7cloud.asia – Keragaman budaya lokal Nusa Tenggara Timur tersaji di Jambore Gotong Royong Untuk Flobamorates (sebutan untuk Nusa Tenggara Timur/NTT) yang digelar mulai Selasa, (29/4/2025).
Para peserta jambore, baik laki-laki maupun perempuan, mengenakan beragam jenis tenun dengan ciri khas dan warna berbeda dari tiap kabupaten/kota di bumi Flobamoratas.
Berbagai makanan khas setempat berbahan pangan lokal seperti ubi nuabosi, jagung, kenari dan ikan laut juga tersaji di sana.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga keragaman lokal sekaligus merawat praktik-praktik baik yang selama ini berlangsung di bumi Flobamorates.
Para peserta yang datang dari 12 kabupaten di bumi Flobamorates pun bisa mencicipi berbagai makanan berbahan ubi nuabosi khas Ende (Flores)
Baca Juga: Cara Anak Muda Flobamorates Berkontribusi Menahan Laju Perubahan Iklim
Juga ada kibi atau emping padi yang adalah kuliner khas suku Lio di Ende, alu ndene cemilan berbahan singkong atau ubi kayu
Sementara, tuan rumah Alor menyajikan variasi makanan yang bersumber dari laut, seperti lawar rumput laut, rumpu rampe dan berbagai olahan ikan.
Untuk kudapannya disajikan kue rambut, jagung titi, kenari dan kue bagia, tak ketinggalan wu’u yang dibuat dari jagung yang sudah ditumbuk halus.
Ubi Nuabosi
Ubi Nuabosi merupakan varietas endemik dataran Ndetundora di Kabupaten Ende, Flores. Bentuk Ubi Nuabosi memiliki ukuran batang dan umbi yang lebih besar dibandingkan dengan ubi lokal.
Ubi Nuabosi memiliki lima varietas, yaitu waitero, waibara, toko rheko, tana a, dan terigu. Varietas terigu, tana ai, dan toko rheko adalah yang paling luas dibudidayakan oleh petani di daerah Nuabosi.
Baca Juga: Kekayaan Budaya Lokal Antar Jatiluwih dan Wukirsari Masuk Daftar 55 Desa Wisata Terbaik Dunia
Ubi ini dikenal dengan tekstur yang renyah di luar namun lembut di dalam serta cita rasa gurih yang menggoda lidah.
Tekstur renyah dan gurih yang memberikan sensasi kriuk dan memikat pada setiap gigitannya, tidak terlepas dari proses pengolahan yang khas.
Ubi Nuabosi biasanya dikukus atau digoreng. Penggunaan bumbu-bumbu lokal yang dipadukan dengan metode memasak tradisional, turut memberikan cita rasa yang istimewa pada ubi ini: renyah di luar namun lembut di dalam, apalagi dihidangkan dengan sambal terasi dan ikan teri.
Alu Ndene
Alu Ndene merupakan camilan khas suku Lio yang mendiami Kabupaten Ende. Alu Ndene terdiri atas dua kata yaitu “Alu” dan “Ndene”.
Alu adalah hasil sampingan dari proses pembuatan Uwi Ai Ndota yang merupakan makanan khas suku Ende yang berbahan dasar singkong. Alu adalah tepung yang didapatkan dari proses endapan dan pengeringan saripati singkong.
Baca Juga: Tempe Resmi Diajukan Menjadi Warisan Budaya Takbenda Dunia
Bahan utama pembuatan Alu adalah singkong. Singkong dikupas lalu dibersihkan kemudian diparut atau dicincang. Ditambahkan sedikit air lalu diperas.
Air perasan tadi akan mengendap dan dibiarkan mengering dan akan berubah menjadi tepung. Tepung itulah yang disebut “Alu”.
Sedangkan Ndene adalah sebutan bagi aktifitas mengolah Alu menjadi camilan yaitu Alu yang sudah dibentuk menjadi adonan dengan campuran parutan kelapa dan sedikit garam.
Adonan Alu dimasak dengan cara ditempelkan diatas wajan tanpa minyak lalu ditekan-tekan dengan bagaian belakang tempurung kelapa sehingga menjadi gepeng. Memasaknyapun hanya dengan api kecil.
Setelah adonan Alu di satu sisi mulai berubah warna maka harus segera di balik. Untuk lebih nikmat, dapat ditambahkan dengan parutan gula merah secukupnya. Alu yang telah diolah menjadi camilan disebut Alu Ndene.
Wu’u
wu’u dibuat dari jagung yang sudah ditumbuk halus, biasanya digunakan sebegai hantaran belis atau maskawin/mahar saat prosesi lamaran calon istri.
Baca Juga: UNESCO Akui Jamu Jadi Warisan Budaya Dunia

Leave a Reply