Tag: Hari Kota Sedunia

  • Hari Kota Sedunia: Tak Hanya Polusi Debu Batubara Hak Atas Kota Layak Warga Marunda Belum Terpenuhi

    Hari Kota Sedunia: Tak Hanya Polusi Debu Batubara Hak Atas Kota Layak Warga Marunda Belum Terpenuhi

    7cloud.asia – Memperingati Hari Kota Sedunia yang jatuh pada 31 Oktober 2023 dan Kampanye Urban Oktober, Greenpeace berkolaborasi dengan LBH Jakarta, WALHI Jakarta dan Trend Asia menyelenggarakan acara bertajuk PESTAPERA – Pesta Penolakan Batubara yang dipusatkan di Marunda Jakarta Utara.

    Dalam peringatan Hari Kota Sedunia ingin menunjukkan bahwa masalah polusi debu batubara di Marunda hingga kini belum menemui titik terang.

    Ditemui di sela kegiatan peringatan Hari Kota Sedunia, Jeanny Sirait, Pengkampanye Urban Justice Greenpeace Indonesia menyebutkan, masalah debu batubara ini sebenarnya tidak hanya dialami oleh Warga Rusunawa Marunda.

    Dampak dari polusi debu batubara ini juga dirasakan oleh Warga Marunda Pulo, Marunda Kepu, Marunda Bidara bahkan sampai dengan Nelayan Cilincing.

    Selain polusi udara akibat debu batubara, warga Marunda juga menghadapi masalah aksesibilitas pendidikan, hak atas pekerjaan dan kemandirian ekonomi, layanan kesehatan, hak atas air dan moda transportasi. 

    Baca: Cara warga Marunda membincangkan masalahnya

    M. Amminulah, staf kampanye WALHI Jakarta mengatakan, krisis lingkungan hidup yang terjadi di Marunda membuktikan tidak terpenuhinya hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat bagi masyarakat Jakarta.

    Hak atas lingkungan yang dijamin oleh konstitusi tersebut, justru diabaikan oleh pemerintah dengan mengesampingkan hak-hak masyarakat dan perlindungan lingkungan hidup.

    Aminullah mencontohkan, berlarut-larutnya penanganan polusi udara di Marunda yang telah berdampak pada kesehatan masyarakat.

    Masyarakat telah memiliki bukti empiris yang menyatakan adanya pencemaran udara di Marunda. Meski begitu, ujarnya pemerintah masih saja lamban dalam mencari sumber penyebab pencemaran udara.

    Sehingga meskipun PT KCN, salah satu penyebab polusi udara berhenti operasi, pencemaran masih terjadi di Marunda.

    Baca: Warga Marunda minta data perusahaan batubara yang ditutup 

    Lebih lanjut, Marunda sejatinya merupakan hanya satu contoh pengabaian lingkungan hidup yang dilakukan oleh pemerintah.

    “Di Jakarta Utara saja, wilayah seperti Muara Angke, Clincing, Muara Baru, dan wilayah lainnya masih memiliki persoalan serupa, yaitu pencemaran
    lingkungan dan pengabaian oleh pemerintah.” tegasnya.  

    Melihat Marunda, akan terlihat potret ketimpangan sosial di Jakarta. Kota besar, ibu kota negara, yang di mata banyak orang menjanjikan kesejahteraan dengan berbagai fasilitas yang membuat orang nyaman.

    Juru Kampanye Energi dari Trend Asia, Meike Inda Erlina menegaskan anggapan banyak orang ini terbantahkan ketika melihat Marunda. 

    “Ruang hidup warga Marunda dikepung Industri di Jakarta Utara bahkan lintas dari Banten hingga Jawa Barat. Di sini saja terdapat kurang lebih 300 perusahaan mulai dari industri manufaktur, garmen, minyak goreng, metal, baja, dll, ” ujar Meike.

    Baca: Masalah kesehatan yang harus dihadapi warga Marunda

    Warga Marunda,  dihadapkan dengan polusi seperti asap-asap pabrik yang listriknya ditenagai PLTU Batubara, Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap, stockpile batubara serta tongkang yang hilir mudik.

    “Industri ini adalah bahan baku untuk memenuhi keinginan kita menggunakan pakaian mewah, tinggal di gedung bagus, listrik menyala 24 jam, serta dapat berkendara dengan mobil atau motor,” Jelas Meike’

    Sementara warga Marunda setiap hari menghirup debu dan udara beracun, mengkonsumsi air dan sumber pangan yang tercemar.

    Ruang bagi anak untuk belajar dan bermain tidak lagi aman, gizi mereka tak terjamin, kesehatan warga terganggu, apalagi kesehatan paru-paru dan kulit, dan ini merentankan kesehatan reproduksi perempuan.

