Tag: Greenfaith Indonesia

  • Tur Rumah Ibadah Greenfaith di Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Agama Ajarkan Cintai Lingkungan dan Muliakan Bumi

    Tur Rumah Ibadah Greenfaith di Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Agama Ajarkan Cintai Lingkungan dan Muliakan Bumi

    7cloud.asia – Dalam rangkaian Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2024, GreenFaith Indonesia melaksanakan kegiatan Tur Rumah Ibadah dengan berkunjung dan berdialog ke Rumah Ibadah enam agama di Indonesia.

    Dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, Tur Rumah Ibadah ini bertujuan untuk menghadirkan model dan inovasi bagaimana agama-agama di Indonesia berkontribusi dalam krisis iklim dengan aksi nyata bagi lingkungan.

    Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, Hening Parlan mengatakan bahwa rumah ibadah merupakan potret sebuah agama dalam merawat lingkungan.

    “Di dalamnya bukan hanya digunakan sebagai rumah untuk berkomunikasi dengan Tuhan dengan ritual ibadah, namun juga sebagai pusat atau sumber pengetahuan serta contoh baik dari aksi agama dalam melaksanakan perintah Tuhan,“ ujarnya.

    Melalui Tur Rumah Ibadah ini, Hening berharap, para peserta dapat saling bertukar pengetahuan tentang bagaimana agama mengajarkan mencintai lingkungan dan memuliakan bumi.

    Baca Juga: Greenfaith Ajak Anak Muda Lakukan Aksi Nyata Atasi Krisis Iklim

    Juga bagaimana agama bisa memberikan pengetahuan untuk umatnya melakukan tindakan menyelamatkan bumi.

    Merespon krisis iklim saat ini, GreenFaith Indonesia sebagai sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang lingkungan dan bekerja sama dengan lintas agama dan kepercayaan melakukan berbagai kegiatan dengan merujuk pada nilai-nilai dan perintah agama sebagai upaya untuk menjaga dan merawat lingkungan.

    Nilai-nilai yang terkandung pada ayat-ayat di dalam kitab suci bukan untuk sekedar bacaan dengan lantunan indah tapi harus dimaknai dan diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sehari–hari.

    Kegiatan Tur Rumah Ibadah dilaksanakan selama 2 hari, yakni pada Sabtu-Minggu, 8-9 Juni 2024.

    Hari pertama lokasi kunjungan Tur ini, dimulai dari kunjungan ke Pura Adhitya Jaya – Rawamangun, kemudian ke GIPB Paulus – Taman Sunda Kelapa, dan diakhiri dengan kunjungan ke Yayasan Buddha Tzu Chi – Pantai Indah Kapuk.

    Baca Juga: Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sekjen PBB Ingatkan Dunia Menjauh dari Penurunan Emisi

    Hari kedua, rute Tur dimulai dari kunjungan ke Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah – Menteng Raya, kemudian ke Masjid Istiqlal – Jakarta Pusat, kemudian ditutup dengan doa bersama di Klenteng Hok Tek Tjeng Sin – Jakarta Selatan.

    Pinandita Pengayah Pura Adhitya Jaya, I Gde Wiyadnya, mengatakan bagi umat Hindu, alam semesta adalah refleksi manusia itu sendiri.

    Ia memaparkan, semua yang ada di alam semesta terdiri dari 5 elemen atau yang disebut dengan Panca Mahabhuta.

    ”Yakni elemen pertiwi, udara, cairan, ruang, dan panas. Kalau kelima elemen tersebut di alam semesta ada yang terganggu maka akan berpengaruh ke diri kita, begitu pun sebaliknya,” ungkapnya.

    Untuk menjaga keseimbangan elemen Panca Mahabhuta, urai Gde, dibutuhkan Tri Hita Karana, di mana manusia perlu menjaga hubungan baik dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam.

    Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024: Upaya Dunia untuk Merestorasi Lahan dan Melawan Penggurunan

    Konsep Tri Hita Karana kemudian diadopsi ketika membangun rumah ibadah.

    “Kita menjaga tempat ibadah kita sebisa mungkin mendekati alam semesta. Oleh sebab itu bangunan Pura terbuka, kita tanam pohon, dan umumnya memiliki sumber air,” imbuhnya.

    Bangunan Pura, jelas Gde, terdiri dari 3 zona, Nista atau teras yang berada di luar, Madya atau ruang tengah, dan Utama atau ruang khusus peribadatan.

