Tag: Generasi Sandwich

  • Hampir Separuh Kelompok Usia Produktif adalah Generasi Sandwich, Ini Pengaruhnya pada Kesehatan Mental

    Hampir Separuh Kelompok Usia Produktif adalah Generasi Sandwich, Ini Pengaruhnya pada Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Data yang dimiliki Kementerian Koordinator Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) menyebut 38 persen pekerja formal adalah generasi sandwich.

    Sementara survei yang dilakukan CBNC Indonesia pada 2021 menunjukkan sebanyak 48,7 persen masyarakat produktif (25–45 tahun) Indonesia merupakan generasi sandwich.

    Generasi sandwich ini memiliki tanggung jawab untuk menghidupi diri sendiri, orang tua, dan anaknya dalam waktu bersamaan.

    Bagi mereka yang tidak siap dan kuat secara finansial maupun mental, kondisi menjadi generasi sandwich ini akan menjadi tekanan yang rentan mempengaruhi kesehatan mental. 

    Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Indonesia (UI) Lathifah Hanum menyebut peran generasi sandwich tidaklah mudah karena perlu mempertimbangkan perbedaan dua generasi.

    Baca: Masa kritis bagi kesehatan mental anak

    Merawat anak-anak dan remaja berbeda dengan merawat lansia. Anak-anak dan remaja memerlukan arahan dari orang tua untuk mengembangkan dan mendewasakan diri.

    “Sementara lansia memerlukan pendampingan dalam menjalani aktivitas harian,” kata Lathifah Hanum dalam keterangannya, di Depok, Jawa Barat, Kamis (4/1/2024) seperti dikutip Antaranews.com.

    Menurut dia, situasi ini bisa bertambah kompleks apabila lansia yang dirawat memiliki kondisi kesehatan yang memprihatinkan, sehingga generasi sandwich perlu memberikan perhatian yang lebih kepada mereka.

    “Banyak tantangan yang dihadapi oleh generasi sandwich, diantaranya mereka rentan mengalami stres dan burn out jika tidak memiliki rencana yang matang untuk memenuhi tanggung jawab. Lokasi tinggal juga membawa dampak yang berbeda,” katanya.

    Hanum mengatakan mereka yang tinggal bersama dengan dua generasi lainnya memiliki tanggung jawab harian yang lebih besar.

    Baca: Masih banyak yang mengabaikan kesehatan mental

    Mereka harus menyiapkan makanan yang bergizi, menjadi teman bicara bagi kedua generasi, serta mengerjakan rutinitas dan tanggung jawab pribadi.

    Namun, lanjutnya, jika generasi sandwich tinggal terpisah dari orang tuanya, mereka harus mengirimkan uang lebih besar sebagai bentuk kompensasi atas ketidakhadirannya.

    Menurut Lathifah, untuk dapat menjalankan peran sebagai generasi sandwich, individu harus melakukan persiapan yang matang.

    Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan oleh generasi sandwich, kata dia, kualitas relasi yang baik dengan orang tua maupun anak. Generasi sandwich harus membangun relasi yang positif dengan kedua generasi tersebut.

    Mereka harus mampu berkomunikasi secara terbuka, sehingga berbagai kendala dapat dibicarakan bersama dan ditemukan solusinya.

    Baca: Mengapa ayah harus mengambil peran dalam pengasuhan anak

    Karena itu Hanum menyarankan generasi sandwich untuk mendiskusikan berbagai kendala agar masing-masing generasi memiliki kesempatan untuk berkontribusi terhadap penyelesaian masalah.

    Inter-generational relationship atau hubungan antar-generasi sebenarnya memiliki banyak manfaat. Pada beberapa penelitian, kata dia, disebutkan masing-masing generasi memiliki kontribusi terhadap urusan rumah tangga.

    Generasi sandwich bisa jadi sangat terbantu dengan kehadiran orang tua di rumah karena dapat membantu mengurus rumah tangga dan mengawasi anak-anak, saat mereka bekerja.

