7cloud.asia – Eceng gondok dan mikroalga Chlorella vulgaris yang awalnya sering dianggap sebagai hama ataupun gangguan pada ekosistem perairan mulai dikembangkan menjadi bahan alami yang bernilai ekonomis tinggi.
Eceng gondok dan mikroalga Chlorella vulgaris berpotensi sebagai komponen material dalam berbagai industri, salah satunya industri kesehatan.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) yang terdiri sejumlah mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Gadjah Mada saat ini sedang mengembangkan scaffold hidrogel yang berbahan eceng gondok dan mikro alga.
Seperti diketahui scaffold hidrogel merupakan biomaterial yang dapat memfasilitasi pembentukan struktur jaringan sehingga bagus untuk penderita Diabetes.
Tim PKM ini diketuai Pamastadewi Pryankha Hijrianto dan beranggotakan Keanu Saputra Valenka Darmawan (Fakultas Teknologi Pertanian), Gresmawarrenes Jamuss (Fakultas Farmasi), Kamilah Kusuma Maharani (Fakultas Farmasi), dan Lidya Oktaviani (Fakultas Teknik), serta di bawah bimbingan Tyas Ikhsan Hikmawan.
Pamastadewi Pryankha Hijrianto, mahasiswa Fakultas Biologi sebagai ketua tim, menuturkan inovasi yang mereka kembangkan diharapkan tidak hanya dapat menyelesaikan masalah secara nyata, namun juga berdampak dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Baca: Pertumbuhan eceng gondok turunkan fungsi Danau Tondano
Melalui studi literatur serta penelitian yang telah dilakukan, Tim ini berhasil membuat scaffold hidrogel dengan memanfaatkan bahan selulosa eceng gondok mengelaborasikan biomassa mikroalga Chlorella vulgaris
Selulosa eceng gondok adalah material yang mudah terurai namun memiliki daya serap yang tinggi, sedangkan biomassa mikroalga dikenal kaya akan antioksidan maupun metabolit sekunder.
“Dengan memanfaatkan karakteristik dari kedua bahan yang saling melengkapi, kesembuhan dari pasien dengan ulkus diabetikum dapat tercapai dalam waktu yang singkat,” imbuh Gres Gresmawarrenes Jamuss, anggota tim.
Menurutnya, adanya aktivitas antibakteri pada scaffold hidrogel juga menjadi salah satu faktor penting yang menjamin penyembuhan luka bebas dari infeksi bakteri seperti Staphylococcus aureus.
“Keberadaan bakteri patogen tidak hanya sekedar menginfeksi bagian ulkus yang belum sembuh secara sempurna, namun juga pada kasus terparah dapat menimbulkan kematian jaringan atau gangrene yang berujung pada amputasi,” ujarnya.
Menurutnya, adanya aktivitas antibakteri pada scaffold hidrogel juga menjadi salah satu faktor penting yang menjamin penyembuhan luka bebas dari infeksi bakteri seperti Staphylococcus aureus.
Baca: Sederet manfaat kesehatan dari temulawak
“Keberadaan bakteri patogen tidak hanya sekedar menginfeksi bagian ulkus yang belum sembuh secara sempurna, namun juga pada kasus terparah dapat menimbulkan kematian jaringan atau gangrene yang berujung pada amputasi,” ujarnya.
Lidya Oktaviani, anggota tim lainnya, menuturkan pengembangan scaffold hidrogel ramah lingkungan dilakukan melalui beberapa tahapan.
Awalnya, serat kering dari eceng gondok perlu diolah terlebih dahulu dengan menghilangkan lapisan lilin pada serat, pemutihan serat, serta asidifikasi dengan larutan sehingga dihasilkan serat selulosa yang putih dan halus.
Lalu, mikro alga hijau Chlorella vulgaris kemudian dipanen dan dikeringkan melalui liofilisasi sehingga didapatkan biomassa yang berwarna hijau serta beraroma khas dari mikroalga tersebut.
Untuk proses preparasi bahan yang sudah selesai dilakukan kemudian dilanjutkan dengan formulasi sehingga didapatkan scaffold hidrogel dengan berbagai konsentrasi alga sebesar 0,05 persen, 0,3 persen, dan 0,8 persen.
Baca: Kerap dianggap gulma, daun meniran simpan sederet manfaat untuk kesehatan
“Proses penelitian tidak usai begitu saja setelah formulasi, pengujian perlu dilakukan untuk menentukan kualitas dan efektivitas dari scaffold hidrogel ini,” imbuh Keanu.
Keanu menambahkan, inovasi yang mereka lakukan ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada bahan kimia impor, terlebih untuk bahan kimia sintetik yang biasanya digunakan dalam produksi peralatan dan material medis.
“Harapan kita agar inovasi ini dapat menjadi dasar dari pengembangan lanjutan scaffold hidrogel ramah lingkungan melalui produksi skala industri,” harapnya.
Penelitian ini didasari terus meningkatnya kasus Diabetes Melitus sebagai salah satu penyakit metabolik yang dapat memicu ulkus diabetikum.
Ulkus diabetikum bukanlah sekedar luka bagi penderita DM, karena ulkus diabetikum dapat mengancam nyawa ketika tidak dapat disembuhkan secara tepat dan cepat.
Baca: Penyedap rasa dari daun warisan suku Dayak Kalimantan Tengah

Leave a Reply