Tag: heatstroke

  • Atur Aktivitas untuk Hindari Heatstroke Saat Cuaca Panas

    Atur Aktivitas untuk Hindari Heatstroke Saat Cuaca Panas

    7cloud.asia – Pada saat cuaca panas saat musim kemarau seperti sekarang, penting bagi kita mengatur aktivitas untuk menghindari heatstroke atau serangan panas.

    Dokter Faisal Parlindungan dari Rumah Sakit Universitas Indonesia mengatakan, heatstroke atau serangan panas dapat terjadi dalam waktu kurang dari satu jam ketika seseorang melakukan aktivitas berat selama hari yang panas.

    “Jadi, ketika sudah merasa panas atau pusing, hentikan aktivitas dan istirahat lah di tempat yang sejuk,” katanya dikutip Antaranews.com.

    Jika memungkinkan, Faisal menyarankan untuk menghindari aktivitas fisik berat saat cuaca paling panas untuk hindari heatstroke.

    Lantas, bagaimana dengan orang yang harus melakukan kegiatan di luar ruangan pada saat cuaca panas? Faisal menyarankan untuk mencukupkan istirahat sebelum beraktivitas agar tidak kelelahan.

    Baca: Belahan bumi utara rasakan musim panas terpanas

    Jika perlu, lanjut Faisal, jangan enggan untuk menempelkan kain basah pada dahi atau leher untuk mengurangi efek panas.

    Faisal menyampaikan bahwa paparan panas bisa menyebabkan serangan panas. Paparan panas dalam waktu singkat juga berhubungan dengan peningkatan aktivitas peradangan serta menurunnya jumlah sel imun tubuh yang bertugas melawan infeksi.

    Kondisi yang demikian membuat orang menjadi lebih rentan terhadap infeksi ketika cuaca sedang panas.

    Menurutnya, cuaca panas dapat memicu kerentanan terhadap gangguan kesehatan ringan seperti edema, ruam, dan kram serta masalah yang lebih parah seperti kelelahan dan serangan panas.

    Baca: Kota-kota di dunia hadapi cuaca panas

    Dokter Faisal mengemukakan pentingnya pemenuhan kebutuhan cairan tubuh guna menekan kerentanan terhadap penyakit selama cuaca panas.

    “Pastikan untuk minum banyak air, bahkan sebelum merasa haus. Air kelapa atau minuman elektrolit juga dapat membantu,” katanya.

    Ia menambahkan, makan buah kaya air seperti semangka, jeruk, dan mentimun juga dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh.

    Selain itu, ia mengatakan, saat cuaca panas sebaiknya mengenakan pakaian yang longgar, ringan, dan mudah menyerap keringat serta menggunakan payung ketika berada di luar ruangan.

    Sumber:Antaranews.com

  • Cuaca Panas Ekstrem Dapat Memicu Heatstroke: Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

    Cuaca Panas Ekstrem Dapat Memicu Heatstroke: Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

    7cloud.asia – Cuaca panas ekstrem yang terjadi saat El Nino dapat memicu gangguan kesehatan, bahkan yang terburuk dapat memicu heatstroke yang mematikan.

    Kelompok lansia, anak-anak, penderita obesitas, diabetes, penyakit jantung, gangguan ginjal, pekerja lapangan, serta atlet memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit terkait panas karena kemampuan tubuh mereka dalam mengatur suhu tidak seefektif orang sehat pada umumnya.

    Heatstroke atau sengatan panas merupakan kondisi darurat medis yang dapat ditandai dengan gangguan fungsi otak seperti kebingungan, bicara pelo, kejang, hingga hilang kesadaran.

    Kondisi heatstroke ini sangat fatal karena merusak fungsi organ vital (otak, jantung, ginjal) jika tidak segera didinginkan.

    Dilansir Hindustan Times, dokter spesialis kegawatdaruratan dan trauma dari Medanta Noida, Dr. Santosh Pandey memaparkan perbedaan heat exhaustion dan heastroke.

