Tag: Fenomena Bediding

  • Fenomena Bediding, Ini Dampaknya Bagi Kesehatan

    Fenomena Bediding, Ini Dampaknya Bagi Kesehatan

    7cloud.asia – Fenomena bediding yang kini tengah terjadi di wilayah Pulau Jawa, Bali, NTB dan NTT berdampak buruk yang serius bagi kesehatan.  

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat beberapa fakta penting tentang dampak fenomena perubahan udara menjadi lebih dingin pada pagi serta malam hari ini terhadap kesehatan.

    Udara dingin ekstrem seperti ini dapat mempengaruhi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.

    Baca: Penyebab udara dingin di musim kemarau

    Fenomena yang terjadi di musim kemarau ini membuat kondisi alam menjadi kering dan menyebabkan kurangnya pasokan air.

    Hal ini dapat menyebabkan imunitas tubuh menjadi turun dan orang yang memiliki kondisi tubuh kurang fit dapat dengan mudah terserang penyakit seperti diare, infeksi saluran pernapasan, flu/pilek, hingga muntaber.

    Selain itu, udara dingin juga bisa memengaruhi indeks kenyamanan tubuh. Karena itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat agar terhindar dari berbagai penyakit tersebut:

    Baca: Kiat menjaga kesehatan di musim pancaroba

    1. Menjaga asupan makanan empat sehat lima sempurna untuk membantu pencernaan dan daya tahan tubuh lebih baik
    2. Memperbanyak konsumsi air putih tanpa harus menunggu haus terlebih dahulu agar dapat meningkatkan cairan tubuh. 
    3. Perhatikan pola tidur dan jangan sampai kelelahan.
    4. Mengonsumsi vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. 
    5. Kenakan pakaian tebal dan hangat, karena dapat mempengaruhi kondisi tubuh saat diluar (terutama pada malam hari).

     

  • Tak Hanya Pada Manusia, Fenomena Bediding Juga Berdampak Pada Pertanian dan Peternakan

    Tak Hanya Pada Manusia, Fenomena Bediding Juga Berdampak Pada Pertanian dan Peternakan

    7cloud.asia – Udara yang terasa lebih dingin akibat adanya fenomena bediding beberapa minggu terakhir ini berdampak buruk pada sektor pertanian dan peternakan.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat beberapa fakta penting tentang dampak fenomena perubahan udara menjadi lebih dingin pada pagi serta malam hari ini terhadap pertanian dan peternakan.

    Seperti yang terjadi di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah. Di tempat ini setiap musim kemarau terjadi fenomena embun es atau frost.

    Kondisi ini dapat merusak tanaman, menyebabkan layu atau bahkan kematian tanaman sehingga berdampak pada hasil panen serta kesejahteraan petani.

    Baca: Musim kemarau, udara terasa lebih dingin? Ini penyebabnya

    Untuk mengatasi embun es ini, petani dapat mengupayakan berbagai cara untuk melindungi tanamannya.

    Misalnya dengan menutupi tanaman dengan plastik atau kain pada malam hari untuk melindungi dari embun es.

    Upaya lainnya adalah dengan menyemprotkan air ke tanaman pada pagi hari. Hal ini dilakukan untuk memecah embun es serta menjaga tanaman agar tidak kering karena udara dingin.

    Tak hanya petani. Peternak pun ikut terdampak dengan fenomena bediding. Hewan ternak mereka terancam mati akibat udara yang dingin ekstrem.

    Hewan ternak yang paling rentan terhadap cuaca dingin ekstrem adalah  unggas. Karena itu peternak harus mengantisipasinya.

    Baca: Dampak fenomena bediding bagi kesehatan

    Salah satu caranya adalah dengan memastikan hewan ternaknya mendapatkan perlindungan yang cukup dari suhu dingin.

    Pastikan kandang hewan hangat dan nyaman serta memiliki ventilasi yang baik. Jika perlu sediakan sumber panas di kandang hewan.

    Dengan demikian hewan ternak terlindungi dari angin dingin terutama pada malam dan pagi hari.

    Seperti yang diberitakan sebelumnya, fenomena bediding adalah kondisi di mana suhu lingkungan terasa lebih dingin dari biasanya, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa.

