Tag: Galon

  • Memilih Galon AMDK yang Aman untuk Kesehatan dan Lingkungan

    Memilih Galon AMDK yang Aman untuk Kesehatan dan Lingkungan

    Ilustrasi air minum dalam kemasan galon. Foto: Antara

     

    7cloud.asia – Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman seluruh Indonesia (GAPMMI) mendukung keputusan pemerintah yang menetapkan produsen air minum dalam kemasan (AMDK) untuk memasang label peringatan bahaya BPA (Bisphenol A) pada kemasan galon guna ulang polikarbonat.

    Ketua GAPMMI Adhi Lukman menyatakan keputusan pemerintah yang mewajibkan pemasangan label peringatan bahaya BPA pada kemasan galon isi ulang AMDK adalah salah satu upaya perlindungan konsumen.

    Keputusan pemerintah untuk mewajibkan galon plastik guna ulang dipasangi label peringatan mengandung BPA, menurut dia, sudah berdasarkan kajian mendalam.

    “Hal itu dilakukan untuk melindungi konsumen. Jadi kami memastikan seluruh anggota patuh pada regulasi pemerintah,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima Rabu (21/6/2023), 

     
    Baca: Kontroversi galon sekali pakai

    Saat ini ada dua jenis kemasan air minum yang popular di pasaran. Yang pertama adalah galon plastik guna ulang yang bercampur senyawa berbahaya BPA. 

     
    BPA dapat menimbulkan berbagai macam penyakit seperti, kanker, kesehatan otak, autisme, kelenjar prostat, dan juga memicu perubahan perilaku pada anak

    Kelompok kedua adalah galon plastik sekali pakai yang mudah didaur ulang dari bahan Polyethylene Terephthalate (PET) yang lebih aman.

    Galon plastik berbahan dasar PET kini telah banyak digunakan oleh industri AMDK. Bahkan pemimpin pasar AMDK di Indonesia sudah mulai beralih ke galon plastik PET.

     
    Baca: Penerapan ekonomi sirkular di industri air kemasan
     
    Produsen AMDK yang menggunakan galon plastik bebas senyawa BPA, dimulai dari Bali dan Manado.
     
    “Kajian Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dilakukan dengan mengacu pada penerapan regulasi serupa di negara-negara maju, yang sudah lebih dulu menerapkan larangan dan memperketat penggunaan BPA sebagai campuran bahan kemasan pangan,” katanya.
     
    Dalam kaitan perlindungan konsumen, label berupa peringatan tentang kandungan BPA menjadi upaya untuk memberikan kepastian dalam mengonsumsi produk yang terjamin keamanan dan kesehatannya.

    Untuk itu, menurut Adhi, GAPMMI siap mengadakan program edukasi dan sharing informasi bagi 400 anggotanya agar senantiasa konsisten memberikan jaminan keamanan dan kesehatan pada semua produk mereka.

     
    Baca: KLHK ajak masyarakat ‘boikot’ produk yang tak peduli sampah plastiknya
     
    GAPMMI juga mendorong regulasi pelabelan pada kemasan galon polikarbonat bekas pakai yang mengandung senyawa BPA.

    Secara terpisah Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya, Profesor Junaidi Khatib mengungkapkan bahayanya air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang bercampur BPA.

    Oleh karena itu, menurut dia, sangat penting adanya pemahaman semua pihak, bahwa kemasan galon polikarbonat mengandung BPA pasti bersentuhan langsung dengan air minum.

    “Persoalan air minum dalam kemasan (AMDK) yang mengandung bahan berbahaya BPA ini harus menjadi perhatian serius, terutama karena air minum merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat, khususnya di perkotaan, di mana masyarakat sering kali tidak memiliki pilihan selain menggunakan air minum yang tersedia secara komersial,” katanya.

     

  • Benarkah Galon Air Minum Guna Ulang Biru Berbahan Polikarbonat Picu Anak Terkena Autisme?

    Benarkah Galon Air Minum Guna Ulang Biru Berbahan Polikarbonat Picu Anak Terkena Autisme?

    7cloud.asia – Berkembang informasi di tengah masyarakat bahwa air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang biru berbahan polikarbonat menyebabkan anak terkena autisme.

    Namun, Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A (K) membantah anggapan ini.

    “Tidak ada kajian tentang pengaruh air minum dari galon guna ulang biru dengan penyakit autisme pada anak, belum ada buktinya juga,” kata Rini dikutip Antaranews.com, Senin (17/6/2024).