    Selain difungsikan secara vertikal, atau hanya untuk peribadatan kepada Tuhan, Pura juga dapat berfungsi secara horizontal atau untuk kegiatan sosial antar sesama,

    “Seperti kunjungan GreenFaith saat ini kita menggunakan Pura di zona bagian madya,” terangnya.

  • Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Konsep Mencintai Lingkungan yang Diterapkan Enam Agama di Indonesia

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Konsep Mencintai Lingkungan yang Diterapkan Enam Agama di Indonesia


    7cloud.asia – Dalam rangkaian Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2024, GreenFaith Indonesia melaksanakan kegiatan Tur Rumah Ibadah dengan berkunjung dan berdialog ke Rumah Ibadah enam agama di Indonesia.

    Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, Hening Parlan mengatakanToleransi umat beragama di Indonesia tidak cukup hanya dipelajari melalui buku dan dialog panjang di media, tetapi pengalaman belajar langsung dalam rumah ibadah tentang iklim menjadi salah satu kunci mempererat umat lintas agama.

    Krisis iklim tidak mengenal perbedaan agama, karena itulah tanggung jawab untuk mencegah semakin buruknya dampak, menjadi milik semua umat.

    GreenFaith Indonesia, sebagai organisasi nirlaba internasional bekerja dengan kelompok multi agama dengan fokus pada pendidikan tentang keadilan iklim dari perspektif agama berbeda dan melakukan kampanye agar umat melakukan aksi nyata merawat alam.

    Kegiatan Tur Rumah Ibadah dilaksanakan selama 2 hari, yakni pada Sabtu-Minggu, 8-9 Juni 2024.

    Hari pertama lokasi kunjungan Tur ini, dimulai dari kunjungan ke Pura Adhitya Jaya – Rawamangun, kemudian ke GIPB Paulus – Taman Sunda Kelapa, dan diakhiri dengan kunjungan ke Yayasan Buddha Tzu Chi – Pantai Indah Kapuk.

    Baca: Tur Rumah Ibadah Hari Lingkungan Hidup Sedunia, agama ajarkan mencintai Bumi

    Hari kedua, rute Tur dimulai dari kunjungan ke Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah – Menteng Raya, kemudian ke Masjid Istiqlal – Jakarta Pusat, kemudian ditutup dengan doa bersama di Klenteng Hok Tek Tjeng Sin – Jakarta Selatan.

    Pinandita Pengayah Pura Adhitya Jaya, I Gde Wiyadnya, mengatakan bagi umat Hindu, alam semesta adalah refleksi manusia itu sendiri.

    “Semua yang ada di alam semesta terdiri dari 5 elemen atau kami sebut Panca Mahabhuta, yakni elemen pertiwi, udara, cairan, ruang, dan panas. Kalau kelima elemen tersebut di alam semesta ada yang terganggu maka akan berpengaruh ke diri kita, begitu pun sebaliknya,” ungkapnya.

    Untuk menjaga keseimbangan elemen Panca Mahabhuta, urai Gde, dibutuhkan Tri Hita Karana, di mana manusia perlu menjaga hubungan baik dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam.

    Konsep Tri Hita Karana kemudian diadopsi ketika membangun rumah ibadah umat Hindu.

    Baca: Greenfaith Indonesia ajak anak muda aktif dalam aksi lingkungan

    Di GPIB Paulus, Rommi Matheos selaku Pendeta GPIB Paulus, menjelaskan iman Kristen meyakini bahwa dunia ini adalah ciptaan Tuhan, yang diciptakan selama 6 hari.

    Di mana hari ke 7 manusia diminta untuk istirahat, atau tidak bekerja atau disebut dengan hari Sabat.

    “Tuhan ingin supaya manusia tidak hanya bekerja tetapi juga harus mengistirahatkan diri dan memperhatikan bumi, di sinilah tumbuh kesadaran untuk kita menyelamatkan lingkungan,” ungkapnya.

    Terkait konsep ajaran keselamatan itu sendiri, lanjut Pendeta Mattheos, Tuhan memerintahkan upaya memelihara ciptaanNya, adalah untuk keselamatan dunia dan alam.

    Sebagai langkah nyata dari ajaran Iman Kristen, Gereja GPIB Paulus menjalankan program layanan Gerakan Masyarakat dan Lingkungan atau Germasa sebagaimana diputuskan di persidangan Sinode yang diselenggarakan tiap tahun.