    Baca: Lima Cara untuk Tetap Sehat Saat Cuaca Panas Ekstrem

    “Heat exhaustion dan heatstroke berada dalam spektrum yang sama, tetapi heatstroke merupakan keadaan darurat medis,” kata Pandey, dikutip Kamis (25/6/2026)

    Ia menjelaskan seseorang yang mengalami heat exhaustion umumnya masih sadar dan responsif meski merasakan keringat berlebih, lemas, pusing, sakit kepala, mual, kram otot, dan denyut nadi cepat.

    Namun, kondisi dapat berkembang menjadi heatstroke ketika suhu inti tubuh meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celsius dan mulai memengaruhi fungsi otak.

    “Tanda peringatannya meliputi kebingungan, disorientasi, bicara pelo, kejang, hilang kesadaran, atau perilaku yang tidak biasa,” ujarnya.

    Menurut Pandey, perubahan kondisi mental merupakan tanda paling penting untuk mengenali heatstroke dan membedakannya dari kelelahan akibat panas.

     

    Baca: El Niño Memicu Panas Ekstrem, Ini Cara untuk Tetap Dingin yang Lebih Ramah Lingkungan

    Dalam kesempatan itu Pandey juga meluruskan anggapan bahwa semua penderita heatstroke pasti berhenti berkeringat. Menurut dia, sebagian pasien, terutama yang mengalami heatstroke akibat aktivitas fisik berat, masih dapat berkeringat.

    “Kulit panas dan kering memang bisa menjadi tanda heatstroke yang sudah lanjut, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya acuan diagnosis,” katanya.

    Pandey menjelaskan tubuh biasanya mendinginkan diri melalui penguapan keringat. Namun, saat terpapar panas ekstrem, mekanisme pendinginan dapat gagal sehingga suhu tubuh meningkat cepat dan berisiko merusak organ.

    Jika menemukan seseorang yang diduga mengalami heatstroke, Pandey menyarankan segera menghubungi layanan medis darurat dan memindahkan korban ke tempat yang teduh atau berpendingin udara.

    Pakaian yang berlebihan perlu dilepas, lalu tubuh didinginkan menggunakan air dingin, handuk basah, kipas angin, atau kompres es yang ditempatkan di leher, ketiak, dan selangkangan.

    Baca: Kencangkan Suara untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    “Jika korban masih sadar dan mampu menelan, berikan sedikit demi sedikit cairan dingin. Jangan memaksa memberi minum apabila korban kebingungan atau tidak sadar,” katanya.

    Pandey menambahkan perendaman seluruh tubuh dalam air dingin dapat menjadi metode efektif untuk menangani heatstroke berat jika dilakukan dengan benar.

    Namun, prioritas utama tetap menurunkan suhu tubuh secepat mungkin sambil menunggu bantuan medis tiba.

    Ia juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati beraktivitas di luar ruangan saat suhu udara dan kelembapan tinggi karena kondisi tersebut menghambat penguapan keringat yang menjadi mekanisme utama pendinginan tubuh.

    Pandey menambahkan, olahraga luar ruangan sebaiknya dilakukan saat matahari terbit ketika suhu dan paparan radiasi matahari masih rendah.

    “Kurangi intensitas olahraga saat gelombang panas dan segera berhenti jika muncul pusing, kelelahan berlebihan, sakit kepala, mual, atau sesak napas yang tidak biasa,” ujar Pandey.

  • Dua Kematian Akibat Heatstroke di Akhir Juni: Penyakit Akibat Perubahan Iklim Adalah Nyata

    Dua Kematian Akibat Heatstroke di Akhir Juni: Penyakit Akibat Perubahan Iklim Adalah Nyata

    7cloud.asia – Dalam waktu kurang dari dua pekan pada Juni 2026, dua orang dilaporkan meninggal dunia diduga karena mengalami heatstroke.

    Korban pertama merupakan peserta ajang lari maraton, sementara korban lainnya adalah peserta Pelatihan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).

    Dua kematian akibat heatstroke tersebut menjadi pengingat bahwa paparan panas ekstrem bukan lagi sekadar persoalan rasa tidak nyaman, tetapi juga mengancam kesehatan.