    Beberapa studi di Asia Timur bahkan menunjukkan generasi sandwich lebih memilih untuk meninggalkan anak-anak mereka dengan orang tua agar mendapatkan pendidikan yang baik, terutama mengenai nilai-nilai dan budaya di dalam keluarga.

    Sementara itu penelitian di Eropa dan Asia Tenggara menunjukkan generasi sandwich mendapatkan bantuan, terutama dalam hal finansial dari orang tua.

    Baca: Mengapa calistung dihapus dari seleksi masuk SD

    Sebagai timbal balik, generasi sandwich menjadi pendamping bagi orang tua dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

    Fakta ini menunjukkan, kata dia, bahwa generasi sandwich tidak akan mengalami hal buruk selama ia menjalankan perannya dengan penuh persiapan dan pengelolaan yang baik.

    Justru dengan adanya komunikasi antara tiga generasi ini, akan terjalin kedekatan keluarga dan nilai-nilai kebaikan dapat diajarkan secara turun-temurun.

     

     

  • Banyak Zilenial Terjebak Menjadi Generasi Sandwich, Ini Kiat Mengatasinya

    Banyak Zilenial Terjebak Menjadi Generasi Sandwich, Ini Kiat Mengatasinya

    7cloud.asia – Istilah generasi sandwich kini semakin populer digunakan untuk menggambarkan gen Z dan milenial (Zilenial) yang harus menopang kebutuhan hidup dirinya sendiri, orang tua, bahkan adik atau anak.

    Fasilitator wellness yang juga dikenal sebagai Sandwich Gen & Clarity Coach, Rahne Putri mengatakan bahwa beban sebagai generasi sandwich ini bukan hanya bersifat finansial, tetapi juga menciptakan pola pikir keuangan yang kurang sehat.

    Generasi sadwich, ujarnya, sering kali menjadi penopang utama keluarga, padahal mereka sendiri masih dalam tahap belajar mengelola kehidupan dan keuangan pribadi.

    Orang-orang yang baru masuk dunia kerja ini kan sebenarnya prefrontal cortex-nya belum terbentuk sempurna. Sebenarnya, banyak Zilenial yang saat ini masih anak-anak.

    Baca: Posisi generasi sandwich pengaruhi kesehatan mental

    Tapi karena ketakutan-ketakutan seperti takut nggak bisa bahagiain orang tua, tekanan dari media sosial tentang kesuksesan. Kalau nggak hati-hati, anak-anak ini bisa jadi dewasa terlalu cepat.

    “Kondisi ini menyebabkan banyak dari mereka terbiasa memberi kepada orang lain, tapi lupa memberi pada diri sendiri,“ ujarnya saat“diskusi, dengan tema “Born to be Cutesy, Forced to be Money-Hungry: Dilema Finansial Gen Zilenial” yang digelar The Conversation Indonesia (TCID) pada Kamis, (17/4/2025).

    Rahne pun menekankan bahwa solusi dari permasalahan ini tidak berhenti pada pengelolaan keuangan, tetapi juga menyentuh aspek emosional yang mendasari kebiasaan konsumtif.

    Karena itu, dia menyarankan kepada Zilenial, sebelum belanja untuk terlebih dulu menimbang dengan seksama apakah dia memang membutuhkan barang tersebut.

    “Tarik napas dulu sebelum transaksi… tanya ke diri sendiri, ini saya beli karena butuh atau karena suka?“ imbuhnya

    Baca: Zilenial punya gaji minimal tapi gaya hidup maksimal

    Zilenial bukan pewaris beban, tapi pemutus rantai
    Di tengah tekanan finansial dan sosial yang ada, Zilenial sebenarnya sedang membentuk cara hidup baru yang lebih asertif dengan berani menyadari dan menyuarakan kerentanannya.

    Meskipun masih banyak tantangan yang akan dihadapi Gen Zilenial ke depannya, ada harapan untuk Zilenial mewujudkan kehidupan impian melalui literasi keuangan, investasi pendidikan dan kesehatan

    Zilenial juga dapat membangun komunitas yang suportif untuk mengatasi jebakan generasi sandwich ini.

    Nurul, editor politik dan masyarakat The Conversation menegaskan bahwa hidup itu bukan soal siapa yang paling cepat sukses, tapi siapa yang paling paham dan nyaman dengan dirinya sendiri.