    “Di GPIB Paulus kami ketika beribadah sudah tidak lagi pakai kertas, namun mulai paperless, dan kami sediakan tempat sampah pilah agar jemaat mampu memilah sampah sesuai jenisnya,” ungkap Pendeta Mattheos.

    Baca: Mengenl konsep masjid ramah lingkungan yang dikembangkan Muhammadiyah

    Di Gedung Yayasan Buddha Tzu Chi, Juny Leong Min Wu, Relawan insan Buddha Tzu Chi, menceritakan sejarah, nilai ajaran, serta kiprah Madzhab Tzu Chi di Indonesia dalam bidang pendidikan, sosial, kemanusiaan, hingga lingkungan hidup.

    Tokoh penggerak Madzhab Tzu Chi yakni Master Cheng Yen, merupakan seorang Bhikkhuni atau pemimpin agama Buddha perempuan asal Taiwan.

    Inspirasi ‘Hidup berdampingan dengan bumi’ menjadi nilai ajaran Master Cheng Yen terkait pelestarian lingkungan.

    Sudah sejak 1990, insan Tzu Chi melakukan pemilahan dan mengelola sampah menjadi barang berguna.

    “Mengubah sampah menjadi emas, dan emas menjadi cinta kasih, adalah semangat yang diajarkan Master Cheng Yen,” kata Juny.

    Persoalan sampah harus diatasi bersama dan menjadi tanggung jawab setiap orang dan relawan Tzu Chi aktif aktif mengedukasi masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah dan daur ulang di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi.

    Baca: Hari lingkungan hidup sedunia: upaya dunia melawan penggurunan

    Di hari kedua kegiatan Tur Rumah Ibadah, peserta belajar tentang aksi nyata mewujudkan keadilan iklim lewat energi terbarukan di Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sudah menggunakan solar atap sebagai sumber energi alternatifnya.

    “Langkah nyata ini mampu mengurangi biaya pemakaian listrik dari fosil. Jika solar panelnya berfungsi secara maksimal, biaya pengeluaran listrik per bulannya bisa lebih hemat Rp15 juta, dari yang biasanya lebih dari Rp40 juta per bulan,” ungkap Hening, Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

    Gerakan Muhammadiyah dilandasi oleh spirit yang termaktub dalam Al Maun termasuk dalam gerakan melestarikan lingkungan.

    Al Maun, ujar Hening, adalah salah satu surat di dalam Al Quran yang menjadi spirit gerakan Muhammadiyah untuk memperhatikan dan menyantuni saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan yatim.

    Kini berkembang menjadi ‘Green Al Maun’, di mana Muhammadiyah melihat fakir, miskin, dan yatim akibat terdampak krisis iklim,” kata Hening.

    Muhammadiyah memiliki Majelis Lingkungan Hidup sejak 18 tahun lalu, dengan harapan Muhammadiyah berkontribusi menyadarkan umatnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

    Baca: Hari Lingkungan Hidup Sedunia, dunia diingatkan dampak perubahan iklim pada anak-anak

    Tidak hanya solar atap, gedung ini juga memiliki saluran pengelolaan air limbah yang digunakan kembali untuk menyiram tanaman dan kendaraan.

    Pengetahuan tentang energi peserta semakin bertambah dari kunjungan ke Masjid Istiqlal. Masjid terbesar di Asia Tenggara ini dilengkapi dengan solar atap berkekuatan lebih dari 15 kilowatt peak yang memasok 16% kebutuhan listrik masjid.

    Pemanfaatan solar atap di gedung Masjid Istiqlal ini sudah berlangsung sejak 2019 lalu dengan sistem on grid atau terhubung dengan saluran listrik dari PLN.

    Saparwadi, Kepala Humas dan Protokol Badan Pengelola Masjid Istiqlal menyampaikan bahwa pada tahun 2022, Masjid Istiqlal telah mendapatkan penghargaan Green Mosque pertama di dunia dari International Finance Corporation (IFC).

    “Bangunan Masjid Istiqlal Jakarta yang memiliki luas 4 hektar dan tanah 9,6 hektar ini, kini sudah menggunakan 504 solar panel yang alhamdulillah telah membantu menghemat anggaran hingga 100 juta rupiah dari total rata-rata 200 juta rupiah perbulannya,” ungkap Saparwadi.