    Akhirnya biaya yang harus dikeluarkan tidak sebanding dengan penghasilan yang mereka dapat dari hasil berdagang dan melaut. Bagaimana mungkin orang bisa sejahtera jika hidup di lingkungan yang rusak seperti itu?

    Baca: DPR minta agar industri yang cemari lingkungan ditindak tegas

    Pemerintah harus berhenti menggunakan batubara, dan lebih serius mendorong transisi ke energi terbarukan.

    Pemerintah juga didesak untuk mewujudkan perbaikan ruang hidup yang aman dan layak dengan melibatkan partisipasi penuh warga.

    “Sehingga berkeadilan dalam mengelola dan menjaga sumber daya milik bersama seperti air, udara, kota, pesisir dan masih banyak lagi,” tutup Meike.

    Pembangunan masif di perkotaan telah mendorong kota menjadi tempat yang rentan terhadap krisis iklim.

    Permasalahan sosial dan lingkungan di kota tak lepas dari dampak krisis iklim hingga mengancam kehidupan masyarakat perkotaan. Kekuatan kolektif tidak bisa diabaikan begitu saja.

    Baca: Penggunaan batubara dituding sebagai sumber utama polusi udara

    “Harapan dan keinginan warga Marunda untuk mengakses layanan publik dasar dengan mudah, juga menjadi harapan banyak orang di kota metropolitan ini,” tambah Jeanny.

    Selain itu, tak jarang solusi-solusi kecil untuk persoalan di kota justru datang
    dari inisiatif komunitas, dan pelibatan aktif masyarakat dalam pengambilan keputusan.

     

  • Hari Kota Sedunia: Mencari Cara Membangun Kota yang Berkelanjutan

    Hari Kota Sedunia: Mencari Cara Membangun Kota yang Berkelanjutan

    7cloud.asia – Sobat 7cloud.asia, tahukah kamu kalau setiap tanggal 31 Oktober diperingati sebagai Hari Kota Sedunia atau World Cities Day? 

    Peringatan Hari Kota Sedunia ini diamanatkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui resolusi nomor 68/239 sejak tahun 2013, atau sejak 10 tahun silam. 

    Mungkin kamu bertanya-tanya mengapa Hari Kota Sedunia ini harus dirayakan?

    Mengutip keterangan di situs PBB, Hari Kota Sedunia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap urbanisasi global dan masalah yang ditimbulkannya.

    Baca: Hari Kota Sedunia, seperti ini mimpi kelompok marjinal kota

    Hari Kota Sedunia juga bertujuan untuk mendorong kerja sama antar negara dalam mencari solusi untuk mengatasi tantangan urbanisasi serta berkontribusi pada pembangunan perkotaan yang berkelanjutan di seluruh dunia.

    Tema yang diusung dalam Hari Kota Sedunia 2023 adalah “Financing a sustainable urban future for all” atau pembiyaan untuk masa depan kota yang berkelanjutan untuk semua.

    Adapun slogan yang diusung di Hari Kota Sedunia tahun ini adalah “Better City, Better Life” atau “Kota yang lebih baik, kehidupan yang lebih baik”. 

    Melalui tema ini, PBB ingin mengeksplorasi bagaimana membuka investasi transformatif dalam perencanaan kota dan mencapai desentralisasi fiskal yang memadai.

    Baca: Tantangan menerapkan infrastruktur ramah lingkungan di perkotaan

    “Untuk mencapai tujuan tersebut, mandat dari berbagai tingkatan dan sektor pemerintahan haruslah jelas dan bebas dari kesenjangan atau tumpang tindih,” demikian keterangan di laman resmi, UN habitat. 

    Semua tingkat dan sektor pemerintahan yang relevan harus turut serta dalam pengambilan keputusan mengenai investasi, bukan hanya mereka yang terlibat dalam pengumpulan pajak dan pendapatan lainnya.

    Kerja sama yang lebih baik antar berbagai tingkat dan sektor pemerintahan menjadi sangat krusial dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan pembangunan perkotaan.

    Jika direncanakan secara bertanggung jawab dan didasarkan pada analisis biaya/manfaat yang masuk akal dan didukung peraturan yang memadai, maka pembiayaan dan pembangunan infrastruktur dapat digunakan secara lebih efisien.

    Baca: Pestapera, cara warga Rusun Marunda membicangkan masalah mereka

    PBB juga menekankan pentingnya untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan pembangunan perkotaan melalui kolaborasi yang lebih baik antara berbagai tingkat dan sektor pemerintahan.

    Keberhasilan upaya desentralisasi tanggung jawab ke tingkat daerah, lanjut pernyataan itu sangat bergantung pada sistem dan tradisi tata kelola yang ada.

    Meskipun hal tersebut kadang harus didukung oleh devolusi fiskal dan kewenangan pinjaman sub-negara.