    Baca: Zilenial lebih konsumtif dibanding generasi sebelumnya

  • Generasi Sandwich Marak: Refleksi Perlunya Reformasi Sistem Pensiun di Indonesia

    Generasi Sandwich Marak: Refleksi Perlunya Reformasi Sistem Pensiun di Indonesia

    7cloud.asia – Fenomena generasi sandwich semakin santer diperbincangkan oleh generasi milennial di Indonesia beberapa tahun belakangan ini.

    Generasi sandwich, atau generasi terhimpit, adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebut mereka yang memiliki tanggung jawab ganda, yakni kepada anaknya dan orang tua atau mertuanya.

    Beban yang ditanggung generasi sandwich ini bisa berupa secara finansial, alokasi waktu, sampai perawatan fisik jika orang tua sudah dalam kondisi kesehatan tertentu, misalnya kondisi lumpuh.

    Mereka yang termasuk generasi sandwich biasanya dianggap sebagai aktor utama penyedia sumber daya keluarga.

    Meskipun menjadi generasi sandwich memberikan beban tanggung jawab ganda, nyatanya banyak yang memutuskan (atau terpaksa) menjadi bagian dari kelompok ini.

    Beban utang budi
    Utang budi terhadap jasa orang tua diyakini menjadi alasan utama mengapa seseorang mau merawat orang tuanya.

    Secara sosiologis, utang budi ini merupakan wujud konsep resiprositas, yakni sikap untuk memberi bantuan kembali kepada siapapun yang telah memberikan bantuan sebelumnya.

    Dalam hubungan antara anak dengan orang tua, hutang budi ini muncul dari kesadaran bahwa anak pernah dibesarkan dan dirawat sebelumnya. Merawat orang tua yang sudah lansia dianggap sebagai timbal balik atas jasa orang tua yang sudah merawat mereka.

    Baca: Banyak zilenial terjebak jadi generasi sandwich

    Merawat orang tua sebenarnya tidak selalu dimaknai sebagai upaya untuk merawat setiap hari seperti memasak, menyiapkan makan, maupun memandikan mereka.

    Tetapi, ini juga dapat dilakukan dengan memberi sejumlah uang setiap bulan supaya mereka dapat memenuhi kebutuhannya atau sekadar mengunjungi mereka secara berkala.

    Timbal balik keuntungan
    Tidak sedikit pula generasi sandwich yang sudah menikah dan berumah tangga namun memutuskan untuk tetap tinggal dalam satu rumah dengan orang tua atau mertuanya.

    Situasi ini biasanya merupakan hasil kesepakatan yang didasari adanya manfaat timbal balik antara anak dengan orang tuanya tersebut.

    Sebuah penelitian terhadap 18 orang yang dapat dianggap generasi sandwich di Indonesia menunjukkan bahwa umumnya, orang tua akan mencoba menawarkan bantuan seperti merawat cucu sehingga anak dapat bekerja dengan tenang di luar rumah.

    Atau, pada beberapa kasus, orang tua akan melimpahkan hak waris rumah sepenuhnya kepada anak yang mau tinggal dan merawat mereka saat mereka sudah memasuki masa tua. Negosiasi terkait rumah ini biasanya dilakukan dengan anak yang belum memiliki rumah.

    Anak yang menjadi generasi sandwich, menurut penelitian, juga mengaku mendapatkan beberapa keuntungan, antara lain: adanya bantuan untuk merawat anak mereka (cucu dari orang tuanya) dan adanya kemungkinan untuk mendapatkan rumah.

    Seperti yang kita ketahui, fasilitas penitipan anak (daycare) saat ini masih minim. Kalaupun ada, harganya masih cukup mahal. Sementara itu, sebagian besar generasi milenial memilih bekerja sehingga terpaksa harus meninggalkan anak mereka di rumah.

    Baca: Posisi generasi sandwich berpengaruh pada kesehatan mental

    Banyaknya anak yang pada akhirnya mau tinggal bersama dengan orang tuanya guna mendapatkan hak waris rumah pun merupakan hal yang dapat dipahami. Harga tanah dan rumah yang semakin mahal membuat generasi usia produktif kesulitan membeli rumah.

