Tag: gajah liar

  • Kawanan Gajah Liar Rusak Rumah dan Kebun Warga Aceh Barat dan Aceh Timur

    Kawanan Gajah Liar Rusak Rumah dan Kebun Warga Aceh Barat dan Aceh Timur

    7cloud.asia – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat melaporkan gangguan gajah yang merusak tanaman perkebunan seperti kelapa sawit dan pisang di Desa Tanoh Mirah, Kecamatan Sungai Mas.

    “Sudah kami laporkan peristiwa gangguan gajah liar ini ke BKSDA Resor Meulaboh,” kata Camat Sungai Mas Zulkifli di Aceh Barat, Kamis.

    Berdasarkan laporan, serangan gajah liar yang terjadi pada Kamis (20/6/2024) dini hari tersebut meerusak sekitar satu hektare kebun kelapa sawit milik Zulkifli, warga Desa Tanoh Mirah, Kecamatan Sungai Mas.

    Kawanan gajah liar itu dilaporkan juga turut memakan sebanyak 50 batang pohon pisang milik Zulkifli, seperti dilansir Antaranews.com

    Zulkifli mengatakan masyarakat mengeluhkan gangguan gajah liar tersebut karena peristiwa tersebut terjadi secara berulang setiap bulan.

    “Rata-rata setiap bulan pasti ada gangguan gajah di Kecamatan Sungai Mas,” imbuh Zulkifli.

    Baca: Deforestasi menggusur habitat satwa liar

    Dengan melaporkan gangguan gajah ini ke BKSDA, Zulkifli berharap gangguan tersebut dapat segera diatasi, sehingga masyarakat bisa tenang bercocok tanam.

    Serangan kawanan gajah liar merusak sebanyak tiga rumah dan kebun warga di Desa Sri Mulya, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur.

    Kapolsek Serbajadi, Aceh Timur AKP Sudirman mengatakan, tiga rumah yang dirusak kawanan gajah liar di antaranya milik Rukiah (52), Rahman (50) dan Ilyas (69).

    “Selain rumah warga, kawanan satwa dilindungi tersebut juga merusak berbagai jenis tanaman kebun masyarakat,” kata Sudirman, Kamis (20/6/2024).

    Sudirman menyebutkan saat kejadian rumah tersebut dalam keadaan kosong karena ditinggalkan oleh pemiliknya untuk merayakan Idul Adha 1445 Hijriah.

    Baca: Habitat rusak gajah liar sering rambah pemukiman warga

    “Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun kerugian yang ditimbulkan mencapai puluhan juta rupiah,” kata Sudirman.

    Setelah kejadian ini, pihaknya berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan Forum Konservasi Leuser (FKL).

    Bersama warga sekitar, polisi juga menghalau kawanan gajah liar tersebut untuk kembali ke habitatnya.

    Sudirman mengimbau masyarakat yang tinggal bersinggungan dengan kawasan hutan untuk tidak melakukan perburuan liar.

    “Selain berdampak pada keseimbangan ekosistem alam, perburuan liar melanggar hukum dan sanksinya adalah pidana penjara,” kata Sudirman.

    Baca: Melihat kawanan gajah liar di jalan tol Sumatera

    Selain kerugian ekonomi, gangguan gajah yang selama ini terjadi juga menyebabkan ketakutan masyarakat karena satwa liar tersebut sering berada di perkebunan yang berdekatan dengan pemukiman warga.

    Sementara itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengerahkan tim mengatasi interaksi negatif kawanan gajah sumatra (elephas maximus sumatrensis) di kawasan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur.

    “Tim sudah berada di lokasi gangguan gajah sejak Selasa (18/6/2024), mengatasi gangguan satwa tersebut,” kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Aceh Kamarudzaman.

    Kamarudzaman menyebutkan tim terus melakukan upaya penggiringan kawanan gajah liar ke kawasan hutan, sehingga menjauh dari perkebunan dan pemukiman masyarakat.

