Hindari Banyak Korban, Ahli Geologi Imbau Masyarakat Patuhi Kawasan Rawan Bencana

Written by

in

7cloud.asia – Letusan Gunung Marapi di Sumatera Barat beberapa waktu lalu memakan korban jiwa 23 orang. Masyarakat seharusnya mematuhi peta kawasan rawan bencana (KRB) agar peristiwa ini tak terulang.

Hal ini dikatakan oleh ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Sumatra Barat, Dian Hadiyansyah pada Selasa (12/12/2023).

“Terkait mitigasi, masyarakat harus mengikuti peta KRB yang sudah dikeluarkan pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi,” ujar Dian seperti yang dilansir Antaranews.

Menurutnya ancaman letusan gunung api yang dapat terjadi kapan saja, seperti yang terjadi pada Gunung Marapi.

Peta KRB yang dikeluarkan Kementerian ESDM sudah jelas menggambarkan daerah mana saja yang berpotensi dilewati lahar dingin.

Baca: Gunung Marapi meletus 11 orang tewas

Berdasarkan peta KRB yang diterbitkan pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi, terdapat dua zona aliran lahar dingin, yakni zona berbentuk lingkaran dan zona berbentuk aliran.

“Artinya, masyarakat harus menghindari zona-zona yang memungkinkan dilewati lahar dingin seperti sepanjang sungai dan lembah,” jelasnya.

Selanjutnya Dian memaparkan Gunung Marapi yang tiba-tiba meletus pada Minggu (3/12/2023) lalu akibat adanya kontak air tanah dengan dapur magma di dalam perut bumi yang memicu ledakan.

Hal ini karena Gunung Marapi merupakan jenis eksplosif dengan karakter freatik yang memungkinkan gunung meletus secara tiba-tiba.

Pada umumnya letusan gunung api di Indonesia bersifat eksplosif dan diiringi gempa vulkanik.

“Khusus letusan Gunung Marapi dengan karakter freatik lebih banyak dipengaruhi oleh keberadaan air tanah yang kontak dengan dapur magma,” katanya 

Baca: Seharian Gunung Api ile Lewotolok Meletus 35 kali

Seperti yang diberitakan sebelumnya Gunung Marapi pada 3 Desember 2023 pukul 14.54 WIB lalu meletus dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 3000 meter di atas puncak (5891 m di atas permukaan laut).

Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur. Letusan ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 30 mm dan durasi 4 menit 41 detik.

Letusan itu disertai dengan adanya aliran piroklasik ke arah utara dengan jarak luncur 3 km.

Berdasarkan pengamatan instrumental Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) letusan ini tidak didahului oleh peningkatan gempa vulkanik yang signifikan.

Korban meninggal sebanyak 23 orang dan mayoritas adalah mahasiswa. Banyaknya korban meninggal ini karena jalur pendakian tidak ditutup pada saat kejadian tersebut.

Baca: Gunung Dukono meletus warga diimbau waspada

Padahal ada batas larangan yang jelas terpasang di jalur pendakian gunung yang terletak di wilayah Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat tersebut.

Pengurus pusat Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia(APGI), Ruslan Budiarto, menjelaskan  pihaknya selalu memberi pengertian kepada para pendaki untuk mematuhi segala peraturan di gunung yang akan didaki.

Jika ada yang memaksa naik, atau melewati batas larangan, maka segala risiko tidak ditanggung oleh pemandu itu.

“Jadi kalau ada yang memaksa naik ke puncak maka itu bukan tanggung jawab kami. Itu seperti yang berlaku di Gunung Semeru. Kami akan sarankan hingga Kalimati saja,” katanya.

Memang dijalur pendakian terdapat papan peringatan berikut dengan logo PVMBG dan BKSDA yang tertulis: ‘Tingkat aktivitas Gunung Marapi Waspada (Level II). DILARANG MENDEKATI KAWAH AKTIF. Radius 3 km dari kawah sangat berbahaya saat terjadi erupsi (letusan).’

Reporter: Nurakhmayani

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *