Tag: Epstein Files

  • Catatan Penting di Balik Kontroversi “Epstein Files”: Tidak Ada Penyensoran terhadap Identitas Korban

    Catatan Penting di Balik Kontroversi “Epstein Files”: Tidak Ada Penyensoran terhadap Identitas Korban

    7cloud.asia – Dirilisnya jutaan halaman berkas milik Jeffrey Epstein yang kemudian dikenal dengan istilah Epstein Files pada hari Jumat (30/1/2026) telah memunculkan banyak pertanyaan.

    Komunikasi pribadi Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seksual yang telah dihukum, terus mengungkap jaringan tokoh-tokoh berpengaruh dunia yang mencari persahabatan dan nasihatnya.

    Sejumlah tokoh dunia ditemukan dalam Epstein Files ini, seperti Presiden AS Donald Trump, mantan Presiden AS Bill Clinton, Elon Musk, Andrew Mountbatten (mantan angota Kerajaan Inggris), Ehud Barak (mantan PM Israel), Sergey Brin (salah satu pendiri Google).

    Catatan internal dari Departemen Kehakiman menunjukkan luasnya pengaduan yang diajukan tak hanya terhadap Epstein, tetapi juga terhadap orang lain yang belum menghadapi tuntutan pidana atas perdagangan seks.

    Berbicara di acara “State of the Union” CNN pada hari Minggu (1/2/2026), Wakil Jaksa Agung Todd Blanche mengatakan bahwa tuntutan baru terhadap siapa pun kemungkinan besar tidak akan terjadi.

    “Saya tidak dapat berbicara tentang investigasi apa pun, tetapi saya akan mengatakan hal berikut, yaitu bahwa pada bulan Juli, Departemen Kehakiman mengatakan bahwa kami telah meninjau ‘Epstein Files’ dan tidak ada apa pun di sana yang memungkinkan kami untuk menuntut siapa pun,” katanya.

    “Kemudian kami merilis lebih dari tiga setengah juta lembar kertas yang sekarang dapat dilihat oleh seluruh dunia dan melihat apakah kami salah.”

    Berikut adalah beberapa poin penting dari rilis terbaru Epstein Files yang kami kutip dari npr.org.

    Ada masalah dengan penyensoran.
    Tinjauan NPR terhadap dokumen-dokumen tersebut menemukan banyak contoh kegagalan Departemen Kehakiman untuk menyensor nama-nama korban pelecehan seksual yang telah diidentifikasi secara publik, serta nama-nama individu yang sebelumnya belum dipublikasikan.

    Undang-Undang Transparansi Epstein Files yang ditandatangani oleh Presiden Trump tahun lalu, menyerukan Departemen Kehakiman untuk meminimalkan penyensoran saat menyerahkan informasi tentang kehidupan dan kematian Epstein dan tuduhan kriminal yang dihadapinya dan kaki tangannya, Ghislaine Maxwell.

    Seperti diketahui, Maxwell saat ini menjalani hukuman 20 tahun di penjara federal karena eksploitasi seksual dan perdagangan anak, kejahatan yang dilakukannya bersama Epstein.

    Penyensoran tersebut juga tidak konsisten dengan apa yang diarahkan oleh hukum.

    “Selain penyensoran dokumen, yang mencakup informasi identitas pribadi, informasi korban, dan hak istimewa lainnya, ada penyensoran ekstensif pada gambar dan video untuk melindungi korban,” kata Blanche pada hari Jumat, saat mengumumkan kumpulan berkas terakhir.

    “Kami menyunting setiap perempuan yang digambarkan dalam gambar atau video apa pun, kecuali Nyonya Maxwell. Kami tidak menyunting gambar laki-laki kecuali jika tidak mungkin menyunting perempuan tanpa juga menyunting laki-laki.”

    Namun, banyak contoh dapat ditemukan dalam repositori Epstein Files yang menunjukkan wajah perempuan dan menyembunyikan wajah laki-laki.

    Ini termasuk percakapan pesan teks antara mantan penasihat Trump, Steve Bannon, dan Epstein di mana wajah Trump dalam sebuah artikel berita ditutupi dengan kotak hitam.

