Tag: Festival Dadap

  • Festival Dadap 2026: Cara Masyarakat Pesisir Dadap untuk Advokasi Lingkungan dan Menghadapi Krisis Iklim

    Festival Dadap 2026: Cara Masyarakat Pesisir Dadap untuk Advokasi Lingkungan dan Menghadapi Krisis Iklim

    7cloud.asia – Bertempat di Lapangan Muara Dadap, Kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, anak muda bersama masyarakat pesisir Kampung Dadap kembali menggelar Festival Dadap Vol. 5.

    Festival Dadap yang berlangsung pada 18–19 Juli 2026 ini mengusung tema “Swasembada Pesisir End Climate Corruption”, dan menjadi ruang kolektif yang mempertemukan seni, budaya, pendidikan, dan advokasi lingkungan dalam satu gerakan masyarakat.

    Festival Dadap lahir pada tahun 2020 dari inisiatif pemuda Kampung Dadap sebagai respons atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir.

    Masalah itu mulai dari ancaman penggusuran, kriminalisasi nelayan yang berjuang, krisis ekologis, tata kelola infrastruktur yang buruk, pengabaian sosial hingga hilangnya ruang hidup akibat pembangunan yang masif.

    Sejak awal, Festival Dadap dibangun secara mandiri dan swadaya melalui semangat gotong royong warga dan pemuda sebagai wadah untuk memperkuat solidaritas, merawat ingatan kolektif, sekaligus menghapus stigma negatif yang selama ini melekat pada warga dan pemuda Kampung Dadap.

    Berbeda dengan banyak festival pada umumnya, Festival Dadap diselenggarakan secara mandiri melalui pendanaan kolektif yang berasal dari penjualan merchandise, dukungan komunitas, donasi publik, dan gotong royong masyarakat.

    Baca: Aksi Pandawara Group Tunjukkan Konten Positif Obati Keresahan terhadap Masalah Lingkungan

    Model ini dipilih sebagai bentuk komitmen untuk menjaga independensi gerakan serta memastikan festival tetap menjadi milik warga. Festival Dadap percaya bahwa seni dan kebudayaan memiliki peran penting dalam memperkuat kesadaran sosial.

    Melalui musik, pameran, diskusi, hingga ruang-ruang kreatif lainnya, masyarakat diajak untuk tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga memahami berbagai persoalan yang dihadapi kawasan pesisir hari ini.

    “Festival Dadap bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah ruang belajar bersama tentang semangat, kreativitas, keberanian untuk bersuara, memperjuangkan hak, serta membangun partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan dan masa depan pesisir,“ demikian pernyataan tertulis dari panitia yang diterima 7cloud.asia, Jumat (17/7/2026) malam.

    Tema “Swasembada Pesisir” mengajak masyarakat untuk melihat bahwa pesisir bukan sekadar ruang ekonomi dan menjadi objek penghasil pangan pesisir, melainkan ruang hidup yang harus dijaga bersama.

    Tema ini juga bentuk sarkasme bahwa ketika negara hanya fokus pada program dan kebijakan yang tidak lebih urgent dari kebutuhan masyarakat pesisir, maka masyarakat itu sendiri yang memenuhi kebutuhannya dengan Swasembada.

    Baca: Milenial dan Gen Z Bisa Jadi Kekuatan Penekan Produsen Lebih Peduli Lingkungan

    Sebuah monumental ingatan tentang persatuan masyarakat pesisir. Sementara “End Climate Corruption” menjadi seruan terhadap praktik-praktik pembangunan yang mengabaikan keadilan lingkungan dan berdampak langsung pada masyarakat pesisir.

    Festival Dadap mendorong keterlibatan publik dalam memahami keterkaitan antara krisis iklim, tata kelola sumber daya alam, serta hak masyarakat atas ruang hidup yang adil.

    Selama dua hari penyelenggaraan, Festival Dadap Vol. 5 menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan, seperti Diskusi publik mengenai pesisir, lingkungan, dan korupsi iklim.
    Juga ada pelatihan membuat zine bersama Indonesia Corruption Watch (ICW).

    Pameran seni, arsip photografi dan video mapping. Tak ketinggalan Bazar UMKM serta ruang kreatif komunitas. Pertunjukan seni tradisi masyarakat pesisir.

    Penampilan musik dari berbagai musisi yang selama ini konsisten menyuarakan isu-isu sosial dan lingkungan. Seluruh rangkaian kegiatan terbuka bagi masyarakat sebagai ruang belajar bersama, bertukar gagasan, serta memperkuat jejaring antar komunitas.

