Tag: geologi

  • Ahli Geologi: Penataan Kawasan Harus Berbasis Informasi Bahaya Geologi

    Ahli Geologi: Penataan Kawasan Harus Berbasis Informasi Bahaya Geologi

    7cloud.asia – Penataan kawasan berbasis informasi bahaya geologi menjadi keharusan saat ini.

    Konsep penataan kawasan seperti ini dilakukan guna menghindari atau mengurangi korban jiwa, kerugian ekonomi dan dampak sosial budaya sekaligus untuk menjamin keberlanjutan pembangunan.

    Demikian diungkapkan Prof. Dr.Eng. Ir. Wahyu Wilopo, S.T., M.Eng, IPM dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar dalam bidang Geologi Lingkungan pada Fakultas Tehnik Universitas Gadjah Mada.

    Dalam pengukuhan tersebut dia menyampaikan pidato berjudul “Geologi Lingkungan Untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan” yang salah satunya menyinggung soal penataan kawasan. 

    Menurut Wilopo, Indonesia memiliki wilayah yang rentan terhadap bahaya geologi karena posisinya berada pada pertemuan tiga besar lempeng besar dunia. Kondisi ini harus menjadi perhatian dalam penataan kawasan 

    Baca: Slow city, konsep baru pengelolaan kota yang lebih ramah lingkungan

    Oleh karena itu, penempatan manusia beserta hasil budayanya pada tempat yang aman merupakan kunci pertama dalam aspek pengurangan risiko bencana dalam penataan kawasan.

    “Identifikasi kondisi bawah permukaan yang detail dengan melakukan pemetaan geologi, survei geofisika, maupun pemboran akan sangat membantu dalam desain pembangunan infrastruktur di atasnya sesuai dengan daya dukung geologi,” ungkapnya di Balai Senat UGM, Selasa (17/10/2023).

    Ia menambahkan, jumlah penduduk yang terus bertambah dan eksploitasi sumber daya alam yang makin besar akan memicu berbagai permasalahan lingkungan yang akan menyebabkan timbulnya bahaya yang mengancam bagi manusia.

    “Di sisi lain, proses dinamika bumi yang terus berlangsung juga akan berpengaruh terhadap kejadian bencana di bumi ini,” ucapnya.

    Baca: Transportasi publik jadi elemen penting kota ramah lingkungan

    Wilopo berpendapat dengan jumlah penduduk yang makin besar dan desakan ekonomi akan membuat banyak masyarakat memanfaatkan daerah-daerah berbahaya untuk tempat tinggal maupun tempat berusaha.

    Hal ini, ujarnya, akan meningkatkan risiko bencana yang menimbulkan korban jiwa.

    Oleh karena itu, menurutnya, perlu usaha pendidikan dan penyadaran masyarakat akan pentingnya keamanan dari ancaman bahaya alam atau bahaya yang dipicu oleh aktivitas manusia itu sendiri.

    “Kajian geohazard menjadi perlu dilakukan di area-area yang akan dikembangkan dan daerah di sekitarnya, baik untuk keperluan pemukiman, pertanian, industri, maupun pertambangan,” terangnya.

    Baca: Ini manfaat yang dirasakan warga kota yang menerapkan konsep TOD

    Dengan demikian, tindakan mitigasi dapat dilakukan untuk menghilangkan maupun meminimalkan dampak bahaya yang akan muncul di kemudian hari.

    Mitigasi yang efektif dan efisien adalah mitigasi yang melibatkan semua pemangku kepentingan dan semua unsur masyarakat.

    Baginya teknologi mitigasi bencana maupun sistem peringatan dini tidak perlu harus sangat maju, cukup tepat guna dan tepat sasaran disesuaikan dengan kondisi sumber daya manusia yang ada, infrastruktur, kondisi ekonomi, dan sosial budaya masyarakat.

    Semua itu yang terpenting adalah untuk menjamin keberfungsian dan keberlanjutan dari teknologi tersebut sehingga negara akan kuat menghadapi bencana apabila masyarakatnya tangguh menghadapi bencana.

    Baca: Penataan kawasan dengan konsep TOD di Indonesia

    Dia mengakui perubahan iklim global merupakan hal yang tidak bisa dihindari, namun semua bisa berkontribusi untuk memperlambat proses dan meminimalkan dampaknya.

    Oleh sebab itu, semua harus mulai memanfaatkan sumber daya energi yang ramah lingkungan dan semua harus siap untuk melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim tersebut dalam semua aspek kehidupan untuk menyelamatkan bumi.