    Selain pemanfaatan energi matahari, Masjid Istiqlal juga melakukan konservasi air dengan cara menghemat jumlah debit air wudhu yang keluar dan mengolahnya kembali untuk digunakan menyiram pohon dan tanaman di area masjid.

    Dari Masjid Istiqlal, peserta bertemu Romo Pandita Mettiko, di Klenteng Hok Tek Tjeng Sin / Wihara Amarvabhumi.

    Klenteng yang sudah berusia lebih dari 100 tahun ini bertahan di tengah gedung-gedung pencakar langit di tengah kota Jakarta. Sebuah bukti nyata bagaimana kehidupan duniawi harus diimbangi hubungan manusia dengan Tian / Tuhan dan alam sekitar yang terus menerus berubah.

    “Manusia yang memelihara bumi, ia menyediakan jalan ke surga. Lingkungan yang bersih dan lestari akan nyaman ditinggali bagi semua, namun jika rusak maka kita semua terkena dampaknya,“ ungkap Romo Pandita Mettiko.

    “Kalau kita tidak bersaudara dalam iman, kita masih bisa bersaudara dalam kemanusiaan, mari bersama-sama kita rawat lingkungan hidup kita,” imbuhnya.

  • Dialog Greenfaith Indonesia: Warga Jawa Barat Makin Rasakan Dampak Perubahan Iklim

    Dialog Greenfaith Indonesia: Warga Jawa Barat Makin Rasakan Dampak Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Dampak perubahan iklim telah dirasakan warga Jawa Barat. Dan, isu perubahan iklim juga menjadi perhatian warga Jawa Barat dalam penyelenggaraan Pilkada 2024 ini.

    Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat mencatat bahwa dampak perubahan iklim telah mengancam kawasan pesisir utara Jawa Barat, di mana sekitar 700 hektare lahan tenggelam akibat kenaikan permukaan air.

    Di lapangan, masyarakat terus memperjuangkan keadilan lingkungan guna menghadang laju perubahan iklim.

    Demikian terungkap dalam dialog tentang transisi energi yang berkeadilan yang digelar pada Jumat (25/10/2024) oleh GreenFaith Indonesia bekerja sama dengan GreenFaith Jepang serta WALHI Jawa Barat.

    Dialog ini dihelat di Kota Bandung menghadirkan pembicara anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, LBH Bandung, akademisi, organisasi masyarakat sipil.

    Viktor Permana, akademisi sekaligus peneliti dari Universitas Padjadjaran memaparkan hasil survei terbarunya, di mana isu perubahan iklim kini menjadi perhatian utama bagi warga Jawa Barat menjelang Pilkada 2024.

    Hasil survei menunjukkan bahwa 84,1 persen responden mendukung transisi energi dan berharap para calon pemimpin daerah memasukkan isu lingkungan dalam program mereka.

    Dari sisi kebijakan, Wulandari dari Perkumpulan Inisiatif mengungkapkan bahwa anggaran publik Jawa Barat untuk energi terbarukan masih minim dibandingkan dengan pendapatan dari energi fosil.

    Baca: Agama dan gender syokong adaptasi iklim warga Pantura di Jawa Barat

    “Pendapatan daerah dari energi fosil mencapai Rp 2 triliun, sementara energi terbarukan hanya menyumbang 0,5 persen dari total PAD,” ungkap Wulandari.

    Menurutnya, transisi energi masih menghadapi tantangan berat dari sisi pendanaan dan prioritas anggaran. Di sisi lain, dengan beralihnya transisi energi yang jadi permasalahan adalah merupakan PAD tertinggi.

    Kendaraan bermotor merupakan sumber PAD yang paling tinggi. Beralih ke kendaraan listrik, tanpa pajak, sehingga PAD berkurang, itu yang harus dipikirkan ke depan.

    Dalam Peraturan Daerah Jawa Barat, ditargetkan porsi energi terbarukan mencapai 20 persen pada tahun 2025 dan 28 persen pada tahun 2050 sesuai dengan Perda No. 2 Tahun 2019.

    Maulida dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung menjelaskan bahwa pihaknya telah mendampingi masyarakat dalam menggugat izin lingkungan PLTU yang dikeluarkan di Cirebon dan Indramayu.

    LBH juga aktif mengedukasi publik melalui media sosial dan kampanye untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya PLTU dan pentingnya energi terbarukan.