  • Berita Terpopuler Pekan Ini: Dari Festival Dadap hingga Perempuan Pahlawan Nasional

    Berita Terpopuler Pekan Ini: Dari Festival Dadap hingga Perempuan Pahlawan Nasional

    7cloud.asia – Artikel mengenai Festival Dadap 2026 menjadi berita yang paling banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia.

    Artikel ini menjadi berita terpopuler bersama sejumlah artikel terkait isu sosial politik seperti usulan penggunaan hak angket untuk mengusut perseteruanpentingnya perubahan struktural untuk aksi iklimPolrivsKejaksaan serta kekerasan pada anak

    Artikel terkait isu lingkungan yakni kurangnya ruang terbuka hijau memicu panas perkotaan juga masuk berita terpopuler pekan ini

    Berikut lima berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia:

    1. Festival Dadap 2026
    Festival Dadap yang berlangsung pada 18–19 Juli 2026 ini mengusung tema “Swasembada Pesisir End Climate Corruption”, dan menjadi ruang kolektif yang mempertemukan seni, budaya, pendidikan, dan advokasi lingkungan dalam satu gerakan masyarakat.

    Festival Dadap lahir pada tahun 2020 dari inisiatif pemuda Kampung Dadap sebagai respons atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir, seperti ancaman penggusuran, kriminalisasi nelayan yang berjuang.

    Juga krisis ekologis, tata kelola infrastruktur yang buruk, pengabaian sosial hingga hilangnya ruang hidup akibat pembangunan yang masif.

    “Festival Dadap bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah ruang belajar bersama tentang semangat, kreativitas, keberanian untuk bersuara, memperjuangkan hak, serta membangun partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan dan masa depan pesisir,“ demikian pernyataan tertulis dari panitia yang diterima 7cloud.asia.

    Baca berita selengkapnya di sini

    2. Penggunaan hak angket untuk mengurai ketegangan Polri vs Kejaksaan
    Ketegangan yang mencuat antara Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Kejaksaan Agung, khususnya dalam penanganan sejumlah perkara yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah cukup meresahkan.

    Merespon konflik Polri vs Kejaksaan ini muncul usulan agar DPR menggunakan hak angket untuk menyelidiki kasus ini.

    Menurut Anggota Komisi III DPR Benny K. Harman, konflik terbuka Polri vs Kejaksaan tersebut telah menimbulkan keresahan publik dan berpotensi mengganggu kredibilitas penegakan hukum.

    Baca berita selengkapnya di sini

    3. Kekerasan pada anak masih tinggi
    Kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia masih menjadi alarm serius. Sepanjang 2025, lebih dari 15 ribu anak menjadi korban kekerasan seksual, sementara ribuan lainnya mengalami kekerasan fisik. Ironisnya, mayoritas kasus justru terjadi di dalam rumah.

    Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), tercatat lebih dari 15.300 kasus kekerasan seksual terhadap anak dan 12.160 kasus kekerasan fisik sepanjang 2025.

    Sebanyak 60,1 persen kasus terjadi di lingkungan rumah, tempat yang semestinya menjadi ruang paling aman bagi anak.

    Baca berita selengkapnya di sini

    4. El nino dan minimnya ruang terbuka hijau perburuk panas perkotaan
    Risiko paparan panas juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal. Kota-kota yang dipenuhi bangunan, minim ruang terbuka hijau, serta didominasi beton dan aspal cenderung menyerap dan menyimpan panas lebih lama.

    Kondisi ini memicu fenomena urban heat island (pulau panas perkotaan), yang membuat suhu kawasan perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah sekitarnya dan meningkatkan risiko heat stress bagi masyarakat.

    Executive Director Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, mengatakan bahwa adaptasi terhadap suhu panas tidak dapat hanya dibebankan kepada individu. Cara rumah, lingkungan, dan kota dirancang turut menentukan tingkat paparan panas yang dialami warga.

    Baca berita selengkapnya di sini

    5. 16 Perempuan pahlawan nasional
    “Sejauh mana perjuangan Kartini mampu mempengaruhi pola pikir perempuan saat itu, sehingga mendorong gerakan kesetaraan di masa penjajahan tersebut?“ demikian pertanyaan yang terlontar

    Pelontar pertanyaan beralasan, meski jauh ke depan, pemikiran Kartini hanya dituangkan dalam surat-suratnya kepada JH Abendanon dan tidak dipublikasikan secara luas.

    Sementara, di luar Jawa ada banyak perempuan yang ikut mengangkat senjata melawan penjajah Belanda. Siapa saja mereka?

    Baca artikel selengkapnya di sini