7cloud.asia – Fenomena bediding yang terjadi beberapa minggu terakhir ini telah mengakibatkan ribuan ikan di wilayah Pasuruan dan Lumajang, Jawa Timur mati mendadak.
Fenomena ini terjadi setelah air di dasar kolam yang mengandung belerang naik ke permukaan akibat cuaca dingin atau bediding, sehingga membuat kandungan oksigen turun drastis.
Ikan-ikan tersebut diduga mati karena kekurangan oksigen.
Seperti yang terjadi di kolam budidaya di Kelurahan Sebani, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur. Kamis (18/07/2024) lalu.
Sebanyak 2.700 bibit ikan lele mati akibat suhu ekstrem bediding. “Baru kali ini terkena dampak. Padahal saya sudah menjalankan usaha ini bertahun-tahun lamanya,” kata peternak lele, Saiku seperti yang dilansir Vivanews.
“Saya kira kondisi keasaman air atau oksigen dalam air sangat berpengaruh,” lanjutnya.
Baca: Fenomena bediding berdampak pada pertanian dan peternakan
Kepala Dinas Perikanan Kota Pasuruan, Mualif Arif menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan ribuan bibit ikan mati.
“Bisa saja penyebabnya kualitas air, penyakit atau pun terserang hama tertentu,” ungkap Mualif Arif.
Pihaknya juga telah melakukan pemeriksaan pada tempat budidaya lainnya untuk memastikan kondisi serupa tidak terjadi di lokasi pembudiyaaan lainnya.
Kematian ikan secara mendadak juga terjadi di Lumajang, Jawa Timur. Ribuan ikan nila dan mujaer di Ranu Klakah, Desa Tegal Randu, Kecamatan Klakah, Lumajang, Jawa Timur mati mendadak.
Baca: Udara dingin di musim kemarau? Ini penyebabnya
Akibatnya para petani keramba apung merugi hingga puluhan juta rupiah. Menurut Muhammad, salah satu petani keramba apung menjelaskan setiap udara dingin seperti saat ini memang banyak ikan yang mati.
“Kalau cuaca panas sih ya ndak (mati). Tapi kalau dingin, hujan ya bisa ikan matinya menyeluruh yang punya karamba,” kata Muhammad.
Muhammad mengakui selama tiga hari ribuan ikannya mati telah mengakibatkan kerugian hingga Rp 35 juta.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena bediding adalah kondisi di mana suhu lingkungan terasa lebih dingin dari biasanya, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa.
Baca: Suhu dingin di Bandung diperkirakan hingga Agustus
Fenomena bediding ditandai dengan rendahnya intensitas hujan. Kurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi panas dari permukaan bumi tidak terperangkap, sehingga suhu udara menjadi lebih dingin.
Fenomena ini terjadi selama musim kemarau, ketika angin monsun timuran dari Australia membawa udara kering dan dingin.
Di Pulau Jawa, suhu terendah yang tercatat selama fenomena bediding bisa mencapai sekitar 11-15°C. Suhu dingin yang ekstrem ini akan mencapai puncaknya pada Agustus nanti.
Baca: Labuan Bajo dilanda suhu dingin
Fenomena bediding umum terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah yang berdekatan dengan khatulistiwa hingga bagian utara.
Pada wilayah ini, pada pagi hari udara cenderung lebih dingin dari biasanya. Kemudian siang harinya udara akan terasa lebih panas.
Tak hanya di Pulau Jawa, fenomena bediding juga terjadi di daerah dataran tinggi di Indonesia bagian selatan lainnya, seperti Bali, NTB dan NTT.