RI Bakal Mendata Keanekaragaman Hayati Flora dan Fauna yang Terancam Punah pada 2025

Written by

in

7cloud.asia – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup akan melakukan pendataan nasional terhadap keanekaragaman hayati flora dan fauna yang terancam punah pada tahun 2025.

Pernyataan tersebut diungkapkan Kepala Sub-Direktorat Pengawetan Spesies dan Genetik Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badi’ah, dalam webinar Cengkerama Iklim Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLH bertajuk “Keanekaragaman Hayati dalam Perubahan Iklim” di Jakarta, Selasa (10/12/2024)

Badi’ah mengungkapkan bahwa sebaran keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna nasional, sangat luas yang menghuni sedikitnya 93,219 juta hektare dari total lahan Indonesia.

Masing-masing tersebar di Pulau Sumatera sebanyak 22 spesies flora/fauna, Pulau Jawa 25 spesies, Kalimantan 14 spesies, Sulawesi 16 spesies, Maluku delapan spesies, Bali – Nusa Tenggara 15 spesies, dan Papua sembilan spesies.

KLH mencatatkan secara rinci kekayaan keanekaragaman hayati spesies terestrial di Indonesia meliputi 9,7 persen tumbuhan berbunga, 15 persen mamalia, sembilan persen reptil, enam persen amfibi, 17 persen burung, dan sembilan persen ikan air tawar di dunia.

Baca: Eksplorasi di Taman Nasional Kerinci Seblat temukan 100 jenis flora langka

Bahkan, kata dia, berdasarkan data yang dihimpun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2023 Indonesia sebagai negara kepulauan juga memiliki empat dari 25 keanekaragaman hayati laut di dunia.

“Namun kita belum mengetahui berapa indeks ancaman kepunahan pada spesies yang ada akibat kondisi dari peningkatan suhu global dan perubahan iklim saat ini,” kata Badi’ah.

Menurut dia, organisasi konservasi keanekaragaman hayati dunia (UNCBD) memprakirakan 44 persen spesies karang perairan hangat dan 50 persen ekosistem bakau global bakal punah pada 2050 jika peningkatan suhu tidak dapat dikendalikan.

Adapun organisasi iklim dunia (WMO) melaporkan kenaikan suhu global saat ini berada pada angka 1,45 derajat Celcius atau nyaris mencapai 1,5 derajat Celcius yang merupakan ambang normal suhu yang disepakati global dalam forum Paris Aggrement 2015.

Mantan Kepala Balai Konservasi Kepulauan Seribu ini menilai kondisi peningkatan suhu global tersebut akan berdampak signifikan pada keanekaragaman hayati di Indonesia.

Baca: WWF sebut jumlah satwa liar turun 73 persen dalam 50 tahun terakhir

Hal ini ditandai dari keterlambatan musim hujan Indonesia medio 2024-2025 sebagaimana diumumkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang berdasarkan analisa KLH juga mulai menimbulkan gangguan pada pola migrasi, masa berkembang biak hingga penyerbukan pada tumbuhan di wilayah Indonesia.

“Perubahan habitat sangat vital bagi keberadaan spesies, rinciannya akan dilakukan pendataan dengan menjadikan strategi dan rencana aksi keanekaragaman hayati atau IBSAP sebagai acuan,” ujarnya.

Ancaman terhadap hilangnya keanekaragaman hayati telah diingatkan Platform Sains-Kebijakan Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem (the Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services/IPBES) pada 2019 lalu

Dalam laporan itu disebutkan, sekitar 1.000.000 spesies hewan dan tumbuhan semakin terancam punah dalam beberapa dekade terakhir.

Baca: Populasi harimau liar di dunia meningkat signifikan

Ringkasan laporan terbaru yang disetujui pada sesi ke-7 Pleno IPBES yang berlangsung pada 29 April hingga 4 Mei 2019 di Paris, Prancis, tersebut berdasarkan peninjauan sistematis sekitar 15.000 sumber ilmiah dan pemerintah.

Laporan tersebut, untuk pertama kalinya juga menggambarkan pengetahuan masyarakat adat dan lokal, khususnya masalah yang relevan dengan keberadaan dan kondisi mereka.

Ketua IPBES Sir Robert Watson dalam keterangan tertulis diterima Antara di Jakarta, Senin mengatakan bukti luar biasa dari Penilaian Global IPBES, dari berbagai bidang pengetahuan yang berbeda telah menghadirkan gambaran yang tidak menyenangkan.

“Kesehatan ekosistem tempat kita dan semua spesies lain bergantung hidup memburuk lebih cepat daripada sebelumnya. Kita mengikis fondasi ekonomi, mata pencaharian, keamanan pangan, kesehatan dan kualitas hidup kita di seluruh dunia,” katanya saat itu seperti dilansir Antaranews.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *