Tag: gas rumah kaca

  • BRIN Ajak Masyarakat Kurangi Sampah Makanan Saat Ramadhan Demi Kurangi Gas Rumah Kaca

    BRIN Ajak Masyarakat Kurangi Sampah Makanan Saat Ramadhan Demi Kurangi Gas Rumah Kaca

    7cloud.asia – Sampah makanan atau food waste terjadi peningkatan saat Ramadhan. Perlu upaya pengurangan sampah makanan sebagai salah satu bentuk melindungi bumi dari gas rumah kaca.

    Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Maryati menjelaskan sampah makanan tersebut merupakan sampah organik yang dapat menghasilkan gas metan.

    “Gas metan merupakan gas rumah kaca dengan dampak pemanasan sekitar 30 kali gas karbon dioksida,” ungkap Maryati seperti yang dilansir Antaranews.

    Karena itu, sampah makanan seharusnya dapat berkurang di bulan Ramadhan bukannya justru bertambah.

    Baca: Pemkot Tangerang dorong pengelolaan sampah organik jadi bernilai ekonomi

    “Seharusnya dalam bulan Ramadhan ini kita lebih bisa menghargai makanan, sehingga dapat mengurangi food waste,” katanya.

    Menurut Maryati, kepentingan bisnis menawarkan makanan justru melonjak saat Ramadhan, baik dari sisi jumlah maupun keanekaragaman jenis.

    Lonjakan ini terjadi karena belanja makanan ketika perut lapar dan dorongan untuk berbagi berkontribusi dalam meningkatkan belanja umat Islam pada bulan Ramadhan.

    “Pada prinsipnya sampah itu harus diolah. Sampah makanan adalah sampah organik yang bisa dijadikan kompos, degradasi oleh magot,” jelasnya.

    Memang sampah makanan yang tidak dikelola dan hanya dikumpulkan pada suatu tempat, seperti tempat pembuangan akhir atau TPA, maka sampah tersebut tetap akan menjadi kompos. 

    Baca: Perbanyak bank sampah di DKI

    Proses pembentukan kompos di TPA dapat menghasilkan limbah cair yang dapat mencemari tanah dan air sekitarnya, juga dihasilkan gas metan.

    “Jika gas metan dipanen bisa menjadi bahan bakar gas. Jadi, bagaimana dampak sampah makanan terhadap iklim, kembali tergantung pada bagaimana kita mengelola sampah tersebut,” paparnya.

    Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengungkapkan timbulan sampah saat Ramadhan kerap naik hingga 20 persen karena sisa makanan dan sampah kemasan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Rata-rata Suhu Global 2024 Lampaui Ambang Batas Perjanjian Paris: Dipicu Emisi Gas Rumah Kaca yang Terus Meningkat

    Rata-rata Suhu Global 2024 Lampaui Ambang Batas Perjanjian Paris: Dipicu Emisi Gas Rumah Kaca yang Terus Meningkat

    7cloud.asia – Pada pertemuan puncak iklim COP21 tahun 2015, 196 pihak menandatangani Perjanjian Paris yang menyepakati ambang batas kritis 1,5°C di atas suhu global pra-industri

    Perjanjian Paris ini mengikat secara hukum, dan negara-negara yang hadir
    sepakat untuk terus membatasi pemanasan global hingga di bawah 1,5°C atau “jauh di bawah 2°C” di atas tingkat pra-industri pada akhir abad ini.

    Para ahli memperingatkan, jika titik kritis terlewati, akan mengakibatkan konsekuensi yang menghancurkan dan berpotensi tidak dapat diubah lagi bagi beberapa sistem Bumi vital yang menopang planet yang ramah.

    Tetapi rata-rata suhu global pada tahun 2024 secara konsisten lebih tinggi daripada suhu ambang batas Perjanjian Paris, kecuali pada bulan Juli, yakni berada pada 1,60°C di atas tingkat pra-industri.

    Meskipun hal ini tidak menandakan pelanggaran permanen terhadap batas kritis, hal ini menjadi peringatan yang jelas kepada umat manusia bahwa planet Bumi sedang mendekati titik yang tidak bisa kembali, jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.

    “Kita kini berada di ambang batas melewati batas 1,5ºC yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris dan rata-rata dua tahun terakhir masih jauh dari harapan. “sudah di atas level ini,” ujar Samantha Burgess, Pemimpin Strategis Bidang Iklim di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa.

    Baca: Rata-rata suhu global 2024 lampaui kesepakatan Perjanjian Paris

    Emisi gas rumah kaca
    Pada tahun 2024, konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer mencapai tingkat tertinggi yang pernah tercatat sepanjang sejarah.

    Konsentrasi karbon dioksida (CO2) mencapai 422 par per milion (ppm), atau 2,9 ppm lebih tinggi daripada tahun 2023.

    Sebagai produk sampingan dari pembakaran bahan bakar fosil, biomassa, perubahan penggunaan lahan, dan proses industri seperti produksi semen, CO2 merupakan gas rumah kaca antropogenik utama di atmosfer, yang bertanggung jawab atas tiga perempat emisi lobal.

    Emisi CO2 global –yang menghangatkan suhu global– dari bahan bakar fosil telah meningkat lebih dari 60 persen sejak tahun 1990, dengan konsentrasi di atmosfer sekarang 50 persen lebih tinggi daripada sebelum dimulainya Revolusi Industri.

    Sementara itu, konsentrasi metana mencapai 1897 ppb, 4 ppb lebih tinggi dari tahun 2023.

    Gas tersebut – yang sebagian besar terkait dengan penggunaan bahan bakar fosil, pertanian, dan limbah – merupakan gas rumah kaca utama kedua setelah CO2, yang bertanggung jawab atas 25 persen pemanasan global.

    Baca: Mitigasi dan adaptasi jika suhu global naik 2°C

    Namun, zat metana ini 84 kali lebih kuat dalam memerangkap panas di atmosfer daripada CO2 selama periode dua dekade dan memiliki potensi pemanasan global 100 tahun yang 28-34 kali lebih besar daripada CO2.

    Emisi metana global telah meningkat, dan konsentrasi gas ampuh tersebut di atmosfer kini 165 persen lebih tinggi daripada tingkat pra-industri.

    Pembakaran batu bara, gas alam, dan minyak untuk listrik dan panas merupakan sumber emisi gas rumah kaca (GRK) global terbesar.

    Hal-hal tersebut merupakan pendorong utama pemanasan global karena mereka memerangkap panas di atmosfer dan meningkatkan suhu permukaan bumi.

    Badan Energi Internasional (IEA) telah mendesak negara-negara di dunia untuk menghentikan proyek ladang gas dan minyak baru.

    Baca: Dampak lingkungan jika suhu global naik 2°C

    Adapun alasan yang dikemukan bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menjaga skenario emisi nol bersih yang kompatibel dengan 1,5°C tetap berjalan.

    Cuaca Ekstrem makin Sering Terjadi dan Intensif
    Copernicus juga menyimpulkan bahwa tahun 2024 adalah tahun dengan kandungan uap air atmosfer tertinggi yang pernah tercatat.

    Saat kadar uap air di atmosfer meningkat, kejadian cuaca eksterm basah yang ditandai hujan lebat akan menjadi lebih intens.

    Dikombinasikan dengan rekor panas di lautan, pasokan air yang melimpah berkontribusi terhadap perkembangan badai besar, termasuk siklon tropis.

    Di Atlantik, semua badai yang terjadi antara bulan Juni dan November diperkuat oleh pemanasan laut akibat perubahan iklim, analisis atribusi menyimpulkan.

    Baca: Dampak kenaikan suhu global 2°C pada pola cuaca

    Studi yang sama juga menyimpulkan bahwa badai dalam lima tahun terakhir “lebih cepat 8,3 mil/jam (13,4 kilometer/jam), secara rata-rata, dibandingkan dengan yang terjadi di dunia tanpa perubahan iklim.”