    Baca: Dampak fenomena embun es bagi pertanian

    Fenomena bediding ditandai dengan rendahnya intensitas hujan. Kurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi panas dari permukaan bumi tidak terperangkap, sehingga suhu udara menjadi lebih dingin.

    Fenomena ini terjadi selama musim kemarau, ketika angin monsun timuran membawa udara kering dan dingin.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • Ribuan Ikan Mati di Pasuruan dan Lumajang Akibat Fenomena Bediding

    Ribuan Ikan Mati di Pasuruan dan Lumajang Akibat Fenomena Bediding

    7cloud.asia – Fenomena bediding yang terjadi beberapa minggu terakhir ini telah mengakibatkan ribuan ikan di wilayah Pasuruan dan Lumajang, Jawa Timur mati mendadak.

    Fenomena ini terjadi setelah air di dasar kolam yang mengandung belerang naik ke permukaan akibat cuaca dingin atau bediding, sehingga membuat kandungan oksigen turun drastis.

    Ikan-ikan tersebut diduga mati karena kekurangan oksigen.

    Seperti yang terjadi di kolam budidaya di Kelurahan Sebani, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur. Kamis (18/07/2024) lalu.

    Sebanyak 2.700 bibit ikan lele mati akibat suhu ekstrem bediding. “Baru kali ini terkena dampak. Padahal saya sudah menjalankan usaha ini bertahun-tahun lamanya,” kata peternak lele, Saiku seperti yang dilansir Vivanews.

    “Saya kira kondisi keasaman air atau oksigen dalam air sangat berpengaruh,” lanjutnya.

    Baca: Fenomena bediding berdampak pada pertanian dan peternakan

    Kepala Dinas Perikanan Kota Pasuruan, Mualif Arif menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan ribuan bibit ikan mati.

    “Bisa saja penyebabnya kualitas air, penyakit atau pun terserang hama tertentu,” ungkap Mualif Arif.

    Pihaknya juga telah melakukan pemeriksaan pada tempat budidaya lainnya untuk memastikan kondisi serupa tidak terjadi di lokasi pembudiyaaan lainnya.

    Kematian ikan secara mendadak juga terjadi di Lumajang, Jawa Timur. Ribuan ikan nila dan mujaer di Ranu Klakah, Desa Tegal Randu, Kecamatan Klakah, Lumajang, Jawa Timur mati mendadak.

    Baca: Udara dingin di musim kemarau? Ini penyebabnya

    Akibatnya para petani keramba apung merugi hingga puluhan juta rupiah. Menurut Muhammad, salah satu petani keramba apung menjelaskan setiap udara dingin seperti saat ini memang banyak ikan yang mati.

    “Kalau cuaca panas sih ya ndak (mati). Tapi kalau dingin, hujan ya bisa ikan matinya menyeluruh yang punya karamba,” kata Muhammad.

    Muhammad mengakui selama tiga hari ribuan ikannya mati telah mengakibatkan kerugian hingga Rp 35 juta.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena bediding adalah kondisi di mana suhu lingkungan terasa lebih dingin dari biasanya, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa.

    Baca: Suhu dingin di Bandung diperkirakan hingga Agustus

    Fenomena bediding ditandai dengan rendahnya intensitas hujan. Kurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi panas dari permukaan bumi tidak terperangkap, sehingga suhu udara menjadi lebih dingin.

    Fenomena ini terjadi selama musim kemarau, ketika angin monsun timuran dari Australia membawa udara kering dan dingin.

    Di Pulau Jawa, suhu terendah yang tercatat selama fenomena bediding bisa mencapai sekitar 11-15°C. Suhu dingin yang ekstrem ini akan mencapai puncaknya pada Agustus nanti.

    Baca: Labuan Bajo dilanda suhu dingin

    Fenomena bediding umum terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah yang berdekatan dengan khatulistiwa hingga bagian utara.

    Pada wilayah ini, pada pagi hari udara cenderung lebih dingin dari biasanya. Kemudian siang harinya udara akan terasa lebih panas.

    Tak hanya di Pulau Jawa, fenomena bediding juga terjadi di daerah dataran tinggi di Indonesia bagian selatan lainnya, seperti Bali, NTB dan NTT.