Tag: eceng gondok

  • Pertumbuhan Eceng Gondok Menurunkan Fungsi Danau Tondano

    Pertumbuhan Eceng Gondok Menurunkan Fungsi Danau Tondano

    7cloud.asia – Masyarakat dengan dibantu aparat membersihkan eceng gondok di Danau Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Jumat (27/6/2025).

    Aksi bersih-bersih Danau Tondano tersebut mengikutsertakan unsur TNI, Polri, ASN, FKPPI, mahasiswa, pelajar, serta warga sekitar.

    Danau Tondano menjadi jantung urat nadi perekonomian masyarakat sekitar danau, serta menjadi sumber energi listrik melalui turbin PLTA yang dibangun di daerah aliran sungai.

    Danau Tondano bukan hanya sumber air, tetapi juga sumber ekonomi, pariwisata, dan budaya bagi warga Minahasa. Namun, pertumbuhan eceng gondok di danau terbesar di Sulawesi Utara ini sudah dirasa mengganggu.

    Meski mendatangkan manfaat, eceng gondok bisa menimbulkan dampak negatif bagi keberlangsungan ekosistem di danau bila pertumbuhannya tidak terkendali.

    Baca: Pemanasan global menurunkan kualitas ribuan danau di seluruh dunia

    Pertumbuhan masif tumbuhan invasif yang toleran dengan berbagai keadaan lingkungan itu akan mengganggu pertumbuhan ikan serta menyebabkan pendangkalan wilayah perairan dan menghambat lalu lintas sarana transportasi air.

    Jika tidak ditangani serius, hal ini dapat mengganggu aktivitas perikanan, menurunkan kualitas air, dan memicu banjir akibat pendangkalan serta penyumbatan aliran air.

    Danrem 131/Santiago Brigjen TNI Martin Susilo Martopo Turnip mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar aksi bersih-bersih, melainkan juga simbol nyata kepedulian bersama terhadap kelestarian Danau Tondano yang menjadi kebanggaan masyarakat Minahasa dan Sulawesi Utara.

    “Kerja bakti ini merupakan bentuk sinergi dan komitmen kita semua untuk menjaga lingkungan,” ujarnya seperti dikutip Antaranews.com

    Revitalisasi danau Tondano menjadi program pemerintah sejak 2016, dengan tujuan untuk mengembalikan fungsi alami danau sebagai tampungan air.

    Baca: Pemanasan global mengeringkan separuh danau di seluruh dunia

    Revitalisasi dilakukan dengan pengerukan, pembersihan gulma air/eceng gondok, pembuatan tanggul, termasuk penataan di kawasan daerah aliran sungai.

    Tumbuhnya eceng gondok merupakan tipikal dari danau pada daerah tropis dengan kandungan nutrient terutama nitrogen, fosfat dan potasium yang tinggi di dalam sedimennya.

    Dengan jumlah dan pertumbuhan eceng gondok yang cepat, fungsi utama danau terganggu dan menjadi dangkal, sehingga mengurangi volume tampungan danau.

    Selain pembersihan danau, Menteri PUPR saat itu, Basuki Hadimulyono menyatakan, pekerjaan prioritas yang harus diselesaikan dalam revitalisasi Danau Tondano adalah pembangunan tanggul pembatas badan air danau sepanjang 18 kilometer.

    Baca: Hari Danau Sedunia sebagai upaya mencegah krisis air

  • Tim PKM UGM Kembangkan Obat Alami Diabetes Berbahan Selulosa Eceng Gondok

    Tim PKM UGM Kembangkan Obat Alami Diabetes Berbahan Selulosa Eceng Gondok

    7cloud.asia – Eceng gondok dan mikroalga Chlorella vulgaris yang awalnya sering dianggap sebagai hama ataupun gangguan pada ekosistem perairan mulai dikembangkan menjadi bahan alami yang bernilai ekonomis tinggi.

    Eceng gondok dan mikroalga Chlorella vulgaris berpotensi sebagai komponen material dalam berbagai industri, salah satunya industri kesehatan.

    Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) yang terdiri sejumlah mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Gadjah Mada saat ini sedang mengembangkan scaffold hidrogel yang berbahan eceng gondok dan mikro alga.

    Seperti diketahui scaffold hidrogel merupakan biomaterial yang dapat memfasilitasi pembentukan struktur jaringan sehingga bagus untuk penderita Diabetes.

