7cloud.asia – Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) mendesak pemerintah untuk meningkatkan akses pelayanan hemodialisis dan pengobatan yang lebih optimal bagi pasien ginjal kronik (PGK) di Indonesia.
Sebab setiap tahun jumlah pasien ginjal kronik di Indonesia terus meningkat dan rentan akan kematian.
Bertepatan dengan Hari Ginjal Sedunia yang jatuh pada hari ini, Kamis (14/03/2024), Ketua Umum KPCDI, Tony Richard Samosir melihat kurangnya peningkatan kualitas akses layanan dialisis.
Menurutnya berbagai kesenjangan dirasakan oleh para pasienginjal kronik meskipun telah melakukan kewajiban yang sama.
Kesenjangan dalam hal pembiayaan obat-obatan esensial dan pemeriksaan pendukung yang tidak dijamin cakupan BPJS Kesehatan masih menjadi penghalang.
“Akibatnya, banyak pasien tidak mendapatkan hak mereka sebagai peserta jaminan kesehatan nasional,” jelas Tony dalam siaran pers yang diterima 7cloud.asia.
Baca: Lebih dari 700 ribu warga mengidap ginjal kronik mayoritas karena hipertensi
Berdasarkan data Indonesia Renal Registry, tren peningkatan kasus PGK kian mengkhawatirkan.
Pada tahun 2022 mencapai 63.489 pasien baru terdeteksi dan 158.929 pasien aktif menjalani hemodialisis dengan penyakit ginjal kronik—yang umumnya diakibatkan oleh hipertensi dan diabetes.
Padahal tantangan spesifik yang dihadapi oleh pasien adalah ketersediaan obat-obatan, salah satunya yang menjadi pembahasan serius adalah pemberian hormon eritropoitien untuk meningkatkan hemoglobin.
Berdasarkan hasil riset KPCDI, 24% dari 142 rumah sakit yang dilakukan jajak pendapat tidak memberikan hormon eritropoitien (EPO) bagi pasien, meskipun angka kematian akibat komplikasi kardiovaskular pada pasien dialisis mencapai 40%.
Tony juga menyoroti sistem rujukan berjenjang, yang seharusnya sudah dieliminasi oleh BPJS Kesehatan.
Baca: Keterbatasan fisik tak melunturkan semangat Petrus memperjuangkan HAM
Faktanya masih menjadi praktik di banyak fasilitas–dengan 46% rumah sakit dalam survei KPCDI masih mempersyaratkan rujukan untuk pasien yang memerlukan hemodialisis.
Tahun ini, peringatan global Hari Ginjal Sedunia mengangkat tema “Ginjal Sehat untuk Semua: Meningkatkan Pemerataan Akses Pelayanan dan Praktik Pengobatan yang Optimal”.
Menurutnya tema ini tidak sekadar tema tetapi harus dimaknai semua pihak untuk melihat kembali realitas yang ada bahwa akses layanan dialisis masih jauh dari kata ideal dan optimal.
Karena itu, lanjut Tony, KPCDI mendesak pemerintah untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan ginjal dan memastikan implementasi aturan yang telah dibuat.
Regulasi yang telah dirancang dengan baik harus ditegakkan dengan ketat. Hal ini penting dilakukan untuk memastikan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien gagal ginjal di seluruh Indonesia.
Reporter: Nurakhmayani