    Heatstress dan heatstroke telah menjadi ancaman kesehatan yang nyata, tetapi masih banyak anggota masyarakat yang belum menyadari. Gangguan kesehatan akibat cuaca panas ini juga belum mendapat perhatian yang memadai dalam kebijakan kesehatan publik.

    Dipaparkan dalam webinar yang diselenggarakan LaporIklim beberapa waktu lalu, heatstress merupakan kondisi ketika tubuh mulai kesulitan membuang panas akibat kombinasi suhu lingkungan, kelembapan udara, paparan sinar matahari, maupun aktivitas fisik.

    Bila tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi heat exhaustion atau bahkan heatstroke, yaitu keadaan darurat medis ketika suhu inti tubuh meningkat drastis dan mulai merusak organ-organ vital.

    Tanpa penanganan cepat, heatstroke dapat menyebabkan kegagalan organ hingga kematian.

    Baca: Kenali Gejala dan Cara Mengatasi Heatstroke

    Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof. Herawati Sudoyo menegaskan bahwa paparan panas ekstrem harus dipandang sebagai isu kesehatan masyarakat, bukan sekadar persoalan cuaca.

    Menurutnya, saat suhu lingkungan meningkat, tubuh akan bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal melalui pelebaran pembuluh darah dan penguapan keringat.

    Namun, ketika mekanisme tersebut tidak lagi mampu mendinginkan tubuh, seseorang dapat mengalami heat stress hingga heatstroke yang mengancam jiwa.

    “Panas ekstrem bukan lagi sekadar persoalan cuaca, melainkan isu kesehatan masyarakat. Dampaknya dapat dicegah apabila kita mengenali risikonya, melindungi kelompok rentan, dan membangun kesiapsiagaan sejak dini.”

    Herawati menjelaskan bahwa heatstress ditandai dengan keringat berlebih, kelelahan, kram otot, pusing, dan dehidrasi.

    Apabila paparan panas terus berlanjut hingga suhu inti tubuh melebihi 40°C, kondisi dapat berkembang menjadi heatstroke yang menyebabkan kerusakan organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal akibat respons peradangan sistemik.

    Selain berdampak pada kesehatan fisik, paparan suhu panas juga dapat memengaruhi kesehatan mental.

    Baca: Cara untuk Tetap Dingin yang Lebih Ramah Lingkungan

    Suhu tinggi dapat menurunkan konsentrasi, mengganggu kualitas tidur, memicu kebingungan hingga penurunan kesadaran, dan pada kasus berat berpotensi menyebabkan kerusakan otak permanen.

    “Panas ekstrem telah menjadi salah satu penyebab utama kematian yang berkaitan dengan cuaca (weather-related deaths), sehingga memerlukan perhatian serius dari sektor kesehatan dan berbagai pemangku kepentingan.”

    Dua kematian yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari dua pekan tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia perlu mulai memandang paparan panas sebagai isu kesehatan publik yang memerlukan edukasi, sistem peringatan dini, serta kesiapsiagaan lintas sektor.

    “Kita tidak dapat menghentikan cuaca yang semakin panas, tetapi kita dapat mengurangi dampaknya. Literasi kesehatan adalah perlindungan pertama yang dapat menyelamatkan nyawa bagi setiap keluarga,” tandasnyaa

    Selain faktor kesehatan individu, risiko paparan panas juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal. Kota-kota yang dipenuhi bangunan, minim ruang terbuka hijau, serta didominasi beton dan aspal cenderung menyerap dan menyimpan panas lebih lama.

    Kondisi ini memicu fenomena urban heat island (pulau panas perkotaan), yang membuat suhu kawasan perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah sekitarnya dan meningkatkan risiko heat stress bagi masyarakat.

    Karena itu, Eksekutif Direktur Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, mengatakan bahwa adaptasi terhadap suhu panas tidak dapat hanya dibebankan kepada individu.

    “Cara rumah, lingkungan, dan kota dirancang turut menentukan tingkat paparan panas yang dialami warga,” tegasnya.

    Baca: Wujudkan Hunian dan Kawasan Rendah Emisi Bersama BeCool