    Ahab Sihabudin, anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi PKS, menegaskan bahwa kebijakan transisi energi harus diwujudkan pada tingkat daerah, tidak hanya menjadi wacana pusat.

    “Potensi energi terbarukan di Jawa Barat mencapai 200 gigawatt, dan pemerintah pusat perlu memfasilitasi peralihan ini,” ujarnya.

    Baca: Dampak PLTU Indramayu pada lingkungan dan kesehatan masyarakat

    Sementara itu, Heri Ukasah dari Fraksi Gerindra menyatakan dukungannya terhadap upaya transisi energi.

    Menghadapi tantangan ini, Direktur Eksekutif GreenFaith Internasional, Fletcher Harper menjelaskan ebagai organisasi multi-agama yang berfokus pada isu keadilan iklim Greenfaithvakan terus menyalakan harapan dan membangun fondasi kuat bagi perjuangan.

    “Perubahan iklim adalah tantangan global yang nyata, dan kita tidak dapat menutup mata. Seluruh masyarakat dunia harus bersama-sama menghadapi krisis ini,” ujar Flecher.

    Menurutnya, perubahan iklim bukan hanya isu lingkungan, melainkan juga seruan moral yang harus dijawab oleh seluruh komunitas beragama. Karena itu dibutuhkan kolaborasi lintas sektor dan lintas negara.

    Perjuangan melawan perubahan iklim, ujarnya, memerlukan inovasi teknologi, keadilan sosial, serta dukungan moral dari seluruh umat beragama di dunia.

    Hening Parlan, Direktur GreenFaith Indonesia, saat membuka acara menyampaikan bahwa GFI berfokus pada transisi energi yang adil dan bertanggung jawab.

    Upaya ini tidak berjalan sendiri; GFI bekerja sama dengan organisasi non-pemerintah (NGO), komunitas masyarakat, dan pemerintah untuk mempercepat transisi menuju energi ramah lingkungan di Indonesia.

    “Sebagai insan beragama, kewajiban kita adalah merawat bumi,” tegas Hening, menyoroti bahwa semua ajaran agama mendorong umatnya untuk melindungi bumi sebagai tanggung jawab moral bersama.

    Salah satu inisiatif penting adalah rencana penutupan PLTU Indramayu dan Cirebon. Bila penutupan PLTU ini berhasil, diharapkan bisa menjadi contoh, sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia serius dalam menekan emisi karbon.

  • Komitmen Majelis Sinode GPIB Berkontribusi dalam Upaya Mengatasi Krisis Iklim

    Komitmen Majelis Sinode GPIB Berkontribusi dalam Upaya Mengatasi Krisis Iklim

    7cloud.asia – Di tengah ancaman krisis iklim yang kian nyata, langkah kecil bisa menjadi awal perubahan besar.

    Semangat inilah yang mendasari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara GreenFaith Indonesia dan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Selasa (16/9/2025).

    Mengambil tempat di Kantor Majelis Sinode GPIB, Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat MoU ini menandai komitmen baru bagi gereja dan komunitas lintas iman untuk mengambil peran nyata dalam penyelamatan bumi.

    Penandatanganan dilakukan oleh Hening Parlan, Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, bersama Pendeta Paulus Kariso Rumambi, Ketua Umum Majelis Sinode GPIB.

    Kerja sama ini mencakup tiga hal utama. Pertama, penelitian kolaboratif di bidang lingkungan hidup, termasuk penerbitan hasil riset dan pengembangan ilmu pengetahuan.

    Kedua, penguatan kapasitas jemaat GPIB agar semakin peduli dan mampu beraksi dalam gerakan ekologi. Ketiga, promosi gerakan gereja ramah lingkungan baik di tingkat daerah maupun nasional.

    Baca: Konsep mencintai lingkungan yang diterapkan enam agama di Indonesia

    Kerja sama berlaku empat tahun dan dapat diperpanjang. Seluruh pembiayaan dituangkan dalam rencana program bersama yang dikelola secara transparan.

    “Krisis iklim adalah krisis spiritual. Ia menantang kita semua umat beragama, pemerintah, dan masyarakat sipil untuk keluar dari zona nyaman dan bekerja bersama. MoU ini adalah langkah kecil, tetapi penting, menuju perubahan besar,” kata Hening Parlan usai penandatanganan MoU.

