Tag: Flobamoratas

  • Cara Anak Muda Flobamorates Berkontribusi Menahan Laju Perubahan Iklim

    Cara Anak Muda Flobamorates Berkontribusi Menahan Laju Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Jambore Komunitas Gotong Royong Untuk Flobamoratas (sebutan untuk Nusa Tenggara Timur/NTT) kembali digelar mulai Selasa, (29/4/2025).

    Ajang tahunan ini diselenggarakan oleh Koalisi Kelompok Orang Muda Untuk Perubahan Iklim (Koalisi KOPI) sejak 2022 bertujuan untuk menggalang inisiatif bersama mengantisipasi perubahan iklim.

    Setiap tahun sedikitnya 100 anak muda dari 12 Kabupaten/Kota di bumi Flobamoratas yaitu Flores Timur, Sikka, Ende, Nagakeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, Manggarai Barat, Alor, Lembata, Sumba Timur, dan Timor bertemu dan bertukar pengalaman.

    Dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, tahun ini, Jambore GRUF dilangsungkan di Pantai Sebanjar yang terletak di Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut diikuti sekitar 200 pemuda dari 15 kabupaten/kota di NTT.

    “Acara ini diselenggarakan setiap tahun dan menjadi ajang pertemuan anak muda. Niatnya, nantinya akan menjadi seluruh NTT. Tujuan pertemuan kita untuk belajar bersama, lalu melakukan kampanye-kampanye tentang perubahan iklim,” kata Direktur Koalisi KOPI, Dicky Lopulalan saat membuka Jambore GRUF 2025.

    Koalisi KOPI selama ini menghimpun komunitas-komunitas anak muda non-aktivis lingkungan yang ada di berbagai daerah di NTT untuk bergerak di aksi dan kampanye mengenai perubahan iklim.

    Baca: Framing agama ampuh gerakkan aksi lingkungan

    Jambore GRUF adalah salah satu dari kegiatan regular tahunannya.

    “Seringkali ketika isu perubahan iklim, yang kita cari adalah solusi-solusi yang tidak pada tempatnya. Teman-teman muda di sini semuanya berkumpul untuk belajar, mencari tahu, solusi sebenarnya seperti apa,” kata Dicky mengenai tujuan penyelenggaraan Jambore GRUF 2025.

    Jambore GRUF 2025 mengusung tema “Taramiti Tominuku” yang merupakan semboyan masyarakat Alor dari suku Abui yang berarti walaupun berbeda-beda tempat tinggal, namun satu hati”.

    Selama lima hari, para peserta akan mengikuti dan menikmati berbagai kegiatan seperti festival, tukar cerita antar komunitas mengenai praktik-praktik baik dalam menghadapi perubahan iklim, permainan, dan pelatihan-pelatihan lainnya.

    Selain itu diselenggarakan talkshow, pameran hasil dan produk UMKM dari komunitas-komunitas, belajar dan mempraktikkan bagaimana menghitung jejak karbon.

    Ada juga pemutaran film bertema perubahan iklim, dan juga kesempatan bagi peserta untuk mengenal kekayaan dan keindahan Pulau Alor.

    Baca: Agama dan gender sokong adaptasi warga terhadap dampak perubahan iklim

    “Jambore GRUF untuk tahun ini bertujuan mempertemukan orang muda, sebagai ruang bertemu, berbagi pengetahuan dan pengalaman, juga menajamkan isu strategis sebagai hal yang akan kami perjuangkan di Koalisi KOPI, kelompok orang muda untuk perubahan iklim di NTT,” kata Ketua Koalisi KOPI NTT, Magdalena Eda Tukan.

    Ia berharap dengan adanya Jambore GRUF, anak muda NTT semakin solid dan terus bersuara untuk memperjuangkan isu-isu terkait dampak-dampak perubahan iklim yang juga terasa di bumi Flobamoratas.

    Bupati Alor, Iskandar Lakamau, membuka secara resmi Jambore GRUF mengapresiasi upaya para pemuda yang peduli pada lingkungan dan isu perubahan iklim yang berdampak global dan juga terasa di Kabupaten Alor tempat kegiatan ini berlangsung.

    “Saya atas nama Pemerintah Kabupaten Alor memberikan apresiasi yang tinggi buat teman-teman pemuda yang telah berniat dan mempunyai kepedulian yang tinggi untuk melihat perubahan iklim,” katanya.

    “Perubahan iklim merupakan masalah global yang harus kita sikapi, kita lihat dengan serius. Perubahan iklim sangat terasa dan sampai di Alor kita juga merasakan itu. Kita bersyukur dan berterima kasih orang-orang muda punya kepedulian yang cukup tinggi terhadap perubahan iklim yang kita alami saat ini,” kata Bupati Alor.

    Pada kesempatan itu ia berharap masyarakat Pulau Alor dapat mengunjungi Jambore GRUF 2025 di hari terakhir, pada 3 Meil 2025 dan belajar langsung bagaimana berkontribusi pada upaya menahan laju perubahan iklim.