    Rini menuturkan belum ada bukti yang akurat menyangkut hal tersebut. Meski dulu pernah ada penelitian yang mendukung pengaruh zat tembaga logam terhadap penyebab autisme, namun tidak ada kesimpulan yang membenarkan hal tersebut.

    Akhirnya, penelitian terkait korelasi keduanya makin jarang dilakukan dan pencarian penyebab autisme tidak lagi jadi perhatian sampai saat ini.

    Baca: Pro kontra galon air sekali pakai

    Menurutnya, air galon guna ulang biru itu justru sangat baik untuk kesehatan karena mengandung mineral yang sangat dibutuhkan tubuh manusia karena mengandung mineral.

    “Kalau dikatakan bisa menyebabkan autis, seharusnya sudah banyak anak-anak di Indonesia yang menderita autis karena yang minum air galon kan banyak. Tapi, nyatanya, yang autis bisa dihitung jari,” ucap Rini.

    Sejauh ini, autisme diketahui disebabkan oleh adanya masalah atau gangguan perilaku pada anak yang disebabkan banyak faktor, salah satunya faktor genetik.

    Beberapa faktor risiko lain yang telah teridentifikasi seperti riwayat prematur, riwayat kejang pada masa bayi, dan karena infeksi masa lampau.

    “Biasanya pada anak autis kita enggak mencari pasti penyebabnya. Pemeriksaan darah, CT Scan, biasanya tidak kita lakukan, kita langsung masuk ke intervensi untuk penanganannya,” katanya.

    Baca: Memilih galon air minum yang aman untuk kesehatan dan lingkungan

    Ia menjelaskan gejala yang ditemukan pada anak penderita autis adalah mereka memiliki keterlambatan bicara dan kontak mata yang kurang.

    Anak juga tidak dapat bersosialisasi, melakukan beberapa gerakan berulang tanpa tujuan seperti melirik, menjejerkan benda, memutar roda, dan terkadang disertai perilaku hiperaktif.

    Dalam beberapa kasus, anak-anak dengan autisme juga suka mengalami alergi makanan seperti susu sapi dan makanan laut. Sehingga penanganannya dilakukan tergantung gejalanya.

    Lebih lanjut Rini menjelaskan keparahan autisme sendiri dapat dibagi jadi ringan, sedang dan berat. Dimana pendeteksian keparahan ditentukan menggunakan perangkat skrining berupa kuesioner M-CHAT-R.

    Anak yang masuk dalam kategori autis ringan, katanya biasa memiliki gejala dapat melakukan kontak mata meski hanya sebentar.

    Baca: Produk air minum dalam kemasan tunjukkan krisis air global

    Berbeda dengan kategori sedang dimana anak dengan autis tidak cuek namun tidak ada kontak mata.

    “Tapi, yang sama sekali cuek dan enggak ada kontak mata biasanya kita masukkan kategori autis berat,” katanya.

    Terkait dengan kondisinya, terdapat potensi untuk diperbaiki dengan mengembangkan kemampuan anak melalui beberapa jenis terapi.

    Termasuk pengulangan jenis terapi yang meliputi terapi perilaku, terapi sensorik integrasi, okupasi dan terapi bicara meski memerlukan waktu yang cukup panjang.

    “Karena autis itu merupakan gangguan perilaku, jadi penangananya juga harus dengan memperbaiki perilakunya.

    Terapinya dilakukan dengan berbagai cara, ada terapi sensor integrasi, ada okupasi, ada terapi bicara, dan terapi perilaku,” ujar dia.

  • Pakar: Galon Guna Ulang Lebih Ramah Lingkungan

    Pakar: Galon Guna Ulang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Galon guna ulang dinilai lebih ramah lingkungan dibanding galon sekali pakai. Dari aspek lingkungan, kemasan galon Polikarbonat (PC) lebih unggul dibandingkan galon Polyethylene Terephtalate (PET).

    “Kemasan galon PC memiliki guna ulang yang lebih panjang dibandingkan galon dari PET,” kata Dosen dan peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Nugraha Edhi Suyatma dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (28/8/2025).

    Nugraha mengatakan galon guna ulang dari Polikarbonat tersebut tidak menghasilkan sampah karena kemasan bisa dipakai kembali sehingga mengurangi energi yang digunakan untuk mendaur ulang.

    Pernyataannya tersebut didukung oleh Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia (DMUI) Bisuk Abraham Sisungkunon.