    Berkas-berkas tidak dikelompokkan dengan cara yang dapat diidentifikasi.
    Salinan duplikat yang tak terhitung jumlahnya dari rangkaian email, berkas investigasi, dan korespondensi tersebar di seluruh basis data, terkadang dengan tingkat penyuntingan yang berbeda.

    Presentasi PowerPoint yang disiapkan musim gugur lalu oleh Departemen Kehakiman AS, merinci garis waktu dan kasus terhadap Epstein dan Maxwell, para korban yang diduga, dan tokoh-tokoh berpengaruh di sekitarnya yang menghadapi tuduhan pelanggaran muncul enam kali dengan informasi yang berbeda yang diblokir di setiap versi.

    Annie Farmer, salah satu perempuan yang bersaksi di pengadilan melawan Epstein dan Maxwell, mengatakan kepada “All Things Considered” NPR pada Senin (2/2/2026) bahwa masalah penyuntingan terasa disengaja.

    “Tidak ada penjelasan mengapa hal itu bisa dilakukan dengan sangat buruk,” katanya. “Mereka telah memiliki nama-nama korban untuk waktu yang sangat lama. Saya rasa ini bukan hanya tentang terburu-buru untuk mengeluarkan informasi ini.”

    Seorang juru bicara Departemen Kehakiman mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada NPR bahwa departemen tersebut “menanggapi perlindungan korban dengan sangat serius dan telah menyunting ribuan nama korban di jutaan halaman yang diterbitkan untuk melindungi orang yang tidak bersalah.”

    “Departemen memiliki 500 peninjau yang memeriksa jutaan halaman untuk alasan ini, untuk memenuhi persyaratan undang-undang sambil melindungi korban,” bunyi pernyataan tersebut.

    “Ketika nama yang diduga sebagai korban tidak disensor, tim kami bekerja tanpa henti untuk memperbaiki masalah tersebut dan menerbitkan kembali halaman yang telah disensor dengan tepat sesegera mungkin. Hingga saat ini, 0,1 persen dari halaman yang dirilis ditemukan memuat informasi identitas korban yang tidak disensor.”

    Angka tersebut, jika dilihat secara harfiah, menunjukkan bahwa lebih dari 3.000 halaman mengungkapkan informasi sensitif tentang korban Epstein.

    Situs web khusus untuk kumpulan dokumen tersebut juga memberikan petunjuk tentang cara melaporkan berkas yang berisi informasi identitas pribadi.

  • Kongres AS Akan Meninjau “Epstein Files” Pekan Depan

    Kongres AS Akan Meninjau “Epstein Files” Pekan Depan

    7cloud.asia – Anggota Kongres Amerika Serikat (AS) akan diizinkan meninjau jutaan halaman dokumen milik mendiang terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein atau yang dikenal dengan Epstein Files pada pekan depan.

    Menurut laporan yang dipublikasikan, Jumat (6/2/2026) waktu setempat, para legislator dapat mengakses materi di Epstein Files tersebut di Departemen Kehakiman mulai Senin (9/2/2026).

    Laporan itu menyebut anggota Kongres dapat meninjau Epstein Files terkait pemerintah tanpa sensor. Namun, mereka tidak akan memperoleh akses ke dokumen asli.

    NBC News melaporkan hal itu dengan mengutip sebuah surat kepada anggota Kongres yang mereka peroleh.

    Anggota Kongres hanya dapat meninjau berkas tersebut secara langsung dengan syarat memberikan pemberitahuan kepada Departemen Kehakiman 24 jam sebelumnya. Mereka diperbolehkan membuat catatan, tetapi dilarang membawa perangkat elektronik.

    Baca: Catatan penting di balik kontroversi “Epstein Files”

    Para legislator hanya dapat meninjau salinan Epstein Files tanpa sensor, dari sekitar tiga juta dokumen yang sebelumnya telah dipublikasikan oleh Departemen Kehakiman.

    Jumlah tersebut sekitar setengah dari seluruh berkas yang diakui berada dalam penguasaan lembaga tersebut.

    “Ketika Kongres melawan, Kongres bisa menang,” kata anggota parlemen Ro Khanna, yang bersama anggota lainnya, Thomas Massie menandatangani surat kepada Wakil Jaksa Agung Todd Blanche pada Jumat lalu untuk menuntut akses terhadap Epstein Files tanpa sensor.