    Baca: Zilenial dan baby boomers aama-sama terdampak perubahan iklim

  • Jambore Gotong Royong Untuk Flobamorates Perkenalkan Beragam Makanan Lokal

    Jambore Gotong Royong Untuk Flobamorates Perkenalkan Beragam Makanan Lokal

    7cloud.asia – Keragaman budaya lokal Nusa Tenggara Timur tersaji di Jambore Gotong Royong Untuk Flobamorates (sebutan untuk Nusa Tenggara Timur/NTT) yang digelar mulai Selasa, (29/4/2025).

    Para peserta jambore, baik laki-laki maupun perempuan, mengenakan beragam jenis tenun dengan ciri khas dan warna berbeda dari tiap kabupaten/kota di bumi Flobamoratas.

    Berbagai makanan khas setempat berbahan pangan lokal seperti ubi nuabosi, jagung, kenari dan ikan laut juga tersaji di sana.

    Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga keragaman lokal sekaligus merawat praktik-praktik baik yang selama ini berlangsung di bumi Flobamorates.

    Para peserta yang datang dari 12 kabupaten di bumi Flobamorates pun bisa mencicipi berbagai makanan berbahan ubi nuabosi khas Ende (Flores)

    Baca Juga: Cara Anak Muda Flobamorates Berkontribusi Menahan Laju Perubahan Iklim

    Juga ada kibi atau emping padi yang adalah kuliner khas suku Lio di Ende, alu ndene cemilan berbahan singkong atau ubi kayu

    Sementara, tuan rumah Alor menyajikan variasi makanan yang bersumber dari laut, seperti lawar rumput laut, rumpu rampe dan berbagai olahan ikan.

    Untuk kudapannya disajikan kue rambut, jagung titi, kenari dan kue bagia, tak ketinggalan wu’u yang dibuat dari jagung yang sudah ditumbuk halus.

    Ubi Nuabosi
    Ubi Nuabosi merupakan varietas endemik dataran Ndetundora di Kabupaten Ende, Flores. Bentuk Ubi Nuabosi memiliki ukuran batang dan umbi yang lebih besar dibandingkan dengan ubi lokal.

    Ubi Nuabosi memiliki lima varietas, yaitu waitero, waibara, toko rheko, tana a, dan terigu. Varietas terigu, tana ai, dan toko rheko adalah yang paling luas dibudidayakan oleh petani di daerah Nuabosi.

    Baca Juga: Kekayaan Budaya Lokal Antar Jatiluwih dan Wukirsari Masuk Daftar 55 Desa Wisata Terbaik Dunia

    Ubi ini dikenal dengan tekstur yang renyah di luar namun lembut di dalam serta cita rasa gurih yang menggoda lidah.

    Tekstur renyah dan gurih yang memberikan sensasi kriuk dan memikat pada setiap gigitannya, tidak terlepas dari proses pengolahan yang khas.

    Ubi Nuabosi biasanya dikukus atau digoreng. Penggunaan bumbu-bumbu lokal yang dipadukan dengan metode memasak tradisional, turut memberikan cita rasa yang istimewa pada ubi ini: renyah di luar namun lembut di dalam, apalagi dihidangkan dengan sambal terasi dan ikan teri.

    Alu Ndene
    Alu Ndene merupakan camilan khas suku Lio yang mendiami Kabupaten Ende. Alu Ndene terdiri atas dua kata yaitu “Alu” dan “Ndene”.

    Alu adalah hasil sampingan dari proses pembuatan Uwi Ai Ndota yang merupakan makanan khas suku Ende yang berbahan dasar singkong. Alu adalah tepung yang didapatkan dari proses endapan dan pengeringan saripati singkong.

    Baca Juga: Tempe Resmi Diajukan Menjadi Warisan Budaya Takbenda Dunia

    Bahan utama pembuatan Alu adalah singkong. Singkong dikupas lalu dibersihkan kemudian diparut atau dicincang. Ditambahkan sedikit air lalu diperas.

    Air perasan tadi akan mengendap dan dibiarkan mengering dan akan berubah menjadi tepung. Tepung itulah yang disebut “Alu”.

    Sedangkan Ndene adalah sebutan bagi aktifitas mengolah Alu menjadi camilan yaitu Alu yang sudah dibentuk menjadi adonan dengan campuran parutan kelapa dan sedikit garam.

    Adonan Alu dimasak dengan cara ditempelkan diatas wajan tanpa minyak lalu ditekan-tekan dengan bagaian belakang tempurung kelapa sehingga menjadi gepeng. Memasaknyapun hanya dengan api kecil.

    Setelah adonan Alu di satu sisi mulai berubah warna maka harus segera di balik. Untuk lebih nikmat, dapat ditambahkan dengan parutan gula merah secukupnya. Alu yang telah diolah menjadi camilan disebut Alu Ndene.

    Wu’u
    wu’u dibuat dari jagung yang sudah ditumbuk halus, biasanya digunakan sebegai hantaran belis atau maskawin/mahar saat prosesi lamaran calon istri.

    Baca Juga: UNESCO Akui Jamu Jadi Warisan Budaya Dunia