Tag: Fauna

  • Cuaca Panas Ekstrem Landa Indonesia, Kehidupan Fauna Terdampak

    Cuaca Panas Ekstrem Landa Indonesia, Kehidupan Fauna Terdampak

    7cloud.asia – Beberapa bulan ini Indonesia mengalami cuaca panas ekstrem. Cuaca seperti ini mempengaruhi kelangsungan hidup fauna di Indonesia.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Pengembangan dan Pelayanan Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia / Research Center for Climate Change University of Indonesia (RCCC UI), Dr Nurul L Winarni.

    “Dampak yang mungkin dialami oleh fauna di wilayah iklim tropis adalah ketersediaan makanan dan air serta migrasi dan distribusi habitatnya,” ungkap Nurul seperti yang dilansir Antara.

    Selanjutnya Nurul menjelaskan hewan-hewan yang ada di Indonesia memang merupakan jenis hewan yang hidup di daerah tropis, mengikuti iklim Indonesia.

    Hewan-hewan ini merupakan hewan karismatik, seperti harimau, gajah, badak, hingga berbagai jenis burung, reptil, amfibi, ikan, serangga, dan sebagainya.

    baca juga: bmkg waspadai cuaca ekstrem seminggu ke depan

    Namun, cuaca ekstrem ternyata berdampak signifikan terhadap berbagai jenis fauna. Misalnya burung-burung yang tinggal di pegunungan menjadi semakin sempit habitatnya karena pengaruh perubahan suhu yang semakin panas.

    Jenis-jenis hewan eksoterm, seperti amfibi, hewan yang memiliki sensitivitas terhadap perubahan suhu.

    Jika suhu terlalu panas, dapat mempengaruhi kondisi vital, seperti pencernaan, reproduksi, dan metabolisme serta kondisi ketersediaan air pada habitatnya yang mengalami kekeringan.

    “Dengan semakin minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan, fauna seperti burung dan kupu-kupu juga diperkirakan dapat kehilangan habitatnya,” ujarnya.

    Tidak hanya itu, cuaca ekstrem juga berdampak pada ketersediaan pakan satwa tersebut. Tumbuhan memiliki peran penting sebagai sumber makanan bagi hewan.

    baca juga: pertemuan g20 gagal capai kesepakatan pangkas bahan bakar fosil meski krisis iklim di depan mata

    Cuaca panas ekstrem menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah yang mempengaruhi ketersediaan pakan.. Kondisi ini tentu berdampak bagi hewan pemakan tumbuhan.

    Produksi nektar dan buah dapat terpengaruh, termasuk juga pola musim berbunga dan berbuah dapat bergeser. Ini menyebabkan satwa harus dapat mencari alternatif sumber daya lain.

    Menurutnya, fauna yang berpotensi migrasi seperti burung yang melakukan perjalanan musiman.

    Burung yang habitatnya mengalami musim panas ke musim dingin maka akan melakukan migrasi ke daerah yang lebih hangat seperti iklim tropis. Jika musim dingin berakhir, kemudian akan kembali ke tempat habitat awal.

    Sementara untuk hewan yang tinggal di daerah tropis, tidak terjadi migrasi. Namun, hewan tersebut membutuhkan persediaan sumber air yang cukup.

    baca juga: el nino percepat laju lelehnya salju abadi gunung puncak jaya

    Pergerakan hewan mungkin terjadi untuk mencari tempat-tempat yang masih menyediakan makanan, sumber air, dan tempat berlindung. Kompetisi antar satwa berpotensi terjadi untuk memperebutkan sumber daya ini.

    Akibat cuaca panas ekstrem, kebakaran hutan dan lahan terjadi dimana-mana.  Kondisi ini mengancam hilangnya habitat bagi spesies yang hidup di hutan tersebut.

    Selain itu, cuaca ekstrem juga dapat menyebabkan kekeringan pada habitat perairan seperti rawa, sungai, danau. Hal ini dapat mengancam keberadaan jenis-jenis ikan tertentu.

    baca juga: klhk sejumlah spesies baru ditemukan di hutan indonesia

    Jika hal tersebut terjadi dapat berdampak juga pada siklus ekosistem satwa, seperti rantai makanan dan jaring jaring makanan.

    Apabila salah satu rantai makanan hilang, lanjut Nurul, maka mempengaruhi tingkat trofik produsen, konsumen, dekomposer atau pengurai dan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

    Ini dapat terjadi karena adanya perubahan sumber daya makanan yang dapat menyebabkan perubahan komposisi komunitas hewan dalam ekosistem tersebut.

    Akibatnya terjadi kehilangan spesies tertentu atau peningkatan populasi organisme lain yang lebih dominan.

    baca juga: hari spesies terancam punah kapan dan mengapa diperingati
    Karena itu, ada beberapa hal menurut Nurul dapat dilakukan untuk menanggulangi dampak jangka pendek cuaca ekstrem terhadap fauna.

    Diantaranya dengan menyediakan sumber air, mencegah kebakaran hutan, menanam pohon buah dan tanaman berbunga di perkotaan.

    Untuk jangka panjang, dapat melakukan restorasi dan proteksi habitat, menyediakan alternatif habitat khususnya untuk kawasan perkotaan.