    Baca: Memilih galon air minum yang aman untuk kesehatan dan lingkungan

    Bisuk mengatakan pemakaian galon guna ulang sejalan dengan misi pemerintah mengurangi jumlah sampah dengan prinsip 5R yaitu, reduce, reuse, recycle, replace dan replant.

    Hal ini perlu dilakukan mengingat timbulan sampah di Indonesia berdasarkan data SIPSN KLHK pada 2024 mencapai 34,63 juga ton/tahun dengan jumlah sampah plastik diperkirakan mencapai 9,9 juta ton.

    “Galon guna ulang bisa mengurangi sampah kemasan sekali pakai hingga 316 ton setiap tahun,” katanya.

    Bisuk mengatakan kini seluruh dunia sedang berupaya menekan volume sampah plastik yang kian menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan mencemari ekosistem.

    Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan target pengurangan sampah hingga 30 persen dan penanganan sampah mencapai 70 persen pada 2025.

    Baca: Menerapkan ekonomi sirkular dalam industri air minum

    “Memakai galon guna ulang membantu mengurangi timbunan sampah plastik yang saat ini masih banyak tidak tertangani secara berkelanjutan. Sampah kerap dibakar, dikubur, dibuang ke air ataupun dibuang langsung ke tanah,” ucap Bisuk.

    Pemanfaatan galon guna ulang juga membuat Indonesia mengurangi penggunaan plastik virgin untuk membuat kemasan galon baru yang berdampak negatif terhadap lingkungan.

    Semakin banyak produsen memproduksi galon sekali pakai, kata dia, maka akan semakin besar juga plastik virgin (resin plastik murni yang diproduksi langsung dari bahan baku baru) yang digunakan.

    Menurutnya, ada sekitar 4.152 ton plastik virgin yang bisa dihindarkan setiap tahunnya karena adanya galon guna ulang.

  • Pakar: Usia Galon Guna Ulang Tidak Berpengaruh pada Kontaminasi BPA

    Pakar: Usia Galon Guna Ulang Tidak Berpengaruh pada Kontaminasi BPA

    7cloud.asia – Banyak orang mengkhawatirkan kontaminasi Bisphenol A (BPA) pada galon guna ulang polikarbonat (PC). Namun, pakar menyebutkan usia galon tidak memengaruhi migrasi BPA.

    “Jadi sesungguhnya BPA paling banyak itu kapan? Ya saat galon itu baru, itu masih tersisa kimia pembentuknya,” kata Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran ITB, Akhmad Zainal Abidin di Jakarta, Selasa (23/9/2025)

    Dilansir Antaranews.com, Zainal menyebut semakin lama galon PC dipakai maka kandungan zat kimia pembentuk di dalamnya semakin hilang.

    Sebaliknya, galon guna ulang yang sudah dipakai berkali-kali cenderung aman karena sisa kimia pembentuk plastik di dalamnya sudah lebih sedikit dibanding galon baru.

    Meski memiliki sisa zat baik galon baru dan lama namun kimia pembentuk plastik tersebut sudah tidak berbahaya bagi manusia.

    Baca: Galon guna ulang lebih ramah lingkungan

    Dewan Pakar Perhimpunan Ahli Plastik Indonesia tersebut juga menyampaikan bahwa keamanan pemakaian galon guna ulang PC itu sudah tidak perlu diragukan, karena pemerintah juga selalu berdiskusi dengan para ahli terkait keamanan kemasan pangan.

    Menurutnya, jaminan keamanan dari pemerintah juga sudah diberikan kepada masyarakat melalui beragam regulasi yang dibentuk berkenaan dengan kemasan pangan.

    Oleh karenanya, masyarakat tidak perlu khawatir dan terpengaruh pada informasi tidak akurat tentang galon guna ulang yang berkembang di tengah masyarakat.

    “Kalau galon lama rusak, namanya degradasi, tapi yang terlepas dari degradasi ini bukan BPA. Yang sudah diteliti itu pertama Eter, kedua Etanol, ketiga Keton, jadi nggak ada BPA di situ, makanya ini perlu diluruskan,” katanya.

    Sementara itu, Penanggung Jawab Sekretariat Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Kemasan Indonesia (Aspadin) Jawa Barat, Jakarta, dan Banten, Ismail memastikan pengawasan ketat penggunaan galon guna ulang di pabrik-pabrik AMDK.

    Baca: Memilih galon yang aman untuk kesehatan dan lingkungan

    Hal serupa juga dilakukan terhadap galon yang sudah dibeli masyarakat dan kembali ke pabrik.