    Tim PKM ini diketuai Pamastadewi Pryankha Hijrianto dan beranggotakan Keanu Saputra Valenka Darmawan (Fakultas Teknologi Pertanian), Gresmawarrenes Jamuss (Fakultas Farmasi), Kamilah Kusuma Maharani (Fakultas Farmasi), dan Lidya Oktaviani (Fakultas Teknik), serta di bawah bimbingan Tyas Ikhsan Hikmawan.

    Pamastadewi Pryankha Hijrianto, mahasiswa Fakultas Biologi sebagai ketua tim, menuturkan inovasi yang mereka kembangkan diharapkan tidak hanya dapat menyelesaikan masalah secara nyata, namun juga berdampak dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

    Baca: Pertumbuhan eceng gondok turunkan fungsi Danau Tondano

    Melalui studi literatur serta penelitian yang telah dilakukan, Tim ini berhasil membuat scaffold hidrogel dengan memanfaatkan bahan selulosa eceng gondok mengelaborasikan biomassa mikroalga Chlorella vulgaris

    Selulosa eceng gondok adalah material yang mudah terurai namun memiliki daya serap yang tinggi, sedangkan biomassa mikroalga dikenal kaya akan antioksidan maupun metabolit sekunder.

    “Dengan memanfaatkan karakteristik dari kedua bahan yang saling melengkapi, kesembuhan dari pasien dengan ulkus diabetikum dapat tercapai dalam waktu yang singkat,” imbuh Gres Gresmawarrenes Jamuss, anggota tim.

    Menurutnya, adanya aktivitas antibakteri pada scaffold hidrogel juga menjadi salah satu faktor penting yang menjamin penyembuhan luka bebas dari infeksi bakteri seperti Staphylococcus aureus.

    “Keberadaan bakteri patogen tidak hanya sekedar menginfeksi bagian ulkus yang belum sembuh secara sempurna, namun juga pada kasus terparah dapat menimbulkan kematian jaringan atau gangrene yang berujung pada amputasi,” ujarnya.

    Menurutnya, adanya aktivitas antibakteri pada scaffold hidrogel juga menjadi salah satu faktor penting yang menjamin penyembuhan luka bebas dari infeksi bakteri seperti Staphylococcus aureus.

    Baca: Sederet manfaat kesehatan dari temulawak

    “Keberadaan bakteri patogen tidak hanya sekedar menginfeksi bagian ulkus yang belum sembuh secara sempurna, namun juga pada kasus terparah dapat menimbulkan kematian jaringan atau gangrene yang berujung pada amputasi,” ujarnya.

    Lidya Oktaviani, anggota tim lainnya, menuturkan pengembangan scaffold hidrogel ramah lingkungan dilakukan melalui beberapa tahapan.

    Awalnya, serat kering dari eceng gondok perlu diolah terlebih dahulu dengan menghilangkan lapisan lilin pada serat, pemutihan serat, serta asidifikasi dengan larutan sehingga dihasilkan serat selulosa yang putih dan halus.

    Lalu, mikro alga hijau Chlorella vulgaris kemudian dipanen dan dikeringkan melalui liofilisasi sehingga didapatkan biomassa yang berwarna hijau serta beraroma khas dari mikroalga tersebut.

    Untuk proses preparasi bahan yang sudah selesai dilakukan kemudian dilanjutkan dengan formulasi sehingga didapatkan scaffold hidrogel dengan berbagai konsentrasi alga sebesar 0,05 persen, 0,3 persen, dan 0,8 persen.

    Baca: Kerap dianggap gulma, daun meniran simpan sederet manfaat untuk kesehatan

    “Proses penelitian tidak usai begitu saja setelah formulasi, pengujian perlu dilakukan untuk menentukan kualitas dan efektivitas dari scaffold hidrogel ini,” imbuh Keanu.

    Keanu menambahkan, inovasi yang mereka lakukan ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada bahan kimia impor, terlebih untuk bahan kimia sintetik yang biasanya digunakan dalam produksi peralatan dan material medis.

    “Harapan kita agar inovasi ini dapat menjadi dasar dari pengembangan lanjutan scaffold hidrogel ramah lingkungan melalui produksi skala industri,” harapnya.

    Penelitian ini didasari terus meningkatnya kasus Diabetes Melitus sebagai salah satu penyakit metabolik yang dapat memicu ulkus diabetikum.

    Ulkus diabetikum bukanlah sekedar luka bagi penderita DM, karena ulkus diabetikum dapat mengancam nyawa ketika tidak dapat disembuhkan secara tepat dan cepat.

    Baca: Penyedap rasa dari daun warisan suku Dayak Kalimantan Tengah