    Ia menegaskan, transisi energi bukan semata soal teknis, tetapi perubahan pola pikir. “Net zero tidak hanya soal listrik, tetapi juga mengurangi sampah dan mengubah kebiasaan yang tidak ramah lingkungan,” ujarnya.

    Komitmen gereja atasi krisis iklim 
    GPIB, melalui kemitraan ini, menegaskan dirinya sebagai gereja publik—gereja yang tak hanya berfokus pada ruang ibadah, tetapi juga menjawab pergumulan masyarakat dan lingkungan.

    “Gereja tak bisa menutup mata. Kerusakan lingkungan adalah krisis moral. Melalui kerja sama ini, kami ingin memberi teladan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari pelayanan kasih,” ujar Pdt. Manuel E. Raintung, Ketua II Majelis Sinode GPIB Bidang Gereja, Masyarakat, Agama-Agama, dan Lingkungan Hidup (GERMASA-LH), yang juga hadir dalam acara penandatanganan MoU tersebut.

    Manuel menambahkan, sinergi dengan GreenFaith sudah terjalin sejak lama melalui bidang GERMASA. Dalam waktu dekat, GPIB juga akan meluncurkan buku lingkungan. Bahkan, salah satu pendetanya, Meilani, kini tengah menempuh studi doktoral di bidang ekologi.

    Baca: GreenFaith ajak anak muda lakukan aksi nyata atasi krisis iklim

    Pertemuan itu juga mengungkapkan komitmen GPIB untuk menjajaki kerja sama menuju target net zero emission, antara lain lewat audit energi, penurunan konsumsi energi, dan penggunaan panel surya.

    Luwi Liliefna, dari Majelis Sinode GPIB, menyampaikan gagasan penyusunan buku panduan praktis bagi rumah ibadah untuk mengurangi emisi.

    “Mulai dari aktivitas rendah emisi, penanaman pohon, hingga perhitungan emisi yang seimbang,” katanya.

    Hening, yang juga memimpin gerakan 1000 Cahaya Muhammadiyah, menyambut baik rencana tersebut. Ia menjelaskan pengalaman serupa sudah digerakkan di masjid, sekolah, dan pesantren.

    “Kalau penyadaran dilakukan secara masif, perubahan nyata bisa diwujudkan,” ujarnya.

    Kolaborasi ini menegaskan optimisme bahwa komunitas agama memiliki modal sosial besar yakni basis umat yang nyata, setia, dan siap bergerak. Sebuah kekuatan moral yang mampu melampaui batas institusi politik maupun korporasi.

    Baca: Pentingnya reformasi pemikiran keagamaan yang pro-lingkungan

     

  • Pemuda Lintas Iman Kalimantan Barat Sepakat Membangun Bersama Keadilan Iklim

    Pemuda Lintas Iman Kalimantan Barat Sepakat Membangun Bersama Keadilan Iklim

    7cloud.asia – Krisis iklim tak hanya isu lingkungan, melainkan persoalan moral dan kemanusiaan yang menuntut tanggung jawab bersama lintas agama dan generasi.

    Kesadaran inilah yang mendorong GreenFaith Indonesia bersama Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kalimantan Barat menggelar Pelatihan Keadilan Iklim untuk Pemuda Lintas Iman, Jumat (10/10/2025), di Pontianak, Kalimantan Barat.

    “GreenFaith hadir untuk mempertemukan nilai-nilai iman dan kepedulian ekologis. Kami percaya, semua agama mengajarkan untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama,” ujar Hening Parlan, Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, saat membuka acara.

    Hening menegaskan, perubahan iklim telah bergerak menjadi fase krisis iklim yang nyata. Bumi, ujarnya, tidak sekadar mengalami pemanasan, tapi juga telah terluka.

    ”Lapisan ozon menipis, ekosistem terganggu, dan umat manusia kehilangan keseimbangan spiritual terhadap alam,” ujarnya.

    Dalam konteks itu, agama-agama memiliki peran penting sebagai kekuatan moral untuk membangkitkan kembali kesadaran ekologis. Islam misalnya, mengajarkan tanggung jawab manusia sebagai khalifah fil ardh yang harus menjaga kelestarian lingkungan.

    Baca: Konsep mencintai lingkungan yang diterapkan agama di Indonesia

    Dalam sesi materi bertema Agama, Kerusakan Alam, dan Keadilan Iklim, Parid Ridwanuddin, Manajer Kampanye GreenFaith Indonesia, menyoroti kondisi Kalimantan Barat yang kian rentan terhadap bencana iklim.