    “Penggiringan kawanan gajah tersebut turut dibantu masyarakat setempat. Upaya penggiringan menggunakan mercon. Gangguan gajah tersebut merusak gubuk di kebun warga,” kata Kamarudzaman.

    Sumber:Antaranews.com

  • Kawanan Gajah Liar Rusak Kebun Kopi Milik Warga di Lampung Barat

    Kawanan Gajah Liar Rusak Kebun Kopi Milik Warga di Lampung Barat

    7cloud.asia – Kawanan gajah liar kembali masuk ke pemukiman dan merusak kebun kopi milik warga di Pemangku Rowo Agung, Pekon (Desa) Rowo Rejo, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat.

    Serangan gajah liar terjadi pada Minggu (7/7/2024) sore di Rawa Agung bawah sudah mendekati ke Simpang Mada dan berjarak sekitar 50 meter dari pemukiman.

    Pembina Satgas Konflik Gajah Suoh dan Bandar Negeri Suoh (BNS), Sugeng Hari Kinaryo Adi, mengatakan gajah-gajah itu merusak kebon coklat dan kebon kopi posisi sekarang di Pemangku Rowo Agung, Desa Rowo Rejo, Kecamatan Suoh.

    Ia mengatakan, posisi gajah liar tersebut saat ini masih berpencar menjadi dua kelompok. Oleh karena itu pihaknya saat ini terus melakukan pemantauan terhadap galah-gajah yang merusak kebun milik warga itu.

    “Posisi gajah tadi malam itu menyebar ada yang sudah masuk di persawahan ada yang masih ada di atas pemukiman, dan siang ini gajah ini juga berpencar.

    Baca Juga: Konflik Gajah Liar Versus Manusia di Bener Meriah Aceh, Karena Habitat Rusak?

    “Tadi masyarakat memantau ada 6 ekor, di atas kurang lebih 100 meter dari jalan, dan dekat kebon ini ada 6 ekor dan selebihnya ada didekat sawitan,” katanya dikutip Antaranews.com.

    Ia menjelaskan, hingga saat ini pihaknya bersama masyarakat setempat masih melakukan pemantauan terhadap kawanan gajah liar yang masuk pemukiman warga tersebut.

    Menurutnya, Satgas Lembah Suoh saat ini sudah melaksanakan penghadangan dan penghalauan kepada kawanan gajah liar tersebut.

    Sebelumnya diberitakan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) bersama Balai KSDA Bengkulu serta mitra (Repong Indonesia, YKWS, PILI, WCS dan YABI), telah berhasil memasang GPS Collar pada gajah liar yang ada di Lampung Barat, guna memantau posisi satwa dilindungi tersebut.

    Baca Juga: Kawanan Gajah Liar Rusak Rumah dan Kebun Warga Aceh Barat dan Aceh Timur

    Alat pelacak posisi kawanan gajah liar tersebut berupa sebuah kalung yang dipasang pada salah satu gajah yang ada pada kelompok gajah liar itu.

    “Pada 29 Maret 2023 telah terpasang GPS Collar pada kelompok gajah bernama kelompok “Jambul” yang berjumlah 6 ekor yang sedang berada di Pekon (Desa) Suka Marga, Kecamatan Suoh , Kabupaten Lampung Barat,” ujarnya.

    Serangan kawanan gajah liar ke perkebunan warga di Suoh, Lampung Barat ini sudah sering terjadi.

    Sebelumnya serangan kawanan gajah liar juga merusak lahan perkebunan milik warga di Talang Daiyah, Pekon (Desa) Sidorejo, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat.

    Baca Juga: SOS! Gajah Kalimantan Terancam Punah Masuk Daftar Merah IUCN Akibat Alih Fungsi Hutan

    Satgas Konflik Gajah Suoh dan Bandar Negeri Suoh bersama masyarakat setempat masih melakukan pemantauan terhadap kawanan gajah liar yang masuk pemukiman warga tersebut.