    Studi atribusi mengukur pengaruh perubahan iklim terhadap peristiwa cuaca tertentu, sering kali terjadi segera setelah gelombang panas, badai, atau banjir.

    Seringkali, analisis ilmiah ini menyoroti betapa jarangnya peristiwa seperti itu terjadi di “dunia tanpa perubahan iklim.”

    “Umat manusia bertanggung jawab atas nasibnya sendiri, tetapi cara kita menanggapi tantangan iklim harus didasarkan pada bukti,” kata Carlo Buontempo, Direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus.

    “Masa depan ada di tangan kita – tindakan yang cepat dan tegas masih dapat mengubah arah iklim masa depan kita.”

     

     

  • Dokumen Second NDC Masih Menunggu Persetujuan Presiden

    Dokumen Second NDC Masih Menunggu Persetujuan Presiden

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menyampaikan draf dokumen target iklim nasional Second National Determined Contribution (NDC) sudah diserahkan kepada Presiden Prabowo Subianto.

    Dokumen Second NDC yang merupakan revisi dari Enhanced NDC tersebut masih menunggu persetujuan Presiden.

    Ditemui dalam kunjungan ke Antara Heritage Center (AHC) di Jakarta, Kamis (13/2/2025) Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLH/BPLH Sasmita Nugroho menyampaikan pihaknya sudah menyiapkan Second NDC untuk memperbaharui target iklim Indonesia yang sebelumnya tertuang di dalam Enhanced NDC, yang telah diserahkan Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq.

    “Posisi terakhir sudah kami serahkan ke Presiden dari Pak Menteri sebagai penanggung jawab bahan materi, mempersiapkan rancangannya sudah,” kata Sasmita.

    Sasmita berharap dokumen Second NDC ini bisa secepatnya disahkan Presiden.

    Baca: Rekomendasi masyarakat sipil dalam penyusunan Second NDC

    Dia menyebut bahwa dalam rancangan Second NDC sudah memasukkan potensi penambahan sektor kelautan dan subsektor hulu migas dalam target pengurangan emisi gas rumah kaca nasional.

    Sebelumnya, di dalam Enhanced NDC target pengurangan emisi gas rumah kaca Indonesia adalah 31,89 persen lewat upaya sendiri dan 43,20 persen dengan dukungan internasional yang akan dicapai pada 2030.

    Di dalam dokumen Enhanced NDC, emisi gas rumah kaca yang ditargetkan mengalami pengurangan adalah di sektor energi, kehutanan, limbah, pertanian, serta proses industri dan penggunaan produk (Industrial Processes and Product Use/IPPU).

    Dalam upaya mencapai target pengurangan emisi, lanjutnya, Indonesia saat ini sudah merilis perdagangan karbon internasional yang diluncurkan pada Januari lalu.

    Selain perdagangan karbon, Indonesia juga mendukung upaya pendanaan iklim dengan pembayaran berbasis kinerja yang sudah dilakukan dengan beberapa pihak dan dilakukan berdasarkan perkembangan teknologi.

    Baca: Koalisi Masyarakat Sipil minta masyarakat rentan dilibatkan dalam merumsukan aksi iklim

    Sebelumnya, Koalisi masyarakat sipil yang terdiri 64 lembaga sipil Indonesia telah menyerahkan rekomendasinya dalam penyusunan Second NDC.

    Koalisi mendorong pemerintah agar menjadikan dokumen Second NDC sebagai momentum koreksi komitmen iklim yang lebih adil dengan proses yang lebih demokratis dan partisipatif.

    Second NDC tersebut akan diserahkan KLH mewakili Pemerintah Indonesia, kepada badan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

    Pemerintah didesak menerapkan keadilan sosial dengan mengakui hak dan memenuhi kebutuhan spesifik dari subyek masyarakat yang rentan terdampak perubahan iklim, seperti petani kecil, nelayan tradisional, masyarakat adat dan lainnya.