    Misalnya dengan menyediakan ruang terbuka hijau seperti taman, termasuk memanfaatkan halaman rumah dan konservasi sumber daya air.

    Reporter: Nurakhmayani

  • RI Bakal Mendata Keanekaragaman Hayati Flora dan Fauna yang Terancam Punah pada 2025

    RI Bakal Mendata Keanekaragaman Hayati Flora dan Fauna yang Terancam Punah pada 2025

    7cloud.asia – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup akan melakukan pendataan nasional terhadap keanekaragaman hayati flora dan fauna yang terancam punah pada tahun 2025.

    Pernyataan tersebut diungkapkan Kepala Sub-Direktorat Pengawetan Spesies dan Genetik Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badi’ah, dalam webinar Cengkerama Iklim Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLH bertajuk “Keanekaragaman Hayati dalam Perubahan Iklim” di Jakarta, Selasa (10/12/2024)

    Badi’ah mengungkapkan bahwa sebaran keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna nasional, sangat luas yang menghuni sedikitnya 93,219 juta hektare dari total lahan Indonesia.

    Masing-masing tersebar di Pulau Sumatera sebanyak 22 spesies flora/fauna, Pulau Jawa 25 spesies, Kalimantan 14 spesies, Sulawesi 16 spesies, Maluku delapan spesies, Bali – Nusa Tenggara 15 spesies, dan Papua sembilan spesies.

    KLH mencatatkan secara rinci kekayaan keanekaragaman hayati spesies terestrial di Indonesia meliputi 9,7 persen tumbuhan berbunga, 15 persen mamalia, sembilan persen reptil, enam persen amfibi, 17 persen burung, dan sembilan persen ikan air tawar di dunia.

    Baca: Eksplorasi di Taman Nasional Kerinci Seblat temukan 100 jenis flora langka

    Bahkan, kata dia, berdasarkan data yang dihimpun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2023 Indonesia sebagai negara kepulauan juga memiliki empat dari 25 keanekaragaman hayati laut di dunia.

    “Namun kita belum mengetahui berapa indeks ancaman kepunahan pada spesies yang ada akibat kondisi dari peningkatan suhu global dan perubahan iklim saat ini,” kata Badi’ah.

    Menurut dia, organisasi konservasi keanekaragaman hayati dunia (UNCBD) memprakirakan 44 persen spesies karang perairan hangat dan 50 persen ekosistem bakau global bakal punah pada 2050 jika peningkatan suhu tidak dapat dikendalikan.

    Adapun organisasi iklim dunia (WMO) melaporkan kenaikan suhu global saat ini berada pada angka 1,45 derajat Celcius atau nyaris mencapai 1,5 derajat Celcius yang merupakan ambang normal suhu yang disepakati global dalam forum Paris Aggrement 2015.

    Mantan Kepala Balai Konservasi Kepulauan Seribu ini menilai kondisi peningkatan suhu global tersebut akan berdampak signifikan pada keanekaragaman hayati di Indonesia.

    Baca: WWF sebut jumlah satwa liar turun 73 persen dalam 50 tahun terakhir

    Hal ini ditandai dari keterlambatan musim hujan Indonesia medio 2024-2025 sebagaimana diumumkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang berdasarkan analisa KLH juga mulai menimbulkan gangguan pada pola migrasi, masa berkembang biak hingga penyerbukan pada tumbuhan di wilayah Indonesia.

    “Perubahan habitat sangat vital bagi keberadaan spesies, rinciannya akan dilakukan pendataan dengan menjadikan strategi dan rencana aksi keanekaragaman hayati atau IBSAP sebagai acuan,” ujarnya.

    Ancaman terhadap hilangnya keanekaragaman hayati telah diingatkan Platform Sains-Kebijakan Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem (the Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services/IPBES) pada 2019 lalu

    Dalam laporan itu disebutkan, sekitar 1.000.000 spesies hewan dan tumbuhan semakin terancam punah dalam beberapa dekade terakhir.

    Baca: Populasi harimau liar di dunia meningkat signifikan

    Ringkasan laporan terbaru yang disetujui pada sesi ke-7 Pleno IPBES yang berlangsung pada 29 April hingga 4 Mei 2019 di Paris, Prancis, tersebut berdasarkan peninjauan sistematis sekitar 15.000 sumber ilmiah dan pemerintah.

    Laporan tersebut, untuk pertama kalinya juga menggambarkan pengetahuan masyarakat adat dan lokal, khususnya masalah yang relevan dengan keberadaan dan kondisi mereka.

    Ketua IPBES Sir Robert Watson dalam keterangan tertulis diterima Antara di Jakarta, Senin mengatakan bukti luar biasa dari Penilaian Global IPBES, dari berbagai bidang pengetahuan yang berbeda telah menghadirkan gambaran yang tidak menyenangkan.

    “Kesehatan ekosistem tempat kita dan semua spesies lain bergantung hidup memburuk lebih cepat daripada sebelumnya. Kita mengikis fondasi ekonomi, mata pencaharian, keamanan pangan, kesehatan dan kualitas hidup kita di seluruh dunia,” katanya saat itu seperti dilansir Antaranews.