter) pribadinya, @okkymadasari, pada Selasa 13 Februari 2024.
Baca:
Ia melanjutkan, “Mungkin ini: Jangan pilih paslon yang partai pendukungnya, relawannya, tokoh2nya hobi ngelaporin2in ke polisi. Ini ancaman nyata untuk demokrasi, untuk seniman, untuk kreator, untuk netizen, untuk semua orang,”
Film dokumenter Dirty Vote dirilis Minggu (11/2/2024) atau hari pertama masa tenang Pemilu 2024 menuai kontroversi.
Di satu sisi, Dirty Vote yang memotret kecurangan di Pemilu 2024 mulai proses di Mahkamah Konstitusi yang diduga melibatkan Presiden Jokowi ini menuai apresiasi.
Di sisi lain, Dirty Vote dituding sengaja dirilis untuk menggembosi paslon nomor urut 2 yang secara kasat mata mendapat dukungan dari Jokowi.
Esti Utami dari berbagai sumber.
l

Leave a Reply