    “Hubungan antara banjir, deforestasi, dan krisis iklim di Kalbar itu jelas: penggundulan hutan, tambang batu bara, dan suhu panas ekstrem membuat petani kesulitan memprediksi cuaca,” ujar Parid.

    Ia menegaskan, krisis ekologis tak bisa dilepaskan dari krisis spiritualitas, mengutip pemikiran Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Religion and the Order of Nature.

    “Kemanusiaan modern telah meninggalkan langit, meninggalkan nilai spiritual. Akar kerusakan lingkungan ada pada kedangkalan iman dan hilangnya kesadaran akan kesucian alam,” lanjutnya.

    Parid juga menyinggung Dokumen Al-Mizan, panduan Islam global tentang etika lingkungan yang menolak pandangan antroposentrisme—pandangan bahwa manusia adalah pusat segalanya.

    Hindu menekankan keseimbangan alam lewat Tri Hita Karana; Katolik menyerukan seruan ekologis melalui ensiklik Laudato Si; ajaran Buddha menegaskan bahwa semua makhluk, termasuk hewan dan tumbuhan, adalah bagian dari umat yang patut dihormati;

    Baca: PP Muhammadiyah kembangkan konsep masjid ramah lingkungan 

    Sementara Khonghucu mengajarkan bahwa hubungan yang harmonis dengan alam menjadi bagian penting dari kehidupan.

    “Dari ego menjadi eco,” kata Hening, menggambarkan transisi moral dari keserakahan manusia menuju harmoni dengan alam. “Kita diajarkan untuk tidak menjadikan agama hanya sebagai topeng moral yang berhenti pada doa. Tapi harus diwujudkan dalam aksi nyata melindungi bumi.”

     

    Ekoteologi: Iman yang Bertindak
    Melalui sesi Diskusi dan Sharing Ekoteologi, para peserta menggali dalil, kisah, dan praktik baik dalam tradisi masing-masing agama tentang merawat alam.

    Mereka menemukan benang merah yang sama: Bumi bukan milik manusia, melainkan titipan yang harus dijaga bersama. Kegiatan kemudian berlanjut dengan Rencana Aksi Rumah Ibadah Ramah Lingkungan (Eco-House of Worship).

    Setiap kelompok agama merumuskan gagasan nyata untuk diterapkan di tempat ibadah masing-masing — mulai dari pengelolaan sampah, pengurangan konsumsi listrik berbasis batu bara, hingga kampanye hidup sehat dan rendah karbon.

    “Keadilan iklim harus dimulai dari langkah kecil: dari rumah ibadah, dari komunitas, dari diri kita masing-masing. Inilah bentuk ibadah sejati bagi bumi.” tegas Hening Parlan menutup kegiatan.

    Baca: Majelis Sinode GPIB berkomitmen dalam mengatasi krisis iklim

    Kegiatan pelatihan di Pontianak diikuti 28 pemuda lintas iman yang mewakili tujuh kelompok agama dan organisasi besar di Indonesia: Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu, dan Islam.

    Pertemuan ini menjadi yang pertama bagi GreenFaith Indonesia di Kalimantan Barat sekaligus pelatihan ke-12 sejak gerakan lintas iman ini hadir di Indonesia.

    Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilaksanakan di kawasan Jakarta, Tangerang, Salatiga, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Manado, Maluku, Riau, Pematang Siantar, Sawahlunto, dan Sumatera Selatan.

    Adapun GreenFaith merupakan gerakan lintas iman global yang berdiri sejak 23 tahun lalu di New York.

    Kini, GreenFaith telah hadir di 11 negara dari empat benua, yakni Ghana, Kenya, Tanzania, dan Uganda (Afrika); Brasil, Amerika Serikat (Amerika); Indonesia, Jepang, Korea Selatan (Asia), dan Belanda, Prancis, Jerman (Eropa), dengan jaringan akar rumput di lebih dari 40 negara.

    Di Indonesia, GreenFaith berfokus pada pendidikan lingkungan berbasis iman, advokasi keadilan iklim, serta kampanye transisi energi yang berkeadilan. Melalui pelatihan semacam ini, GreenFaith berupaya menumbuhkan kepemimpinan muda lintas iman yang berpihak pada bumi dan sesama makhluk hidup.