    Perencanaan kota sangat penting untuk mempersiapkan perluasan kota yang teratur guna memandu investasi, menyiapkan pembagian lahan, dan memasang infrastruktur kerangka sebelum membangun.

    Baca: Hari Kota Sedunia Warga Marunda tuntut lingkungan yang aman

    Ditegaskan, memperbaiki kawasan yang dibangun secara informal merupakan hal yang rumit dan jauh lebih mahal.

    Lonjakan populasi perkotaan yang cepat sering mengakibatkan proses membangun infrastruktur tanpa mempertimbangkan perencanaan kawasan yang tertata. 

    Namun, pembangunan infrastruktur tidak dapat ditunda jika terdapat kebijakan dan institusi yang sempurna.

    Investasi dalam pembangunan perkotaan tidak harus ditahan sampai lembaga-lembaga yang memiliki kemampuan penuh telah tersedia.

    Baca: Transportasi publik yang nyaman salah satu elemen kota ramah lingkungan

     

     

  • Bogota Terpilih Menjadi Tuan Rumah ”Hari Kota Sedunia 2025” Karena Alasan Ini

    Bogota Terpilih Menjadi Tuan Rumah ”Hari Kota Sedunia 2025” Karena Alasan Ini

    7cloud.asia – Ibu kota Kolombia, Bogotá akan menjadi tuan rumah perayaan Hari Kota Sedunia yang akan digelar pada 31 Oktober 2025

    Adapun Hari Kota Sedunia merupakan peringatan yang diinisiasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyoroti peran kota dalam mendorong pembangunan berkelanjutan.

    Hari Kota Sedunia tahun ini mengusung tema “Kota Cerdas yang Berpusat pada Masyarakat”, akan menyoroti bagaimana inovasi dan teknologi dapat meningkatkan kualitas hidup, memperkuat inklusi, dan mendukung pertumbuhan perkotaan yang berkelanjutan.

    Pengumuman ini disampaikan pada Selasa (22/7/2025) dalam konferensi pers di Bogotá, yang dihadiri oleh perwakilan dari pemerintah kota dan UN-Habitat.

    Hari Kota Sedunia, yang diperingati setiap tahun, merayakan bagaimana kota-kota mengatasi tantangan global sekaligus meningkatkan kesadaran akan peluang dan tekanan yang ditimbulkan oleh urbanisasi.

    Baca: Hari Kota Sedunia jadi upaya membangun kota yang berkelanjutan

    Hampir 70 persen populasi dunia diproyeksikan akan tinggal di wilayah perkotaan pada tahun 2050, yang akan meningkatkan permintaan akan perumahan, layanan, infrastruktur, dan ketahanan iklim sekaligus menguji kesetaraan sosial dan inklusi.

    Direktur Eksekutif UN-Habitat, Anacláudia Rossbach mengatakan Hari Kota Sedunia 2025 dirayakan di Bogotá, sebuah kota yang menjadi contoh bagaimana inovasi dapat melayani masyarakat dan komunitas.

    ”Ini adalah momen untuk bersatu, mengakui kemajuan perkotaan, dan menegaskan kembali komitmen bersama kita terhadap kota yang inklusif, berkelanjutan, dan berpusat pada masyarakat,” ujarnya.

    Peringatan global 2025 ini akan mengeksplorasi bagaimana solusi kota pintar – mulai dari perangkat digital hingga pendekatan berbasis data – dapat meningkatkan partisipasi warga, meningkatkan layanan, dan memperluas akses ke perumahan yang layak, terutama bagi komunitas terpinggirkan.

    Bogotá terpilih karena komitmennya untuk mengintegrasikan inklusi, ketahanan, dan keberlanjutan ke dalam pembangunan perkotaan.

     

    Baca: Mimpi kelompok marginal kota di Hari Kota Sedunia

    Kota ini telah menerapkan kebijakan yang mempromosikan inklusi sosial, akses perumahan, mobilitas berkelanjutan, dan aksi iklim, dengan memanfaatkan partisipasi warga dan data terbuka untuk meningkatkan layanan publik dan kualitas hidup.

    Wali Kota Bogotá, Carlos Fernando Galán mengatakan, bagi Bogotá, menyelenggarakan Hari Kota Sedunia merupakan suatu kehormatan sekaligus tanggung jawab besar.

    ”Kami akan menyambut dunia dengan kota yang menempatkan masyarakat sebagai pusat perhatian dan menunjukkan bahwa membangun ketahanan, keberlanjutan, dan inklusi melalui kepercayaan dan partisipasi warga adalah hal yang mungkin,” ujarnya.

    Acara tahun 2025 ini akan menandai kedua kalinya perayaan global ini diselenggarakan di Amerika Latin, setelah peringatan di Quito pada Habitat III tahun 2016.

    Kota-kota yang pernah menjadi tuan rumah antara lain Shanghai, Yekaterinburg, Liverpool, Luxor, dan Alexandria.