    Pabrik akan memeriksa seluruh galon yang ada baik dari visual, kebersihan, dan kondisi apakah masih layak digunakan atau tidak, sesuai tahapan masing-masing.

    Apabila sudah tidak layak seperti kondisi berdebu yang tidak bisa hilang, terkena zat kimia dan bocor, atau tidak sesuai standar maka galon tidak akan digunakan ulang, termasuk terhadap galon dengan masa pakai satu bulan sekalipun.

    “Galon-galon tersebut kemudian kami pisahkan untuk dikembalikan ke supplier. Terkait umur pakai, pabrik sudah menentukan maksimum selama 5 tahun. Lebih dari itu harus dimusnahkan,” kata dia.

    Baca: Kontroversi galon air sekali pakai

     

  • KKI: Konsumen Berhak Tolak Galon Air yang Tak Layak Pakai

    KKI: Konsumen Berhak Tolak Galon Air yang Tak Layak Pakai

    7cloud.asia – Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menegaskan masyarakat sebagai konsumen berhak untuk menolak galon guna ulang air minum yang kondisinya tidak layak untuk menjaga kesehatan dan keselamatan mereka.

    Menurut Ketua KKI David Tobing galon air minum yang sudah berusia lebih dari dua tahun dan tampak kusam ternyata masih banyak beredar di pasaran, sedangkan menurut para ahli pemakaian maksimal galon guna ulang tersebut satu tahun.

    “Konsumen tidak boleh lagi diam saat menerima galon buram atau penyok. Kepada konsumen, kami menyerukan mereka itu mempunyai hak untuk memilih,” ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (20/12/2025)

    Ia mengungkapkan praktik tidak adil di lapangan di mana harga galon lama dan baru tetap sama, oleh karena itu konsumen berhak menolak dan minta yang baru.

    David menegaskan persoalan tersebut bukan sekadar tampilan, namun galon kusam menandakan penurunan kualitas plastik yang berpotensi melepas zat berbahaya atau menimbulkan penyakit.

    Baca: Usia Galon Guna Ulang Tidak Berpengaruh pada Kontaminasi BPA

     

    KKI bahkan menemukan galon dengan kode produksi 2012–2016 masih digunakan di wilayah Jabodetabek, untuk itu konsumen diimbau memeriksa kondisi fisik dan kode produksi. Untuk menindaklanjuti temuan di lapangan, KKI membuka kanal pengaduan resmi.

    Hal yang sama dinyatakan anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Fitrah Bukhari bahwa pihaknya membuka kanal aduan dan konsumen bisa langsung melapor jika menerima galon tua.

    “Kalau misalnya nanti dikasih galon sama penjualnya galon yang ‘manula’ (lewat masa pemakaiannya dan tidak layak pakai) begitu, bisa mengajukan juga ke BPKN di call center 08153 153 153,” ujarnya.

    KKI dan BPKN berharap keberanian konsumen menolak galon tua akan menekan peredaran galon tidak layak, sekaligus membuat produsen menjaga standar demi kesehatan masyarakat.

    Beberapa waktu belakangan, muncul polemik di tengah masyarakat mengenai keamanan galon isi ulang. Muncul kekhawatiran, galon yang sudah terlalu lama digunakan akan mencemari air minum yang dikonsumsinya.

    Baca: Mengurangi Dampak Kesehatan yang Ditimbulkan Air Isi Ulang

    Namun, Penanggung Jawab Sekretariat Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Kemasan Indonesia (Aspadin) Jawa Barat, Jakarta, dan Banten, Ismail memastikan pengawasan ketat penggunaan galon guna ulang di pabrik-pabrik AMDK.

    Hal serupa juga dilakukan terhadap galon yang sudah dibeli masyarakat dan kembali ke pabrik.

    Pabrik akan memeriksa seluruh galon yang ada baik dari visual, kebersihan, dan kondisi apakah masih layak digunakan atau tidak, sesuai tahapan masing-masing.

    Apabila sudah tidak layak seperti kondisi berdebu yang tidak bisa hilang, terkena zat kimia dan bocor, atau tidak sesuai standar maka galon tidak akan digunakan ulang, termasuk terhadap galon dengan masa pakai satu bulan sekalipun.

    “Galon-galon tersebut kemudian kami pisahkan untuk dikembalikan ke supplier. Terkait umur pakai, pabrik sudah menentukan maksimum selama 5 tahun. Lebih dari itu harus dimusnahkan,” kata dia.

    Baca: Menyoal Galon Sekali Pakai, Solusi atau Persoalan untuk Sampah Plastik?