    “@RepThomasMassie dan saya selalu percaya bahwa Kongres tidak boleh menjadi keset. Bukan hanya dalam isu berkas Epstein. Bukan pula dalam upaya menghentikan perang yang tidak masuk akal,” tambahnya.

    Seperti diketahui nama Presiden AS Donald Trump banyak disebut dalam Epstein Files bersama sejumlah tokoh dunia lainnya.

    Baca: Donald Trump jadi Presiden AS pertama yang punya catatan kriminal

    New York Times menemukan lebih dari 5.300 berkas yang berisi referensi tentang Donald Trump dan istilah-istilah terkait. Berkas-berkas itu dipenuhi dengan referensi kepada Trump, yang merupakan teman dekat Epstein hingga awal tahun 2000-an.

    Trump dan Epstein disebut menjalin ikatan karena ketertarikan mereka pada perempuan muda.

    Berkas-berkas tersebut mencakup klaim-klaim yang tidak senonoh dan belum terverifikasi, serta dokumen-dokumen yang telah dipublikasikan sebelumnya.

    Kubu Trump berulang kali meremehkan hubungan tersebut, dan telah membantah melakukan kesalahan apa pun terkait dengan Tuan Epstein.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Kongres AS Mulai Meninjau Epstein Files

    Kongres AS Mulai Meninjau Epstein Files

    7cloud.asia – Anggota Kongres Amerika Serikat (Kongres AS) mulai Senin (10/2/2026) waktu setempat mulai meninjau jutaan dokumen terkait pelaku pelecehan seksual Jeffrey Epstein yang sebelumnya disensor.

    Melansir Axios, Tempo.co menyebut dokumen-dokumen yang terkenal dengan sebutan Epstein Files ini berada dalam penguasaan pemerintah federal dan sebelumnya dirilis oleh Departemen Kehakiman AS dalam bentuk yang sebagian besar disensor.

    Kesempatan ini memberi legislator kemungkinan untuk meneliti detail yang tersembunyi dalam Epstein Files dan menilai apakah pemerintahan Trump telah mematuhi Epstein Transparency Act secara penuh.

    Anggota DPR Ro Khanna yang menjadi salah satu insiator pengungkapan Epstein files, menyatakan melalui unggahan di X, “Kami tidak akan berhenti sampai kelompok Epstein dibawa ke pengadilan.”

    Baca: Kongres AS diizinkan meninjau “Epstein Files” pekan depan

    Peninjauan ini hanya mencakup tiga juta dokumen yang telah dirilis ke publik, bukan seluruh enam juta dokumen yang dimiliki pemerintah federal.

    Aturan di Epstein Transparency Act
    Epstein Transparency Act mewajibkan Departemen Kehakiman AS merilis jutaan dokumen dari penyelidikan Epstein.

    Namun, ketika administrasi Trump memulai pengungkapan, banyak catatan disensor, sehingga memberikan sedikit informasi baru atau menutupi detail penting. Dasar hukum tersebut memicu protes dari legislator dan publik.

    Undang-undang tersebut menyatakan tidak ada dokumen yang boleh “ditahan, ditunda, atau disensor karena rasa malu, kerugian reputasi, atau sensitivitas politik, termasuk untuk pejabat pemerintah, tokoh publik, atau diplomat asing.”

    Baca: Catatan di balik kontroversi “Epstein Files”

    Namun, redaksi atau penahanan diizinkan untuk penyelidikan federal aktif, informasi pribadi korban, materi pelecehan anak, atau data rahasia negara.

    Seperti diketahui, Epstein Files memerinci aktivitas kriminal pemodal Amerika Serikat sekaligus terpidana pelaku kejahatan seksual terhadap anak, Jeffrey Epstein, beserta lingkaran sosialnya yang terdiri dari para tokoh publik, termasuk politisi dan selebritas.

    Epstein Files telah memicu kehebohan dunia. Dokumen itu menyebut nama sejumlah tokoh dunia termasuk nama Presiden AS Donald Trump.

    New York Times menemukan lebih dari 5.300 berkas yang berisi referensi tentang Donald Trump dan istilah-istilah terkait. Berkas-berkas itu dipenuhi dengan referensi kepada Trump, yang merupakan teman dekat Epstein hingga awal tahun 2000-an.

    Trump dan Epstein disebut menjalin ikatan karena ketertarikan mereka pada perempuan muda.