    “Pemanfaatan sumber daya alam harus sebanding dengan pembentukan dari sumber daya tersebut. Jadi, perlu usaha meminimalkan pengambilan langsung dari alam dengan cara melakukan pengolahan kembali terhadap sumber material yang sudah ada ataupun mencari sumber material alternatif yang mempunyai fungsi dan kegunaan yang sama,” tandasnya.

    Sumber: ugm.ac.id

  • Hindari Banyak Korban, Ahli Geologi Imbau Masyarakat Patuhi Kawasan Rawan Bencana

    Hindari Banyak Korban, Ahli Geologi Imbau Masyarakat Patuhi Kawasan Rawan Bencana

    7cloud.asia – Letusan Gunung Marapi di Sumatera Barat beberapa waktu lalu memakan korban jiwa 23 orang. Masyarakat seharusnya mematuhi peta kawasan rawan bencana (KRB) agar peristiwa ini tak terulang.

    Hal ini dikatakan oleh ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Sumatra Barat, Dian Hadiyansyah pada Selasa (12/12/2023).

    “Terkait mitigasi, masyarakat harus mengikuti peta KRB yang sudah dikeluarkan pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi,” ujar Dian seperti yang dilansir Antaranews.

    Menurutnya ancaman letusan gunung api yang dapat terjadi kapan saja, seperti yang terjadi pada Gunung Marapi.

    Peta KRB yang dikeluarkan Kementerian ESDM sudah jelas menggambarkan daerah mana saja yang berpotensi dilewati lahar dingin.

    Baca: Gunung Marapi meletus 11 orang tewas

    Berdasarkan peta KRB yang diterbitkan pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi, terdapat dua zona aliran lahar dingin, yakni zona berbentuk lingkaran dan zona berbentuk aliran.

    “Artinya, masyarakat harus menghindari zona-zona yang memungkinkan dilewati lahar dingin seperti sepanjang sungai dan lembah,” jelasnya.

    Selanjutnya Dian memaparkan Gunung Marapi yang tiba-tiba meletus pada Minggu (3/12/2023) lalu akibat adanya kontak air tanah dengan dapur magma di dalam perut bumi yang memicu ledakan.

    Hal ini karena Gunung Marapi merupakan jenis eksplosif dengan karakter freatik yang memungkinkan gunung meletus secara tiba-tiba.

    Pada umumnya letusan gunung api di Indonesia bersifat eksplosif dan diiringi gempa vulkanik.

    “Khusus letusan Gunung Marapi dengan karakter freatik lebih banyak dipengaruhi oleh keberadaan air tanah yang kontak dengan dapur magma,” katanya 

    Baca: Seharian Gunung Api ile Lewotolok Meletus 35 kali

    Seperti yang diberitakan sebelumnya Gunung Marapi pada 3 Desember 2023 pukul 14.54 WIB lalu meletus dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 3000 meter di atas puncak (5891 m di atas permukaan laut).

    Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur. Letusan ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 30 mm dan durasi 4 menit 41 detik.

    Letusan itu disertai dengan adanya aliran piroklasik ke arah utara dengan jarak luncur 3 km.

    Berdasarkan pengamatan instrumental Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) letusan ini tidak didahului oleh peningkatan gempa vulkanik yang signifikan.

    Korban meninggal sebanyak 23 orang dan mayoritas adalah mahasiswa. Banyaknya korban meninggal ini karena jalur pendakian tidak ditutup pada saat kejadian tersebut.

    Baca: Gunung Dukono meletus warga diimbau waspada

    Padahal ada batas larangan yang jelas terpasang di jalur pendakian gunung yang terletak di wilayah Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat tersebut.

    Pengurus pusat Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia(APGI), Ruslan Budiarto, menjelaskan  pihaknya selalu memberi pengertian kepada para pendaki untuk mematuhi segala peraturan di gunung yang akan didaki.

    Jika ada yang memaksa naik, atau melewati batas larangan, maka segala risiko tidak ditanggung oleh pemandu itu.

    “Jadi kalau ada yang memaksa naik ke puncak maka itu bukan tanggung jawab kami. Itu seperti yang berlaku di Gunung Semeru. Kami akan sarankan hingga Kalimati saja,” katanya.

    Memang dijalur pendakian terdapat papan peringatan berikut dengan logo PVMBG dan BKSDA yang tertulis: ‘Tingkat aktivitas Gunung Marapi Waspada (Level II). DILARANG MENDEKATI KAWAH AKTIF. Radius 3 km dari kawah sangat berbahaya saat terjadi erupsi (letusan).’

    Reporter: Nurakhmayani