    Dengan demikian, eksistensi generasi sandwich merefleksikan terjadinya hubungan timbal balik secara terus menerus dalam kurun waktu yang lama antara anak dengan orang tua.

    Bagi mereka yang masuk dalam kategori generasi sandwich, situasi akan terasa semakin sulit jika orang tua semakin bergantung kepada anak.

    Sementara, orang tersebut memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi, misalnya kebutuhan untuk membiayai anak, pasangannya, atau pendidikannya. Bagi generasi sandwich yang sudah berumah tangga, dampak yang paling terasa adalah dampak ekonomi.

    Hal ini karena seiring bertambahnya usia dan kebutuhan perawatan, orang tua harus berkompetisi dengan kebutuhan cucunya, seperti biaya pendidikan. Padahal, sumber daya yang dimiliki anak mereka dalam rumah tangga dapat dibilang masih terbatas.

    Beberapa penelitian membuktikan bahwa generasi sandwich juga dapat menderita konsekuensi psikologis. Dampaknya antara lain adalah stres, depresi, minim pola hidup sehat, bahkan sampai meningkatnya ketidakpuasan pada hubungan pernikahan.

    Situasi stres ini biasanya dipicu oleh adanya tuntutan peran antara menjadi ‘perawat’ orang tua, menjadi orang tua, dan tuntutan untuk bekerja membiayai seluruh anggota keluarga.

    Peran Negara
    Negara bisa turun tangan melalui perbaikan sistem pensiun. Masalah generasi sandwich sebenarnya bukan hanya perihal hubungan pribadi antar anggota keluarga (anak dengan orang tua), namun dapat menjadi masalah sosial juga.

    Baca: Laki-laki harus mengambil peran dalam pengasuhan anak

    Lansia di Indonesia sulit untuk mendapatkan kemandirian secara finansial. Indikator kemandirian ini terukur dari tiga hal yang dapat digunakan sebagai sumber pendapatan kelompok lansia saat mereka sudah tidak dapat bekerja lagi, yakni: kepemilikan jaminan pensiun, tabungan hari tua, dan aset pribadi.

    Nyatanya, hanya 20 persen dari seluruh populasi lansia di Indonesia yang memiliki jaminan pensiun/ sumber pendapatan tetap lainnya saat lansia.

    Separuh jumlah lansia hanya memiliki aset rumah untuk ditempati, yang minim kemungkinannya untuk dijual guna memenuhi kebutuhan mereka di usia lanjut.

    Terkait masalah ini, negara seharusnya bisa turun tangan memberikan solusi. Masalah pokoknya, orang lanjut usia sebenarnya hanya memerlukan sumber daya untuk menjamin kesejahteraan mereka di hari tua.

    Dalam hal ini, salah satu yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah memperbaiki kualitas jaminan pensiun kepada para lansia.

    Ada dua alasan mengapa pensiun penting untuk meringankan beban generasi sandwich.

    Pertama, memberikan jaminan pensiun dalam jumlah yang layak berarti memberikan sumber daya kepada orang tua untuk meningkatkan kemandirian mereka. Lebih jauh lagi, ini dapat meningkatkan harkat dan martabat mereka.

    Kedua, jaminan pensiun dapat meningkatkan sumber daya keluarga. Hal ini dapat membantu mereka mengantisipasi adanya kompetisi atas sumber daya keluarga yang sepenuhnya dilimpahkan kepada anak.

    Memang benar bahwa salah satu fungsi anggota keluarga adalah saling membantu dan melindungi satu sama lain. Hanya saja, seorang anggota keluarga tidak bisa dibiarkan menanggung tanggung jawab dan beban seluruh anggota keluarga seorang diri.

    Melalui perbaikan skema pensiun maupun terobosan lain terkait jaminan kesejahteraan hari tua, negara bisa berperan dalam memutus rantai generasi sandwich.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Darmawan Prasetya (Social Policy Officer, The Prakarsa)