    Blokade dilakukan oleh warga bersama satgas untuk memastikan situasi di lokasi aman sehingga warga setempat tidak perlu mengungsi.

    Ia juga menjelaskan Satgas Lembah Suoh saat ini sudah melaksanakan penghadangan dan penghalauan kepada kawanan gajah liar tersebut.

    Menurutnya, kawanan gajah liar tersebut berjumlah 18 ekor dan diperkirakan sudah masuk ke dalam hutan kembali, namun pada malam hari mereka kembali ke pemukiman dan merusak rumah warga.

    Sumber: Antaranews.com

  • Konflik Gajah Liar vs Manusia Kembali Terjadi di Lampung, 1 Warga Meninggal Dunia

    7cloud.asia – Kawanan gajah liar yang memasuki area permukiman dan perkebunan milik warga di kawasan Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), di Tanggamus, Lampung pada Minggu (29/12/2024)

    Insiden ini mengakibatkan seorang warga meninggal dunia. Korban atas nama Suarni telah berhasil dievakuasi personel Kepolisian Daerah Lampung yang didukung TNI.

    “Saat ini personel kami bersama aparat TNI dan pihak pengelola TNBBS masih berada di lokasi untuk melakukan evakuasi sekaligus mendalami penyebab peristiwa tersebut,” kata Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Umi Fadillah di Mapolda Lampung, Senin (30/12/2024) dikutip Antaranews.com.

    Ia menjelaskan tragedi tersebut terjadi di Desa Talang Badar, Kabupaten Tanggamus, pada Minggu (29/12/2024). Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber menunjukkan bahwa serangan kawanan gajah liar tersebut menyebabkan kerusakan parah, baik pada tubuh korban maupun rumahnya.

    Kondisi di sekitar tempat kejadian, memberikan gambaran betapa dahsyatnya amukan kawanan satwa.

    Baca: Kawanan gajah liar rusak kebun kopi milik warga di Lampung Barat

    Menurut dia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan habitat satwa liar yang berimbang dengan aktivitas manusia.

    “Kawanan gajah yang memasuki area permukiman diduga terdorong oleh berkurangnya ruang hidup mereka, yang kerap terjadi akibat pembukaan lahan dan perambahan kawasan hutan,” kata dia.

    Dia pun menghimbau masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi untuk meningkatkan kewaspadaan.

    Selain itu, koordinasi dengan pihak terkait sangat diperlukan untuk mencegah konflik serupa di masa yang akan datang.

    “Langkah mitigasi dan pendekatan berbasis konservasi menjadi kunci agar manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan tanpa saling mengancam,” kata dia.

    Baca: Konflik gajah liar versus manusia, karena habitat rusak?

    Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan satwa dilindungi berdasarkan Permen LHK nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Daftar Tumbuhan dan Satwa Dilindungi dan masuk dalam IUCN Red List kategori Terancam Kritis (Critically Endangered).

    Melansir dari ppid.menlhak.go.id, upaya mitigasi untuk mencegah konflik antara manusia dan Gajah Sumatera sudah berlangsung sejak 2017.

    Berbagai upaya mitigasi konflik telah dilakukan, namun satwa gajah tetap mengikuti ruang jelajah mereka dan kembali ke hutan lindung.

    Mitigasi konflik merupakan program penyelamatan satwa. Pada saat proses penyelamatan satwa, yang pertama menjadi prioritas adalah keselamatan manusia pada saat terjadi interaksi antara satwa dan manusia.

    Pada tahun 2020 disepakati untuk kembali melakukan penggiringan gajah masuk ke dalam Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

    Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan, menyampaikan bahwa perlu adanya kerja sama, dukungan, serta sinergi antar pihak dan pemangku kepentingan agar kegiatan penggiringan gajah sebagai salah satu upaya pelestarian satwa liar di alam bisa berjalan dengan baik.