7cloud.asia – Sineas Joko Anwar menggunakan pendekatan berbeda untuk film terbarunya, Ghost in the Cell yang bakal diputar di bioskop mulai 16 April 2026!
Dalam pengambilan gambar, Ghost in the Cell didesain layaknya pertunjukan teater, dengan total hanya 43 scene (film biasanya berisi sekitar 120 scene), dengan setiap adegan bisa berdurasi panjang.
Sebab itu, untuk filmnya yang ke-12 ini, Joko Anwar yang bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis skenario tidak main-main urusan casting.
Sejumlah aktor terkemuka Indonesia tampil memukau dalam film ini mulai dari Abimana Aryasatya, Morgan Oey, Lukman Sardi, Kiki Narendra. Aming, Arswendy Bening, Mike Muliadro, beradu akting di film Ghost in the Cell.
“Kita pilih mereka karena mereka paling sesuai dengan karakter,” ujar Joko Anwar menjawab pertanyaan wartawan dalam jumpa pers pada Senin (23/2/2026) di Jakarta.
Meski demikian, Joko Anwar menegaskan, dirinya berkomitmen untuk selalu menghadirkan wajah baru di setiap film garapannya. Alasan yang sama pula atas hadirnya Miftah yang berhasil mengalahkan 411 peserta lain yang menginginkan tokoh yang ia perankan.
Film ini juga mengusung konsep ensemble cast dari 40 karakter yang dihadirkan, yaitu konsep yang membuat setiap tokohnya memiliki peran penting sepanjang berjalannya film. Memiliki porsi waktu tayang dan tingkat kepentingan yang sama.
Abimana, yang memerankan karakter Anggoro dan menjadi pemeran utama di film
ini menuturkan, Joko Anwar memberinya kebebasan artistik dalam menerjemahkan karakternya saat berakting.
Baginya, film Ghost in The Cell ini akan membuka mata dan pikiran banyak orang Indonesia untuk berefleksi terhadap apa yang terjadi saat ini.
Abimana menambahkan, meski latarnya adalah penjara dan para karakternya adalah para napi, baginya ini seperti gambaran yang jelas tentang situasi kekacauan yang terjadi di Indonesia sekarang.
”Justru, dari para napi ini kita juga bisa belajar semangat kolektivisme untuk melakukan sebuah tindakan, saat kita tidak bisa bergantung dan mengandalkan institusi resmi,” ujar Abimana.
Sinopsis
Film Ghost in The Cell diproduksi oleh Come and See Pictures, bekerja sama dengan
RAPI Films dan Legacy Pictures. Barunson E&A juga menjadi sales agent untuk perilisan global film ini.
Sebelum tayang di negeri sendiri, Ghost in The Cell telah tayang di Festival Film Internasional Berlin atau yang dikenal juga dengan nama Festival Berlinale, sebuah festival film besar yang paling politis dan diterima dengan sangat baik oleh masyarakat di sana.
Ghost in the Cell menampilkan kengerian yang ada di penjara, saat para napi dalam ruang terbatas dihantui oleh kekacauan yang meneror.
Menampilkan deretan aktor terbaik Indonesia, Joko Anwar yang bertindak sebagai penulis dan sutradara menggabungkan aspek horor supranatural, satir tentang politik dan situasi sosial yang terjadi di Indonesia.
Joko Anwar mengungkapkan cerita film Ghost in the Cell adalah miniatur kehidupan rakyat, yang saat ini seperti sedang hidup di dalam penjara.
“Penjara adalah cerminan hidup secara sosial dan politik. Ada pejabat lapas sebagai pemerintah, dan ada napi sebagai rakyat. Ada dinamika kuasa, dan dinamika antar napi yang mencerminkan masyarakat kita,” ujar penulis dan sutradara Joko
Anwar.
“Film ini didesain buat penonton tertawa lepas karena ngeliat kehidupan kita sendiri,” tambah Joko.

